God Of Beast 1

God Of Beast 1
Chapter 114 Pagoda Penjara.


__ADS_3

Chapter 114 Pagoda Penjara.


Ledakan hebat dari empat serangan yang saling berbenturan. Dampak dari ledakan itu memicu gelombang energi kuat, dan menghancurkan apapun yang dilewati.


Kota Perdamaian yang berjarak enam kilometer sangat merasakan pertarungan setingkat Prajurit Surgawi. Tetapi, pemimpin Kota Perdamaian dan beberapa Kultivator tidak ada yang berani mendekati area itu, sebab tekanan aura Prajurit Surgawi membuat mereka ketakutan. Setingkat kekuatan Saint di Kerajaan Long tepatnya wilayah Selatan, buru-buru berdatangan ke Kota Perdamaian, dan melihat benturan energi hebat di dekat Altar Penghormatan dan Hutan Terlarang.


Diantara mereka juga hadir Raja Long dan beberapa pemimpin wilayah Selatan.


"Siapa mereka yang bertarung itu?" tanya Raja Long dengan rasa ketakutan dan kuatir dengan kekuatan aura mereka.


"Tidak tahu, Yang Mulia. Kami tidak berani mendekati situs itu," jawab Pemimpin Kota Perdamaian yang juga ketakutan dengan dampak dari pertarungan itu menghancurkan kotanya.


"Apa ini ada hubungannya dengan kematian banyak rakyat jelata?" tanya Raja Long sekali lagi.


"Saya rasa begitu, Yang Mulia. Tadi saya sempat melihat Raja Fung berada disana, saya perkirakan Wali Benua dan Penatua Agung Wenhua juga ada disana!" jawab Pemimpin Kota Perdamaian yang sempat melihat Burung Gajah di area pertarungan itu.


"Tapi, merasakan aura tingkat Prajurit Surgawi bertarung ... Semoga mereka baik-baik saja," harap Raja Long yang tidak ingin saudaranya dan Excel Shimo mengalami sesuatu disana, "perintahkan prajurit membuat parameter, jangan biarkan siapa saja keluar dari Kota Perdamaian." lanjut Raja Long yang memberikan perintah pada Jenderalnya.


Bangg... Bangg... Boomm...


Empat sosok yang terkena dampak ledakan benturan energi terpental kebawah. Tubuh mereka menabrak banyak pepohonan, dan terhenti saat tubuh mereka menghantam tanah.


"Tuan, cepat gunakan Pagoda Penjara untuk menangkap Tapir Pemakan Jiwa, sebelum ia bisa bergerak lagi," pinta Lotus Bao kepada Excel Shimo.


"Kalian tunggu disini dan jangan keluar sebelum aku kembali." titah Excel Shimo kepada kepada wanitanya, Long Wenhua dan Raja Fung, setelah mendengar ucapan Lotus Bao.


"Suami, jangan keluar, ini sangat berbahaya!!" Bao Xue panik saat suaminya ingin ikut campur dalam pertempuran tingkat tinggi.


"Tidak, tidak boleh. Mereka jelas bukan tandinganmu, Suami." sahut Ming Li Ling dengan segera memeluk suaminya.


Semua wanitanya berusaha menahan Excel Shimo agar tidak ikut campur. Demikian juga dengan Long Wenhua dan Raja Fung, mereka tidak ingin Excel Shimo ikut campur.


"Kalian jangan kuatir. Ini kesempatan aku untuk memenjarakan binatang itu." jawab Excel Shimo kepada mereka semua.


Zlapp...


"Suamiii...,"


"Rajaaa...,"


Semua wanitanya berteriak histeris saat Excel Shimo menghilang dari hadapan mereka, bahkan Ming Li Ling, Bao Xue yang memeluk lengan Excel Shimo tidak bisa menghentikan tindakan suaminya.

__ADS_1


Penatua Agung dan Ratu Han hanya menghela nafas berat, mereka tahu tanggung jawab sebagai Wali Benua Jiang Shan, mereka juga memahami pikiran Excel Shimo yang ingin menyelamatkan Benua Jiang Shan.


Zlapp... Dhummm..


"Masuk...," ucap Excel Shimo saat muncul dibelakang Tapir Pemakan Jiwa yang masih terbaring, ia juga mengeluarkan artefak Pagoda Penjara.


Suara dentuman saat artefak itu membentur tanah, dan membuat debu-debu berterbangan.


Pagoda Penjara itu memiliki tujuh lantai, setiap lantai memiliki tingkat keamanan yang sesuai dengan kekuatan kehidupan yang di penjara. Warnanya hitam legam, dengan perpaduan warna keemasan.


Tinggi Pagoda itu mencapai 25 meter dengan lebar mencapai 10 meter. Aura kuno bisa dirasakan saat keluar dari Balai Persenjataan Khusus di Dunia Jiwa milik Excel Shimo.


Dua pintu besar terbuka, dan Tapir Pemakan Jiwa tersedot secara berlahan memasuki Pagoda Penjara itu. Tapir Pemakan Jiwa kaget dengan kemunculan orang lain dibelakangnya.


"Grorrr...! Bajingannn... Lepaskan aku...," raungan kemarahan Tapir Pemakan Jiwa saat dirinya tersedot kedalam Pagoda Penjara itu.


Tapir Pemakan Jiwa meronta-ronta dengan mengeluarkan kekuatannya, ia berusaha kabur dari sedotan Pagoda Penjara. Excel Shimo terus menerus mengeluarkan energinya, saat Pagoda Penjara menarik binatang itu.


