Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dendam Tiga Elang. Bergerak


__ADS_3

Suara kicau burung menghiasi pagi. Cahaya mentari mulai menerangi jagat raya. Mahluk bumi mulai beraktivitas sesuai kemampuan dan keinginannya.


Kampung Jati Arum tampak begitu tenang. Suasana damai dan tentram tampak di nikmati para penduduk Kampung ini.


Suara canda terdengar dari dalam warung Ki Suro. Anggala dan Wulan Ayu tampak lagi menikmati secangkir teh hangat buatan Kemboja. Begitu pun dengan Kamandaka bersama dua adik seperguruannya.


Para pendekar muda itu tampak saling berkelakar dalam menyiapkan rencana keberangkatan mereka menuju gunung pungur.


Tiga Elang pun tampak sudah mulai akrab dengan ketiga Pendekar Tongkat Naga Emas itu. Ketampanan Kamandaka dan kedua adik seperguruannya telah memikat hati tiga gadis cantik kakak beradik itu.


Begitu pun sebaliknya. Keramahan dan kecantikan Tiga Elang pun telah memikat hati Tiga Murid Pertapa Sakti Tongkat Emas itu.


"Anggala... Tampaknya kita tidak bisa datang secara terbuka di pertemuan tokoh silat golongan hitam itu," Ucap Kamandaka sambil menyeruput teh di cangkir keramik yang ada di depannya.


"Kalau kami berlima harus datang secara terang-terangan sahabat! Karna anak buah Tiga Warok Singa Merah itu telah menantang kami di pertemuan itu," Jawab Anggala sambil menyantap ubi rebus.


"Menurut penyelidikan kami, tampaknya mereka bakal menyiapkan sandera untuk mengalahkan Kalian. Jadi kami bertiga akan datang tanpa di ketahui oleh para perampok itu. Kami akan mencoba melepaskan para gadis yang mereka tawan di markas besar mereka," Lanjut Kamandaka lagi.


"Apa pertemuan itu di markas mereka, atau di puncak gunung pungur sahabat?" Tanya Wulan Ayu.


"Markas besar mereka berada di puncak gunung pungur itu Sahabat, Kemungkinan pertemuan itu di markas mereka," Jawab Kamandaka.


"Apa mereka selama ini sering mengadakan penculikan?" Tanya Dewi Arau sambil tersenyum.


"Selama ini Kelompok Warok Singa Merah itu tidak pernah menculik para gadis walau mereka sangat terkenal kejam dan kesadisannya. Kemungkinan mereka akan menggunakan para gadis itu sebagai penyambut tamu dan sebagai tameng untuk mengalahkan Kalian," Jawab Kamandaka tampak cukup serius.


"Jadi kita bebaskan para gadis itu dulu Sahabat?" Tanya Anggala lagi.


"Sebaiknya Kalian tetap dengan rencana pertama. Kami bertiga yang akan menyusup ke markas mereka," Jelas Kamandaka.


"Baiklah! Siang ini kita berangkat, Apa kita bisa memakai kuda kesana?" Tanya Anggala lagi.

__ADS_1


"Kalau memakai kuda kita hanya bisa mencapai markas besar yang ada di bawah, Kemungkinan pertemuan itu di adakan di markas pusat yang ada di puncak gunung pungur Sahabat," Jawab Kamandaka.


"Baiklah! Berarti kita berangkat jalan saja," Kata Pendekar Naga Sakti lagi.


"Aki harap Kalian bisa kembali dengan selamat nak Pendekar," Ucap Ki Suro sambil duduk di sebuah meja yang tidak jauh dari meja yang di tempati Anggala dan teman-temannya itu.


"Terima kasih Ki. Doa Aki bersama kami," Jawab Anggala sambil tersenyum.


"Setelah lepas makan siang hari itu. Anggala dan Wulan Ayu pun beranjak meninggalkan Kampung Jati Arum bersama Tiga Elang dan Tiga Pendekar Tongkat Naga Emas.


Setelah berjalan hampir setengah hari mereka memasuki wilayah gunung. Hutan lebat yang mengelilingi gunung pungur membuat cahaya hampir tidak dapat menyentuh tanah sehingga daerah hutan itu agak banyak di tumbuhi lumut.


"Sebaiknya kita istirahat Sahabat! Sebentar lagi gelap, tempat ini sudah cukup dekat dengan markas besar Perampok Singa Merah itu," Kata Kamandaka sambil menghentikan langkahnya.


"Baiklah Sahabat, Kalian lebih mengenal daerah ini jadi Kalianlah yang jadi pemandu," Jawab Anggala sambil tersenyum, " Apa sebaiknya kita membuat perapian di tempat ini?"


"Ya sebaiknya kita buat perapian, Karna malam sebentar lagi datang, banyak ular di daerah seperti ini," Jawab Kamandaka. Mereka pun mengumpulkan ranting untuk membuat api unggun.


