
"Hahaha..! Bagaimana kisanak, sakit..?" tanya Anggala sambil tertawa. Tentu saja perlakuan Pendekar Naga Sakti yang setengah usil itu membuat orang-orang Partai Teratai Api itu semakin marah. Sekitar delapan orang termasuk tiga orang yang bersenjata klewang hembrug itu langsung melompat mengelilingi Pendekar Naga Sakti.
"Rupanya kau memang ingin tubuhmu di cincang hari ini anak muda!" bentak salah seorang pengepung yang mengaku sebagai anggota Partai Teratai Api tersebut.
"Cobalah..!" tantang Anggala dengan senyum tipis menyungging. Delapan orang anggota Partai Teratai Api itu langsung menghunus senjata mereka, hanya tiga orang yang bersenjata kelewang gembrug itu yang tidak menghunus senjata.
"Habisi dia...!" perintah orang yang tadi dikalahkan Anggala. Tanpa menunggu perintah kedua kalinya lima orang itu langsung melompat menyerang kearah Pendekar Naga Sakti.
"Heaaa....!!" semua anggota Partai Teratai Api itu mengayunkan kudok mereka kearah tubuh Anggala. Namun Pendekar Naga Sakti bukannya bergerak menghindar, ia malah diam tidak bergeming.
Trang! Trang!
"Hah!" kelima orang itu tampak terkejut dan terjajar mundur dengan tangan terasa kesemutan. Telapak tangan kanan kelima orang itu terasa nyeri akibat kudok mereka bagai mengenai bongkahan besi.
"Tubuhnya bagai besi," kata salah seorang penyerang sambil memegangi pergelangan tangan kanan dengan tangan kirinya.
"Aku juga merasa kesemutan di tanganku," jawab salah seorang temannya yang lain.
"Kenapa kalian diam. Hah!" bentak orang yang tadi memberi perintah. Sementara orang yang memakai gelang tiga buah di lengannya masih duduk diam di atas punggung kudanya. Mata orang itu menatap tidak berkedip kearah Anggala.
"Maaf ketua, tubuhnya kebal senjata," jawab salah seorang anak buahnya yang barusan menyerang Anggala.
Sret!
Tiga orang anggota Partai Teratai yang bersenjata kelewang gembrug itu, akhirnya menghunus senjata panjang yang mirip samurai itu. Tiga orang itu langsung mengepung Pendekar Naga Sakti dari tiga arah.
"Hiaaa...!!" secara serentak tiga orang itu menyerang Anggala dari tiga sudut berbeda. Ada yang menusuk kearah perut dan ada yang mengayunkan klewangnya kearah kepala Pendekar Naga Sakti itu. Orang yang ketiga menebaskan klewangnya kearah dada Anggala.
Trang! Trang!
__ADS_1
"Heh.!" ketiga orang itu tampak terkejut melihat klewang andalan mereka membal begitu mengenai sasaran. Belum sempat mereka menarik diri Anggala sudah bergerak begitu cepat, sehingga ketiga orang itu hampir tidak menyadari telapak tangan Pendekar Naga Sakti telah menghantam telak tubuh mereka.
Bruk!
"Akh..!" mereka bertiga mengeliat kesakitan di tanah, sambil memegangi bagian tubuh mereka yang di hajar Anggala.
"Hup!" orang yang memakai gelang tiga buah yang dari tadi diam diatas kuda. Tiba-tiba melompat dan bersalto kedepan Anggala.
"Mundur kalian! Dia bukan tandingan kalian," perintah orang yang memakai gelang tiga buah tersebut. Kedelapan anak buahnya melangkah mundur sambil menolong tiga orang yang terluka.
Pendekar Naga Sakti menggunakan ilmu 'Mata Malaikat'.nya, sehingga ia dapat melihat seberapa besar tenaga dalam orang yang berdiri di depannya. Anggala bisa melihat tingkat tenaga dalam orang yang berdiri sekitar tiga tombak di depannya itu, memiliki tenaga dalam di atas enam puluh persen.
"Seorang pendekar yang cukup dikjaya mempunyai tenaga dalam di atas enam puluh persen berada di dalam Partai Teratai Api. Aku tidak tau kisanak dari golongan mana? Tapi, sebaiknya urusan ini tidak diteruskan, karna akan ada dendam bagi yang kalah," kata Anggala begitu tenang.
