
Manggala dan Wulan Ayu tampak asyik mengobrol tanpa menyadari hari telah beranjak sore. Sedangkan ketiga gadis cantik Tiga Elang telah pergi ke kamar yang mereka pesan untuk istirahat.
Matahari hampir terbenam di upuk barat, para penduduk tampak telah banyak yang lalu lalang pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Permisi Tuan Pendekar berdua apa mau menginap juga?" Tanya gadis pemilik warung itu. Gadis itu tampak agak sungkan dan takut-takut kalau Anggala dan Wulan Ayu tersinggung.
"O.. Iya.. Masih ada kamar, untuk dua orang?" Wulan Ayu malah balik bertanya sambil tersenyum.
"Ada Den, satu kamar atau dua kamar Den?" Tanya gadis itu, tampak lebih tenang melihat Wulan Ayu tersenyum.
"Dua kamar! Ada?" Tanya Wulan Ayu lagi.
"Ada Den, Saya siapkan dulu!" Jawab gadis itu ssmbil berlalu. Manggala berdiri dan mendekati meja kasir kebetulan aki pemilik warung itu sedang duduk di sana.
"Permisi Ki, saya mau membayar makanan dan minuman yang kami pesan tadi, sekalian biaya menginap kami malam ini," Ucap Anggala dengan senyum dan penuh sopan santun nya.
"Anak tadi pesan apa saja?" Jawab Aki pemilik warung itu sambil tersenyum dan balik bertanya.
"Kami tadi pesan nasi, satu ekor ayam panggang, dua piring daging rusa, sama teh jahe nya Ki," Jawab Manggala.
"Dua puluh kepeng saja nak," Jawab aki pemilik warung itu. Anggala mengeluarkan sekeping kepeng emas besar dari balik bajunya dan memberikannya pada aki pemilik warung itu.
"Wah.. banyak sekali ini nak, ini sama dengan seratus kepeng.!" Ucap aki pemilik warung itu.
"Itu sekalian biaya menginap kami berdua sampai besok Ki, nanti kalau kurang, Aki bilang saja..," Jawab Anggala Lagi.
"Baik Nak,"
"Panggil saja saya Anggala, dan itu teman saya Wulan Ayu," Ucap Anggala memperkenalkan dirinya dan Wulan Ayu.
"Iya nak Anggala, Nama Aki Suro. Panggil saja Ki Suro..," Jawabnya memperkenalkan diri.
"Satu kamar, apa dua kamar nak Anggala?"
"Dua kamar Ki," Jawab Manggala lagi.
"Ya, sudah nak Anggala tunggu dulu ya, kamar nya aki siapkan dulu," Ucap ki Suro lagi.
"Kemboja! Siapkan kamar untuk tamu kita!" Perintah ki Suro pada putri nya.
__ADS_1
"Ya! Bah, sebentar!" Jawab Kemboja dari belakang, tidak lama kemudian terdengar Kemboja mengajak dua temannya menyiapkan kamar untuk Anggala dan Wulan Ayu.
Tidak seberapa lama Kemboja muncul dari belakang menemui aki Suro, "Kamar nya sudah siap Bah,"
"Nak Anggala kalau mau istirahat, kamarnya sudah siap!" Kata ki Suro menghampiri Anggala dan Wulan Ayu.
"O, iya Ki, mandinya di mana? Apa ada sungi dekat sini?" Tanya Bidadari Pencabut Nyawa.
"Ada nak Wulan, tidak jauh dari rumah aki ini ada sungai di belakang," Jawab ki Suro.
"Kemboja, antarkan nak Wulan mandi ke sungai," Ujar ki Suro pada Kemboja.
"Baik Bah, Ayo Den, saya antar ke sungai," Ucap Kemboja pada Wulan Ayu.
"jangan Panggil aden Kemboja, panggil saja saya Wulan," Ucap Wulan Ayu sambil berjalan mengikuti Kemboja ke belakang.
.
.
Singkat cerita, malam mulai datang, ki Suro pun telah menutup warungnya, Anggala dan Wulan Ayu masih duduk di sebuah meja sambil menikmati ubi rebus dan teh jahe buatan istri ki Suro, mak Tijah.
Sedang asyik berbincang-bincang, mereka di kejutkan oleh suara gaduh di luar sana.
"Ada apa Ki? Malam-Malam begini kok ada keributan?" Tanya Manggala pada ki Suro yang duduk menemani mereka.
