
Chapter 422. Pemimpin Bursa Judi.
Lin Sichuan dan delapan petarung hanya bisa melongo melihat rekannya kalah dalam satu serangan cepat. Mereka hanya melihat Excel Shimo mengangkat lutut kaki yang masih terangkat dan memutar tubuhnya.
Segera Lin Sichuan memulihkan keterkejutan-nya saat mendengar pembawa acara mengumumkan kemenangan Excel Shimo di ronde pertama, dan setelah itu memanggil peserta kedua untuk naik ke panggung.
Lin Sichuan melihat Dewa Binatang membagikan satu buah per anak yang mendukungnya, dan makin membuatnya kesal telah kalah, dia berkata kepada peserta kedua:
"Jangan meremehkan lawan seperti sebelumnya! Langsung serang tanpa banyak bicara. "
Peserta kedua hanya mengangguk dan dia segera terbang, disaat berada di atas panggung, peserta kedua turun dengan elegan sambil memegang senjata tombak.
Semua penonton bersorak-sorai memanggil namanya, jelas peserta kedua menjadi bangga sebab dia juara peringkat ke-sembilan dengan julukan Raja Tombak.
Pendukung anak-anak jelas tidak terima kalah dari pendukung Raja Tombak, apalagi telah mendapatkan Buah Persik Roh. Anak-anak berterbangan menghalangi pandangan penonton dengan semangat. Orang tuanya jelas panik dan berusaha menghentikan anaknya agar tidak mengganggu penonton.
"Aku pendukung Dewa Binatang! Lihat nanti, satu serangan keok Raja Tombak!"
Teriakan anak kecil sambil kedua tangan bersilang pinggang dan melotot kepada semua penonton, bukannya takut penonton malah menggodanya.
Sedangkan Excel Shimo terkekeh melihat antusias pendukung cilik yang membelanya. Excel Shimo senang Raja Tombak meradang, karena perhatian penonton teralihkan kepada anak-anak.
"Senior, aku siap!" kata Raja Tombak yang ingin menyelesaikan pertarungan.
Raja Tombak memiliki kekuatan Half Alfa level lima, usianya telah melebihi 500 tahun. Raja Tombak pernah mengalahkan Ximen Sying sebanyak tiga kali dan kalah tujuh kali.
Karena kemenangan terakhirnya melawan Ximen Sying yang merupakan peserta Konferensi Tianwu, nama Raja Tombak melejit dan menjadi sorotan banyak orang.
"Aku juga siap!" sahut Excel Shimo sebelum pembaca acara bertanya kepadanya.
"Baiklah, mulai!"
Pembawa acara segera mengijinkan dua petarung untuk memulai ronde kedua. Penonton dan anak-anak bersorak-sorai ketika ronde kedua telah dimulai.
Raja Tombak segera memutar senjatanya untuk melakukan pemanasan dengan lincah dan seperti menari, dan membuat penonton terkagum-kagum melihat tarian tombak.
Sedangkan, Excel Shimo geleng-geleng melihat lawan begitu lama harus melakukan gerakan yang tidak berguna.
Segera tubuh Excel Shimo bergetar dan menghilang, ketika Raja Tombak hampir menyelesaikan pemanasan, dan muncul lagi...
Swosh... Bang...
Suara benturan terdengar ketika Raja Tombak terpukul punggungnya hingga menabrak dinding tribune penonton, dinding itu bergetar dan membuat Arena Tanding menjadi hening sekali lagi.
Mereka melihat Raja Tombak telah tertidur manis dengan tubuh tertanam di dinding, semua orang mengalihkan pandangan ke arah Excel Shimo yang masih memasang kuda-kuda sambil tangan kanan mengepal, tanda telah memukul lawannya.
"Lihat... Lihat... Aku benar, kan! Satu serangan keok si Raja Tombak!"
Salah satu anak yang sesaat lalu memelototi penonton kembali bersuara dan membuat teman-temannya bersorak-sorai makin keras.
Mereka turun ke pinggir panggung menari dan melompat-lompat dengan riang.
__ADS_1
Kembali suara riuhnya penonton terdengar dan banyak yang mulai menjagokan Dewa Binatang di bursa judi.
Sedangkan Dewi Lou dan pendukung Excel Shimo menertawakan anak-anak, jelas mereka bahagia telah yakin akan menjadi seseorang miliarder mulai hari ini.
Namun, Lin Sichuan dan timnya masih terdiam untuk menganalisa gaya tarung Dewa Binatang, tapi mereka masih saja dibuat kebingungan dengan kecepatan Dewa Binatang yang susah diikuti Mata Dewa.
Segera pembawa acara mengumumkan kemenangan Dewa Binatang untuk ke-dua kalinya dan memanggil peserta ke-tiga.
