
Trang! Trang!
Sementara Kenanga dan Ambara Wati masih terlibat pertarungan sengit. Kedua gadis itu bertarung dengan cukup kompak serangan pedang Ambara Wati selalu menyusul serangan tongkat selendang kuning Kenanga.
Anggota Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu tampak hampir kewalahan menghadapi kedua pendekar muda dari Perguruan Mawar Putih itu.
Apalagi kepandaian Kenanga sebagai Dewi Selendang Kuning cukup tinggi, selendang kuning yang berubah menjadi tongkat itu bergerak begitu cepat mencerca ke arah titik mematikan anggota Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu.
Namun pedang di tangan teman Arca Sena itu selalu mampu menangkis serangan senjata kedua gadis cantik itu.
"Huh! Lama-lama aku bisa kewalahan juga menghadapi kedua gadis ini, mereka begitu kompak dengan serangan mereka," desis Laki-laki berpakaian serba hitam dengan topeng tengkorak berwarna putih itu.
Sambil melentingkan tubuhnya ke udara, ia sempat memandang ke arah empat temannya yang lain. Tapi betapa terkejutnya ia begitu sadar jika semua teman-temannya telah tewas meregang nyawa.
Tanpa pikir panjang lagi, anggota Topeng Tengkorak Perenggut Nyawa itu langsung mengirimkan sebuah pukulan menggunakan kibasan pedangnya, sebuah cahaya putih perak membentuk mata pedang melesat ke arah Kenanga dan Ambara Wati.
Swoss!
Buuumm.....!!
"Huh!"
Kenanga dan Ambara Wati cepat melesat, melentingkan diri mereka ke belakang dengan bersalto dua kali di udara, begitu mereka menjejak tanah dan melihat ke depan. Musuh mereka sudah tidak ada di sana.
"Kurang ajar! Jadi serangan tadi hanya pengalihan!" gerutu Kenanga.
"Sudahlah, Kak Kenanga. Kita harus cepat," kata Ambara Wati langsung melesat ke arah Seruni dan Nila Sari.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Wulan Ayu.
"Kami tidak apa-apa, tapi musuh kami kabur," jawab Kenanga tampak agak kesal.
"Biarkan saja, dia tidak mungkin berani menghadapi kita lagi," tukas Wulan Ayu.
"Sebaiknya kita cepat, dan tetap berhati-hari. Ini Wilayah musuh, hati-hati dengan senjata rahasia," kata Anggala mengingatkan.
"Ya, biar kami berada di depan," imbuh Wulan Ayu, setelah berkata Bidadari Pencabut Nyawa itu melesat cepat meninggalkan tempat itu. Anggala pun melesat bagai kilat menyusul kekasihnya itu, Kenanga dan ketiga adik sepergurunanya juga ikut melesat menyusul.
__ADS_1
.
.
*********************
Kita tinggalkan Anggala dan Wulan Ayu yang sedang menyantroni markas Cakra Bima dan Ujang Seta.
Jauh dari Lembah Ukam, tampak seorang pendekar sedang berjalan dengan seorang pendekar lainya yang memakai pakaian hitam sabu dengan bagian dada kanan sampai ke pinggang berwarna merah hati, dia adalah Fhatik, si Pendekar Naga Hitam dan yang memakai baju hitam merah hati adalah tokoh hitam yang begitu terkenal yaitu Setan Merah Pencabut Nyawa.
Setan Merah Pencabut Nyawa adalah murid Iblis Kelelawar yang terkenal dengan nama Iblis Merah, laki-laki ini adalah petinggi dari Partai Teratai Hitam yang sedang menampakkan diri di dunia persilatan, inilah awal dari kacaunya rimba persilatan tanah Andalas.
Kedua orang ini memutuskan bekerja sama, mereka berniat menaklukkan pulau andalas saat pertemuan para pendekar di puncak gunung kerinci sekitar delapan purnama mendatang.
