Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Kittibun dan Klahan tewas


__ADS_3

Sementara itu Singo Abang yang berhadapan dengan salah seorang anggota Tujuh Pedang Pembunuh yaitu Kamon, tampak cukup kerepotan menghadapi dua pedang dari musuh-musuhnya. namun murid Panglima hijau bukanlah orang sembarangan walau cukup kewalahan Singo Abang masih bertarung cukup gesit beberapa kali serangannya berhasil memukul musuhnya.


Tapi karena kekuatan perisai tubuh Kamon yang dimiliki oleh pembunuh bayaran dari Negeri Muathai itu membuat ia tidak mengalami luka yang berarti.


"Ilmu orang ini cukup membuat aku kalang kabut, serangannya begitu beraturan tidak memberiku jeda untuk merapal jurus tingkat tinggi," gumam Singo Abang seakan berbisik pada dirinya sendiri sambil melentingkan dirinya ke udara setinggi sekitar tiga tombak.


Singo Abang sempat menoleh ke arah pertarungan Singo Jayo yang berhadapan dengan musuhnya yang sedang bertarung dengan seru di ujung sana terlihat Wulan Ayu sedang berhadapan dengan Kittibun dan tidak jauh dari Wulan Ayu terlihat Singo Sarai sedang bertarung dengan sengitnya.


Tampak di balik pintu rumah penduduk beberapa kepala tampak menongol dari balik jendela dan balik pintu, mereka cukup penasaran dengan pertarungan yang sedang terjadi antara pendekar golongan putih yang membela Desa mereka dan para pembunuh bayaran yang berniat menghabisi para pendekar golongan putih itu.


Klahan tampak berusaha mendesak Singo Sarai dengan kedua pedangnya yang selalu menyabet dan menebas secara bergantian. Namun dengan keris sepanjang lebih kurang tiga puluh sentimeter di tangannya, Singo Sarai menangkis setiap serangan.


Trang! Trang!


"Hup!" Wulan Ayu tampak berkelebat kesana-kemari menangkis dan menghindari pedang Kittibun dan pedang Klahan yang begitu gencar mencercanya.


"Huh...! Kurang ajar, mereka begitu kompak. Mereka seakan tidak ingin memberiku peluang untuk merapal jurus," gerutu Wulan Ayu sambil terus melayani serangan kedua pembunuh bayaran itu.


"He he he....! Nisanak sebaiknya kau menyerah. Kami janji kematianmu akan singkat, he he he...!" tawa Kittibun terkekeh melihat Wulan Ayu cukup kerepotan menghadapi serangan pedang mereka.


"Bertarung dengan curang saja kalian sombong Kisanak!" geram Wulan Ayu, sebuah kesempatan Wulan Ayu cepat merapal pukulan tenaga dalam dan melepaskannya kearah Kittibun.


"Heh!"


Desss!


Tubuh Kittibun yang terhantam sinar putih yang keluar dari telapak tangan Wulan Ayu tampak terjajar kebelakang, namun tubuh penasehat kelompok Tujuh Pedang Pembunuh itu tidak mengalami luka yang serius.


Kesempatan itu di pakai oleh Wulan Ayu untuk melompat menjauh sekitar tiga tombak dari kedua musuhnya. Serangan yang direncakan memang untuk mengecoh Kittibun dan Klahan.


"Kittibun, Kau tidak apa-apa?" tanya Klahan menghampiri Kittibun.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, serangan itu hanya sebagai pengecoh. Lihat, dia merapal ilmu tingkat tinggi," kata Kittibun yang menyadari Bidadari Pencabut Nyawa telah merapal jurus tingkat tinggi.


Terlihat pedang Elang Perak bersinar terang di depan wajah gadis itu. Sedangkan tubuhnya mulai mengambang keudara sekitar satu tombak.


Wulan Ayu memang merapal jurus 'Pedang Kayangan'. tingkat enam. Sedangkan di tangan kirinya yang tersusun di depan dada di isi dengan ilmu pemberian Pendekar Tapak Dewa yaitu pukulan 'Tapak Dewa'. tingkat tiga.


Cahaya kuning mulai menyelubungi tubuh Wulan Ayu, cahaya itu mulai membentuk seorang berpakaian mirip kaisar dengan kedua telapak tangan menghadap kedepan.


Dua bayangan baru sampai di depan warung Aki Syarif, mereka adalah Anggala dan Jaka Kelana. Anggala melihat Jaka Kelana mengalami luka dalam cepat menghampiri sahabatnya itu.


