Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Kedatangan Macan Hitam dan Macan Jenggi.


__ADS_3

"Tidak usah meninggalkan tempat ini Kak Sura, kami datang membantu!!!"


Semua mata berusaha mencari asal suara tersebut, namun tidak seorang pun yang melihat pengirim suara tersebut.


"Hei....! Siapa pun itu.... Keluarlah....!!!"


"Kalian berani menolak Tiga Macan, berarti kalian mau menerima kekalahan.. Ha ha ha......!" suara tawa menggema di seantero tempat itu, puluhan murid Aruma Sakta tampak meringis sambil menutup telinga mereka dengan kedua tangan.


Tidak lama kemudian muncul dua bayangan langsung berdiri di samping Kerta Sura dan ke empat muridnya yang berniat meninggalkan tempat itu dalam kekalahan.


"Kerta Mura, Kerta Gura..... Kalian datang," kata Macan Kuning melihat dua orang berpakaian serba merah dan serba hitam yang baru datang itu.


Kerta Mura adalah Macan Hitam, ia adalah adik kedua Kerta Sura. Kerta Gura yang bergelar Macan Api atau lebih di kenal dengan Jenggi.


[Di dalam kepercayaan sebagian masyarakat di daerah uluan sungai Batang Hari, Jenggi adalah sosok yang begitu menakutkan. Konon Macan Api atau Jenggi jika mengincar mangsa tidak ada yang dapat menghindar, semua itu semacam mitos atau hanya sebuah ketakutan yang di buat oleh makhluk tidak kasat mata. (Wallahu Aklam bisshoab)].


"Macan hitam dan Macan Jenggi?!" Aruma Sakta yang baru berniat masuk ke pendopo Perguruan Bambu Kuning tampak begitu terkejut melihat kedatangan dua tokoh silat Lembah Macan itu.


"Kau tidak apa-apa, Kanda?" tanya Macan Hitam menghampiri sang kakak. Tidak lama kemudian puluhan orang bertopeng macan berwarna hitam datang berlompatan memasuki pagar Perguruan Bambu Kuning itu.


"Aku hanya mengalami luka dalam, aku di kalahkan Pendekar Kelelawar Putih itu," jawab Kerta Sura agak lemah. Namun wajahnya tampak gembira melihat kedatangan kedua adiknya.


"Kanda, istirahat dulu, pulihkan luka dalam kanda. Biar kami yang akan memporak-porandakan perguruan ini!" kata Kerta Mura sambil memapah Kerta Sura.


"Gura, urus mereka...!" perintah Macan Hitam pada Macan Jenggi.


"Baik, Kanda Mura," jawab Macan Jenggi. Melihat itu puluhan murid Perguruan Bambu Kuning tampak maju ke depan dan berniat menghadapi orang-orang bertopeng macan berwarna hitam itu.


"Kanda, istirahatlah di dalam. Biar kami yang akan menghadapi mereka," ucap Aruni pada Aruma Sakta.


"Tapi, Aruni, mereka terlalu banyak," jawab Aruma Sakta masih memegangi dadanya.

__ADS_1


"Kak Jaka dan gurunya akan datang hari ini. Mudah-mudahan mereka cepat sampai," timpal Aruni lagi berusaha menenangkan Aruma Sakta, sedangkan Cakradana tampak bersiap di samping Aruni.


"Mudah-mudahan ayah juga kembali hari ini, jika tidak. Apa jadinya Perguruan Bambu Kuning ini," keluh Aruma Sakta sambil berjalan ke tengah pendopo dan segera duduk bersemedi.


Wuk! Wuk!


Puluhan murid Perguruan Bambu Kuning tampak langsung memakai tongkat bambu yang biasa mereka pakai untuk berlatih, sebagai senjata untuk menghadapi puluhan orang-orang bertopeng macan berwarna hitam itu.


"Kalian harus melangkahi mayat kami dulu, baru kalian bisa berbuat semau kalian di sini," kata salah seorang pemuda yang tampak maju paling depan. Ia adalah Galang Sungka seorang pemuda yang baru belajar di perguruan Bambu Kuning ini baru sekitar setahun ini. Namun Galang Sungka cukup cekatan dalam berlatih.


