
Suasana tenang kini hilang ditelan hiruk pikuk pertarungan. Pertarungan bagai medan perang. Puluhan bahkan ratusan anak buah Kelabang Hijau mengeroyok para pendekar yang menjadi pelindung Desa Mekar Ramai itu.
Anggala yang berhadapan dengan Roksa Geni tampak masih saling berhadapan. Salah seorang anak buah kelompok Iblis Perak yang berpakaian ala ninja bertopeng tengkorak itu mencoba menyerang Anggala.
Pendekar Naga Sakti menggeser sedikit tubuhnya ke samping sehingga serangan orang bertopeng tengkorak itu hanya mengenai angin kosong. Secepat kilat Anggala menyorongkan tinjunya kesamping. Orang bertopeng tengkorak itu terkejut, namun terlambat pukulan Pendekar Naga Sakti itu sudah tidak mungkin dihindarinya.
Prakk.!"
"Aaakhh...!" topeng tengkorak berwarna merah itu hancur terhantam kepalan tinju Anggala. Darah menyembur dari mulut orang itu disertai tubuhnya terpental ketanah. Anak buah Kelabang Hijau itu langsung tewas seketika.
"Heaaah...!" Kelabang mengembor marah melihat anak buahnya tewas terkena pukulan Anggala. Sebuah jurus tangan kosong yang memakai dasar jurus 'Cakar Kelabang Merah'. pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
Dek!
Anggala cepat menangkis serangan Roksa Geni itu dengan telapak tangannya. Pertarungan gerak cepat mulai terjadi, kedua pendekar lain golongan itu saling mengerahkan kesaktian yang mereka miliki.
"Hiyaaa..!" Anggala menegoskan tubuhnya keudara ketika cakar Kelabang Merah mengarah cepat ke tubuhnya. Pendekar Naga Sakti meluncur cepat dengan jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'. Kelabang Merah terperanjat dan berusaha menarik tubuhnya kebelakang, namun serangan Pendekar Naga Sakti itu terlalu cepat untuk dihindari.
Creb!
"Aaakh..!" Kelabang Merah melenguh kesakitan sambil sambil melompat mundur, lengan kirinya terkoyak terkena cakaran jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'. tingkat tiga Cakar Elang Besi.
"Kurang ajar, gerakannya sangat cepat. Ayo Roksa Geni dimana hasil tapamu selama bertahun-tahun," desah Roksa Geni seakan menyemangati dirinya sendiri. Kelabang Merah menutup luka di tangannya dengan telapak tangan kanannya. Hawa murni Kelabang Merah mengalir untuk mengobati luka ditangan kirinya.
"Kau memang hebat anak muda, tapi Kau belum tau siapa Kelabang Merah!" dengus Kelabang Merah setelah mengobati luka di lengannya. Roksa Geni menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Cahaya merah mulai menyelubungi kedua tangan Roksa Geni itu.
"Ajian Kelabang Merah! Heaaah...!" Kelabang Merah mengangkat kedua tangannya keatas kepala, sinar merah itu berubah menjadi kelabang raksasa dan membungkus tubuh Roksa Geni.
"Hup!" Anggala pun tidak diam. Pendekar Naga Sakti itu pun meningkatkan tenaga dalamnya dan mempersiapkan jurus 'Tapak Naga tingkat lima Amarah sang naga.
__ADS_1
Sementara itu ki Sura Jaya tampak saling mengukur kemampuan dengan Reksa Gana. Kedua dedengkot dunia persilatan daerah selatan yang berlawanan itu tampak saling menatap tajam satu sama lainnya.
"Pendekar Tapak Dewa kenspa Kau masih mencampuri urusan dunia persilatan ini, bukankah Kau sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan?" ketus Reksa Geni sambil meningkatkan tenaga dalamnya. Kedua tangannya menyilang didepan dada. Telapak tangan Kelabang Hijau itu membentuk cakar.
"Hehehe...! Kau yang tolol atau aku yang bodoh Kelabang Hijau, sekarang kutanya padamu, jika rumahmu di ganggu orang lain, apa Kau akan diam saja?" dengus Ki Sura Jaya sambil tertawa, tokoh silat satu itu bagai tidak mempersiapkan diri, tangan kirinya memegangi kepalanya seperti menggaruk, sedangkan tangan kanannya masih tetap di tempatnya.
"Dasar orang aneh, siapa pun akan marah jika rumahnya diganggu orang lain!" hardik Reksa Gana.
"Hehehe..! Jadi Kau tidak usah bertanya lagi. Desa Mekar Ramai ini adalah rumahku, selama ini aku terlalu membiarkan kalian bertindak semema-mena. Sampai putriku menyadarkanku," tukas Ki Sura Jaya dengan begitu tenang. Namun nada suaranya cukup tinggi.
"Kalau begitu Pendekar Tapak Dewa akan tinggal nama hari ini! Hiyaaa..!" Reksa Gana melesat kearah ki Sura Jaya dengan begitu cepat, tangannya yang membentuk cakar menyambar cepat kearah wajah Pendekar Tapak Dewa.
