
Ujang Seta terkesiap, laki-laki itu tersurut mundur sekitar dua tombak ke belakang.
"Jurus pedang gadis ini cukup hebat, wajar kalau dia di gelari Bidadari Pencabut Nyawa," desis Ujang Seta.
Ujang Seta meningkatkan tenaga dalamnya ke arah klewang yang tergenggam di tangan kanannya.
"Walau pun kau hebat aku tidak akan mundur. Gadis cantik aku tetap harus membunuhmu," geram Ujang Seta dengan nada suara dingin tidak berperasaan.
"Cobalah Kalau kau memang mampu manusia busuk," jawab Wulan Ayu sengit.
Bidadari pencabut nyawa melintangkan pedang gelang perak di depan dada.
Seraya mempersiapkan jurus pedang Bidadari pencabut nyawa.
"Majulah jika kau ingin merasakan tajamnya pedang elang perakku," tantang Wulan Ayu.
"Kau kira aku takut gadis tengik!" bentak Ujang Seta.
Seketika itu tubuh laki-laki berumur sekitar
tiga puluh tahun dan itu melesat cepat ke arah Wulan Ayu sambil penyabetkan Klewang hemruk di tangan kirinya di tangan kanannya.
Bidadari Pencabut Nyawa tidak tinggal diam, gadis cantik berpakaian baju serba biru itu cepat menangkis serangan Ujang Seta itu dengan begitu cepat.
Tebasan klewang di tangan Ujang Seta mengincar ke arah leher Bidadari Pencabut Nyawa, dengan cepat murid Bidadari Galak itu menunduk menghindari tebasan Ujang Seta itu sambil meliukkan tubuhnya ke samping. Ujang Seta tidak menduga kalau gerakan Wulan Ayu bergerak ke arah samping kirinya.
Buak!
Wulan Ayu berhasil menyarangkan sebuah tendangan ke arah dada Ujang Seta.
"Aagkh.!"
Keluhan tertahan keluar dari mulut Ujang Seta, seraya tubuhnya terhuyung ke belakang sekitar satu tombak ke belakang.
"Kau memang hebat wanita j4lang," dengus Ujang Seta sebelum tubuhnya terhuyung ke belakang sambil tangan kirinya memegangi dada.
Wulan Ayu yang cukup geram dengan sepak terjang tiga Pendekar Mesum itu berniat untuk menghabisi Ujang Seta, Bidadari Pencabut Nyawa itu melesat sambil menyabetkan pedang elang perak ke arah leher Ujang Seta. Ujang Seta terkesiap, ia berusaha menarik tubuhnya ke belakang,
namun serangan Bidadari Pencabut Nyawa itu begitu cepat begitu pedang elang perak hampir mengenai leher Ujang Seta.
Tiba-tiba sebuah ranting melesat bagai kilat menghantam mata pedang elang perak.
Set! Set!
Trang! Trang!
Wulan Ayu sentak kaget, dengan cepat Bidadari Pencabut Nyawa itu melentingkan tubuhnya ke belakang menghindari buah buah ranting kecil yang melesat bagai kilat ke arah tubuhnya.
__ADS_1
"Hih.!"
Begitu Bidadari pencabut nyawa menjejak kaki di tanah, Ujang Seta sudah tidak ada di tempatnya lagi.
"Setan! Siapa gerangan yang membokongku dan Melarikan Ujang Seta?" maki Wulan Ayu dengan wajah kesal.
Sementara itu Pendekar Naga Sakti cepat membantu ke arah para murid Perguruan
Mawar Putih yang menghadapi anggota Penyamun Beruang Hitam, beberapa orang anggota Penyamun Beruang Hitam tampak telah tergeletak di tanah tidak bernyawa lagi dan beberapa orang murid Dewi Mawar juga tampak mengalami luka bekas terkena senjata para penyamun itu.
.
***********
Sementara itu Kenanga yang berhadapan dengan beruang hitam masih terlibat pertarungan sengit. Beruang Hitam telah menggunakan sepasang trisula berwarna merah kehitaman yang mengandung racun cukup berbahaya itu.
"Heaaah...!"
Wurrr...!
Serrrr...!
Dua buah trisula itu bergerak cepat mencerca ke arah tubuh Dewi Selendang Kuning. Gadis cantik berbaju biru dengan tongkat selendang kuning itu tampak mulai kewalahan menghadapi serangan Beruang Hitam yang terus memburu ke arahnya.