"Sebaiknya kau cepat meminta ampun pada kakakku, gadis tolol. Jika tidak, jangan salahkan murid-muridku akan menghajar murid Perguruan Bambu Kuning ini," ancam Kerta Gura terdengar datar, namun cukup tajam dan menggambarkan kebengesin.


"Ini adalah rumah kami, kalian datang sebagai tamu akan kami sambut. Semua itu tergantung kalian, kalian kejam. Kami juga bisa kejam!" jawab Aruni datar.


"Huh... Dasar, keras kepala. Anak-anak beri mereka pelajaran!" perintah Kerta Gura pada puluhan orang-orang bertopeng macan berwarna hitam itu.


"Baik, Guru!" jawab orang-orang bertopeng itu serentak, mereka langsung bergerak maju. Namun para murid Perguruan Bambu Kuning sudah menunggu mereka dengan tongkat bambu kuning teracung.


Puluhan orang-orang bertopeng macan itu langsung berlompatan menyerang, namun para murid Perguruan Bambu Kuning juga tidak tinggal diam. Mereka pun merangsek maju mengadakan perlawanan.


Pertarungan pun tidak terelakkan lagi, puluhan orang itu tampak saling berhadapan satu sama lain. mereka tampak berusaha menjatuhkan lawan yang mereka hadapi.


Beberapa jurus tampak telah berlangsung, Galang Sungka tampak berhasil merobohkan orang yang berhadapan dengannya. Sebuah ayunan tongkat bambu kuning yang ada di tangannya berhasil menghantam pinggang bagian kanan orang bertopeng itu.


"Kurang ajar!" geram Kerta Gura melihat beberapa orang muridnya berhasil di kalahkan murid Perguruan Bambu Kuning.


"Pakai formasi macan hitam!" bentak Kerta Gura. Mendengar perintah Kerta Gura tersebut, orang-orang bertopeng macan itu tampak bergerak mundur dan membentuk formasi sesuai yang di perintahkan oleh guru mereka tadi.


Tidak berselang lama, formasi yang di pakai oleh orang-orang bertopeng itu tampak berhasil membuat beberapa orang murid Perguruan Bambu Kuning jatuh dan terluka.


"Habisi mereka!" bentak Kerta Gura memberi perintah, beberapa orang yang dari tadi sudah menghunus golok langsung melompat ke arah murid Perguruan Bambu Kuning yang terluka dan berniat menghabisi nyawanya.

__ADS_1


"Hup! Hiyaaat....!"


Aruni langsung melompat ke arah orang-orang bertopeng yang berniat menghabisi murid-murid kakaknya itu.


Buak! Buak!


"Ahkh....!" beberapa orang yang terkena serangan Aruni tampak terpental ke tanah dan mengalami luka dalam, tampak darah mengalir dari bawah topeng mereka.


"Bangsat! Aku lawanmu gadis laknat! Heaaah....!" Kerta Gura langsung melesat menyerang ke arah Aruni dengan sebuah serangan tangan membentuk cakar. Macan Jenggi langsung menggunakan jurus 'Cakar Jenggi Besi'.


"Hih!"


Trang!


Aruni tampak terjajar mundur sekitar tiga langkah ke belakang setelah menapaki serangan Kerta Gura dengan pedang kelelawar putihnya.


"Tenaga dalam Macan Jenggi ini di atas tenaga dalam yang di miliki oleh Macan Kuning. Jika Kak Jaka dan Guru Kelana terlambat datang, aku dan kak Cakradana tidakkan sanggup menghadapi keroyokan dua tokoh hitam ini," desis Aruni dalam hati. Aruni hanya bisa berharap Pendekar dari Bukit Kancah cepat datang ke tempat itu.


"Kak Sura, kau istriahat dulu. Aku akan memberi pelajaran pada orang-orang sombong itu," kata Kerta Mura pada sang kakak. Kerta Sura hanya mengganggukkan kepala sambil tetap bersemedi.


Kerta Mura langsung melompat ke arah Cakradana dengan memakai jurus 'Cakar Macan Besi'. tingkat emoat, Macan Memecah Batu.


Dik!


Tiba-tiba sebuah bayangan putih menapaki serangan Kerta Mura yang berniat mengalahkan Cakradana dalam satu serangan pertama.


"Ha ha ha....! Menyakiti orang-orang Perguruan Bambu Kuning berarti membuat masalah dengan Pendekar Bukit Kancah..! Ha ha ha....!!!"


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2