Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Rencana Anggala


__ADS_3

"Bagaimana Apakah kita harus bertindak jika yang diceritakan oleh itu? maka kami akan membantu Nini Untuk menumpas orang-orang yang membuat penduduk kehilangan harta mereka," kata Jaka Kelana


"Tidak, Nak. Tidak sekarang, bertindak mengadakan perlawanan memang bisa kita lakukan. Namun nyawa anak-anak yang tidak bersalah terlalu mahal untuk di korbankan," sahut Nini Sumirah.


"Jika memang kalian mempunyai teman lain, sebaiknya hubungi mereka untuk menyelidiki dimana mereka menyekap anak-anak di desa ini?" tambah wanita tua itu.


Pandangannya tampak begitu tajam walau tubuhnya sudah agak keriput dan rambut di kepalanya telah memutih, namun tubuh wanita tua itu tampak tegap walau kan pekerjaannya sehari-hari memasak dan menyiapkan makanan di warungnya.


"Ya, saya memang mempunyai beberapa teman, tapi saya juga tidak begitu tahu apakah Anggala dan Wulan Ayu sudah berada di wilayah Gunung Kerinci ini atau tidak, tapi melihat bulan diatas kemungkinan Anggala dan Wulan Ayu memang sudah berada di wilayah Gunung Kerinci untuk mengadakan pertemuan para pendekar di puncak Gunung Kerinci pada Purnama 12 nanti," sahut Jaka Kelana.


Baguslah, jika kau bisa menghubungi siapa tadi, Anggala, bukankah kau mengatakan Anggala itu Pendekar Naga Sakti?" tanya wanita tua itu.


"Ya, Nini. Anggala adalah nama dari Pendekar Naga Sakti murid Laksmana Pendekar Naga Sakti yang terdahulu," jawab Jaka Kelana. Sementara Singo Abang hanya mendengarkan percakapan antara Jaka Kelana dan wanita tua pemilik warung itu.


Malam itu Jaka Kelana mencoba menghubungi Anggala melalui ilmu telepati yang dimilikinya.


Sementara itu Anggala dan Wulan Ayu yang telah lebih dahulu mencapai puncak Gunung Kerinci dengan bantuan burung rajawali putih tampak sedang beristirahat di bawah sebuah batang pohon yang cukup besar mereka membuat api unggun dan membakar beberapa ikan yang berhasil mereka dapat dari danau di bawah Gunung Kerinci.


"Dinda, jika Dinda mengantuk Istirahatlah dulu biar kakak yang berjaga-jaga," kata Anggala sambil membolak-balikkan ikan panggang yang berada di atas bara api, sudah beberapa ekor ikan yang sudah mereka santap untuk mengisi perut mereka yang seharian tidak terisi karena mereka mengadakan perjalanan.


"Sebenarnya dinda tidak begitu mengantuk, sahut Wulan Ayu sambil tersenyum, "Tapi baiklah, dinda istirahat duluan," Wulan Ayu pun memejamkan matanya dan bersandar di bahu Pendekar Naga Sakti.


beberapa saat Pendekar Naga Sakti merasakan ada sesuatu kekuatan yang menghampirinya. Wulan Ayu pun menyadari.


"Apakah ada seseorang yang mencoba menghubungi kakak melalui telepati?" tanya Wulan Ayu.


"Ya, sepertinya Jaka Kelana menghubungiku lewat telepati, Dinda," sahut Anggala.


Pendekar Naga Sakti sambil menggeser duduknya dan mengambil posisi bersemedi


"Ada apa, Jaka. kenapa Kau menghubungiku, apakah ada masalah?" tanya Anggala melalui telepati.


"Ya, Aku ingin kita bertemu di bawah. Gunung Kerinci di tepi danau karena ada masalah Yang aku temui di Desa Bukit Kayangan tidak beberapa jauh dari Gunung Kerinci," sahut Jaka Kelana melalui telepati.

__ADS_1


"Baiklah, besok pagi kita bertemu di tepi danau Kerinci," sahut Anggala lagi melalui telepati.


"Ada apa, apa yang terjadi dengan Jaka Kelana dan yang lainnya, Kak?" tanya Wulan Ayu merasa penasaran.


