
Matahari belum terbit di ufuk timur, namun suara burung buatan pertanda bahaya ada yang mendekat terdengar sahut-menyahut di kaki bukit di luar Desa Bukit Kayangan.
Suara itu membuat orang-orang yang menjadi anggota Penyamun Bukit Kayangan langsung bersiap siaga, dan para pemimpin kelompok perlawanan itu segera memberi tahu Nini Sumirah bersama Anggala dan Wulan Ayu termasuk Singo Abang dan kedua adiknya.
Mereka langsung bersiaga dan bersiap-siap menanti kedatangan musuh yang di pimpin langsung oleh Datuk Wangsala dan Datuk Wangsaka.
"Bagaimana dengan para penduduk dan anak-anak? Jangan sampai orang-orang jahat itu menyandera mereka lagi," kata Jaka Kelana.
"Ya, kami yang akan bertahan di garis belakang bersama Cindai Mata dan beberapa orang anggota Penyamun Bukit Kayangan. Kalian bersama Nini Sumirah hadang mereka di bawah lembah sana," jawab Wulan Ayu.
"Baiklah, aku setuju dengan pendapat Wulan Ayu, jangan sampai orang-orang tuan tanah memasuki goa tempat para penduduk bersembunyi. Kami mengandalkan kalian yang ada di garis belakang," kata Singo Abang.
"Tidak usah takut, Bang. Kami akan bertaruh nyawa demi orang-orang yang tidak bersalah itu," sahut Singo Sarai sambil tersenyum menyemangati sang kakak yang di panggilnya dengan panggilan abang.
"Baiklah, kami pergi dulu," usai berkata Singo Abang dan Jaka Kelana langsung melesat ke arah lembah menyusul Anggala yang telah lebih dulu meninggalkan tempat itu bersama Nini Sumirah dan beberapa orang anggota Penyamun Bukit Kayangan yang mempunyai ilmu agak lumayan.
Cahaya semburat merah di ufuk timur masih terlihat jelas, cahaya matahari masih samar-samar menerangi jagat raya. Namun suara derap langkah kaki kuda terdengar jelas menderu menuju lembah Bukit Kayangan yang tidak begitu jauh dari Desa yang telah sepi di tinggal mengungsi oleh para penduduknya.
"Cukup sampai di sini saja perjalanan kalian, Datuk..!!" terdengar teriakan keras Nini Sumirah yang di sertai dorongan tenaga dalam tinggi sehingga membuat kuda yang sedang berlari meringkik keras dan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Kau benar-benar sudah bosan hidup, Sumirah. Kau sudah berani menantang kami Pendekar Kembar dari Gunung Kerinci!" sahut Datuk Wangsala begitu melompat dari punggung kudanya dan menjejak kaki di tanah sekitar lima tombak di depan Nini Sumirah.
"Apa selama ini aku pernah takut pada pendekar pengecut seperti kalian!" kata Nini Sumirah seakan meremehkan kedua pendekar sesat yang berada di depannya itu.
Anggala dan Jaka Kelana tampak telah berdiri di belakang tokoh silat wanita yang cukup di segani di wilayah Gunung Kerinci itu. Ke empat pendekar muda itu tampak begitu tenang, walau di hadapan mereka telah berdiri tidak kurang dari tiga ratus orang anak buah Datuk Wangsala dan Datuk Wangsaka.
Anak buah Datuk Kembar itu tampak telah mengambil ancang-ancang mengepung dari segala penjuru. Mereka telah berlompatan dari punggung kuda mereka masing-masing.
"Rupanya kau berani menantang kami berdua karena pendekar-pendekar bau kencur itu, Sumirah?"
"Ha ha ha....! Wangsala, apa kau takut pada pendekar bau kencur itu, hah...!" sahut Nini Sumirah lantang, tanpa terlihat ada rasa gentar sedikit pun pada wanita tua pemilik warung yang ternyata adalah seorang pendekar yang sudah tidak mau mencampuri urusan dunia persilatan itu.
"Kalian memang sudah bosan hidup, apalagi kau, Sumirah....!" bentak Datuk Wangsala yang sudah tidak mampu meredam amarahnya, ia langsung melesat menyerang ke arah Nini Sumirah.
"Bunuh mereka....!!" terdengar lantang suara Datuk Wangsaka memberi perintah pada ratusan anak buahnya. Setelah itu Datuk Wangsaka pun melesat melompat ke depan.
Plak!! Plak...!!
Terdengar jelas suara tongkat kayu di tangan Nini Sumirah menapaki dua tendangan Datuk Wangsala yang menyerangnya.
__ADS_1
Setelah dua tendangannya gagal, Datuk Wangsala langsung bersalto dua kali kebelakang dan menjejak kaki sambil mempersiapkan tenaga dalamnya.
"Sungguh di luar dugaan ku, tenaga dalam wanita peot ini sungguh tinggi, aku tidak bisa main-main menghadapinya," desis Datuk Wangsala dalam hati sambil meningkatkan tenaga dalamnya.
Nini Sumirah tampak agak tersurut mundur sekitar dua tindak kebelakang, namun wanita tua itu tampak begitu tenang.
"Biar saya hadapi Datuk itu, Nini," kata Anggala bergerak maju.
"Tidak usah, Anak Muda. Biar Wangsala itu urusanku," sahut Nini Sumirah. Nini Sumirah tidak ingin di anggap pengecut oleh Datuk Wangsala.
"Aku lawanmu, Datuk!" terdengar lantang suara Jaka Kelana sambil bergerak menghadang pergerakan Datuk Wangsaka yang hendak ke dekat kakaknya.
"Kau bosan hidup, Anak Muda!" geram Datuk Wangsaka sambil menjejak tanah di depan Jaka Kelana sekitar tiga tombak, ia tampak langsung membuka kuda-kuda dan bersiap untuk bertarung.
Jaka Kelana tidak menyahuti bentakan Datuk Wangsaka itu, ia hanya membalas dengan senyuman tipis dengan mempersiapkan jurus-jurus Srigala Putihnya.
.
Bersambung.....
__ADS_1