Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang Part 10


__ADS_3

Pertemuan dan perkenalan keluarga yang hampir tidak pernah bertemu itu di rayakan oleh Ki Suro. Ki Suro mengundang para tetangganya untuk makan malam bersama di warung miliknya itu.


Kemboja tampak begitu senang dengan suasana itu. Kemboja tampak bersenda gurau dengan ketiga saudara sepupunya itu.


Wulan Ayu dan Anggala pun terlibat dalam suasana itu, mereka mengobrol sambil menyantap makanan kecil yang di siapkan Ki Suro dan keluarganya.


"Ayo bapak-bapak, ibu-ibu, jangan malu, makanannya di santap, malam ini malam yang membahagiakan bagi keluarga kecil kami, keponakanku yang hampir tidak pernah bertemu rupanya menjadi tamu di penginapan kami ini," Ucap Ki Suro dengan senyum dan wajah berbinar mengambarkan kebahagian hatinya.


"Perkenalkan ini keponakanku Dewi Arau, Dewi Pingai dan Dewi Aurora, mereka adalah anak-anak dari adikku Almarhum Suratma," Tambah Ki Suro lagi dengan senyum kesenangan.


"Keponakan Ki Suro pendekar, sedangkan Ki Suro tukang Warung," Jawab Kepala Kampung Jati Arum.


"He he..! Iya Ki," Jawab Ki Suro sambil tertawa.


Hampir larut malam, para penduduk Kampung Jati Arum baru kembali ke rumahnya.


"Wak, apa Wak tau siapa perampok yang membunuh ayah dan ibu kami?" Tanya Dewi Arau setelah para penduduk meningkalkan warung itu.


"Wak mendengar kabar yang membunuh kedua orang tua Kalian adalah Perampok Singa Merah, saat itu mereka belum mempunyai bawahan yang banyak," Jawab Ki Suro, "Wak sudah lama berharap ada orang yang akan menumpas kejahatan dan menghentikan kekejaman Perampok Warok Singa Merah itu," Mata Ki Suro tampak berbinar, suaranya bergetar mengandung kemarahan, namun apa daya ia hanya manusia biasa.


"Jadi pembantai keluarga kami dan para penduduk Kampung Tanjung Sari adalah Perampok Warok Singa Merah itu?" Tanya Dewi Arau gerahang gadis itu gemeletuk menahan kemarahannya.


"Ya, itu kabar yang wak dengar, memang saat itu Tiga Warok Singa Merah memang sangat meraja lela, banyak para pendekar golongan yang mencoba menghentikan sepak terjang mereka, namun para pendekar itu tewas di tangan tiga Warok Singa Merah itu," Jawab Ki Suro lagi, wajah tuanya berubah sendu.


"Wak tidak usah takut lagi, dengan bekal ilmu dari kakek guru Elang Hitam, kami bertiga akan menumpas para perampok yang menguasai daerah gunung pungur ini, termasuk tiga Warok Singa Merah itu," Ucap Dewi Arau.


"Ya Wak, kami bertiga akan mempertaruhkan nyawa kami demi membalaskan kematian orang tua kami dan orang-orang kampung Tanjung Sari," Ucap Dewi Pingai sambil memegang bahu Dewi Aurora. Elang hijau itu hanya mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tapi Nak, ilmu tiga Warok Singa Merah itu sangat tinggi, wak tidak ingin Kalian menjadi korban kesaktian tiga Warok tak berperasaan itu," Kata Ki Suro lagi.


"Wulan Ayu dan Kak Anggala akan membantu kami, lagian Walet Hitam sudah terang-terangan menantang Wulan Ayu dan menunggunya di puncak gunung pungur purnama di depan," Jawab Dewi Arau sambil memandang ke arah Bidadari Pencabut Nyawa dan Pendekar Naga Sakti.


"Ya Ki, kami sebagai pendekar golongan putih tidak akan membiarkan kejahatan di depan kami. Kami akan membantu Tiga Elang, iya kan Kak,?" Jawab Wulan Ayu sambil menoleh ke arah Angala Lesmana.


"Ya, kami akan membantu sebisa kami Ki," Jawab Pendekar Naga Sakti sambil tersenyum, "Tapi apa Aki tidak keberatan kami bakal tinggal lama di sini?" Tambahnya lagi.


"Kalian adalah tamu Aki, jadi Aki tidak akan keberatan, apalagi dengan adanya Kalian, hidup kami akan lebih tenang," Jawab Ki Suro sambil tersenyum, "Ya sudah hari sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat, kita tidak tau apa yang akan terjadi esok hari," Tambah Ki Suro lagi.


