Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Pendekar Rajawali Hitam


__ADS_3

Wulan Ayu tersurut mundur tiga langkah ke belakang, melihat golok yang ada di tangan musuhnya. Wulan Ayu pernah mendengar tentang golok pusaka itu, namun ia terkejut yang memakai golok itu, adalah musuh yang sangat bejat di matanya.


"Heh..! Kenapa Bidadari Pencabut Nyawa, Kau takut dengan golok ini?" ujar Iblis Pemetik Bunga sambil mengacungkan goloknya ke arah Wulan Ayu. Sementara itu Anggala yang hanya diam memperhatikan jalan pertarungan itu,


Sambil menunggu giliran atau hanya jadi penonton.


Sret!


Wulan Ayu melipat kipas elang perak dan menyimpannya ke balik baju birunya.


Sring!


Bidadari Pencabut Nyawa menghunus pedang elang perak yang tersimpan di balik punggungnya dan berbalut kain berwarna putih, sehingga orang-orang tidak tau kalau pedang di punggung Wulan Ayu itu adalah pedang elang perak.


"Heh..! Majulah akan kita coba, pedangku atau golokmu yang lebih sakti!" tantang Wulan Ayu sengit, pedang elang perak melintang di depan dadanya. Ia bersiap dengan jurus 'Pedang Kayangan'.


"Ha ha ha...! Baiklah, kalau itu maumu bidadari cantik.!" ujar Iblis Pemetik Bunga sambil melompat ke arah Wulan ayu.


Trang!


Dua pusaka itu beradu di udara, Wulan Ayu terjajar dua langkah ke belakang, karena bentrokan tenaga dalam tingkat tinggi yang mereka miliki.


"Ha ha ha...! Sebaiknya kau menyerahkan pedang itu dan juga tubuhmu bidadari cantik!" ejek Iblis Pemetik Bunga dengan begitu cepat menyusulkan serangan ke arah Wulan Ayu.


"Cih! Lebih baik bertarung sampai mati, dari pada melayani Hasrat bejatmu itu, Pendekar laknat!" jawab Wulan Ayu lantang, sambil menyerang dengan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.


"Hiyaaat....!" jeritan melengking sang Bidadari Pencabut Nyawa dengan penuh kemarahan, pedang elang perak di tangannya mengayun dan menebas cepat ke arah Iblis Pemetik Bunga.


Trang!


Iblis Pemetik Bunga terjajar tiga tombak ke belakang, ia terpukul mundur serangan Wulan Ayu itu. Wulan Ayu tampak memegang pedang elang perak dengan agak bergetar, rupanya ia termakan tenaga dalamnya sendiri karna terlalu memaksakan diri.


"Dinda! Mundurlah," ucap Anggala sambil memegang bahu Wulan Ayu dari belakang,


"Stabilkan dulu darah dinda yang kacau," tambah Anggala lagi.


Anggala bisa melihat aliran darah dan tingkatan tenaga dalam orang lain, dengan ilmu Mata Malaikat'.nya.


Sring!

__ADS_1


Anggala menghunus Pedang Naga Sakti dari balik punggungnya. ia tidak mungkin menghadapi Golok Rajawali Hitam dengan tangan kosong. Anggala sudah melihat, golok pusaka itu cukup berbahaya jika di hadapi dengan tanan kosong, baju Besi Emas pun akan tembus.


"Pedang Naga Sakti!" mata Iblis Pemetik Bunga terbelalak, ia tampak terkejut, namun ia berhasil menekan keterkejutannya dalam hati, "Rupanya gadis cantik itu tidak menggertak, ternyata yang ku hadapi memang Pendekar Naga Sakti," gumamnya membatin.


Golok Rajawali Hitam terlintang di depan dada Iblis Pemetik Bunga, ia bersiap dengan jurus andalannya.


"Hiyaaat....!" Iblis Pemetik Bunga melompat ke udara, golok di tangan kanannya mengarah ke arah Anggala, suara Golok Rajawali Hitam mendesing membelah udara.


Trang!


Dua pusaka beradu, percikan api bersebaran. Iblis Pemetik Bunga terjajar ke belakang tangannya bergetar karena beradu tenaga dalam tadi.


"Hih...!" Iblis Pemetik Bunga mengatur napas dan mengatur darahnya, yang bergejolak tak menentu. Tenaga dalamnya ternyata kalah tanding dengan tenaga dalam milik Pendekar Naga Sakti naga, Anggala.


Anggala melintangkan Pedang Naga Sakti di depan dadanya, ia bersiap nenyerang Iblis Pemetik Bunga.


"Hup!"


"Heaaa....!"


