
Suasana malam yang cukup terang, bulan purnama tampak indah menghiasi langit. Bintang-bintang tampak kelap kelip menambah indahnya malam, namun malam yang seharusnya jadi waktu orang-orang beristirahat, tidak bagi orang-orang Desa Batu Ampar.
Puluhan orang tampak berkerumun memegang obor menambah terangnya di antara rumah penduduk.
Sebuah lobang besar bagai sebuah kawah tampak mengangga di tanah, tanah dan bebatuan tampak berserakan. Tidak jauh dari tempat itu seorang laki-laki berpenampilan dengan pakaian serba hitam tampak berusaha bangun dengan susah payah.
Darah merah kehitaman tampak kental keluar dari mulutnya, laki-laki tua itu adalah Ki Dukun yang terluka akibat adu kesaktian dengan Bidadari Pencabut Nyawa.
Para penduduk tampak saling membantu berdiri. Ki Tarjo tampak bisa menguasai keseimbangan tubuhnya, dengan kemampuan silatnya yang pas-pasan Kepala Desa Batu Ampar itu tidak jatuh seperti yang lainnya.
"Apa yang terjadi dengan Ki Dukun?"
"Aku rasa dia tewas!"
Terdengar perbincangan para penduduk, mereka cukup penasaran apa yang terjadi dengan Ki Dukun setelah adu pukulan kesaktian dengan Wulan Ayu tadi.
Para penduduk dan Ki Tarjo sudah berada di depan Ki Dukun yang masih berlutut di tanah dengan bertopang tangan kirinya dan tangan kanannya tampak memegangi dada.
"Dinda, tidak apa-apa?" tanya Anggala begitu menghampiri Wulan Ayu.
"Hmm...! Dinda tidak apa-apa, Kak, hanya sedikit kacau pernapasan dan jalan darah dinda saja. Tapi sudah dinda atasi," jawab Wulan Ayu sambil menurunkan telapak tangannya yang tadi di satukan di depan dada.
"Sebaiknya kau menyerah, Ki Dukun!" kata Ki Tarjo pada orang tua yang baru berhasil duduk bersila dan mengambil sikap semedi.
Para penduduk memang sudah melihat kalau Ki Dukun sudah terluka dalam yang cukup parah, namun mereka belum berani menangkap Ki Dukun. Para penduduk hanya berkeliling di sekitar tempat Ki Dukun duduk itu.
"Hmm...! Kau kira semudah itu menagkapku, Ki Tarjo!" terdengar datar suara Ki Dukun menjawab perkataan Kepala Desa Batu Ampar itu.
"Sebaiknya kau serahkan dirimu, Ki," kata Anggala tampak berdiri di samping Ki Tarjo.
"Kalian boleh membunuhku. Aku tidak takut!" jawab Ki Dukun tanpa membuka mata.
"Bunuh saja dia, Pendekar!"
"Ya, bunuh saja dia...!"
"Manusia seperti dia tidak pantas di kasih hati!"
__ADS_1
Terdengar cacian dan makian para penduduk pada Ki Dukun, namun orang tua berpakaian serba hitam itu tetap dengan posisi semedinya.
Tuk! Tuk!
Dua kali terdengar totokan Wulan Ayu yang begitu cepat di urat pergerakan Ki Dukun di bagian bawah lehernya.
"Kurang ajar! Lepaskan aku!" bentak Ki Dukun tampak baru membuka matanya.
"Aku akan melepaskanmu, asal kau menjawab semua pertanyaan kami!" jawab Wulan Ayu.
"Hmm...!" Ki Dukun tampak menghela napas panjang sambil menatap Wulan Ayu.
"Aku tidak main-main, Ki. Asal kau mau menjawab dengan jujur, aku tidak akan menyakitimu," kata Wulan Ayu lagi.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apa tujuanmu menculik para penduduk dengan memerintahkan manusia srigala itu mempreteli anggota tubuh mereka?"
"Hmm....! Jika kalian bisa mempercayaiku. Aku akan menceritakan pada kalian apa yang telah terjadi.
"Siapa yang menemuimu, Ki?" sela Anggala.
