Pendekar Naga Sakti

Pendekar Naga Sakti
Prahara Di Pulau Andalas. Bag, 16


__ADS_3

Plok! Plok! Plok!


"Hebat! Hebat.....! Sangat Hebat....!


"Heh...... Siapa itu...... Keluar.....?!!!"


bentak Wulan Ayu sembari menolehkan pandangan mencari asal suara yang bertepuk tangan itu.


Tidak lama kemudian tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat dan langsung berdiri tidak jauh dari Wulan Ayu.


"Siapa kau...?" bentak Wulan Ayu menatap tajam ke arah orang yang berpenampilan bak seorang pengemis.


"Hebat... Hebat...! Seorang Bidadari Pencabut Nyawa... Membantai puluhan orang tanpa berkedip," kata laki-laki berpenampilan pengemis itu.


"Maaf, kisanak. Aku hanya membela diri," jawab Wulan Ayu, "Kau pun akan melakukan hal yang sama saat kau ingin di bunuh orang lain," tambah Wulan Ayu datar.


"He he he....! Aku akan mencoba kesaktianmu, Nisanak!" ujar laki-laki sambil melompat mengayunkan tinjunya ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.


"Hup!"


Tap!


Wulan Ayu langsung menyambut serangan laki-laki berpenampilan pengemis itu. Namun Wulan Ayu tampak tersentak mundur ketika tenaga dalam mereka beradu.


"Ilmu orang ini tinggi juga, aku tidak bisa melihat seberapa tinggi tenaga dalam yang ia miliki," desis Wulan Ayu dalam hati.


"Siapa kau sebenarnya, Kisanak?" tanya Wulan Ayu, "Aku tidak punya urusan denganmu," tambahnya lagi. Bidadari Pencabut Nyawa tampak memegangi dada karena ia tadi sudah cukup menguras tenaga dalam melawan puluhan orang Perguruan Elang Merah.


"Aku hanya orang yang lewat Bidadari Pencabut Nyawa, supaya kau tidak penasaran aku akan memperkenalkan diriku. Aku Pengemis Tangan Seribu," jawabnya.

__ADS_1


"Hmm....! Aku memang pernah mendengar seseorang yang bergelar Pengemis Tangan Seribu. Tapi aku mendengar Pengemis Tangan Seribu adalah golongan putih, tapi kau malah menggangguku!" kata Wulan Ayu.


Bidadari Pencabut Nyawa pun meningkatkan tenaga dalamnya hingga melebihi lima puluh persen tenaga dalam yang ia miliki, "Aku tidak pernah bermusuhan denganmu, jika kau memaksa. Aku juga tidak akan mundur!" tambahnya lagi.


Wulan Ayu langsung merapal ilmu 'Tapak Dewa'. tingkat lima, telapak tangannya tampak mulai mengeluarkan cahaya putih bersinar, namun darah tampak mengalir dari sela-sela bibirnya.


"Dinda.... Tahan. Jangan memaksakan diri...!" tiba-tiba suara pengemis itu berubah. Asap tipis tampak menyelubungi tubuh Pengemis Tangan Seribu.


Bsss.....!


"Kak Anggala.... Kau.... Uhuakh...!"setelah menurunkan tekanan tenaga dalamnya Wulan Ayu langsung jatuh berlutut sambil memegangi dada.


Anggala cepat melesat menahan tubuh Wulan Ayu yang hendak jatuh dan memapahnya ke arah warung Ki Syarif.


"Awas ya... Tunggu pembalasan, dinda," rutuk Wulan Ayu sambil tersenyum, walau ia kesal telah di kerjai Anggala. Namun ia senang yang datang adalah kekasih yang begitu ia cintai.


"Maaf, kakak hanya ingin mengerjai Dinda, Maaf...," ucap Anggala tidak enak hati, "Dinda cepat bersemedi, obati luka dalam dinda dulu," tambahnya sambil memberikan sebuah pil obat pada Wulan Ayu.


"Dinda terlalu memaksakan diri," kata Anggala setelah selesai mengalirkan hawa murni ke tubuh Wulan Ayu.


"Hmm.... Sekarang tungu pembalasan dinda..!" kata Wulan Ayu sudah tegak di depan Anggala.


"Din.... Auu...!" Anggala terjerit ketika tamparan Wulan Ayu sudah mendarat di pipinya, namun bukannya marah Anggala hanya senyam-senyum sembari mengelus pipi kirinya yang di tampar Wulan Ayu barusan.


"Kenapa senyam-senyum?" hardik Wulan Ayu, namun bibirnya mengulum senyum melihat tingkah Pendekar Naga Sakti yang hanya cengengesan.


Wulan Ayu baru sadar saat ia menarik tangan Anggala dari pipinya, terlihat jelas bekas lima jarinya di pipi pemuda itu.


"Kak.... Maafin Dinda, ya," ucap Wulan Ayu sambil menggenggam tangan kanan Anggala dan tangan kanannya mengelus pipi kekasihnya itu.

__ADS_1


"Maaf....," ucap Wulan Ayu memelas menatap wajah tampan pemuda di depannya tersebut.


Tiba-tiba Anggala malah memeluk pinggang Wulan Ayu dengan mesra.


"Eh.. Kakak...," Wulan Ayu tersipu malu, ketika memandang ke depan matanya bertemu dengan mata Anggala.


"Yang harus minta maaf tu kakak, Dinda sudah terluka dalam karena ulah usil kakak," kata Anggala memandangi wajah cantik Bidadari Pencabut Nyawa.


"Dinda terluka dalam karena menggunakan dua ilmu tingkat tinggi sekaligus, bukan karena Kakak," sahut Wulan Ayu.


"Ehem....,' tiba-tiba Mak Ripah sudah muncul di pintu kamar yang di tempati Wulan Ayu dengan membawa sekendi minuman obat.


"Eh, Mak," ucap Wulan Ayu tersipu malu.


"Ini, mak bawakan minuman obat, supaya nak Wulan Ayu lebih segar," kata Mak Ripah sambil tersenyum.


"Makasih, Mak," ucap Wulan Ayu dan Anggala berbarengan, "O, iya Mak, bagaimana dengan mayat-mayat orang-orang Perguruan Elang Merah itu?" tanya Wulan Ayu.


"Orang-orang kampung sudah mengurus mayat mereka dan menguburnya di dalam hutan," jawab Mak Ripah, "Ya sudah, kalian minum dulu, mak mau ke belakang, "tambahnya lagi.


"Iya, Mak...,"


"Malu, Kak di pergoki mak Ripah," ucap Wulan Ayu sambil duduk di samping Anggala.


"Iya, jadi nggak enak," jawab Anggala seraya mengambil kendi yang di antar mak Ripah tadi dan mengisi cangkir bambu.


"Ini buat dinda lho...," kata Wulan Ayu sambil merebut cangkir bambu di tangan Anggala.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2