Anggala melompat menyusulkan tusukan dan tebasan pedangnya ke arah iIblis Pemetik Bunga, tidak ayal lagi Iblis Pemetik Bunga terpaksa menangkis serangan Anggala.


Trang!


Anggala tak memberi kesempatan, ia menyarungkan pedangnya ke sarung yang ada di balik punggungnya.


Anggala meningkatkan tenaga dalamnya mencapai tingkatan level tujuh puluh, dengan jurus 'Tapak Naga Tingkat Tujuh'. Amarah Sang Naga'.


Tapak tangan Anggala mengeluarkan cahaya putih terang, ia pun melesat ke arah Iblis emetik Bunga dengan dua tangan di depan.


Iblis emetik Bunga tampak kelabakan, ia merapal jurus 'Rajawali Terbang Di Angkasa'. tingkat tertinggi miliknya dan menghadang serangan Anggala.


"Heaaa...!"


Duaaar...!!


Dua pukulan sakti beradu, Iblis Pemetik Bunga terlempar sejauh tujuh tombak.


"Hup!"

__ADS_1


Anggala melompat ke belakang, lansung merapatkan tangan di depan dada, pertanda ia berusaha menstabilkan darahnya yang kacau karna beradu pukulan tenaga dalam tingkat tinggi tadi.


Iblis Pemetik Bunga Tampak berusaha bangun, namun tidak lama ia jatuh lagi ke tanah. Iblis Pemetik Bunga tewas dengan darah mengalir di mulutnya.


"Kakak, tidak apa apa?" tanya Wulan Ayu yang mendekati Anggala yang sudah selesai menstabilkan darah di dalam tubuhnya.


"Tidak, Dinda, kakak tidak apa apa," jawab Anggala sambil berjalan mengambil Golok Rajawali Hitam yang tergeletak di tanah.


Anggala dan Wulan Ayu masuk ke rumah besar di bukit seribu bunga dan menyelamatkan para gadis yang mejadi pelepas hasrat gila Iblis Pemetik Bunga.


Anggala dan Wulan Ayu memeriksa seluruh ruangan, begitu memasuki ruang bawah tanah, Anggala menemukan seorang tawanan yang kedua tangannya terikat rantai.


Wulan Ayu melepaskan rantai pada kedua tangan orang tua yang jadi tawanan itu.


"Terima kasih, Anak Muda. Kalau boleh tau siapa anak muda ini," ucap orang tua itu seraya bertanya pada Anggala.


"Saya Anggala Lesmana, Kek, saya murid paman Lesmana Pendekar Naga Sakti yang dulu, dengan kakek Pertapa Naga," jawab Anggala.


"Pantasan kau mampu mengalahkan muridku, karena kau Pendekar Naga Sakti," kata kakek tua tersebut. Anggala hanya tersenyum mendengar perkataan kakek tua tersebut.


Orang tua itu bercerita bahwa dia adalah guru Iblis Pemetik Bunga yang dulunya adalah Pendekar Rajawali Hitam dan orang tua itu bernama Ki Sera Danta guru Pendekar Rajawali Hitam, yang sesat karena hasrat bejatnya.


Setelah semua gadis kembali ke rumah orang tua mereka, Anggala dan Wulan Ayu bersiap melanjutkan perjalanan dengan kuda pemberian orang-orang kampung termasuk ki Karta.


"Anggala, atas nama warga Desa. Aki sangat berterima kasih atas bantuan kalian berdua yang telah rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan putri-putri kami," ucap Ki Karta.


"Sama-sama, Ki, kami juga berterima kasih karena sudah diterima dengan baik di Desa kalian, sampaikan salam kami berdua pada ki Ngabeh dan nyi Omah, pada para penduduk, kami harus meneruskan perjalanan kami," jawab Anggala.


"Ya, Nak. Aki akan sampaikan, selamat jalan, semoga semua keinginan kalian berdua tercapai dan selamat sampai tujuan," ucap Ki Karta.


"Terima kasih banyak Pendekar, jika kalian tidak datang, mungkin kami sudah jadi pelepas n4fsu b3jat Iblis Pemetik Bunga itu," ucap Selasih dan kawan-kawannya.


"Berterima kasihlah pada Allah, dia yang memberi kami kekuatan untuk menyelamatkan kalian," jawab Anggala. Para gadis itu hanya mengangguk mendengar nasehat Pendekar Naga Sakti tersebut.


Setelah berpamitan Anggala dan Wulan Ayu pun melanjutkan perjalanan mereka menuju Kerajaan Galuh Permata.


.


.

__ADS_1


bersambung...


Ikuti episode berikutnya.


__ADS_2