"Kau cukup hebat anak muda. Tapi aku Jarot Si Skin Perak Mata Elang, akan membuat kau menyesal menginjakkan kaki di daerah Gunung Dempo ini," jawab Jarot bernada dingin, pertanda ia adalah seorang yang cukup berpengalaman dalam menghadapi musuh.
"Langkah kaki kami mengikuti jalan, hidup kami mengikuti takdir dan nasib kisanak. Aku tidak pernah menyesal kemana pun aku pergi, semua itu adalah takdirku," jawab Anggala sengit, namun mempunyai arti tersendiri kata-kata Pendekar Naga Sakti tersebut.
Tap! Tap! Tap!
Jarot merasa serangan tinjunya di papaki dengan mudah, bergerak mundur. Kemudian ia kembali melompat dengan sebuah tendangan yang cukup cepat dan bertenaga dalam tinggi kearah dada Anggala.
"Hup!" Pendekar Naga Sakti bergerak mundur dua langkah menghindari tendangan Jarot itu. Dua kali tendangan Jarot hanya mengenai angin di depan dada Anggala sekitar sejengkal. Tendangan ketiga Jarot di tangkapnya dan dengan begitu gesit sebuah tendangan kaki kanan Anggala tepat mengenai perut Jarot.
Buak!
"Akh..!" lenguhan kesakitan terdengar tertahan keluar dari mulut Jarot, sebelum tubuhnya terpental sekitar dua tombak kebelakang.
"Hah..!" Jarot mengeram kesal sambil menepuk tanah. Jarot kembali berdiri dengan cukup cepat walau tangan kirinya tampak memegangi perut.
__ADS_1
Sut! Sut!
Jarot kembali memasang kuda-kudanya dan bersiap kembali menyerang.
"Heaaah...!" Jarot kembali melompat dengan serangan telapak tangan terbuka. Jarot langsung menggunakan ilmu 'Tapak Besi'.
Tap!
Anggala langsung menghadang dengan jurus 'Tapak Dewa'. gerakan tangannya yang begitu cepat hampir tidak terbaca oleh Jarot, sehingga jurus 'Tapak Dewa yang di berikan Ki Sura Jaya itu tepat menghantam dada Si Skin Perak Mata Elang.
Desss...!!
"Aaakh...!" Jarot mengeluh kesakitan seraya dengan tubuhnya terpental beberapa tombak ke belakang. Kali ini Jarot tidak mampu lagi melompat bangun. Si Skin Perak Mata Elang itu bergerak bangun dengan tertatih, tangan kirinya menyeka darah yang mengalir dari mulutnya.
Kita kembali beberapa saat sebelum Anggala mengalahkan Jarot. Enam orang yang mengeroyok Bidadari Pencabut Nyawa tampak telah terlibat pertarungan. Sabetan dan tebasan kudok di tangan keenam orang itu di tangkis Wulan Ayu dengan kipas elang peraknya.
Trang! Trang!
" Huh! Kak Anggala sudah menghajar sepuluh orang yang mengeroyoknya. Sedankan aku masih bermain dengan enam orang ini, aku bisa di ledek sama kak Anggala kelamaan mengalahkan para cecunguk ini," Wulan Ayu membatin sambil meliukkan tubuhnya menghindari sabetan kudok salah seorang anak buah Jarot.
"Hup!" Wulan Ayu melompat mundur sekitar tiga tombak kebelakang. Kipas elang perak ditangan Bidadari Pencabut Nyawa tampak terkembang di depan dadanya, lukisan elang berwarna perak itu tampak bagitu indah di daun kipas yang terbuat dari benang perak itu.
"Sebaiknya kalian mundur! Aku tidak ingin bermain-main. Jangan sempat kesabaranku habis!" ancam Wulan Ayu dengan nada suara cukup dingin.
Srek!
Pisau-pisau kecil runcing tampak menyembul dari ujung daun kipas elang perak. Pisau belati kecil yang berjarak setiap sekitar tiga jari diujung kipas elang perak itu. Mendengar ancaman Bidadari Pencabut Nyawa keenam anak buah Jarot tampak saling pandang.
.
__ADS_1
.
Bersambung....