
"Kak, siapa gadis pendekar berpakaian Melayu yang membantu dinda itu?" tanya Wulan Ayu melirik ke arah pertarungan Singo Sarai dan Kasem itu.
"Kakak juga tidak mengenalnya, Dinda. Sebaiknya Dinda bantu dia," kata Anggala sambil tersenyum.
"Baiklah, jika tidak ada Jaka Kelana dan tiga orang pendekar berpakaian Melayu itu. Dinda yakin kita akan babak belur berhadapan dengan Khemkhaeng dan keenam anak buahnya," kata Wulan Ayu.
"Ya, kemungkinan menang kita hanya dengan kesaktian tingkat tinggi yang menguras tenaga," timpal Anggala.
"Mereka pendekar dari Bukit Tambun Tulang, Anggala, Wulan," kata Jaka Kelana tiba-tiba sudah berada di samping mereka berdua.
"Pendekar dari Bukit Tambun Tulang?" Anggala dan Wulan Ayu hampir berbarengan.
"Jadi, mereka bertiga adalah murid Datuk Panglima Hijau?" tanya Anggala meyakinkan.
"Ya, mereka memang murid tertua Datuk Panglima Hijau," sahut Anggala.
"Hmm...! Aku harus membantu yang membantuku itu," selesai berkata Wulan Ayu langsung melompat bagai kilat dan tiba-tiba sudah berada di samping Singo Sarai.
"Shaaa....!" sebuah tendangan menyilang kearah Kasem di berikan oleh Wulan Ayu, menyadari di bokong Kasem segera melompat kebelakang menghindari.
"Maaf, Sahabat. Aku sedikit terlambat, mereka cukup merepotkan," sapa Wulan Ayu sambil melempar senyum pada Singo Sarai.
"Tidak apa-apa, Sahabat. Aku mengerti, tubuh mereka bagai karet. Aku berkali-kali berhasil menghajar tubuhnya, tapi tidak menimbulkan akibat yang berarti," sahut Singo Sarai sambil melintangkan kerisnya di depan dada.
"Aku Wulan Ayu," kata sang Bidadari Pencabut Nyawa memperkenalkan diri.
"Aku Singo Sarai dan kedua orang itu adalah kakak-kakakku. Senang berkenalan dengan Bidadari Pencabut Nyawa dari barat," sahut Wulan Ayu setelah memperkenalkan diri.
"Gelar itu diberikan oleh orang-orang dunia persilatan yang dulu ingin merebut pedang dan kipasku, Sahabat," kata Wulan Ayu lagi.
"Aku telah mendengarnya, sebaiknya kita habisi musuh kita itu dulu. Baru kita bisa berbagi cerita," sahut Singo Sarai bersemangat.
"Baiklah. Ayo....!" sahut Wulan Ayu sembari mencabut pedang Elang Perak dari balik punggungnya.
Sret!
"Wah, bukankah itu pedang Elang Perak?" tanya Singo Sarai tanpa menolehkan pandangannya.
__ADS_1
"Ya, kau benar, Sahabat. Sebaiknya gunakan ilmu tingkat tinggi. Pembunuh bayaran dari Negeri Muathai itu tidak bisa di anggap remeh, Sahabat," kata Wulan Ayu.
"Ya, aku ikut saja Bidadari Pencabut Nyawa!" sahut Singo Sarai sambil melempar tawa ramah. Wulan Ayu pun mau-mau tidak mau ikut tertawa sambil meningkatkan tenaga dalamnya dan merapal jurus 'Pedang Kayangan'. Tingkat lima.
"Akan ku imbangi dengan jurus 'Keris Langit Memecah Awan'.!" seru Singo Sarai sambil memainkan jurus-jurus kerisnya seketika itu keris di tangan adik bungsu Singo Abang itu di selubungi cahaya biru yang menyilaukan mata.
Sedangkan Wulan Ayu sudah mengambang di udara sekitar dua tombak di atas Singo Sarai. Pedang Elang Perak di tangan Bidadari Pencabut Nyawa itu tampak melintang di samping kanan tubuhnya dengan sinar perak kemerahan yang menyilaukan mata.
"Gadis-gadis itu berniat mengeroyok ku dengan ilmu tingkat tinggi mereka. Aku harus merapal jurus 'Pedang Kematian'. tingkat tujuh. Pedang Dari Neraka'. desis Kasem seraya menyilangkan dua pedangnya di depan dada.
"Apa yang harus kita lakukan, Jaka? Haruskah kita mengeroyok para pembunuh bayaran itu?" Anggala menoleh kearah Jaka Kelana yang berdiri di sampingnya.