Tidak berselang lama, peringkat ke-delapan menuju panggung, seperti sebelumnya peserta ke-tiga spesialis senjata tombak.
Setelah dua peserta telah siap, pembawa acara segera memerintah mereka untuk segera memulai ronde ke-tiga...
Swosh... Bang...
Sekali lagi, satu serangan dari Dewa Binatang membuat peserta ke-tiga mengukir prestasi di dinding tribune penonton, dengan tubuh tertancap sangat indah.
Lalu berlanjut ke peserta ke-empat... 'Bang', peserta ke-lima, 'Bang'... Dengan mudah Dewa Binatang memberikan kenangan terindah bagi lawannya.
Lin Sichuan tidak tahu harus berkata apa, kepercayaan dirinya berlahan mulai luntur. Sebelum peserta ke-delapan dipanggil, Lin Sichuan meminta jeda waktu dengan alasan untuk beristirahat memulihkan mental.
Pembawa acara juga dengan senang hati memberikan Lin Sichuan waktu, sebab kepala bursa judi juga meminta waktu mengatur kekalahan besar mereka kali ini dan kali pertama dalam sejarah perjudian.
Excel Shimo segera menemui pendukung ciliknya, dia memberikan Buah Persik Roh sesuai janjinya, bahkan memberikan semua buah untuk tiga ronde yang belum dijalani.
Setelah bercanda dan tertawa dengan pendukung ciliknya, Excel Shimo berkumpul bersama Moon Qiang, dia segera bertanya hasil pembicaraan Bunga Wangi, Dong Jingying dengan Raja Malaikat.
Mengetahui, jika Raja Malaikat belum memutuskan sikap, Excel Shimo sudah membuat tebakan jika Raja Malaikat menolak untuk memberikan dukungan.
"Setelah Raja Malaikat memberikan keputusannya, apakah mendukung atau tidak, kita tetap segera tinggalkan Benua Cahaya! Tapi, jika di antara kalian enggan mengikuti ku, aku juga tidak mempermasalahkannya. "
Excel Shimo tidak ingin membuat posisi Raja Malaikat dalam kesulitan, karena itu dia secepatnya meninggalkan Benua Cahaya, apapun hasilnya dia tetap berjalan sesuai rencana awal.
Semua wanita menjadi terdiam memikirkan ucapan Dewa Binatang, terutama Bunga Wangi dan Dong Jingying. Sedangkan Moon Qiang sejak dari Hutan Mistik telah bertekad untuk mengikuti Excel Shimo.
"Kita bicarakan lagi setelah pertarungan ini!" pinta Yun Shuang kepada Excel.
"Tidak masalah!" jawab Excel Shimo dan kembali berbicara dengan semua wanita termasuk Tsai Li-Liang.
.....
Di kantor perjudian, Lin Sichuan dan dua peserta dipanggil oleh pemimpin bursa judi, pemimpin itu dari Ras Malaikat sayap hitam, tubuhnya gendut, tinggi badan 167 cm, dia bertanya kepada Lin Sichuan:
"Apa kamu yakin bisa mengalahkannya? Aku sendiri tidak bisa melihat kekuatannya, atas dasar apa kalian begitu yakin mampu mengalahkan Dewa Binatang?"
Sebelumnya, Lin Sichuan meyakinkan pemimpin bursa judi jika mampu mengalahkan Dewa Binatang dengan mudah, dan dia juga mengusulkan membuka bursa judi dengan membawa sembilan juara untuk meningkatkan pendapatan bursa judi.
Namun, setelah ronde ke-tujuh dan semua rekannya tumbang satu demi satu, kepercayaan diri Lin Sichuan seketika runtuh, sebab itu Lin Sichuan meminta jeda waktu untuk berkonsultasi dengan pemimpin bursa judi sebelum memulai ronde ke-delapan.
Lin Sichuan dan kedua rekannya terdiam sesaat, dan Lin Sichuan segera menjawab:
"Ketua, setelah melihat kecepatan dan gaya bertarungnya yang aneh... Jujur saja, awalnya aku menganggap dia lemah, setelah melihatnya sendiri... Aku tidak yakin, sebab perkiraan ku kekuatannya berada di level 15."
__ADS_1
Pemimpin bursa judi mengangguk dan tersenyum tipis setelahnya, dia bertanya lagi:
"Apa rencana-mu jika sudah begini? "
"Apakah Pil Peledak Kekuatan masih ada?" tanya balik Lin Sichuan sebelum menjawab.
Pemimpin bursa judi tertawa saat tahu pikiran Lin Sichuan yang ingin meningkatkan kekuatannya secara instan demi mengalahkan Dewa Binatang.