Keempat sosok itu buru-buru bangkit, dan terkejut melihat Pagoda itu. Mereka melihat apa yang sedang dilakukan Wali Benua yang berusaha memasukkan Tapir Pemakan Jiwa.


"Kita bantu dia, dia tidak mungkin bisa menangkap Tapir dengan kekuatan yang sekarang," ajak sosok bernama Yi setelah ia mendekati rekannya.


Wushhh... Wushhh...


"Kalian...," Excel Shimo kaget saat dibelakangnya muncul empat sosok itu.


"Jangan kuatir. Kami akan memberikan sisa energi kami untuk memenjarakan binatang itu," kata Yi kepada Excel Shimo dengan suara yang masih disamarkan.


Tap... Tap... Tap... Tap


Keempat sosok itu meletakkan telapak tangan kanan pada bahu dan punggung Excel Shimo, dan segera memberikan energinya untuk membantunya.


Excel Shimo yang merasakan energinya bertambah dari keempat sosok itu, ia tidak menyia-yiakan bantuan mereka, dengan segera menambah daya serap Pagoda itu dengan energinya.


Walaupun Excel Shimo memiliki dantian yang sangat luas, dengan basis kultivasi nya saat ini, tetap saja ia akan kehabisan energi, sebab artefak Pagoda Penjara adalah tingkat Surgawi, dimana si penggunaan harus memiliki kekuatan yang sama, untuk memaksimalkan kegunaan artefak tingkat Surgawi.


"Bajingannn... Akan aku balas kaliannn?!" umpatan kemarahan Tapir Pemakan Jiwa saat dirinya semakin cepat tersedot kedalam Pagoda Penjara.


"Akhhhh...."


Bhuzhhh... Dhummm...

__ADS_1


Teriakan terakhir dari Tapir Pemakan Jiwa saat masuk kedalam Pagoda itu, suara dentuman keras saat dua pintu Pagoda tertutup dengan sangat cepat.


Setelah pintu Pagoda Penjara tertutup, terlihat Tapir Pemakan Jiwa dikirim menuju lantai ketujuh. Tempat khusus untuk kekuatan setingkat Surgawi.


Brukkk... Brukkk...


Excel Shimo segera terduduk lemas saat energinya hampir kehabisan. Sedangkan keempat itu juga sama, mereka ikut duduk setelah berhasil menangkap Tapir Pemakan Jiwa.


"Terima kasih," kata Excel Shimo kepada keempat sosok itu.


"Layak menjadi Wali Benua Jiang Shan, sehingga kami bisa kembali menuju Alam Dewa," ujar sosok bernama Yi yang sudah tidak kuatir lagi dengan Benua Jiang Shan dengan kehadiran Wali Benua yang baru.


"Walaupun kekuatanmu ... tergolong rendah sebagai Wali Benua, dengan dukungan artefak ini, kami menyerahkan Benua Jiang Shan padamu," ucap sosok bernama Cha sambil berdiri, ia melihat infrastruktur Pagoda Penjara ini. Si Cha sebenarnya terkejut tidak bisa melihat basis kekuatan Excel Shimo. Namun didalam pikirannya, ia menyangka jika Excel Shimo menggunakan artefak semacam penyembunyian.


Hanya sosok Yin yang mengetahui kekuatan Excel Shimo dengan persepsinya, walau tidak secara tepat menentukan berada pada level berapa.


"Tanpa kekuatan untuk menjaga artefak ini maupun keluarga, buat apa dukungan yang mewah," sindir si Da yang ketus terhadap Excel Shimo, ia terlihat tidak senang dengan kehadiran Wali baru.


Excel Shimo yang disindir, segera melihat sosok si Da, dan tersenyum saat Mata Langitnya tahu sosok dia.


"Apa...," bentak si Da yang merasa dirinya telanjang dihadapkan bocah ini.


"Dewi Rubah Bulan ekor sembilan, Dewi Burung Angsa, Dewi Naga, dan hanya kamu dari Ras Manusia, wanita kotor itu," sahut Excel Shimo dengan membeberkan identitas keempat sosok itu.


Spontan keempat sosok itu tercengang saat penyamaran mereka terbongkar di hadapan Excel Shimo. Mereka tidak menyangka jika jubah penyamaran mereka masih saja bisa dilihat.


"Ka-kamu, huff, menjengkelkan," kata Dewi Rubah Bulan yang kesal penyamaran nya terbongkar, ingin rasanya ia memukuli bocah ini.


"Pantas, kamu terlihat tidak suka denganku, sebab aku telah mengalahkan Raja Yue Hu, benar, kan?" tanya Excel Shimo yang tidak takut dengan kekuatan Dewi Rubah Bulan ekor sembilan.


"Bocah ... ?!" bentak Dewi Rubah Bulan yang ingin memukul mulut Excel Shimo.


Tap...


"Sudah, sudah. Jangan teruskan perdebatan yang tidak penting," sahut Dewi Angsa dengan menepis tangan Dewi Rubah Bulan.


Excel Shimo menjulurkan lidahnya kepada Dewi Rubah Bulan, dan mengangkat bahunya setelah mendengar ucapan Dewi Angsa.


(Author : Hallo Sobat ku. Saya minta maaf jika tidak sempat membalas komentar kalian, jika sempat saya pasti akan menglike komentar sobat ku semua. Sebagai permintaan maaf saya, tiap hari saya 'kan Up sampai 3 bab. Semoga novel ini tidak membosankan.


Bab berikutnya kita akan berpetualang, dimana Excel Shimo ingin mengungkapkan tabir misteri 200 juta tahun yang lalu, saya harap tidak membosankan. Sehat selalu dan bahagia. Salam.)

__ADS_1


__ADS_2