
"Maafkan saya, Datuk Sesepuh berdua. Jika saya boleh tahu ada perlu apa ketua Perguruan Alam Jagat ingin bertemu dengan saya?" tanya Pendekar Naga Sakti.
"Anak Muda, maafkan kami berdua yang telah mengganggu perjalananmu. Kami ingin meminta bantuanmu, masalah pedang jagat yang di rebut oleh Pendekar Naga Hitam dan Setan Merah Pencabut Nyawa.
Dua senjata itu terlalu berbahaya bagi orang lain, jika di gunakan oleh orang yang salah. Kami ingin kau menghancurkan sepasang pedang jagat, saat kau bertemu dengan kedua pendekar itu," jawab Datuk Rambut Putih sebagai kakak tertua Datuk Rambut Merah.
"Kenapa harus di hancurkan, Kek?" tanya Anggala.
"Pedang jagat hanya di kalahkan oleh mustika pedang naga sakti milikmu. Kami tidak ingin kedua pedang itu membuat petaka di dunia persilatan.
Selama ini pedang itu bisa kami jaga, namun saat ini dunia persilatan tampaknya di rundung prahara. Kesalahan kami adalah menyimpan pedang itu di tempat terbuka," tutur Datuk Rambut Putih.
"Kenapa kakek tidak menggunakan kedua pedang itu saat berhadapan dengan kedua pendekar itu?"
"sebenarnya kami bisa saja menggunakan pedang langit dan pedang bumi namun kami sudah terikat sumpah tidak akan menggunakan pedang itu lagi setelah kejadian 15 tahun yang lalu jawab Datuk rambut putih
"Apa yang terjadi ,Kek?" tanya Anggala lagi.
"Kalau kau ingin tahu dengarkan cerita kakek baik-baik," jawab Datuk Rambut Putih.
"Dua puluh tahun yang lalu kami masih malam melintang di dunia persilatan, namun kami bukanlah salah satu dari kedua golongan yang terkenal di dunia persilatan yaitu golongan putih dan golongan hitam.
__ADS_1
Kami di kenal dengan golongan merah yang netral dalam urusan dunia persilatan. Kami tidak pernah ikut campur urusan para pendekar dunia persilatan, yang sering kali mengadakan pertemuan para pendekar untuk menentukan Siapa pendekar nomor satu di pulau Andalas ini.
Suatu hari kami di hadang oleh serombongan orang-orang dari Perguruan golongan putih, perguruan itu bernama Perguruan Elang Putih. Rupanya Perguruan Elang Putih telah Adi peralat oleh orang-orang dunia persilatan golongan hitam.
Entah siapa dalang dari semua itu sehingga para pendekar dari Perguruan Elang Putih mencari kami dan menemukan kami di lembah mayat saat itu. Mereka mengepung kami tidak kurang dari empat puluh orang.
Mereka mengatakan jika kami sudah menyantroni perguruan mereka dan membunuh beberapa orang dari murid Perguruan Elang Putih.
Kami berusaha menyangkal akan tuduhan itu, namun mereka tetap tidak mau menerima penjelasan kami. Pertarungan pun tidak terelakkan, kami berdua kakak beradik terpaksa menghadapi gempuran orang-orang Perguruan Elang Putih saat itu. Pertarungan terjadi hampir sehari semalam menghadapi empat puluh orang yang mempunyai kemampuan cukup tinggi.
Karena kami memiliki sepasang Pedang Jagat. Kami berhasil mengalahkan keempat puluh orang pendekar dari Perguruan Elang Putih itu, namun begitu kami sadar semua anggota Perguruan Elang Putih itu tewas di ujung pedang Jagat.
Setelah itu kami jadi buronan para pendekar golongan putih yang berniat menuntut balas dan mencari keadilan.
Kakek gurumu Pertapa Naga yang juga ikutan mendatangi kami, tapi beliau begitu bijaksana. Beliau mau mendengar penjelasan kami berdua.
Setelah urusan itu selesai kami berdua bersumpah tidak akan menggunakan kedua pedang jagat lagi. Kami hanya menyimpan kedua pusaka itu di perguruan kami," tutur Datuk Rambut Putih panjang lebar.
"Tragis juga ya, Kek. Cerita kalian berdua, di cari dan di buru oleh tokoh-tokoh besar golongan putih," ungkap Anggala bersimpati mendengar penjelasan Datuk Rambut Putih tersebut.
"Saya akan berusaha mengabulkan permintaan Kakek berdua, sebisa saya," tambah Anggala lagi.
__ADS_1
"Nak Anggala, tinggallah barang semalam di sini sebelum melanjutkan perjalananmu. Kakek yakin kau pun cukup lelah melakukan perjalanan kemari melalui jalan pintas yang di tunjukkan oleh Singa Rudra dan Blabang Geni," kata Datuk Rambut Putih.
"Kakek pun ingin berkenalan lebih dekat dengan seorang pendekar besar semuda dirimu, nak Anggala," tambah Datuk Rambut Merah.
"Baiklah, Kek. Tapi saya hanya bisa satu malam. Saya meninggalkan Wulan Ayu di Desa sendirian, kami telah terlibat urusan dengan orang-orang Perguruan Elang Hitam, Kek. Saya takut terjadi apa-apa padanya, sedangkan dia adalah amanat Sepasang Pendekar Pemarah, Kek," tutur Anggala.
"Semalam saja, Anak Muda," sela Datuk Rambut Putih sambil tertawa kecil.
"Baiklah, Kek,"
.
******
.
.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman. Like, komen dan semua hadiah dan respon dari para pembaca adalah penyemangat author dalam menulis.
__ADS_1
Jika para pembaca tidak keberatan tolong beri rating novel terima kasih banyak