
Sementara Anggala sendiri jadi agak bingung dengan keadaan dan suasana hatinya yang saling bertentangan. Bagaimana tidak semua sahabat dekatnya termasuk kekasihnya Wulan Ayu meminta ia tidak mengikuti pertemuan para pendekar di puncak Gunung Kerinci itu.
Anggala akhirnya di tengah perjalanan memilih memanggil burung rajawali dan menaiki burung rajawali putih.
Di tengah perjalanannya Anggala mengutarakan semua kegelisahan hatinya pada burung rajawali. Burung rajawali yang mengerti tutur bahasa Anggala mendengarkan semua keluh kesah sang majikan dengan seksama.
Burung rajawali bukanlah burung biasa, burung itu memberi nasehat dan wejangan pada Anggala dengan baik. Anggala juga menghubungi kedua guru nya melalui ilmu telepati yang ia miliki.
Anggala mendapat nasehat dan wejangan dari gurunya dan kakek gurunya sama persis dengan nasehat dari burung rajawali putih.
"Baiklah rajawali, tampaknya aku akan tetap ikut pertemuan di puncak Gunung Kerinci. Seperti yang kau katakan aku harus menerima takdir sebagai seorang pendekar yang di harapkan banyak orang saat ini," kata Anggala sambil menepuk pelan leher rajawali putih.
"Irrrkkkh....!" rajawali putih mengkirik sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda menyetujui perkataan Pendekar Naga Sakti tersebut.
Rajawali putih tampak terbang berputar-putar di atas awan tepat di atas Gunung Kerinci.
Sementara itu Wulan Ayu bersama Jaka Kelana, Singo Abang dan kedua adiknya meneruskan perjalanan ke puncak Gunung Kerinci bersama Nini Sumirah dan putrinya Cindai Mata.
"Aku berharap rajawali putih juga melarang kak Anggala ikut pertemuan ini," kata Wulan Ayu saat mereka singgah untuk istirahat di tengah perjalanan.
"Ya, aku pun berharap hal yang sama Wulan," timpal Jaka Kelana.
"Tapi aku yakin kakek guru kak Anggala tidak melarangnya ikut pertemuan itu," kata Wulan Ayu lagi.
"Kedua pendekar besar itu selalu mendukung keputusan Anggala. Mereka tidak pernah memaksakan keinginan mereka," tambah Jaka Kelana.
"Kau pernah bertemu kedua pendekar besar itu, Sahabat?" tanya Singo Abang.
"Kami sempat bertemu saat terjadi perang besar di Kerajaan Galuh Permata dengan pemberontak lebih kurang setahun yang lalu," sahut Jaka Kelana.
"Kau beruntung sahabat, bisa bertemu pendekar kawakan seperti kakek Pertapa Naga," puji Singo Abang.
__ADS_1
"Kakek guru kalian juga pendekar yang hebat, Sahabat. Guruku pernah bercerita tentang Datuk Panglima Hijau yang di segani di dunia persilatan tanah Andalas ini," kata Jaka Kelana.
"Tapi kakek guru tidak pernah banyak cerita tentang dirinya, Sahabat," sahut Singo Jayo menimpali.
"Tentu saja, seorang pendekar besar tidak pernah menceritakan seberapa hebatnya kemampuan yang ia miliki. Tapi orang lainlah yang memuji kepandaiannya," puji Singo Abang.
Wulan Ayu tampak melamun sendirian tidak jauh dari Jaka Kelana dan Singo Abang dengan kedua adiknya yang saling bercerita.
"Kak Wulan, kenapa melamun? Kakak memikirkan kak Anggala?" tanya Cindai Mata menghampiri sang Bidadari Pencabut Nyawa tersebut.
"Eh... Cindai Mata. Ya, aku memang memikirkan kak Anggala, Cindai," sahut Wulan Ayu berusaha tetap tersenyum walau senyumnya tampak tak bergairah seakan memaksakan diri.
"Kau tidak usah terlalu susah, Nak Wulan. Aku yakin Anggala bisa memutuskan hal yang terbaik. Anggala adalah orang yang memikirkan orang lain, walau nini baru bertemu nak Anggala tapi aku sudah bisa tahu jiwa seorang satria yang merakyat ada pada jiwa Anggala," kata Nini Sumirah sambil duduk di samping Wulan Ayu.
