
Chapter 148. Ratu Han dan Pelayan Istana.
Setelah si pelayan menutup pintu rapat-rapat, Ratu Han segera mencium bibir menantunya dengan ganas, dan Excel Shimo menyambutnya dengan antusias.
Wushhh...
Mereka berdua menghilang, dan muncul lagi di Dunia jiwa, tepatnya di kamar pribadi Excel Shimo. Melihat itu, Ratu Han makin bersemangat dan segera menanggalkan semua pakaiannya.
Excel Shimo juga tidak tinggal diam, ia menghilang pakaian dan berubah menjadi kalung. Excel Shimo segera meremass buah kenyal Shu Peijing dengan tangan kiri, tangan kanan meremass pantatnyaa.
Shu Peijing juga tidak tinggal diam, tangan kanannya segera memegang tongkat Excel Shimo yang setengah berdiri, dengan lidah yang saling menjelajahi mulut mereka berdua.
"Hmmm...," erangann Ratu Han saat tangan menantunya menyentuh lembah surganya yang telah basah kuyup.
Tidak mau kalah, Shu Peijing segera melepaskan ciuman, dan mendorong menantunya agar tertidur terlentang. Setelah menantunya terlentang, Shu Peijing menciumi tongkat itu, dan menjelajahi setiap inci batang yang mulai membesar. Dengan pengalamannya, Shu Peijing mampu memaksimalkan tongkat menantunya hingga berdiri kokoh.
Excel Shimo tersenyum dan hanya melihat agresif Ibu mertuanya, dan sekali-kali menekan kepala Shu Peijing saat memasukkan kepala tongkat kedalam mulutnya.
Karena sudah tidak mampu menahan gejolak lembah surganya yang ingin dimasuki, Shu Peijing segera merangkak dan mencium kembali menantunya, dan memposisikan tongkat itu pada lembah surganya.
Disaat Shu Peijing menuntun kepala tongkat menantunya, Excel Shimo segera menghentakkan tongkatnya saat merasakan bibir lembah surga ibunya.
"Pelannn... Ohhh...," pinta Shu Peijing yang tersentak saat tongkat menantunya menyeruak masuk kedalam lembah surganya, dinding goa-nya meremass tongkat naga saat bergerak menuju rahim, dan Shu Peijing sangat menikmati proses gerakan tongkat menantunya.
Tidak mau didominasi terus oleh Shu Peijing, Excel Shimo membalikkan tubuhnya tanpa menarik tongkat, dan menindih tubuh Shu Peijing yang berisi.
Excel Shimo mengangkat kedua kaki Ibu dan menaruh di bahunya. Shu Peijing sangat kenikmatan dengan gaya baru ini, lembah surganya segera meremass tongkat menantunya. Excel Shimo langsung menggerakkan pinggulnya dengan cepat. Benturan dua daging membuat suasana kamar makin bergairah.
"Ahhh... Ahhh...," Shu Peijing mendesahh kenikmatan setiap kali rahim di penuhi tongkat menantunya.
"Keluarrr...," teriakan syahdu Shu Peijing saat dirinya mencapai puncak.
Excel Shimo segera menyerap energi Yin yang keluar, dan menyimpang didalam dantian. Segera Excel Shimo kembali menghentakkan tongkatnya tanpa memberi waktu Shu Peijing mengatur nafas. Hubungan terlarang itu berlangsung selama empat waktu dupa.
__ADS_1
(1 dupa \= 30 menit, 1 tarikan nafas \= 3 detik)
Shu Peijing sangat puas dengan pelayanan menantunya, hingga membuatnya tidak mampu bergerak. Lembah surganya sudah tidak lagi mampu menerima hentakan tongkat, terlihat lembah itu sudah memerah.
"Makan ini, dan segera kembali, biar semua wanita tidak curiga," pinta Excel Shimo kepada Shu Peijing.
"Aku masih merindukanmu sayang, dan aku sudah tidak mungkin lagi dipuaskan oleh pria loyo itu. Lembah surgaku hanya bisa puas jika menerima milikmu," jawab Shu Peijing dengan sungguh-sungguh, sambil menelan pil vitalitas.
"Banyak cara untuk kita bisa melakukan hal ini lagi. Tapi, lain waktu aku tidak akan memberikan kamu kesempatan untuk bernafas, hahaha," kata Excel Shimo dengan mesra dan tertawa mengejek setelahnya.
"Huff, bagaimana kedua anakku mampu memuaskan-mu, jika kamu begitu ganas," dengus Shu Peijing yang ingin tahu putrinya saat berhubungan intim.
"Mereka tumbang setelah keluar tiga sampai empat kali. Sedangkan kamu mampu keluar sampai sepuluh kali, dan kamu hebat dalam melayani aku...," jawab Excel Shimo sambil mengarahkan lagi tongkatnya.
"Tunggu, tunggu, aku sudah tidak kuat melayani-mu lagi...," cegah Shu Peijing dengan menutup lembah surganya dengan kedua tangan, dia sangat senang mampu menandingi kedua putrinya.