"Paling ada tokoh silat golongan hitam yang membuat keributan Nak!" Jawab ki Suro, sambil bangkit dari duduknya. Ki Suro lalu pergi melihat ke depan sambil membuka jendela melihat apa yang terjadi.
Sementara itu di luar tampak sekelompok orang berkuda sedang mengelilingi beberapa orang penduduk yang lagi meronda malam. Cahaya obor menyinari tempat itu tampak jelas orang-orang berkuda itu adalah serombongan para perampok.
"Siapa mereka Ki?" Tanya Dewi Arau tampak berdiri di belakang ki Suro.
"Melihat dari pakaian mereka. Mereka adalah anak buah Perampok Warok Singa Merah, Den," Jawab ki Suro tanpa menoleh ke arah Dewi Arau dan kedua adiknya, Dewi Pingai dan Dewi Aurora.
Para penduduk yang lagi meronda itu mencoba memberikan perlawanan pada kawanan perampok, namun para penduduk itu yang hanya memiliki kepandaian silat pas-pasan. Mareka dapat di kalahkan dslam waktu singkat.
"Ha ha ha...! Dasar penduduk tolol, apa Kalian tidak sadar kemampuan silat yang Kalian miliki tidak seberapa itu hah...!" Bentak salah seorang dari para perampok itu, tampaknya ia adalah pemimpin perampok itu.
"Hei! Para penduduk cepat keluar! jika tidak kampung ini akan kami bakar!" Teriak orang yang berkata tadi. Para penduduk yang ketakutan pada keluar dari rumah meraka. Para penduduk itu di kumpulkan tidak jauh dari warung ki Suro itu.
__ADS_1
"Heh..! Kenapa orang yang ada di dalam warung itu tidak keluar, Pala, Suta.. Cepat Kalian periksa, paksa penghuni warung itu keluar, jika mereka melawan bunuh saja!" Perintah pimpinan perampok itu.
"Baik! Ketua!" Suta dan Pala menjawab bersamaan, kedua orang perampok itu bergegas menuju warung ki Suro.
"Brak!
Suta menendang pintu depan warung ki Suro hingga hancur berkeping-keping, Pendekar Naga Sakti berniat maju, namun di cegah oleh si Bidadari Pencabut Nyawa.
"Kak, biarkan saja dulu, dinda lihat ketiga gadis yang di dekat ki Suro itu adalah para pendekar juga. Dinda ingin tau, apa mereka golongan putih atau tidak?" Kata Bidadari Pencabut Nyawa setengah berbisik. Pendekar Naga Sakti hanya mengangguk mengiyakan perkataan Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Heh..! Bangsat! Berani sekali Kau menghancurkan pintu itu, cepat ganti rugi!" Bentak Elang Merah tegak berkacak pinggang menghadang kedatangan Suta dan Pala itu.
"Ha ha ha...! Pala ternyata kita memang berntung, kita di sambut oleh tiga gadis cantik! Ha ha ha...!" Tawa Suta di iringi tawa Pala. Pala yang kesenangan lansung nyelonong mencoba menyentuh pipi Dewi Arau.
"Ha ha ha...! Ayo ikut bersama kami gadis cantik, kami akan memberikan surga pada Kalian malam ini!"
Buak...!
"Aaakh...!
Brak...!
Tiba-tiba Elang merah bergerak cepat, sebuah tendangan mendarat di perut Pala. Pala yang tidak siap dan tidak menyangka, hanya mampu melenguh tertahan sebelum tubuhnya terpental ke pintu warung yang telah di rusak Suta tadi.
"Bangsat! Siapa Kalian? Berani melawan anak buah Warok Singa Merah!" Bentak Suta sambil menatap tajam ke arah Tiga gadis cantik yang bergelar Tiga Elang itu.
"Kau tidak perlu tau siapa kami, yang jelas kami adalah nasib sial Kalian hari ini!" Jawab Elang Merah dengan sengit.
"Bangsat! Apa Kau tidak sayang dengan wajah cantikmu, jika ku rusak dengan golokku ini gadis cantik!"
Srek!
Suta lansung menghunus golok besar yang ada di pinggangnya, dan melompat ke arah Dewi Arau dan kedua adiknya itu.
.
.
Bersambung....!
__ADS_1
Jangan lupa like, Koment, Vote, dan Favoritnya ya. Terima kasih banyak.