"Entahla, kakak juga tidak mengetahui apa yang terjadi? Namun sepertinya Jaka Kelana dan yang lainnya mendapat masalah di desa. Bukit Kayangan," jawab Anggala.


"Apa sebenarnya masalah yang terjadi di sana?" Wulan Ayu semakin penasaran.


"Kita akan menemui mereka di tepi danau Kerinci esok pagi," jawab Anggala sambil tersenyum.


"Baiklah," kata Wulan Ayu sambil tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Anggala.


#####


"Suiit....! Suiiitt..........!!"


Suara siulan nyaring terdengar lantang keluar dari mulut Pendekar Naga Sakti, sebuah sinar merah melesat ke arah langit.


Tidak lama kemudian sebuah titik hitam tampak meluncur deras ke arah Anggala dan Wulan Ayu yang berdiri di sebuah tempat terbuka.


"Aaaarrrkkk....!!"


Burung rajawali raksasa itu langsung mendarat begitu ringan di depan Anggala dan Wulan Ayu.


Wulan Ayu tampak tersenyum melihat rajawali mengkirik menyapa dirinya setelah lebih dahulu menyodorkan kepala ke arah Anggala.


"Aku butuh bantuanmu, untuk turun kebawah dengan cepat, Sahabatku," kata Anggala menjawab kirikan rajawali yang seakan bertanya padanya.


"Aaarrrkkk....!!" rajawali mengangguk-angguk kepalanya mengerti dan menerima permintaan Anggala.


"Ayo, Dinda," ajak Anggala seraya melompat ke atas punggung rajawali raksasa yang di pangginya si putih itu.


"Iya," sahut Wulan Ayu sembari melompat dan duduk di belakang Anggala. Burung rajawali raksasa itu pun melompat dan melesat dengan sangat cepat bagai kilat.

__ADS_1


"Itu mereka," kata Anggala menunjuk ke arah bawah dan dimana tampak empat titik hitam di tepi danau kerinci.


"Kita ke dekat mereka, Sahabat," kata Anggala sambil menepuk pelan leher rajawali.


"Irrrkkk....!!" rajawali menjawab sambil mengangguk dan kemudian meluncur deras ke bawah.


"Eehhh.....!" Singo Sarai terperanjat begitu rajawali raksasa mendarat tidak seberapa jauh dari mereka.


Anggala dan Wulan Ayu segera melompat turun, setelah mengangguk kepala kearah Anggala burung rajawali langsung melesat bagai kilat keudara.


"Aku tidak menyangka jika kau memiliki peliharaan seekor burung rajawali raksasa, Sahabat," kata Singo Abang kagum.


"Dia bukan peliharaanku, Sahabat. Burung rajawali itu adalah guru dan sahabatku sejak kecil," sahut Anggala tampak keberatan jika si putih disebut sebagai peliharaan.


"Maaf, Sahabat. Aku tidak bermaksud menyinggungmu," ucap Singo Abang.


"Tidak apa, Sahabat. Kau tidak salah, cuma aku merasa tidak pantas rajawali di sebut sebagai peliharaan. Walau dia pun tidak keberatan jika di sebut seperti itu," kata Anggala sambil tersenyum.


Wulan Ayu tampak menemui Singo Sarai, sementara Anggala berbicara dengan Jaka Kelana dan Kedua murid Datuk Panglima Hijau dari Bukit Tambun Tulang tersebut.


"Jadi kau ingin aku menyelidiki dimana mereka menyembunyikan anak-anak itu, Jaka?" tanya Anggala setelah mendengar cerita Jaka Kelana.


"Ya, setelah anak-anak itu aman, kita akan mengadakan perlawanan pada orang-orang tamak yang menguras harta rakyat jelata itu, Anggala," sahut Jaka Kelana.


"Baiklah, malam ini aku akan memasuki desa Bukit Kayangan secara diam-diam bersama dinda Wulan Ayu," kata Anggala.


"Kalian sendiri mau kemana?" tanya Anggala.


"Kami akan kembali ke warung mak Sumirah, sepertinya orang-orang tuan tanah itu sedang mengawasi kami di sana," jawab Jaka Kelana.


"Baiklah, sebaiknya kalian hati-hati," kata Anggala. Jaka Kelana dan Singo Abang hanya mengangguk dan kemudian beranjak pergi dari tempat itu.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2