
Jatandra pun tampak masih memegangi bahunya yang mengucur darah, beberapa orang adik seperguruannya tampak masih mengepung Wulan Ayu. Namun mereka sudah tidak berani menyerang.
"Kak Jatandra, bagaimana luka Kakak?" tanya Rongga masih tampak meringis menahan nyeri di bagian pergelangan kakinya. Rongga memang berhasil menghentikan darah yang mengucur di kakinya, namun lukanya masih cukup nyeri untuk berpijak.
"Lukaku tidak apa-apa, bagaimana luka di kakimu?" Jatandra balik bertanya, telapak tangannya mengalirkan hawa murni ke bahunya yang terluka untuk menghilangkan rasa nyeri dan menghentikan pendarahan.
"Kita hadapi bersama, Kak!" kata Rongga tanpa menoleh ke arah Jatandra.
"Hhmm...!" Jatandra hamya mendeham sambil mengangguk menyetujui pendapat Rongga.
Sret!
Jatandra langsung menghunus golok berukuran agak panjang di banding senjata adik-adik seperguruannya. Tampak gagang golok di tangan Jatandra itu mempunyai ukiran kepala burung gagak yang berwarna hitam dengan mata merah.
Rongga pun memainkan jurus-jurus golok andalannya, kedua orang itu bergerak mengelilingi Bidadari Pencabut Nyawa.
"Hmm...! Kalian tampaknya memang tidak mau hidup lebih lama lagi, di beri kesempatan masih mau berlagak. Jangan salahkan aku!" geram Wulan Ayu sambil menatap tajam ke arah Jatandra.
Sret!
Wulan Ayu langsung melipat kipas elang perak dan memasukkan kipas itu ke balik baju biru kesayangannya.
Sring!
Pedang elang perak langsung keluar dari sarungnya dan mengeluarkan cahaya putih perak menyilaukan mata.
Set! Set!
Wulan Ayu memainkan pedang elang perak di sekeliling tubuhnya, suara mata pedang itu memecah udara terdengar berdesingan.
"Heaaah....!" Jatandra dan Rongga melompat serentak ke arah Wulan Ayu, sabetan dan tebasan golok secepat yang mereka bisa.
Trang! Trang!
__ADS_1
Begitu cepat dan tangkas Bidadari Pencabut Nyawa menangkis serangan golok kedua murid Perguruan Gagak Hitam itu. Beberapa jurus berlalu, Jatandra dan Rongga yang sudah terluka tampak mulai kelelahan, kecepatan serangan mereka tampak mulai melambat.
"Hup!
Buak! Buak!
Dua tendangan cepat Wulan Ayu berhasil menghantam dada Rongga dan Jatandra.
"Aakgh...!" hanya keluhan tertahan keluar dari mulut kedua orang itu, bersamaan tubuh mereka jatuh terbanting ke tanah dan mulut mereka menyemburkan darah segar.
Belasan adik seperguruan Jatandra yang masih berkeliling mengepung Wulan Ayu tampak tersentak kaget, mereka buru-buru membantu Jatandra dan Rongga.
"Mundur..!" perintah Jatandra pada adik-adik seperguruannya. Namun langkah mereka tertahan begitu hendak bergerak menjauhi tempat itu.
"Kalian harus meninggalkan kepala kalian di sini!" kata Wulan Ayu terdengar dingin begitu menginjakkan kaki di tanah di depan Jatandra dan rombongannya.
"Heaaa....!" empat orang adik seperguruan Jatandra langsung melompat menyerang secara bersamaan, namun Bidadari Pencabut Nyawa yang tampak sudah naik pitam bergerak bagai kilat. Begitu Bidadari Pencabut Nyawa berhenti ke empat adik seperguruan Jatandra itu telah tergeletak tidak bernyawa dengan luka di bagian dada dan leher.
"Ka... Kau...!" Jatandra tampak pucat ketika Wulan Ayu bergerak ke arahnya dan Rongga.
Crass! Srass!
"Aaaa....!" hanya jeritan menyayat hati yang terdengar dari mulut Jatandra dan Rongga, kedua orang itu langsung jatuh menggelepar di tanah bersimbah darah di ikuti tiga adik seperguruannya.
Sementara empat orang yang sedang berhadapan dengan Ki Sudrajat tampak melompat mundur begitu melihat Jatandra dan Rongga tewas di tangan Bidadari Pencabut Nyawa.
"Bagaimana, sekarang kalian percaya padaku?" Ki Sudrajat tampak tersenyum tipis menyungging melihat musuh-musuhnya kehilangan mental mereka.
Empat orang itu langsung melepaskan golok mereka dan tanpa menoleh lagi langsung lari tunggang langgang.
Sementara itu Pendekar Naga Sakti yang berhadapan dengan Samat dan Ludra tampak tertawa terkekeh-kekeh. Sedangkan beberapa orang adik seperguruan Ludra tampak telah bergeletakan di tanah dalam keadaan terluka.
"Ludra, kak Jatandra dan Rongga tewas," kata Samat sambil menjejak kaki di samping Ludra yang melompat mundur dari serangan Pendekar Naga Sakti.
__ADS_1
"Kita mundur dulu," jawab Ludra sembari menoleh ke arah Jatandra dan Rongga yang sudah menjadi mayat.
Tanpa pikir panjang Ludra dan Rongga segera melempar golok ke arah Pendekar Naga Sakti. Kedua orang itu berencana mengecoh Pendekar Naga Sakti.
Set! Set!
Anggala yang melihat gerakan Ludra dan Rongga dengan begitu cepat menangkap kedua golok yang meluncur deras ke arahnya.
Tap! Tap!
Set! Set!
Crab! Crab!
"Aaaa......!" Samat dan Ludra yang baru bergerak terjerit kesakitan, ketika golok mereka tertancap di bagian punggungnya.
Ludra dan Samat langsung jatuh ke tanah dalam keadaan tewas bersimbah darah.
Beberapa orang adik seperguruan Jatandra yang masih hidup tampak beringsut ketakutan begitu Wulan Ayu bergerak ke arah mereka.
"Ampuni kami, nisanak!" ucap orang-orang Perguruan Gagak Hitam itu sambil bersujud ketakutan.
"Sebaiknya kalian tinggalkan tempat ini, sekali lagi aku melihat kalian. Aku akan menghabisi nyawa kalian tanpa ampun!" ancam Wulan Ayu terdengar dingin.
Tanpa pikir panjang lagi mereka langsung berlari meninggalkan tempat itu tanpa membawa senjata.
.
.
Bersambung.....
.
__ADS_1
.
Bersambung.....