Buru-buru Shu Peijing bangkit setelah energinya pulih, dan memakai pakaiannya. Segera ia bercermin untuk merias diri agar tidak mencurigakan.
Mereka berdua kembali ke dunia luar, tepatnya kembali ke dalam kamar.
Waktu di dunia luar sama saja dengan tiga puluh tarikan nafas, sehingga tidak membuat curiga pelayan yang sedang menunggu di luar kamar.
"Aku sangat mencintaimu melebihi pria loyo itu," ucap Shu Peijing sambil mencium bibir menantunya.
Setelah cukup lama, Shu Peijing melepaskan ciuman dengan enggan, dan melangkah keluar sambil memberikan ciuman jauh kepada menantunya.
Excel Shimo tersenyum tanpa membalas gerakan genit Ratu Han. Setelah Shu Peijing keluar, Excel Shimo membaringkan tubuhnya di tempat tidur, sambil menyebarkan inderanya.
Excel Shimo tersenyum saat melihat Ratu Pertama Kerajaan Long sudah menunggu di kamar pribadinya, sambil bersolek di depan cermin. Long Xia sudah mengganti pakaiannya yang sangat tipis, yang bisa memperlihatkan lekuk tubuh dan isi dalamnya.
Melihat itu Excel Shimo semakin bersemangat, dan buru-buru berdiri. Namun, ia tiba-tiba berhenti saat kesadarannya merasakan niat buruk dari dua orang.
Excel Shimo membuka Mata Dewa nya, dan mencari keberadaan orang tersebut. Excel Shimo melihat dua orang pria, dan ia mengenal kedua orang itu saat pertempuran empat Kerajaan waktu itu.
__ADS_1
"Apa mau mereka?" gumam Excel Shimo.
Segera Excel Shimo membaca pikiran mereka berdua. Setelah mengetahui niat buruk kedua Putra Mahkota itu, Excel Shimo tersenyum dan mengikuti rencana mereka untuk menjebaknya.
Tok... Tok...
"Wali Benua, Ratu Long Xia memanggil Anda,"
Pintu kamar diketok seorang pelayan, dan berbicara kepada Excel Shimo.
"Masuk saja," perintah Excel Shimo sambil berpura-pura sedang rebahan.
"Wa-wali Benua, Ratu Pertama me-minta Anda untuk menemuinya...," kata si pelayan dengan tergagap saat Excel Shimo melihat seluruh tubuhnya.
Pelayan itu adalah pelayan yang sama untuk mengantarkan Excel Shimo menuju ke kamarnya. Hanya saja pakaian telah diganti. Kini pakaiannya lebih terbuka, dengan memperlihatkan belahan d4da, paha dan perutnya. Bisa dikatakan pelayan itu seperti wanita penghibur di rumah bordil.
Pelayan itu termasuk cukup menarik, kulit kuning, wajah oval tanpa makeup, tinggi badan 165 cm, rambut sebahu, dada berukuran 34B, tidak terlalu besar tapi cukup menarik mata kaum pria. Usianya juga masih muda, umur 18 tahun dan basis kultivasi tingkat Pemula.
Excel Shimo mengendus aroma tubuh si pelayan, dan tersenyum senang saat mengetahui jika si pelayan masih gadis. Walau tidak memiliki kekuatan tinggi, mendapatkan kesuciannya saja sudah setara menyerap Yin dari wanita yang memiliki kekuatan tingkat Master.
"Bisakah kamu memijat sebentar?" tanya Excel Shimo sambil memijat bahunya.
"S-saya, saya b-bisa Wali Benua," jawab si pelayan dengan tergagap, tubuhnya sudah salah tingkah, saat menghirup aroma feromon yang membangkitkan hasrat wanita manapun.
"Kemari dan pijat saya sebentar sebelum menemui Yang Mulia Ratu." pinta Excel Shimo sambil membalikkan badannya dan tengkurap.
Dengan gemetaran si pelayan mendekati Excel Shimo, dan mencondongkan tubuh dengan meletakkan tangan kanan pada bahu Wali Benua.
'Sangat tampan, masih muda, hebat, dan tubuhnya sangat harum, aku mau menjadi pelayannya seumur hidup,' batin si pelayan yang mengagumi sosok Wali Benua, "aku tidak perduli jika diriku dijadikan umpan oleh kedua putra brengs3k itu, asal aku bisa selamanya bersama Wali Benua." lanjutnya yang tampak membenci ke-dua Putra Mahkota Kerajaan Long, Long Zan dan Long Rou.
Pelayan itu hanya sebagai alat untuk menjebak Wali Benua. Namun, bagi seorang rakyat jelata dan berstatus pelayan, mereka hanya bisa mematuhi perintah orang yang berstatus tinggi.
Si pelayan tidak bisa menolak maupun membantah perintah Jenderal Besar Long Zan, Putra Mahkota pertama Kerajaan Long. Dengan enggan dia hanya bisa mematuhi. Namun, saat tahu siapa yang menjadi target kedua Putra Mahkota, membuat si pelayan senang, dan rela menyerahkan kesuciannya untuk Wali Benua.
__ADS_1