"Eit...! Kau kira Kau sedang menghadapi anak kemarin sore Kelabang Hijau, hehehe...!" tawa Ki Sura Jaya sambil menarik tubuhnya kebelakang, sehingga serangan Reksa Gana itu lewat didepan Wajahnya. Tangan kanan Pendekar Tapak Dewa itu bergerak cepat kearah dada Kelabang Hijau.
"Heh!" Reksa Gana cukup terkejut, namun ia cepat menghindari serangan Pendekar Tapak Dewa itu dengan menggeser cepat tubuhnya kearah samping.
"Hehehe..!" Ki Sura Jaya malah terkekeh melihat Kelabang Hijau berhasil menghindari serangan telapak tangan kanannya.
"Heh..!" Reksa Gana tampak terperanjat ketika sapuan siku kanan Pendekar Tapak Dewa menghantam bahunya. Kelabang Hijau terjajar ke samping. Namun cepat ia menengoskan tubuhnya keudara sebelum melompat kebelakang.
"Hehehe...! Bagaimana Kelabang Hijau, apa Kau mampu mengalahkan orang tua ini dengan cepat hah!" hardik ki Sura Jaya sambil mempersiapkan jurus Tapak Dewa, Tapak Besi Kayangan.
"Tapak Besi Kayanga? Aku harus menghadapinya dengan jurus 'Tapak Iblis Neraka, Cakar Kelabang Api'.," guman Reksa Gana seperti berbicara pada dirinya sendiri. Kelabang Hijau itu meningkatkan tenaga dalamnya ke arah telapak tangannya. Cahaya merah kehitaman menyelubungi kedua telapak tangan Reksa Gana tersebut.
****
Kita lihat Tiga Pendekar Kembar yang menghadang tiga orang anggota Iblis Perak. Dilayani tampak telah terlibat pertarungan sengit. Beberapa kali pukulan tangan kosong gadis berbaju jingga itu berhasil mengenai tubuh Iblis Perak. Namun Iblis Perak hanya terjajar mundur kebelakang.
"Hiyaaa..!" jeritan melengking keluar dari mulut Dilayani, tangannya yang memegang payung berwarna jingga itu mengayun kearah tubuh Iblis Perak. Serangan Dilayani itu cukup cepat. Sehingga Iblis Perak tidak sempat menghindar.
__ADS_1
"Sret!
"Aakh..!" Iblis Perak yang mengeluh kesakitan, ujung payung Dilayani yang berbentuk pisau kecil berwarna putih itu berhasil mengenai lengan kirinya. Iblis Perak itu cepat melompat mundur.
"Wuss!
Sebuah tongkat pedang berwarna hitam, muncul di tangan Iblis Perak tersebut. Iblis Perak itu mengebutkan tongkat pedangnya kedepan dan melompat maju.
Trang!
Begitu cepat payung ditangan Dilayani itu mengembang dan menahan serangan tongkat pedang Iblis Perak.
Rrrrrrrr.....!
Iblis Perak itu tampak terkejut karena payung di tangan Dilayani tiba-tiba berputar cepat, jika Iblis Perak terlambat bergerak mundur. Maka tubuhnya akan terkena pisau kecil yang berada di setiap ujung penyangga payung.
"Heh..! Ilmu gadis ini cukup tinggi, kenapa selama ini mereka tidak pernah mengadakan perlawanan. Mereka hanya sembunyi di belaksng para pendekar yang dibawa Wiratama itu," gumam Iblis Perak dalam hati.
"Ayo Iblis Perak, kita lanjutkan, atau nyalimu sudah ciut karna teman-temanmu sudah banyak yang tewas ditangan kami hah!" tantang Dilayani sambil tersenyum tipis menyungging. Ledekan Dilayani itu membuat Iblis Perak naik pitam, tanpa pikir panjang lagi ia langsung menyerang Dilayani dengan tongkat pedangnya tanpa mengatur arah serangannya lagi.
"Hehehe..! tampaknya caraku berhasil, jika tidak membuatnya marah, akan cukup sulit mengalahkan iblis ini," gumam Dilayani dalam hati sambil bergerak mundur menghindari serangan Iblis Perak itu.
Cress..!
"Aaakhh...!" sebuah serangan balasan yang begitu cepat diarahkan Dilayani kearah Iblis Perak, ujung payung yang berupa pisau sepanjang satu jengkal itu tepat menancap di leher Iblis Perak. Suara menggorok keluar dari mulut Iblis Perak. Tongkat pedangnya terlepas dari tangan Iblis Perak tersebut. Darah mengalir dari sela jemarinya yang memegangi lehernya itu. Darah segar juga ikut menyembur dari mulutnya.
Iblis Perak itu terhuyung mundur, dan tidak lama kemudian jatuh berlutut dan tewas dengan tertelungkup ketanah.
.
__ADS_1
Bersambung...