"Jaka, tampaknya kau terluka sahabat. Sebaiknya kau istirahat dulu. Biar aku yang akan membantu dinda Wulan Ayu," kata Anggala.


"Aku hanya mengalami luka dalam ringan, aku cukup terkejut mereka memiliki tubuh yang sangat kuat dan kebal," sahut Jaka Kelana.


"Ya, aku pun tadi terpaksa menggunakan jurus 'Pedang Sembilan Naga'. tingkat sembilan untuk menghadapi pimpinan mereka," kata Anggala.


"Baiklah, Sahabat. Kau istirahat, obati luka dalammu. Aku harus membantu dinda Wulan Ayu," setalah berkata Pendekar Naga Sakti langsung melesat ke arah Wulan Ayu dan langsung berdiri di bawah Bidadari Pencabut Nyawa yang mengambang di udara itu.


Sret!


Cahaya putih kebiruan semburat keluar dari pedang mustika Naga Sakti yang di cabut Anggala dari warangkanya. Pemuda itu langsung mengerahkan jurus 'Pedang Sembilan Naga'tingkat tujuh.


"Kurang ajar, dimana Khemkhaeng? Apa pemuda itu sudah mengalahkan pimpinan kita?" kata Kittibun sambil menyilangkan kedua pedangnya di depan dada.


"Jangan banyak prasangka dulu. Khemkhaeng bukanlah orang yang mudah dikalahkan, ilmu perisai tubuhnya sulit di tembus senjata," sahut Klahan yang melintangkan kedua pedangnya di depan dada.


"Kita gabungkan jurus 'Pedang Iblis Kematian' tingkat enam Klahan, tampaknya ilmu pedang yang mereka lapal adalah jurus tingkat tinggi," kata Kittibun.


"Baik," jawab Klahan singkat, keduanya tampak menggeser tubuh mereka kearah samping dan membuat pedang mereka menyilang.


Cahaya merah yang menyelimuti pedang Kittibun dan Klahan mulai membesar dan menyelubungi tubuh mereka.

__ADS_1


"Heaaah....!!" bentakan keras menggema dibarengi dengan cahaya merah yang menyelubungi Kittibun dan Klahan menderu meluncur deras kearah Anggala dan Wulan Ayu.


"Hiyaaaa.....!!"


"Hiyaaat......!!" Anggala dan Wulan Ayu pun berteriak nyaring seraya menyabetkan pedang dan mendorongkan tangan mereka ke arah depan. Bayangan besar yang menyelubungi tubuh Wulan Ayu pun mendorongkan telapak tangannya ke arah depan.


Wrrrrr......!!


Swoosss....! Swoosss.....!!


Blaaarrrrr.......!!!


Tanah terasa bergetar, bumi bagaikan di landa gempa. Tanah dan debu berhamburan di tambah gelombang api membubung keudara di sertai asap hitam bercampur putih.


"Hukh....!!" Anggala dan Wulan Ayu tampak terjajar kebelakang, kedua pasangan pendekar muda itu cepat memperkuat kuda-kuda mereka. Sementara angin kencang menghempas membuat pepohonan menggugurkan daun tua.


"Dinda tidak apa-apa?" tanya Anggala begitu angin mereda. Terlihat di tepian hutan desa itu beberapa pohon sebesar pohon kelapa tumbang dan hancur.


Kawah kering terlihat menganga disana, hanya tanah dan daun-daun mati yang mengisi kawah tanah itu, tempat itu tampak begitu hancur dan porak-poranda.


Di ujung kawah tanah itu di dekat beberapa batang pohon yang rebah dan patah, Kittibun dan Klahan sudah tidak bergerak lagi. Tubuh mereka hitam bagaikan sudah terpanggang, dada mereka tampak melintang luka yang cukup besar.


Darah mengalir dari luka mereka. Pedang andalan keduanya tampak masih tergenggam di tangan, mata mereka melotot menggambarkan bahwa mereka telah mengalami sakit yang amat sangat.


"Dinda, tidak apa-apa. hanya luka ringan," sahut Wulan Ayu seraya menyeka sedikit darah yang mengalir dari sela bibir indahnya. Anggala menyorongkan tangan kanannya dan dengan lembut ujung jemarinya mengelap darah di bibir kekasihnya itu.


Sebuah senyum terulas dari bibir sang Bidadari Pencabut Nyawa, ada kebahagiaan di hati mereka. Walau kadang nyawa mereka selalu di pertaruhkan melawan musuh-musuh yang mempunyai kepandaian tinggi dan tak terduga.


.


.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2