Sementara itu di markas besar Perampok Singa Merah itu sendiri tampak telah terjadi keramaian. Banyak undangan yang telah datang. Para tokoh golongan hitam di daerah Selatan ini mulai berdatangan mereka langsung menuju markas puncak yang di diami oleh Tiga Warok Singa Merah.


Suasana malam di markas besar Perampok Singa Merah tampak begitu meriah para perampok yang berkumpul di tempat itu tampak saling bercanda sambil minum-minuman dan menikmati ayam panggang dan daging bakar.


Kesempatan itu di manfaatkan oleh Tiga Pendekar Tongkat Naga Emas, untuk menyusul ke dalam bangunan besar markas Perampok Singa Merah itu.


Kamandaka yang bergerak cepat dan begitu ringan melompat ke arah atap bangunan itu. Raka Adiwangsa menyusup di bagian selatan. Sedangkan Aryaguna menyusup di bagian belakang bangunan.


Kamandaka memanfaatkan para perampok yang kebanyakan sudah mabuk arak dan tuak itu. Kamandaka berjalan mengendap-ngendap sambil memperhatikan di mana para gadis desa itu di tahan.


Di sebuah ruangan di belakang bangunan itu terdapat sebuah ruangan yang cukup besar. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah kerangkeng yang cukup besar yang di buat dari kayu pilihan. Di dalam kerangkeng itulah sekitar tiga puluh orang gadis itu di kurung.


"Hei..! Kenapa kita tidak boleh menikmati para gadis yang ada di dalam kerangkeng ini?" Tanya salah seorang perampok pada temannya sambil menegak botol arak yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Pesan Ketua para gadis itu tidak boleh di ganggu. Para gadis itu untuk berjaga-jaga, kalau pendekar golongan putih banyak yang datang. Mereka akan di jadikan tameng untuk mengalahkan para pendekar golongan putih itu," Jawab salah seorang perampok yang bertugas jaga.


"Biasanya pertemuan ketua kita tidak ada pendekar golongan putih yang terlibat. Tapi kenapa kali ini para pendekar golongan putih itu terlibat ya?"


"Katanya banyak petinggi kita yang di kalahkan para pendekar golongan putih di kampung Jati Arum. Aku dengar teman-teman kita banyak yang tewas oleh para pendekar golongan putih itu. Katanya para ketua kita mau menghabisi mereka saat pertemuan nanti," Jawab salah seorang perampok itu.


Aryaguna berhasil menyusup ke dalam bangunan itu. Dengan secepat kilat Aryaguna berhasil menotok dan melumpuhkan empat orang perampok yang bertugas jaga itu.


"Siapa Kau?" Tanya salah seorang gadis desa yang berada di dalam kerangkeng. Ketika kerangkeng itu di buka oleh Aryaguna.


"Shiiit...! Jangan keras-keras. Saya datang untuk membebaskan Kalian!" Ujar Aryaguna agak berbisik. Para gadis itu saling menatap satu sama lain.


"Sekarang Kalian ikuti Saya diam-diam. Kita lewat pintu belakang," Kata Aryaguna lagi. Para gadis kampung itu langsung menggangguk menyetujui perkataan Aryaguna. Perlahan mereka berjalan menuju pintu belakang yang kebetulan memang tidak di jaga.


Aryaguna membawa para gadis kampung itu melalui jalan pintas lewat belakang bangunan besar itu. Kebetulan di sana ada pintu rahasia yang di buat khusus untuk para perampok yang tinggal di markas besar Perampok Singa Merah itu.


Aryaguna dan para gadis berhasil mencapai tempat di mana Anggala dan Wulan Ayu bersama Tiga Elang menunggu.


"Kalian berhasil Sahabat!" Ucap Anggala.


"Kita harus cepat tinggalkan tempat ini. Jika para perampok itu tau perlawanannya hilang. Mereka pasti menggeledah hutan ini," Ujar Kamandaka yang juga telah kembali.


"Kak Kamandaka antar para sahabat ini ke markas puncak. Saya dan Aryaguna yang akan mengantar para gadis ini ke kampung Jati Arum," Ucap Raka Adiwangsa.


"Tidak apa-apa Sahabat. biar kami berangkat sendiri pagi ini ke puncak gunung pungur. Kalian bertiga antar saja para gadis ini," Jawab Anggala meyakinkan Raka Adiwangsa.


"Baiklah! Sahabat, kami akan mengawal gadis-gadis ini sampai ke kampung Jati Arum dulu. Berhati-hati Lah Tiga Warok Singa Merah itu mengundang banyak tokoh silat golongan hitam kali ini," Pinta Kamandaka sambil tersenyum. Mereka bertiga pun meninggalkan tempat itu di dalam kegelapan malam.


Sementara itu di markas besar Perampok Singa Merah itu. Mereka belum menyadari kalau tawanan mereka telah hilang dari tempat itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2