Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Dukun Ilmu Hitam


__ADS_3

Ledakan kecil di depan Pendekar Naga Sakti dan Bidadari Pencabut Nyawa itu membuat tempat itu di penuhi asap, begitu asap itu di terpa angin, anggota Kelompok Topeng Hitam telah meninggalkan tempat itu.


"Bangsat! Mereka kabur!" Umpat kesal Bidadari Pencabut Nyawa.


.


"Sudahlah Dinda! Kita punya tawanan di dalam!" Kata Anggala memberi tau.


.


"Maksud Kakak?"


.


"Seorang anggota Kelompok Topeng Hitam itu, Kakak totok di dalam rumah," Jawab Pendekar Naga Sakti, sambil berjalan ke dalam rumah, di nyalakannya kembali lampu pelita yang tadi sempat ia matikan.


.


Begitu cahaya menerangi ruangan tengah dalam rumah Ki Sarwala itu tampak seorang anggota Kelompok Topeng Hitam yang menjadi patung hidup di dekat dipan tempat Anggala berbaring tadi.


.


Tampak mak Tarsih dan Lastri juga ikut bangun, Lastri tampak ketakutan sambil memeluk sang ibu. Wulan Ayu menghampiri Lastri dan mak Tarsih.


.


"Jangan takut Lastri, mereka sudah pergi!" Kata Wulan Ayu berusaha menenangkan ketakutan Lastri.


.


"Tapi Wulan, itu masih ada satu!" Tunjuk Lastri ke arah angota Kelompok Topeng Hitam yang tegak kaku di tengah rumah itu.


.


"Tidak usah takut! Dia hanya patung hidup sekarang! Apa yang harus kita lakukan pada bajingan ini Kak?" Ujar Wulan Ayu sambil bertanya pada Anggala.


.


"Kita lepaskan totokan bagian atas kita tanya di mana markas mereka!"


.


Wulan Ayu berjalan menghampiri anggota Kelompok Topeng Hitam itu, dan menotok jalan darah di bagian lehernya, dan lansung membuka topeng orang itu.


Begitu topengnya terbuka tampak wajah orang itu adalah seorang pemuda yang masih cukup muda.


"Heh..! Bajingan, katakan di markas Kalian!" Bentak Wulan Ayu dengan penuh kebencian.


"Kau kira dengan menotokku! Aku akan mengatakan di mana markas kami hah!" Jawab orang itu dengan lantang, walau tubuh nya tidak bisa bergerak.


.


"Hei...! Kau tidak tau? Kau berhadapan dengan siapa?"


Timpal Pendekar Naga Sakti sambil mengambil cangkir bambu, dan menuangkan air putih, dan meminumnya.


"Kalian kira bisa menggertak kelompok topeng hitam hah!" Lepaskan aku, kita bertarung secara jantan!" Balas Jarsa dengan sengit.


.


"Baiklah, jika Kau ingin mati di tangan Bidadari Pencabut Nyawa, aku akan melepaskan totokkanmu!"


Ujar Pendekar Naga Sakti, sambil meletakkan cangkir bambu ke dekat kendi air minum.


.


"Bidadari..! Pencabut Nyawa...!!" Jarsa tampak terkejut setengah mati. " Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu?" Mata Jarsa terbelalak, wajahnya yang tadi tampak marah, kini berubah pucat dan ketakutan.


.


Sret...!


"Kau tau kipas ini?" Bentak Bidadari Pencabut Nyawa atau Wulan Ayu sambil mengembangkan kipas elang perak di depan wajah Jarsa.


.

__ADS_1


"Kipas Elang Perak!" Jawab Jarsa tampak ketakutan.


.


"Ha ha ha...! Tadi bukan main, sekarang Kau berubah pucat, apa yang Kau ketahui tentang Bidadari Pencabut Nyawa hah.!" Ujar Anggala sambil tertawa melihat wajah Jarsa yang pucat pasi itu.


.


"Kata Ketua kami, Bidadari Pencabut Nyawa terkenal kejam, dan bengisnya!" Jawab Jarsa dengan suara bergetar.


.


"Ha ha ha...! Jadi ketua Kelompok Topeng Hitam itu mengetahui gelar Bidadari Pencabut Nyawa ya? Jadi jika Kau tidak ingin merasakan kekejaman dan kebengisan Bidadari Pencabut Nyawa sebaiknya Kau katakan dimana markas besar kalian?" Bentak Bidadari Pencabut Nyawa sambil tertawa lepas.


.


Melihat tawa Wulan Ayu itu Lastri agak berkurang takutnya, ia sedikit merenggangkan pelukannya pada ibunya mak Tarsih.


.


"Markas kami di Perguruan silat melayu yang telah tutup itu!" Jawab Jarsa tampak ketakutan. "Sebaiknya kalian bunuh saja aku, aku tidak akan di biarkan hidup oleh Ki Dukun!" Tambah Jarsa lagi, tubuhnya berkeringat dingin karna menahan takut.


.


"Ki Dukun? Siapa itu?" Tanya Bidadari Pencabut Nyawa lagi.


.


"Dia adalah pimpinan Kelompok Topeng Hitam!" Jawab Jarsa dengan suara bergetar.


