
Di lain tempat pertarungan di daerah rumah Ki Sarwala itu. Tampak Bidadari Pencabut Nyawa yang berhadapan dengan Tuja alias Manusia Batu itu. Mereka saling berhadapan, Pedang Elang Perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu meliuk liuk di udara ke arah Tuja Manusia Batu itu.
.
Trang.! Trang.!
Trisula kembar di tangan Tuja itu berhasil menahan setiap serangan pedang Bidadari Pencabut Nyawa itu.
Namun Tuja tampak mulai kewalahan menghadapi 'Jurus Pedang Kayangan'. Bidadari Pencabut Nyawa itu.
.
Di tambah dengan peningkatan tenaga dalam dan peningkatan Jurus yang di pakai Bidadari Pencabut Nyawa itu. Tuja hanya bisa menghindar dan menangkis serangan lawannya, tanpa di beri kesempatan menyerang balik ke arah Bidadari Pencabut Nyawa itu.
"Hiaaa...!"
Jerit melengking keluar dari mulut Bidadari Pencabut Nyawa itu, maka seketika tubuhnya melesat cepat bagai kilat ke arah Tuja. Sehingga ayunan pedang di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu tidak sempat di hindari dan di tangkis olehnya.
Sret..!
"Aakh...!"
Lenguhan kecil keluar dari mulut Tuja Manusia Batu ketika lengannya tersambar mata pedang Elang Perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu. Tuja melompat mundur sekitar dua tombak sambil memegangi lengannya yang terluka itu, tampak darah mengalir dari balik lengan bajunya.
.
"Bangsat.! Sesuai dugaanku tadi, pedang pusaka elang perak itu sanggup menembus kekebalan ku!" Guman Tuja setengah berbisik. Ia memandang sekeliling hanya satu anak buahnya yang tersisa dan sedang berhadapan dengan Pendekar Naga Sakti.
.
"Tampaknya aku tidak bisa menang melawan Bidadari Pencabut dan Kekasihnya itu, anak buah pilihanku semuanya telah tumbang, kecuali Sota, wajar saja kalau rombongan Sota tadi malam keteteran menghadapi dua pendekar ini," Guman Tuja lagi dalam hati, tanpa pikir panjang lagi ia pun melesat ke dalam hutan di samping rumah Ki Sarwala itu.
.
"Hei! Jangan lari Kau!!" Bentak Bidadari Pencabut Nyawa ia lansung melesat ke arah perginya Tuja Manusia Batu itu.
.
"Dinda! Biarkan saja, dia nanti juga akan kembali!" Seru Anggala alias Pendekar Naga Sakti, mengetahui Wulan Ayu berniat mengejar Tuja yang melarikan diri.
Wulan Ayu alias Bidadari Pencabut Nyawa menghentikan langkahnya, ia tampak menggerutu sendiri karna musuhnya lagi-lagi melarikan diri.
__ADS_1
.
Melihat Pendekar Naga Sakti sedikit lengah. Sota lansung melesat menyerang ke arah Pendekar Naga Sakti dengan jurus goloknya. Kali ini Anggala si Pendekar Naga Sakti tidak sempat mengelak karna pandangan terfokus ke arah Wulan Ayu atau Bidadari Pencabut Nyawa.
Trang..!
Lagi lagi Sota di buat terjajar tangannya sampai kesemutan, karna goloknya bergetar ketika mengenai tubuh Pendekar Naga Sakti itu. Belum sempat Sota mengobati getaran di tangannya, Pendekar Naga Sakti telah melesat dengan sangat cepat bagai kilat menyambar ke arahnya.
.
Sebuah pukulan telak mengenai tubuh Sota. Anggota Kelompok Topeng Hitam itu terpental beberapa tombak, dengan luka dalam yang cukup parah. Sota berusaha bangun dari jatuhnya, ia segera membuka topeng hitam yang ia pakai. Begitu topengnya terbuka tampak di bibirnya darah segar mengalir sampai ke dahinya.
.
Para penduduk desa Talang kuda lansung mengepung Sota dengan mengacungkan golok ke arahnya. Merasa tidak mungkin lagi melawan Sota memilih menyerahkan diri kepada para penduduk.
.