Tapi, jelas pemimpin bursa judi tidak mungkin melepaskan Pil Peledak Kekuatan secara gratis, walaupun nantinya dia menang banyak setelah Lin Sichuan mengalahkan Dewa Binatang.
Pil Peledak Kekuatan sangatlah mahal dan hanya bisa dijangkau mereka yang berstatus tinggi dan kaya raya, pil ini mampu meningkatkan kekuatan seseorang secara instan hingga naik lima level selama waktu satu dupa. Tapi, ada harga yang harus dibayar setelah menggunakan Pil Peledak Kekuatan, pengguna harus merasakan rasa sakit luar biasa saat efek pil telah habis. Selain rasa sakit, si pengguna tidak akan bisa berkultivasi semalam satu tahun.
Melihat kekuatan Dewa Binatang yang tak terduga dan tidak ingin dirinya kalah dengan memalukan, mau tidak mau Lin Sichuan berharap mendapatkan Pil Peledak Kekuatan dari pemimpin bursa judi.
"Jika aku memberikan pil ini, apa untungnya bagiku? " tanya pemimpin bursa judi dengan senyum licik.
Sebenarnya, Pemimpin bursa judi telah lama menginginkan tubuh Lin Sichuan, tapi jelas dia tidak mungkin berani menyentuhnya, sebab Lin Sichuan dari Kasta Jenderal.
Saat inilah yang ditunggu-tunggu oleh pemimpin bursa judi, dia ingin menukar Pil Peledak Kekuatan dengan Lin Sichuan menjadi selirnya.
Lin Sichuan dan kedua rekannya sangat geram dengan keserakahan pemimpin bursa judi, jelas-jelas nanti diuntungkan masih saja meminta untung lagi.
Berhubung Lin Sichuan dan kedua rekannya tidak mau dipermalukan oleh Dewa Binatang, salah satu rekannya peringkat kedua segera menjawab:
"Pemimpin, keluarga ku memiliki harta warisan leluhur, Artefak Bintang Empat tahap Rendah - Pagoda Perlindungan. Apakah bisa ditukar dengan Pil Peledak Kekuatan?"
Lin Sichuan dan rekan peringkat ketiga jelas kaget. Berbeda dengan pemimpin bursa judi, dia tertawa di dalam hati, mengetahui betapa bodohnya mereka yang menukar sesuatu yang lebih berharga dari pil sekali pakai.
Bagi pemimpin bursa judi, nilai pertukaran ini jelas lebih menguntungkan daripada memiliki Lin Sichuan sebagai selirnya, yang harus merawat dan juga mengeluarkan biaya besar.
Pemimpin bursa judi menahan diri dari rasa senangnya, menjaga sikap serius dengan tatapan yang selalu menyelidiki, dengan jual mahal dia berkata:
"Hmm! Aku sebenarnya tidak terlalu membutuhkan Artefak Bintang Empat, aku membutuhkan sesuatu yang bisa menghasilkan uang dengan cepat!"
Ketiga petarung seketika mengumpat di dalam hatinya, karena siapapun tahu Artefak Bintang Empat mudah dijual dengan harga miring, apalagi jika di lelang keuntungannya bisa berlipat-lipat.
Lin Sichuan ingin rasanya memukul orang gendut di depannya hingga menjadi kurus, tapi dia jelas tidak berani, sebab pemimpin bursa judi memiliki kekuatan level 25.
"Tapi, aku mau menerimanya, asal...! " sambung pemimpin bursa judi sambil melihat tubuh Lin Sichuan dengan tatapan cabul.
Lin Sichuan jelas risih dengan tatapan pemimpin bursa judi, dia baru menyadari telah masuk dalam arus jebakannya. Tubuh Lin Sichuan bergetar saat merasakan tatapan pemimpin bursa judi seakan-akan menjelajahi seluruh bagian organ sensitif-nya.
Segera Juara kedua memblokir tatapan pemimpin bursa judi dengan tubuhnya sendiri, dia sudah sangat marah dengan otak kotor orang gendut di depannya.
"Pemimpin, jika kamu tidak mau, lebih baik kita bertarung dengan sekuat tenaga melawan Dewa Binatang! Menang atau kalah, itu hal biasa bagi kesatria! Ayo, kita keluar! " geram Juara kedua kepada pemimpin bursa judi, dan muak berada di dalam ruangan ini.
"Tunggu, sabar! Anak muda!" cegah pemimpin bursa judi sebelum ketiga petarung keluar.
Lin Sichuan bersama kedua rekannya membalikkan badan dan Juara kedua segera berdiri di depan menghadap pemimpin bursa judi. Mereka bertiga tidak berbicara dan menunggunya.
......
__ADS_1