
Sementara Anggala terpaksa bermalam di Perguruan Alam Jagad atas permintaan Datuk Rambut Putih dan Datuk Rambut Merah.
Wulan Ayu tampak sendiri berada di teras warung Ki Syarip, gadis cantik dengan penampilan serba biru itu tampak duduk sendiri menikmati cahaya rembulan yang terkadang hilang timbul di tutupi awan.
"Hmm.... Kenapa waktu terasa berjalan lamban, saat kak Anggala tidak ada di dekatku, padahal malam ini begitu indah. Tapi aku tidak menikmatinya," desis Wulan Ayu dalam hati.
"Hayo... Mikirin nak Anggala ya?" tegur Mak Ripah dari belakang sambil berdiri di depan pintu warung, suasana warung tampak sepi. Maklum malam penduduk kampung agak takut keluar rumah.
"Eh... Mak," tidak, Wulan hanya lagi Menikmati cahaya rembulan, Mak," kilah Wulan Ayu yang tampak malu di pergoki lagi melamun oleh Mak Ripah.
"Tidak apa-apa, nak Wulan. Anggala'kan kekasih nak Wulan, wajarlah kalau kepikiran. Apalagi jarang berpisah, bisa jadi belum pernah?" tanya Mak Ripah sambil tersenyum.
"Iya, Mak, Wulan memang belum pernah berpisah lama sama kak Anggala sejak turun gunung. Jadi nggak ada kak Anggala Wulan kok jadi kesepian ya, Mak?" tanya Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Itu namanya kasmaran nak Wulan. Sehari nggak bertemu rasa setahun... He he he..!" tawa Mak Ripah menjawab pertanyaan Wulan Ayu tersebut.
"Mungkin, ya Mak," kata Wulan Ayu sambil tertawa kecil.
"Gadis secantik Wulan Ayu jadi pendekar, apa nggak memilih hidup menetap, Nak?" tanya Mak Ripah.
"Kayaknya belum waktunya menetap, Mak. Perjalanan Wulan masih panjang, masih ingin melihat luasnya dunia ini," jawab Wulan Ayu sembari tertawa.
"Mungkin enak ya, Nak. Berpetualang sebagai pendekar, berpetualang dari satu tempat ke tempat yang lain," kata Mak Ripah menerawang.
"Ada enak, ada nggak enaknya Mak," jawab Wulan Ayu.
__ADS_1
"Maksud, nak Wulan?" Mak Ripah mengerejitkan keningnya tampak tidak mengerti.
"Jadi seorang pendekar banyak musuh, Mak. Apalagi mau peduli sama orang biasa, kadang nggak bisa tidur nyenyak, Mak. Selalu bertemu musuh yang tidak mempedulikan perasaan orang lain, sesuka mereka sendiri," tutur Wulan Ayu.
"Tapi ada sisi serunya, Nak Wulan," sela Mak Ripah sambil tersenyum.
"Ada sih, Mak, banyak melihat gunung lembah hutan, dan berbagai perilaku orang-orang," jawab Wulan Ayu lagi.
"Ya sudah, hari sudah malam. Sebaiknya kita istirahat, entah apa yang menanti kita besok, yang jelas mata sudah terasa berat," kata Mak Ripah sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Iya, Mak. Wulan pun sudah ngantuk,"
.
********
"Haaah....," Wulan Ayu menguap sembari menutup mulut dengan tangan kanannya, gadis itu beranjak bangun mencium aroma masakan Mak Ripah yang mengundang seleranya.
"Oaaahmm..! masih ngantuk, Mak," sapa Wulan Ayu sambil mengangkat kedua tangannya kesisi tubuhnya.
"Pagi sekali Nak Wulan bangun?" jawab Mak Ripah tanpa menoleh, ia terus mengerjakan tugasnya.
"Apa yang bisa Wulan bantu, Mak?"
"sebaiknya Nak Wulan, cuci muka dulu. Di belakang ada air," jawab wanita lima puluh tahunan itu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya, Mak," kata Wulan Ayu seraya berjalan ke belakang.
.
*******
Sementara itu di lembah Jagat, Anggala pagi-pagi sudah bangun dan bersiap untuk meneruskan perjalanan kembali ke desa tempat ia meninggalkan Wulan Ayu.
"Kakek Sesepuh berdua, maaf saya tidak bisa berlama-lama di sini. Saya meninggalkan Wulan Ayu di desa sendiri. Saya takut orang-orang Perguruan Elang Hitam membawa banyak pendekar dan membuat masalah di sana, jadi saya harus kembali secepatnya," ucap Anggala setelah menyantap sarapan pagi.
"Kami mengerti, Nak Anggala. Kami belum bisa mengantarmu, biar Singa Rudra dan Blabang Geni yang mengantarkanmu kembali ke desa," jawab Datuk Rambut Putih.
"Biarkan Singa Rudra dan Blabang Geni beristirahat, Kek. Mereka sudah cukup lelah mencari saya dalam keadaan terluka kemarin. Saya bisa kembali sendiri," kata Anggala sambil tersenyum.
"Tapi, Anggala. Kami bisa mengantarmu sampai ke batas jalan pintas. Jalan itu cukup berbahaya bagi orang yang tidak biasa melewatinya," jawab Singa Rudra.
"Baiklah, jika kalian tidak terlalu lelah," kata Anggala lagi.
"Saya permisi Kakek sesepuh berdua, semoga saya bisa menjalankan amanat Kakek berdua," ucap Anggala sebelum melompat ke atas kudanya.
"Selamat jalan, Nak Anggala. Jika ada umur panjang, kita akan bertemu lagi," Datuk Rambut Putih dan Datuk Rambut Merah melambaikan tangan pada Anggala sambil berdiri di teras pendopo Perguruan Alam Jagad.
.
.
__ADS_1
Bersambung....