Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Purmana Tiga Belas


__ADS_3

Malam mulai datang menyelimuti puncak Gunung Kerinci. Udara dingin kini menyelimuti, puluhan api unggun terlihat menerangi puncak gunung tertinggi di pulau Andalas itu.


Para pendekar golongan putih dan orang-orang Perguruan golongan putih terlihat berkumpul sesama golongan mereka.


Di tempat ini mereka saling berkenalan bagi yang belum mengenal satu sama lainnya. Walau esok adalah hari pertarungan yang mereka jelang, namun tidak membuat orang-orang itu gelisah. Mereka saling bercengkrama satu sama lainnya.


Di sudut puncak Gunung Kerinci itu terlihat Anggala duduk menghadapi api unggun bersama beberapa orang pendekar golongan putih lainnya.


Di sana ada Wulan Ayu, Jaka Kelana, Aruni dan kakaknya Aruma Sakta bersama Cakradana.


Tidak ketinggalan Tiga Elang dan Tiga Pendekar Tongkat Naga Emas yang sudah dua hari berada di puncak Gunung Kerinci. Tiga orang murid Datuk Panglima Hijau pun terlihat di sana.


Nini Sumirah bersama sang putri pun juga bersama rombongan Pendekar Naga Sakti itu. Nini Sumirah terlihat bercakap-cakap dengan Ketua Perguruan Bangau Putih, Ki Sudrajat.


"Kak, makanlah. Ikannya sudah matang," kata Wulan Ayu menyodorkan ikan yang baru ia angkat dari atas api tempat memanggang ikan.


"Terima kasih, Dinda," ucap Anggala sambil tersenyum.


"Kenapa kakak banyak diam, apa kakak kepikiran pertarungan esok?" tanya Wulan Ayu.


"Jujur saja kakak kepikiran tentang ramalan kakek Peramal Pikun itu. Kakek sakti itu tampak sangat melarang kakak ikut pertemuan ini," sahut Anggala sambil mempreteli ikan yang masih di sepitan di tangan kirinya.


"Apa kakak menghubungi kakek Pertapa Naga?" tanya Wulan Ayu mengalihkan pembicaraan.


"Ya, saat bersama rajawali siang tadi kakak menghubungi paman guru dan kakek Pertapa," sahut Anggala.


"Apa yang mereka katakan?"


"Mereka mendukung apa pun keputusan kakak. Mereka hanya minta kakak berhati-hati menghadapi paman Fhatik dan Setan Merah Pencabut Nyawa," sahut Anggala lagi.

__ADS_1


"Apa kakek tidak melarang kakak?"


"Tidak. Kakek tidak melarang kakak, beliau yakin kakak tidak akan tewas dalam pertarungan esok asal kakak berhati-hati," sahut Anggala lagi.


"Hari sudah cukup larut, sebaiknya Dinda beristirahat bersama Cindai Mata. Dinda pasti lelah," tambah Anggala.


"Tidak, dinda belum mengantuk," sahut Wulan Ayu, "Jujur dinda sangat takut akan terjadi apa-apa pada, Kakak."


Wulan Ayu terlihat sedih, tanpa di sadari air matanya menetes di perlahan.


"Dinda kenapa, apa kakak salah bicara?" tanya Anggala lembut sembari mengusap airmata gadis cantik berpakaian serba biru di sampingnya itu.


Anggala menatap bola mata gadis cantik yang selalu menemaninya, selama ini dengan lembut Anggala mengusap rambut kekasihnya itu.


"Kita serahkan semuanya kepada yang kuasa, jika kita berjodoh. Takkan terjadi apa-apa pada kakak," ucap Anggala berusaha menghibur Wulan Ayu yang terlihat sedih.


"Hemm....! Ada yang mesra nih," tiba-tiba sebuah suara yang sangat di kenal oleh Anggala dan Wulan Ayu.


"Senopati Arya Geni, sejak kapan kau disini?" tanya Wulan Ayu sambil cepat-cepat mengusap airmatanya.


"Maaf, Tuan Putri. Hamba baru sampai ke puncak Gunung Kerinci ini," sahut Senopati Arya Geni menjura memberi hormat.


"Kak Arya, jangan memanggilku dengan sebutan putri disini," pinta Wulan Ayu.


"Tapi, Tuan Putri," sanggah Arya Geni.


"Tidak ada tapi-tapian, Kak Arya. Di sini kita sama sebagai sesama pendekar. Kak Arya belum menjawab pertanyaanku, kenapa kak Arya berada disini?" tanya Wulan Ayu lagi.


"Tuanku dan Ayahanda yang meminta hamba pergi ke pertemuan para pendekar ini," sahut Arya Geni.

__ADS_1


"Jadi, Ayahanda dan paman Patih yang menyuruh kakak kesini?"


"Ya, mereka berdua yang meminta dan memerintahkan saya," sahut Arya Geni lagi.


"Bukankah sebentar lagi kak Arya akan menikah?" tanya Anggala setelah cukup lama diam.


"Ya, saya kesini sekalian mengundang Pangeran dan putri untuk datang ke pernikahan saya tiga bulan dimuka," sahut Arya Geni sambil tersenyum.


"Jadi Anggala adalah seorang Pangeran?" tanya Kamandaka pada Jaka Kelana.


"Ya, Anggala adalah seorang Pangeran dari Kerajaan Mandalika," sahut Jaka Kelana.


"Aku dengar pendekar yang baru datang itu menyebut Wulan Ayu putri?" tanya Dewi Arau.


"Mereka berdua adalah putri dan Pangeran," sahut Jaka Kelana.


"Pantas... Wulan Ayu cantik, rupanya dia seorang putri," timpal Dewi Pingai.


Tidak terasa malam mulai larut, bulan purnama tampak menyinari mayapada dengan begitu terang, orang-orang yang berada di puncak gunung tampak satu persatu mulai terlelap di sekeliling api unggun yang menjadi penghangat di tengah dinginya puncak gunung itu.


Mereka seakan tidak menggubris apa yang akan terjadi esok hari. Mereka tidak peduli apa mereka masih akan melihat purnama malam esok atau tidak.


Hanya para pendekar kawakan yang tidak memejamkan mata mereka. Mereka takut jika orang-orang golongan hitam akan berbuat curang menyerang saat orang-orang golongan putih lengah.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2