"Kita lihat keadaannya dulu, Anggala. Tidak enak rasanya kita sebagai pendekar golongan putih mengeroyok saat teman kita masih baik-baik saja," sahut Jaka Kelana sembari memperhatikan jalan pertarungan antara Singo Abang dan Kamon.
Pertarungan antara Singo Jayo dengan Kla, dentingan keris bercahaya kekuningan di tangan pendekar muda dari bukit Tambun Tulang itu berkali-kali terdengar dan susul-menyusul, namun belum ada di antara mereka yang mundur. Kedua orang itu mencoba saling mendesak musuhnya.
"Anggala, aku akan bantu Singo Jayo. Kau bantulah Singo Abang, tampaknya jika dibiarkan pertarungan mereka akan berjalan alot!" kata Jaka Kelana, setelah berkata pendekar dari Bukit Kancah itu langsung melesat ke arah pertarungan antara Kla dan Singo Jayo.
"Jaka....!" Anggala hendak menjawab, namun Jaka Kelana sudah keburu melesat duluan.
"Hmm....!" Anggala hanya mendesah sembari mengeleng melihat Jaka Kelana yang sudah berlaku. Anggala pun akhirnya melesat bagai kilat kearah Singo Abang.
"Shaaa....!"
Anggala langsung memberikan sebuah jurus 'Sembilan Matahari Cakar Elang'. kearah Kamon dari arah samping. Serangan Anggala itu cukup mengejutkan Kamon, ia cepat melompat mundur sekitar dua tombak kebelakang.
"Heh... Dimana Khemkhaeng?" dengus Kamon dengan sedikit membentak pada Anggala.
"Maaf, Sahabat Singo Abang. Aku harus membantumu, mereka orang-orang yang cukup merepotkan," ucap Anggala sambil berdiri di samping Singo Abang.
"Ya, Aku akui itu, Sahabat. Kerisku membal!" sahut Singo Abang tanpa menoleh, pandangannya tetap pokus pada Kamon.
"Hup!"
Trang!
"Kurang Ajar! Kalian main keroyok ya!" dengus Kla sambil memperkuat kuda-kudanya setelah menahan serangan pedang Srigala Putih milik Jaka Kelana.
__ADS_1
"Sahabat, kita pancing dia ke dalam hutan. Aku takut tempat ini akan hancur dan rumah penduduk akan jadi imbasnya!" kata Wulan Ayu sambil tetap mengambang di udara.
"Ya, kau benar, Sahabat. Kita terlalu dekat dengan rumah penduduk," sahut Singo Sarai.
"Kami menantimu di tengah hutan, Kisanak!" kata Wulan Ayu sambil melesat ke arah belakang di ikuti Singo Sarai.
"Kalian mau lari ya... Jangan harap!" dengus Kasem, tanpa pikir panjang ia langsung melesat menyusul tanpa menurunkan kekuatan tenaga dalamnya.
"Bagus. Disini kita bisa bebas adu kesaktian...!" dengus Wulan Ayu melihat Kasem begitu cepat menyusul mereka berdua.
"Ya...! Tanpa mencemaskan penduduk!" sahut Singo Sarai lantang.
"Tempat ini akan jadi kuburan kalian berdua! Heaaahhh....!!" bentakan nyaring Kasem terdengar lantang diiringi dengan menyabetkan kedua pedangnya yang di selubungi dengan cahaya merek kehitaman.
Dua larik sinar merah kehitaman berbentuk menyilang itu menderu ke arah Wulan Ayu dan Singo Sarai.
"Hiyaaaa.....!"
"Hiyaaaa.......!!"
Wulan Ayu dan Singo Sarai pun membentak nyaring sambil mengibaskan senjata pusaka di tangan mereka. Dua sinar melesat menyongsong kearah pukulan dari Kasem.
Swoosss!!!
Wusss!!
DDuuuaaarrrr.......!!!
Rrrrrrr.......!!!
Ledakan dahsyat mengguncang ditengah hutan itu. Tanah bergetar, daun-daunan berterbangan, gelombang api dan asap menghempas ke segala arah. Debu dan tanah membumbung tinggi di udara.
Burung-burung dan binatang hutan yang berada di dekat area itu langsung kabur menjauh. Begitu debu dan tanah yang beterbangan hilang tertiup angin, sebuah lobang kawah kering terlihat menganga di depan Wulan Ayu dan Singo Sarai.
Kedua gadis itu tampak memegangi dada dengan tangan kiri mereka. Wajah cantik mereka sedikit memucat.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....