Wulan Ayu alias Bidadari Pencabut Nyawa mendekati Sota yang lagi di kepung Ki Sarwala dan kawan-Kawannya. Ki Sarwala dan Para penduduk itu mundur begitu Wulan Ayu mendekat.
.
"Apa yang harus kita lakukan pada penjahat satu ini nak Wulan?" Tanya Ki Sarwala. ia memberi aba-aba pada para tetangganya itu untuk mundur menjauh, tanpa menunggu lagi para penduduk itu segera menjauhi Sota yang lagi berusaha bersemedi, untuk mengobati luka dalam yang dalam yang ia derita.
.
.
"He he...! Nak Wulan bisa juga bercanda!"
.
"Tunggu Ki, kita tidak boleh membunuh musuh yang sudah menyerah, dia juga manusia," Kata Anggala tampak menghampiri Wulan Ayu dan Ki Sarwala.
.
"Jadi apa yang harus kita perbuat pada anggota Kelompok Topeng Hitam yang satu ini?" Tanya Wulan Ayu tampak lebih melunak dan sembari berjalan ke dalam rumah Ki Sarwala itu.
.
"Terserah nak Anggala lah, kita serahkan padanya," Ujar Ki Sarwala pada teman-temannya. Para penduduk itu hanya mengangguk mengiyakan pendapat Ki Sarwala itu.
__ADS_1
Sota tampak masih bersemedi untuk mengobati luka dalam yang ia derita. Tampak Sota juga tidak berniat melarikan diri dari tempat itu.
Hari ini adalah hari yang cukup beruntung bagi Sota, nyawanya tidak melayang seperti kawan-Kawannya yang lain. Sedangkan Tuja alias Manusia Batu telah melarikan diri dalam keadaan terluka, kekebalan yang ia dapat dari Ki Dukun harus tandas di pedang Elang Perak Wulan Ayu.
.
.
Sementara itu, di markas Kelompok Topeng Hitam. Bekas Perguruan Silat melayu yang di pakai Ki Dukun sebagai markasnya itu. masih terlihat tenang, Ki Dukun begitu yakin kalau anak buah kesayangannya akan berhasil membawa Lastri ke hadapannya.
.
Namun yang terjadi hari ini di luar dugaan, Tuja alias Manusia Batu kembali dengan keadaan terluka dan anak buah yang ia bawa tidak satupun kembali lagi ke markas mereka.
.
"Apa yang terjadi Tuja? Siapa para pendekar itu? Sehingga mampu melukaimu?" Tanya Ki Dukun sambil turun dari tempat duduknya dan lansung menemui Tuja yang berlutut di hadapannya itu.
.
"Maafkan Saya Ki! Saya berhadapan dengan Bidadari Pencabut Nyawa, dan Pendekar muda yang bernama Anggala, tampaknya dia juga seorang Pendekar Pedang, di punggungnya juga terdapat sebuah pedang yang di bungkus kain putih, tapi Saya mengenali jurus yang ia pakai, 'Jurus Tapak Naga!"
Tuja tampak menunduk hormat dan agak takut jika Ki Dukun tidak menerima kekalahannya.
.
"Bidadari Pencabut Nyawa? Murid Malaikat Pemarah dan Bidadari Galak?! Jika yang memakai Jurus Tapak Naga'. itu seorang pemuda kemungkinan dia adalah murid si Lesmana Pendekar Naga Sakti! Jika benar lawanmu adalah murid-murid pendekar golongan putih tingkat atas itu, wajar saja kalau Kau mampu di kalahkan!"
Ki Dukun, ia memegang bahu Tuja yang terluka itu, ia membaca mantra dan dari tangannya keluar asap, begitu tangannya di angkat luka di lengan Tuja itu hilang tidak berbekas, yang tersisa hanya lengan bajunya yang masih koyak.
.
"Terima kasih Ki, sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Tuja lagi.
"Bangunlah dulu, Aku sendiri yang akan turun tangan menghadapi dua orang pendekar muda itu," Ujar Ki Dukun sambil mengajak Tuja bangun dari berlututnya.
.
Bersambung...
Jangan lupa like koment dan favorit ya.
__ADS_1
Terima kasih...
( Pembaca lebih suka baca percakapannya yang di buat khusus miring atau biasa saja?? tolong di jawab ya?? butuh saran!!! )