
Suasana tampak hening sesaat di tempat itu. Kelabang raksasa berwarna merah jelmaan Reksa Gana tampak diam setengah berdiri sekitar lima tombak dari Pendekar Naga Sakti dan Pendekar Tapak Dewa.
Anggala mempersiapkan diri di samping Ki Sura Jaya. Pendekar Naga Sakti melintangkan pedang naga sakti di depan dada. Begitu pun dengan Ki Sura Jaya, Pendekar Tapak Dewa itu menyiapkan pukulan 'Tapak Dewa,Tangan Dewa Menepis Hujan'.
.
"Ayo, Anggala! Hiyaaa...!" setelah mengajak Anggala, Ki Sura Jaya melompat cepat ke udara sambil mengirimkan pukulan jarak jauh. Sebuah sinar putih membentuk telapak tangan yang cukup besar melesat dari telapak tangan Pendekar Tapak Dewa tersebut.
.
Swoss..!
Swoss..!
Blammm...!
Ledakan menggelegar ditempat itu. Kelabang raksasa berwarna merah itu hilang di tutupi tanah dan debu yang berhamburan. Sedangkan Pendekar Tapak Dewa setelah mengirimkan pukulan tenaga dalam tadi langsung melompat menjauh. Setelah berjumpalitan beberapa kali di udara, barulah Ki Sura Jaya menjejak kaki ditanah.
.
"Hup!" Anggala melesat bagai kilat ke arah kelabang raksasa itu, sambil menyabetkan pedang naga sakti kearah tubuh jelmaan Reksa Gana tersebut.
.
Crang!
Sret!
"Hooaaarrr....!!" Kelabang raksasa itu meraung kesakitan, hampir separuh cangkang tubuhnya terbelah terkena sambaran pedang di tangan Pendekar Naga Sakti itu. Kelabang raksasa itu masih sempat mencoba menyerang Anggala dengan dua kaki depannya yang membentuk sepasang sabit itu.
.
__ADS_1
Cltak!
"Hiyaaat!" Pendekar Naga Sakti cepat melentingkan tubuhnya ke udara, dengan begitu cepat Anggala meluncur kembali ke arah belakang kelabang raksasa itu.
.
Crak!
"Ooorrrrkkkk...!!" kelabang raksasa itu meraung bagai orang kesakitan, ketika pedang naga sakti tepat menghujam cangkangnya yang berwarna merah itu dari belakang. Pendekar Naga Sakti cepat memberikan sebuah tendangan bertenaga dalam tinggi ke arah tubuh kelabang itu, sambil mencabut pedangnya dari tubuh kelabang itu.
.
Buuumm....!!
Tubuh kelabang raksasa itu terlempar ke tanah. Beberapa saat kelabang raksasa itu mengeliat, darah berwarna biru bercampur hijau mengalir dari lukanya. Tidak lama kemudian tubuh kelabang raksasa itu diam tidak berkutik lagi alias mati.
.
.
"Alhamdulillah...," ucap Ki Sura Jaya melihat Kelabang Hijau berhasil di kalahkan, "Sungguh ilmu iblis yang sulit di taklukan," guman Pendekar Tapak Dewa seperti berbicara pada dirinya sendiri.
.
Sring!
Anggala kembali menyarungkan pedang naga sakti ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya. Pendekar Naga Sakti pun berjalan menemui Pendekar Tapak Dewa.
"Kakek tidak apa-apa?" tanya Anggala.
.
__ADS_1
"Aku sudah tidak apa-apa, Pendekar Naga Sakti, syukurlah ada pedang mustika naga itu disini, jika tidak kami semua tentu akan jadi korban ilmu iblis Kelabang Hijau itu," ucap Ki Sura Jaya.
.
"Allah masih melindungi nyawa kita melalui pedang ini, Kek," kata Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum. Anggala menolehkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Tampak tempat itu sudah hancur porak-poranda, tanah berlobang di sana-sini. Batang pohon patah, tumbang dan roboh.
.
"Kak, Kakak tidak apa-apa?" tanya Wulan Ayu sambil berjalan kearah Anggala.
.
"Tidak, Dinda, Kakak tidak tidak apa-apa!" jawab Anggala sambil tersenyum. Suasana Desa Mekar Ramai itu tampak sunyi, namun mayat bergelimpangan di mana-mana.
.
Sementara itu kakek Wiratama tampak tampak terduduk di pangkal sebatang pohon untuk melepas lelah. Pendekar tua itu telah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Nyi Tantri, Nyi Tantri tampak juga telah selesai bertarung. Luka dalam yang mereka derita tidak begitu di pedulikannya.
Begitu pun dengan Tiga Pendekar Kembar tampak hampir kehabisan tenaga setelah bertarung dengan Iblis Perak dan anggota kelompok orang-orang berpakaian ala ninja bertopeng tengkorak.
.
Para penduduk Desa Mekar Ramai satu-persatu mulai memberanikan diri keluar dari persembunyian mereka. Para penduduk itu mulai membereskan tempat di sekitar rumah mereka.
.
Kakek Wiratama memerintahkan para penduduk desa menguburkan mayat para pendekar golongan hitam di tengah hutan, dengan bantuan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa bersama para pendekar Desa Mekar Ramai itu, tidak butuh lama mereka telah berhasil menguburkan lebih dari seratus orang mayat pendekar golongan hitam tersebut.
.
.
__ADS_1
Bersambung....