
Angin tampak bertiup sepoi-sepoi, tak ada awan hujan yang menutupi langit. Namun lidah petir berkali-kali menyambar ke arah dua orang yang bergerak bagai kilat sambil mengayunkan pedangnya.
Ctar! Ctar!
Trang! Trang!
"Akgh....!" Klahan dan Kamon memekik tertahan ketika lidah petir menghantam tubuh mereka. Keduanya tampak terpental dengan diikuti debu dan tanah menyembur ke udara.
Kedua pedang Kamon dan Klahan memang sempat mengenai tubuh Pendekar Naga Sakti, namun pedang kedua anggota Tujuh Pedang Pembunuh itu tidak berhasil melukai.
"Hukh!" Anggala merasakan nyeri di bagian tubuhnya yang terkena sabetan dan tebasan pedang Kamon dan Klahan. Pemuda itu cepat melompat mundur beberapa langkah.
"Ha ha ha....! Wajahmu kenapa jadi hitam begitu, Kamon?" Klahan tidak mampu menahan tawanya melihat wajah temannya jadi hitam legam. Walau Klahan tampak memegangi dada dengan bibir tampak mengalir darah.
"Uhuak! Kau.... Kau hanya melihatku, coba lihat wajahmu," sahut Kamon sambil menahan tawanya, walau dadanya terasa sesak mau pecah. Darah merah mengalir dari sela bibir Kamon.
Klahan perlahan mengusap wajahnya dengan belakang tangan kanannya, betapa terkejutnya Klahan melihat belakang tangannya yang hitam bagai terkena arang.
"Kamon, dadaku cukup sesak setelah terkena pukulan dari pemuda itu," desah Klahan setengah berbisik.
Sementara Anggala tampak mengalirkan hawa murni ke arah bagian tubuhnya yang terkena sabetan kedua pedang anggota Tujuh Pedang Pembunuh itu.
"Mereka boleh dibilang sangat hebat, jarang sekali manusia yang mampu bertahan setelah terkena pukulan dari ilmu 'Tinju Halilintar'." desis Anggala dalam hati. Memang ia tidak mengalami luka di bagian tubuh yang terkena sabetan kedua senjata musuhnya. Namun hasil yang di
__ADS_1
berikan oleh pukulan ilmu 'Tinju Halilintar'.
tidak menyebabkan Kamon dan ke Klahan tewas membuat Pendekar Naga Sakti cukup terkejut.
Jika tidak dengan kesaktiannya yang tinggi tentu saja Anggala, sudah lari tunggang-langgang melihat musuhnya yang mampu menahan dampak dari pukulan yang cukup berbahaya itu.
"Jika tidak kita memiliki ilmu 'Seraksa Sukma'.
tentu saja kita sudah mati terkena pukulan pemuda itu Klahan," kata Kamon sambil mengerahkan tenaga dalamnya.
"Ya. Untunglah Eyang guru memberikan ilmu 'Seraksa Sukma dan Seraksa Raga sama kita semua, jika tidak tentu kita sudah menjadi mayat berhadapan dengan pemuda itu," sahut Klahan.
"Kita harus mengerahkan ilmu 'Pedang Iblis Pembunuh'. tingkat tujuh Klahan. Jika tidak kita akan dikalahkan oleh pemuda itu."
"Ya, aku setuju denganmu."
Anggala harus mengantisipasi ilmu-ilmu yang tidak diduga dari kedua orang musuhnya, "Tidak mungkin mereka hanya mempunyai kepandaian biasa. Jika tidak karena kepandaian dan kesaktian mereka, paman Fhatik dan Setan Merah Pencabut Nyawa tidak akan mau membayar mereka dengan seribu keping emas. Jika mereka hanya mempunyai kesaktian seperti pendekar lainnya. Jelas mereka mempunyai kelebihan dalam segi ilmu kesaktian," gumam Pendekar Naga Sakti dalam hati.
Anggala segera menghunus pedang naga sakti dari balik punggungnya. Sinar putih kebiruan tampak memancar dari batang pedang pusaka mustika naga itu.
Klahan dan Kamon tampak terpaku dan setengah terpana melihat pamor pedang yang ada di tangan anggala itu
Melihat Anggala menghunus pedang pusaka dari balik punggungnya Khemkhaeng pun segera melesat cepat ke arah luar sambil melepaskan sebuah pukulan jarak jauh yang berbentuk Sebuah sinar merah bagai sebuah anak panah,
__ADS_1
dengan sangat cepat Anggala mengibaskan pedangnya dan menepis sinar merah itu sehingga menghantam ke arah hutan dan mengenai sebatang pohon yang cukup besar hingga pohon itu langsung putus menjadi dua dan tumbang jatuh ke tanah.
Melihat pimpinannya turun tangan salah seorang anggota Tujuh Pedang Pembunuh yang dari tadi masih diam duduk di kursi meja yang mereka tempati segera melesat sambil menghunus pedang panjang yang ada di balik punggungnya. Ia langsung dan menikam kan pedangnya ke arah Anggala, namun dengan begitu cepat dan Sigap Pendekar Naga Sakti menangis.
Trang!
Serangan kedua pedang dari anggota Tujuh Pedang Pembunuh itu dan sangat cepat Anggala. mengibaskan pedangnya dengan menggunakan jurus awal pedang 'Sembilan Naga.
Sebatan pedang Anggala berhasil menggores sedikit bahu anak buah Khemkhaeng itu, laki-laki yang berumur sekitar 40 tahun itu tampak ter surut mundur sambil melepaskan pedang di tangan kirinya dan menutupi luka di bahu kanannya.
"K,etua jurus pedangnya sangat berbahaya dan pedangnya mampu menembus kekebalan yang kita miliki," kata Klaew Kla sambil memegangi bahunya yang tampak mengucur darah segar.
"Ya, aku juga melihatnya," sahut Khemkhaeng sambil menatap tajam kearah Anggala secara perlahan Khemkhaeng pun menghunus kedua pedang yang ada di balik punggungnya dan segera menyilangkan pedangnya di depan dada.
Tatapan mata laki-laki yang menjadi pimpinan Tujuh Pedang Pembunuh itu begitu tajam bak mata serigala yang sedang memperhatikan mangsanya.
"Kita kepung dia dari empat arah!" perintah Khemkhaeng tanpa mengendurkan tatapan ke arah Anggala.
Tidak seorangpun dari anggota Tujuh Pedang Pembunuh yang membantah, mereka segera mengepung Anggala dari empat penjuru dengan delapan pedang yang bersilang di depan dada mereka.
"Huh! Menghadapi dua orang saja dari Tujuh orang Pedang Pembunuh ini sudah cukup kerepotan, apalagi mereka memiliki Kekebalan terhadap pukulan sakti. Tapi tampaknya tubuh mereka mampu ditembus oleh tajamnya pedang naga sakti," gumam Pendekar Naga Sakti setengah berbisik seakan berbicara pada dirinya sendiri.
.
__ADS_1
.
Bersambung.......