Trang! Trang!
"Gawat, hawa racun itu mulai mempengaruhi jalan darahku," keluh Kenanga dalam hati, Dewi Selendang Kuning masih berusaha bertahan walau pandangan mulai agak buram.
Buak!
"Aagkh..!"
Sebuah tendangan Beruang Hitam berhasil mendarat di dada Kenanga, gadis itu melenguh tertahan. Darah segar kehitaman menyembur dari mulutnya, pertanda ia mulai keracunan dan terluka dalam.
Tubuh Kenanga meluncur deras ke belakang sekitar tiga tombak, kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Beruang Hitam. Laki-laki bertubuh besar dengan baju rompi hitam itu melesat berniat menghabisi Kenanga.
"Ku balas kematianmu, adikku..!" teriak Beruang Hitam sambil melesat dan kedua trisulanya di hujamkan ke arah Kenanga yang masih berusaha bangun dari jatuhnya.
Kenanga tampak pasrah melihat Beruang Hitam melesat cepat dengan kedua trisulanya ke arahnya
"Mati aku!" keluh gadis itu dalam hati.
Namun di saat yang paling penting sebuah bayangan melesat cepat ke arah depan Kenanga bayangan itu cepat bergerak menangkis dan menyarangkan sebuah pukulan ke arah Beruang Hitam.
Buak!
Beruang Hitam terpental ke arah belakang dan jatuh bergulingan, namun dengan cepat laki-laki bertubuh besar dengan pakaian serba hitam dan baju rompi hitam itu melompat bangun dan menatap tajam ke arah tempat Kenanga jatuh tadi. Betapa terkejutnya Beruang Hitam melihat Anggala sudah berdiri di sana.
__ADS_1
Sedangkan Pendekar Naga Sakti sedang membantu Kenanga.
"Kenanga, minumlah obat ini dan cepatlah bersemedi, sebelum racun itu mengalir ke jantungmu," kata Pendekar Naga Sakti Seraya Mentari bangsa buah gaya memberikan sebuah pil pada kenangan
"Terima kasih, Kak anggala," ucap Kenanga
sambil menerima pil kembalian Pendekar Naga Sakti, setelah menerima pil itu Kenanga bergerak mundur sekitar lima tindak ke belakang. Gadis itu lalu menelan obat itu dan segera melakukan semedi.
"Bangsat kau, Pendekar. Kau berani menghalangiku membalas kematian adikku," berang Beruang Hitam.
Anggala hanya tersenyum mendengar makian Beruang Hitam tersebut, pemuda itu hanya tersenyum dan berkata, "Perbuatanmu menyerang musuh yang sudah tidak berdaya itu, bukan seorang ksatria yang menyerang musuh dalam keadaan terluka. Tampaknya kau memang harus diberi pelajaran Beruang Hitam,"
terdengar datar dan dingin perkataan Pendekar Naga Sakti, matanya menatap tajam ke arah Beruang Hitam bagai mata seekor rajawali yang sedang menatap mangsanya.
"Tampaknya kau juga ingin merasakan betapa mematikannya racun di trisulaku ini, Pendekar!" bentak Beruang Hitam.
Beruang Hitam lalu memutar dan memainkan trisulanya dengan begitu cepat, putaran trisulanya itu. membentuk bulatan.
Trisula di tangan kanan Beruang Hitam itu membentuk bulatan indah bagai sebuah baling-baling yang berputar cepat jika dilihat dari kejauhan Trisula itu bagai sebuah perisai berwarna merah hitam.
Angin Trisula itu mengarah ke arah Anggala, angin trisulanya itu mengandung racun yang cukup berbahaya. Jika racun trisula itu di tikamkan ke kayu niscaya kayu itu akan layu dan batangnya akan berubah menjadi kayu busuk.
Beruang Hitam terus mengarahkan angin trisula itu ke arah Anggala.
Namun Pendekar Naga Sakti hanya tersenyum tipis menyungging memandang ke arah Beruang Hitam. Senyuman Anggala itu membuat hati Beruang Hitam semakin panas dan semakin meningkatkan arus tenaga dalamnya ke arah sepasang trisulanya itu.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favorit
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.
__ADS_1