
Pagi yang cukup cerah di desa Talang kuda itu. Cahaya mentari mulai menyinari dari sebelah timur, suara kicau burung menambah keindahan pagi. Para penduduk yang berniat mengubur mayat orang-orang dari perguruan Belati Terbang itu tidak menemukan apa yang mereka cari, yang di temukan mereka hanya tempat yang porak poranda akibat pertarungan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa dengan orang-orang Perguruan Belati Terbang itu.
.
Hanya bekas darah yang mengering di mana-mana, Ki Sarta yang memimpin para penduduk tampak terdiam.
.
"Kemana perginya mayat-mayat orang Perguruan Belati Terbang itu? Apa mungkin sudah ada yang mengambil mereka?" Guman Kia Sarta hampir tidak terdengar.
.
"Sebaiknya kita cepat kembali ke desa Ki, beri tau Pendekar Naga Sakti secepatnya," Ujar salah seorang warga yang mendengar gumanan Ki Sarta tadi.
.
"Baiklah, ayo kawan-kawan kita kembali ke desa," Ajak Ki Sarta, mereka pun segera kembali ke desa Talang kuda.
.
Ki Sarta menceritakan semua yang mereka temukan di hutan pada Anggala dan Wulan Ayu,
"Berarti sudah ada yang mengambil mayat murid Perguruan Belati Terbang itu Ki!" Ucap Pendekar Naga Sakti.
.
"Sepertinya begitu nak!" Jawab Ki Sarta.
"Ya sudah aki-aki, Kalian istirahat saja pulang ke rumah atau makan dan minum di sini dulu, biar saya yang bayar," Ujar Pendekar Naga Sakti pada orang-orang kampung itu.
.
"Terima kasih nak Pendekar!" Jawab salah seorang warga itu.
"Tidak usah sungkan, pesan saja yang Kalian mau, tidak usah takut," Ujar Anggala lagi.
.
Para penduduk desa Talang Kuda itu tampak memesan makanan yang mereka inginkan, Anggala dan Wulan Ayu hanya tersenyum senang melihat orang-orang kampung itu tampak senang.
.
Baru saja para penduduk itu bubar dari warung ki Sarta, mereka di kejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba melepaskan pukulan betenaga dalam tinggi ke sebatang pohon yang tidak jauh dari warung ki Sarta itu.
.
Booom...!
Bruum..!
__ADS_1
Pohon itu lansung patah menjadi dua dengan bagian pangkal pohon itu hancur berkeping-keping.
.
Semua mata yang melihat tampak terkejut, mereka melihat seorang laki-laki berambut putih berdiri memegang sebuah tombak bermata tiga. Dia tidak lain adalah Kala Abang dengan senjata simpanannya Trisula Penggetar Bumi.
.
"Pendekar Naga Sakti! Keluarlah... Atau trisula ku ini akan menghancurkan rumah-rumah para penduduk desa ini!" Bentak Kala Abang dengan suara yang begitu lantang dan menggema.
.
"Aku di sini Kala Abang!" Jawab Pendekar Naga Sakti, entah dari kapan ia telah berdiri di depan Kala Abang sekitar empat tombak.
.
"Kau harus membayar kematian seluruh keluargaku Pendekar Naga Sakti!" Bentak Kala Abang sambil mengacungkan Trisula Penggetar Bumi nya ke arah Pendekar Naga Sakti.
.
"Keluargamu yang tidak punya perasaan itu memang pantas mati Kala Abang!" Jawab Pendekar Naga Sakti sengit.
.
"Kematianmu di ujung trisulaku ini Pendekar Naga Sakti! Heaaa....!"
Jerit melengking keluar dari mulut Kala Abang, maka seketika tubuhnya melesat cepat ke arah Pendekar Naga Sakti dengan trisula Penggetar Bumi itu. Mata trisula itu mencerca ke arah titik mematikan di tubuh Pendekar Naga Sakti.
.
.
Beberapa jurus berlalu setiap serangan Kala Abang itu berhasil di hindari oleh Pendekar Naga Sakti. Pendekar Naga Sakti menghindari serangan Trisula Penggetar Bumi di tangan Kala Abang itu sambil menjauhi halaman warung Ki Sarta itu, dalam beberapa lompatan Pendekar Naga Sakti telah masuk ke dalam hutan yang tidak jauh dari warung ki Sarta itu.
.
Lidah petir itu menghadang cahaya merah pukulan dari trisula Penggetar Bumi di tangan Kala Abang itu.
.
"Kau mau kemana Pendekar Naga Sakti? Apa Kau sudah kehilangan nyalimu, Hah...!"
Bentak Kala Abang terus memburu ke arah Pendekar Naga Sakti itu.
.
"Heh...! Jangan berbesar kepala dulu Kala Abang! Aku hanya tidak ingin rumah para penduduk desa terkena imbasan pertarungan kita!" Jawab Pendekar Naga Sakti sengit.
.
__ADS_1
Merasa tidak berhasil menyerang dengan secara langsung Kala Abang melompat ke belakang beberapa langkah. Kala Abang lansung menyiapkan 'Jurus Trisula Api Pencabut Nyawa'.
.
Cahaya merah menyala menyelimuti ketiga mata trisula itu. Melihat musuhnya menyiapkan pukulan jarak jauh, Pendekar Naga Sakti pun segera menyiapkan 'Jurus Tinju Halilintar tingkat tiganya.
.
"Mati Kau Pendekar Naga Sakti! Heaaa....!" Kala Abang melompat ke arah Pendekar Naga Sakti, beberapa bola api berwarna mwrah meluncur cepat ke arah Pendekar Naga Sakti.
.
"Hiyaaa....!"
Pendekar Naga Sakti menghentakkan tinju nya ke depan. Beberapa lidah petir menyambar dari tinju Pendekar Naga Sakti itu.
.
Blaar....!!
Blaaar...!!
Ledakan beruntun melanda tempat itu. Namun kedua pendekar berlainan aliran itu tidak mengalami cedera apa pun. Kala Abang kembali melompat secepat kilat ke arah Pendekar Naga Sakti kali ini ia memakai sebuah 'Jurus Trisula Seribu Mata'. Kecepatan luncuran trisula itu hampir tak terlihat dan sangat cepat.
.
Crang..! Crang..!
Crang..! Crang..!
Cresss...!
"Aaakh....!
Pendekar Naga Sakti yang memakai 'Ilmu Baju Besi Emas'.nya, beberapa kali terhantam mata trisula di tangan Kala Abang. Sebuah luka mengores di tangan PendekarNaga Sakti. Pendekar Naga Sakti terhuyungbke belakang sambil memegang lengannya.
.
Pendekar Naga Sakti melompat secepat kilat ke belakang seraya mengalirkan hawa murni ke tangannya. Tidak butuh waktu lama luka di tangan Pendekar Naga Sakti itu lansung hilang tidak berbekas.
.
Sring...!
Pendekar Naga Sakti langsung menghunus pedang mustika naga yang ada di balik punggungnya. Cahaya putih kebiruan yang menyilaukan mata keluar dari batang pedang itu.
.
.
__ADS_1
.Bersambubg...
Jangan lupa like Koment Vote dan favorit nya ya. Terima kasih banyak.