"Terima kasih, Nini. Setahun lebih saya mengembara bersama kak Anggala, baru ini saya melihat kak Anggala bingung dengan keadaan yang menimpanya," kata Wulan Ayu terdengar sendu.
"Berdoalah pada Tuhan, karena dialah tempat kita mengadu yang terbaik," kata Nini Sumirah menaehati.
"Bagaimana? kita teruskan perjalanan?" tanya Jaka Kelana sambil bangkit dari duduknya.
"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan, jika sudah siang matahari agak terik," kata Nini Sumirah menyetujui ajakan Jaka Kelana.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Kerinci. Di perjalanan mereka terlihat saling diam, mereka larut dengan pikiran mereka masing-masing.
Di belakang mereka terlihat serombongan pendekar yang berjalan mendaki, di bagian depan seorang laki-laki setengah baya. Laki-laki itu adalah Ki Sudrajat pimpinan Perguruan Bangau Putih bersama beberapa orang kepercayaannya.
"Guru sepertinya di depan kita itu adalah pendekar golongan putih," kata seorang pendekar muda yang berjalan di belakang Ki Sudrajat.
"Hmm..., aku tidak memperhatikan, Seta," sahut Ki Sudrajat sambil memandang ke depan mereka.
"Bukankah itu Wulan Ayu, tapi dimana Anggala?" gumam Ki Sudrajat seakan berbicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa guru mengenali orang-orang di depan kita itu?" tanya Seta pada Ki Sudrajat.
"Ya, gadis yang berpakaian serba biru itu adalah kekasih Pendekar Naga Sakti yang bergelar Bidadari Pencabut Nyawa, tapi aku tidak melihat Pendekar Naga Sakti," sahut Ki Sudrajat lagi. Seta hanya mengangguk mendengar penjelasan gurunya tersebut.
"Wulan Ayu....!" seru Ki Sudrajat keras memanggil.
"Eh... Ada yang memanggilku," Wulan Ayu tersentak dan menoleh kebelakang.
"Orang-orang yang ada di belakang kita itu yang memanggilmu, Wulan," kata Jaka Kelana.
"Siapa?" Wulan Ayu memandang ke belakang ke arah rombongan orang-orang Perguruan Bangau Putih itu.
"Hmm...., itu Ki Sudrajat. Berarti itu adalah orang-orang dari Perguruan Bangau Putih," kata Wulan Ayu.
"Aku akan menghampiri mereka sebentar, Jaka," tambah Wulan Ayu sebelum melesat ke arah Ki Sudrajat dan para muridnya itu.
"Rupanya Ki Sudrajat juga ikut serta dalam pertemuan ini," kata Wulan Ayu begitu menjejak kaki tidak jauh dari Ki Sudrajat.
"Oh... Wulan Ayu, dimana Anggala? Aku tidak melihatnya bersama kalian?" tanya Ki Sudrajat.
"Kak Anggala telah duluan bersama rajawali, Ki. Sepertinya kak Anggala lagi bingung dengan semua permintaan kami yang melarang dia ikut pertemuan ini," sahut Wulan Ayu.
"Begitu. Aku pun berharap Anggala tidak ikut pertemuan ini, Wulan. Tapi pedang yang ada di Anggala lah yang mampu mengalahkan pamor pedang Jagat yang di miliki oleh Setan Merah Pencabut Nyawa dan Pendekar Naga Hitam," kata Ki Sudrajat lagi.
"Sekarang kita hanya bisa memohon kepada Tuhan agar kak Anggala di lindungi dari segala balak dan keburukan orang-orang golongan hitam itu, Ki," kata Wulan Ayu lagi.
"Ya, semoga yang terbaik dan Anggala selalu di lindungi Tuhan," harap Ki Sudrajat, "Ayo kita teruskan perjalanan, hari semakin siang dan cuaca pun semakin terik."
"Ya, Ki," sahut Wulan Ayu. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Kerinci karena pertemuan pada purnama tiga belas tepat pada esok hari.
.
__ADS_1
Bersambung....