Mereka pun istirahat, Kemboja yang dari tadi hanya saling berbisik dengan kedua temannya yang membantu pekerjaannya di warung itu pun menyusul istirahat.


.


.


Suara burung berkicau menghias pagi, sinar mentari tampak mulai menyinari di upuk timur. Para penduduk mulai melakukan aktivitasnya, sudah ada sekitar sepuluh orang yang duduk di depan warung Ki Suro itu. Warung Ki Suro yang biasanya buka pagi-pagi, namun kali ini matahari sudah cukup tinggi, barulah tampak pintu warung itu terbuka.


"He he iya ni Mat, tadi malam kami tidurnya kemalaman," Jawab Ki Suro sambil tertawa. Ki Suro langsung membuka semua jendela warungnya yang terbuat dari papan bersusun itu.


Sudah cukup Siang Wulan Ayu dan Tiga Elang baru tampak kembali dari sungai, keempat gadis itu tampak membawa cukup banyak ikan segar.


"Wah! Kalian dapat banyak ikan, pantasan di sungainya lama," Kata Ki Suro sambil tertawa Kecil.


"Sini Wo, biar Kemboja bersihkan. Uwo Arai dan yang lain ikannya mau di buat apa? Di Panggang, di di bikin Seruit, atau gulai taboh, di pindang juga boleh?" Tanya Kemboja sambil tersenyum, gadis itu bersama kedua temannya mengambil ikan dari Wulan Ayu dan ke Tiga Elang, dan langsung pergi membersihkannya.


Seruit

__ADS_1


Seruit merupakan salah satu makanan khas Lampung yang sering dihidangkan saat ada acara keluarga, pernikahan, acara adat serta acara keagamaan. Sementara itu, seruit juga sering dijadikan makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat Pepadun.


Hidangan ini dibuat dari ikan bakar yang dicampur dengan berbagai sambal terasi khas Lampung, seperti tempoyak ataupun mangga.


Jenis ikan yang digunakan untuk Seruit umumnya adalah ikan air tawar yang mudah ditemui di sungai-sungai. Ikan yang paling sering digunakan adalah ikan yang berasal dari sungai seperti ikan baung, ikan balide, ikan lais dan lainnya. Makanan ini biasanya disajikan bersama lalapan berupa petai, jengkol, timun, daun singkong dan adas. 


Gulai Taboh.


Gulai Taboh merupakan makanan khas daerah Lampung pesisir yang memiki cita rasa gurih. Makanan ini selalu disajikan saat gelaran acara adat dan menjadi menu wajib.


Gulai Taboh diolah dengan bahan utama ikan laut atau ikan sungai. Ikan sungai yang digunakan biasanya adalah mujair yang sebelumnya telah diasap semalaman atau disebut iwa tapa semalam.


Jika menggunakan iwa tapa semalam, campuran gulai taboh hanya dibumbui keluak saja. Namun, apabila bahan utamanya ikan laut akan ditambahkan kacangkacangan, buah melinjo, labu kuning, ubi jalar, dan sayuran lain untuk dimasak dengan santan.


Beragam jenis sayuran yang menjadi bahan campuran mencerminkan masyarakat pesisir yang begitu terbuka terhadap suku lain. Letak geografisnya yang berada di pinggir pantai memungkinkan masuknya pendatang dari berbagai wilayah di Indonesia ataupun dari luar negeri.


Cara menyantap gulai taboh cukup unik. Kuah gulai taboh biasanya diseruput dan dinikmati dengan nasi hangat. 


Pindang


Masakan berkuah ini juga tak boleh dilewatkan. Pindang  sering disandingkan dengan kesegaran tomyam, masakan dari Thailand. Kendati demikian, pindang tetap mendapat tempat di hati pemujanya sebagai makanan khas Lampung.


Pindang bisanya disajikan dengan kuah berwarna kuning. Pindang khas Lampung memiliki cita rasa asam gurih dengan aroma yang sangat kuat. Aroma yang kuat ini berasal dari daun kemangi yang dicampurkan ke dalam kuah.


Pindang berbahan dasar ikan air tawar. Namun, bukan tidak mungkin masyarakat di daerah Pesisir menggunakan udang dan ikan laut sebagai bahan dasar utamanya. Kunci dari kesegaran pindang ini berasal dari kualitas ikan yang dimasak.


.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa, Like Koment Vote dan favorit nya ya teman teman, sebagai penyemangat author receh nya nulis, maaf kalau pembaca nunggu kelamaan, di sini sekarang sering gangguan signal kalau malam. Terima kasih banyak, Tanks.


__ADS_2