.


"Dia akan mengirim muridnya yang bergelar Manusia batu kesini! Untuk membunuhku dan membunuh Kalian," Tambah Jarsa dengan terbata bata.


.


"*Kenapa kalian menculik para gadis di Desa ini?"


"Untuk di jadikan tumbal ilmu hitam Ki Dukun,"


.


"Jadi siapa yang membunuh orang-orang Perguruan Silat melayu itu?" Tanya Anggala.


"*Ki Dukun dan Manusia Batu, Pendekar!"


"Kenapa dia di gelari Manusia Batu*?" Tanya Bidadari Pencabut Nyawa sambil mengerenyitkan keningnya.


.


"Tubuhnya kebal terhadap senjata tajam, dan tahan pukulan, Pendekar," Jawab Jarsa tampak agak tenang melihat sikap dua orang pendekar itu tidak menyiksanya.


.


"Sekarang apa yang ingin Kau lakukan Kisanak?" Tanya Anggala tegas.


.


"Jujur aku ingin bebas dari kekangan Ki Dukun itu Pendekar, sudah cukup dosa yang kami perbuat, kami harus menculik para gadis dari desa, untuk di jadikan tumbal ilmu hitamnya, parahnya lagi gadis gadis itu di ambil darah keperawanannya, dan setelah itu di jadikan pemuas n4f5u para pengikut setianya setelah itu di bunuh," Jarsa menjelaskan.


.


"*Tumbal untuk apa itu Kisanak?"


"Katanya untuk jadi awet muda, dan menjadi seorang Pendekar Sakti Madraguna*,"


.


"Jika kami mekrpaskanmu? Apa yang ingin Kau lakukan Kisanak?"


.


"Aku akan menjadi pengikutmu pendekar!" Jawab Jarsa dengan mantap.


.

__ADS_1


"Jika memang niatmu ingin lepas dari kekangan orang yang Kau sebut dengan Ki Dukun itu. kami akan membantumu, namun jika Kau berkhianat kami tidak akan mengampuni nyawamu!" Ujar Anggala dengan tegas.


.


"Nyawa ku sebagai taruhannya Pendekar!" Jawab Jarsa dengan penuh keyakinan.


"Bagaimana Mak?" Tanya Wulan Ayu pada mak Tarsih.


.


"Terserah Kalian Nak? Mak hanya ikut saja!" Jawab mak Tarsih sambil memandang ke arah Lastri.


"Siapa namamu Kisanak?" Tanya Wulan Ayu tampak lebih melunak, kipas elang perak di genggamannya di masukkan kembali ke balik baju biru kesayangan nya itu.


.


"Nama Saya Jarsa Kisanak!" Jawab Jarsa.


Tuk.! Tuk!


Anggala melepaskan totokkan di tubuh Jarsa, laki-laki itu lansung jatuh berlutut. Ia berusaha mengatur napasnya dan berusaha untuk berdiri.


"*Jadi apa yang harus saya lakukan Pendekar?"


"Kau boleh beristirahat, untuk memulihkan tubuhmu yang kaku karna di totok tadi*!" Ujar Anggala.


"Terima kasih banyak Pendekar!" Ucap Jarsa, ia lalu naik ke atas dipan dan bersemedi.


"Ayo Lastri, kita ke kamarmu!" Ajak Wulan Ayu.


"Ayo.!" Jawab Lastri singkat.


Akhirnya mereka kembali beristirahat, udara dingin mulai mulai terasa di kulit, mata pun mulai terasa berat.


.


Sementara itu di markas Kelompok Topeng Hitam. Melihat anak buahnya kembali dalam keadaan babak belur, Ki Dukun begitu murka.


.


"Apa yang terjadi? Menculik seorang gadis saja Kalian tidak becus! Hah...!!"


Brak...!


Meja di depannya jadi pelampiasan amarah Ki Dukun.


"Maafkan kami Ki Dukun! Kami dapat halangan dari dua orang pendekar muda, yang mempunyai kesaktian


jauh di atas orang orang yang saya bawa Ki Dukun!"


.


"Jadi orang-orang kampung itu telah menyewa Pendekar bayaran?!" Tanya Ki Dukun, wajahnya memerah menahan amarah.


.


"Kami tidak tau Ki! Yang jelas di rumah Ki Sarwala itu ada dua orang pendekar, seorang laki-laki dan perempuan!" Orang yang jadi pemimpin rombongan itu memberi penjelasan.


.


"Aku tidak melihat Jarsa? dimana dia?"


.


"Jarsa hilang saat saya perintahkan masuk ke dalam rumah Ki Sarwala!"


.


"Tuja.! Bawa beberapa orang terlatih, jemput Jarsa, sekalian bawa gadis itu, malam ke dua puluh satu tinggal Beberapa hari lagi, aku membutuhkannya untuk ritual akhir nanti!" Perintah pada tangan kanannya yang bergelar Manusia Batu.


.


"Baik Ki!" Jawab Tuja si Manusia Batu, ia pun mengajak sekitar sepuluh orang Anggota Kelompok Topeng Hitam, yang mempunyai ilmu tinggi berangkat pergi ke Desa Talang kuda.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2