Fhatik yang merupakan seorang pendekar golongan putih yang berubah sesat berniat menjadi pendekar nomor satu, setelah kegagalannya merebut pedang naga sakti tiga puluh tahun yang lalu.
Fhatik sadar jika Pertapa Naga mengirim Anggala untuk mengejarnya dan merebut kitab naga hitam. Menghadapi Pendekar Naga Sakti mungkin dengan kelicikan ia masih bisa menang, namun Pendekar Naga Hitam sadar jika pedang naga sakti keluar dari kerangkanya tentu ia akan jadi mayat.
Maka dengan pikiran liciknya pula Fhatik mau bekerja sama dengan Setan Merah Pencabut Nyawa itu.
Mereka berdua kini dalam perjalanan menuju sebuah lembah yang di sebut Lembah Jagat, tujuan dua dedengkot golongan hitam ini ke lembah itu adalah merebut sepasang pedang jagat yang terkenal dengan nama pedang langit dan pedang bumi.
Perguruan ini adalah perguruan netral di dunia persilatan, mereka tidak pernah ikut urusan dunia persilatan golongan putih maupun golongan hitam.
Pendekar Naga Hitam dan Setan Merah Pencabut Nyawa tampak berjalan santai di dalam hutan randu, walau keduanya tampak berjalan santai namun keduanya tampak bergerak bagai orang yang sedang berlari.
"Kau sudah pernah ke Lembah Jagat ini, Lintar?" tanya Fhatik memecah kesunyian.
"Tiga tahun yang lalu aku pernah ke sini, namun aku mengalami kekalahan di keroyok oleh Datuk Rambut Merah dan Datuk Rambut Putih, pedang mereka mampu menembus kekebalan ku, Fhatik," Jawab Gema Lintar, nama asli Setan Merah Pencabut Nyawa.
"Ha ha ha...! Rupanya tokoh hitam nomor satu pulau andalas bisa di pecundangi," ejek Fhatik sambil tertawa terkekeh.
"Huh... Kau belum pernah di keroyok dua pedang pusaka itu, Fhatik," dengus Setan Merah Pencabut Nyawa.
"Ya, aku juga pernah mendengar, kedua datuk itu hanya menyegani guru ku Pertapa Naga dan Beberapa orang pendekar golongan putih termasuk penguasa bukit elang," kata Fhatik lagi, Pendekar Naga Hitam itu tampak serius.
"Penguasa bukit elang?"
__ADS_1
"Ya, penguasa bukit elang,"
"Apa yang kau tahu tentang bukit elang, Fhatik?"
"Ha ha ha....! Lintar, kau sudah melanglang buana di dunia persilatan itu puluhan tahun, tapi rupanya pengetahuan mu terlalu dangkal, ha ha ha...!" tawa Fhatik terbahak-bahak.
"Huh...! Jika tidak menyegani pukulan 'Inti Api Naga Hitam, kau sudah ku bunuh, Fhatik," gerutu Gema Lintar dalam hati dengan wajah masam.
Gema Lintar yang terkenal dengan gelar Setan Merah Pencabut Nyawa memang sudah pernah terluka parah saat berhadapan dengan Fhatik dua bulan yang lalu dalam adu tanding, pukulan 'Inti Api Naga Hitam Pendekar Naga Hitam itu membuat Gema Lintar harus mengalami luka dalam yang cukup parah saat itu.
Makanya saat Fhatik mengejeknya, Gema Lintar tidak berani marah paling hanya memasang muka masam saja.
"Ha ha ha...! Maaf temanku, aku tidak bermaksud menghina mu, tapi aku hanya merasa lucu mendengar kau bisa di pecundangi, oleh orang tua lagi," kata Fhatik sambil merangkul bahu Gema Lintar.
Memang kedua pendekar sesat itu kini tampak sangat akrab, mereka berdua begitu yakin. Jika mereka bekerja sama maka dunia persilatan golongan putih mau pun golongan hitam pulau andalas ini akan berada di bawah kekuasaan mereka berdua.
.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Dan Votenya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih banyak.