"Orang yang menemuiku adalah dedengkot dunia persilatan golongan hitam yang sangat terkenal di Pulau Andalas ini."
"Siapa, Ki. Setan Merah Pencabut Nyawa, atau Pendekar Naga Hitam?" tanya Anggala penasaran.
"Bukan."
"Lalu siapa, Ki. Setau kami saat ini pendekar golongan hitam nomor satu adalah dua orang pendekar itu," Wulan Ayu menyela.
"Orang yang menemuiku seorang dedengkot yang bergelar Kelelawar Iblis."
"Kelelawar Iblis!?"
"Kau mengenalnya, Anak Muda?" Ki Dukun memandang ke arah Anggala.
"Aku pernah mendengar tentang Kelelawar Iblis dari kakek guruku, Pertapa Naga dan paman Lesmana. Paman Lesmana pernah bercerita ia pernah bentrok dengan guru Setan Merah Pencabut Nyawa itu," jawab Anggala.
__ADS_1
"Setan Merah Pencabut Nyawa memang murid Kelelawar Iblis, atas permintaan sang muridlah Kelelawar Iblis datang dan memintaku mencari jantung dan hati dasi tujuh orang yang lahir di malam purnama. Semula aku menolak, namun Kelelawar Iblis mengancam akan membunuh dan membakar hidup-hidup kami berdua," jelas Ki Dukun lagi.
"Jadi manusia iblis itu dalang dari semua ini!" geram Wulan Ayu, "Apa Ki Dukun tau dimana manusia iblis itu tinggal?"
"Aku tidak tau dimana dia tinggal, Nisanak. Kelelawar Iblis datang ke tempatku," jawab Ki Dukun lagi, "Sebaiknya kalian bunuh aku, jika tidak entah apa yang akan di lakukan Kelelawar Iblis padaku."
"Kapan dia mau datang ke tempatmu, Ki?"
"Untuk apa dia menyuruhmu mengumpulkan jantung dan hati orang yang lahir di bulan purnama, Ki?"
"Kelelawar Iblis mau menyempurnakan sebuah ilmu yang bernama Lonceng Hati Iblis, sebuah ilmu hitam yang sangat kuat. Konon katanya jika seseorang berhasil menguasai ilmu itu dengan sempurna, maka tidak ada senjata yang mampu menembus kekebalannya. Tubuh orang yang menguasai ilmu 'Lonceng Hati Iblis'. pedang naga sakti pun tidak akan dapat menggores kulitnya, begitulah yang aku dengar," tutur Ki Dukun lagi.
"Sungguh ilmu yang menakutkan, Ki," kata Wulan Ayu setengah bergumam. Para penduduk dan Ki Tarjo tampak terdiam mendengar penjelasan Ki Dukun.
"Jadi semua ini berhubungan dengan prahara yang sedang terjadi di dunia persilatan saat ini," timpal Anggala.
"Jadi apa yang harus kami lakukan, Pendekar?" tanya Ki Tarjo sambil menatap Anggala.
"Apa kalian punya penjara di Desa ini, Ki?" Anggala balik bertanya.
"Ada, penjara kecil yang kami buat untuk menghukum penduduk yang mencuri," jawab Ki Tarjo.
"Begini saja, agar Desa ini aman. Sebarkan berita bahwa Ki Dukun berhasil melarikan diri, dan untuk keamanan Ki Dukun dari ancaman Kelelawar Iblis. Sebaiknya Ki Dukun tinggal di penjara sampai pertemuan di puncak Gunung Kerinci empat purnama mendatang," jelas Anggala.
"Ya, kami setuju saja, Pendekar. Bagaimana dengan Ki Dukun?" tanya Ki Tarjo lagi.
"Demi nyawa dan keselamatanku, sekalian aku menebus kesalahan pada kalian. Aku rela di penjara untuk waktu yang di tentukan.
"Terima kasih, Ki, jadi kami bisa meninggalkan desa ini dengan aman," kata Anggala.
Sementara itu bulan semakin tinggi di angkasa, malam pun semakin larut.
.
.
Bersambung....
__ADS_1