
Chapter 124 Lukisan Tingkat Saint.
Kedua mata Qin Bo berwarna putih dengan pandangannya terasa kosong, sedari tadi Excel Shimo tidak berani memandang wajah Qin Bo. Berhubung Qin Bo tidak berbicara, Excel Shimo sedikit melirik wajah orang di depannya.
"Sejujurnya, aku sudah mati jutaan tahun lalu. Tubuh ini bisa bertahan karena keinginan terakhir dan dukung oleh energi milikku," katanya disaat Excel Shimo melirik wajahnya.
"Maaf, Paman Bo,"
"Tidak perlu meminta maaf, itu bukan kesalahanmu," jawabannya dengan mengeluarkan sesuatu di dalam pakaian miliknya, "ini adalah hadiah dari adikku." lanjutnya dengan melemparkan cincin dimensi tingkat Dewa Leluhur.
Melihat hadiah itu, jelas Excel Shimo kegirangan, tapi dia menahan dirinya.
"Terima kasih, Paman Bo," ucap Excel Shimo dengan menangkupkan kedua tangannya, dan menyimpan hadiah itu, "berarti pencipta boneka wayang itu adalah saudara Paman! Bagaimana ceritanya bisa seperti ini?" tanya Excel Shimo.
"Tabu bagi kami menceritakan peristiwa itu, Nak. Lebih baik tingkatkan kekuatamu, seiringnya waktu, kamu juga akan mengetahuinya. Hanya satu yang harus kamu tahu, takdirmu adalah membunuh mahkluk itu. Hanya keturunan Kakek Excel saja yang mampu membunuhnya," jawabnya dengan pandangan tetap kosong.
Excel Shimo hanya geleng-geleng kepalanya, karena tidak mungkin menghindari takdirnya. Seakan-akan mengerti akan kekuatiran Excel Shimo, Qin Bo berbicara lagi.
"Saat ini kekuatan ku sudah tidak berada di puncaknya, setidaknya bisa memberikan kamu sedikit kekuatan. Tapi, aku memiliki syarat...," katanya.
Excel Shimo seketika syok setelah mendengar pengakuan Qin Bo, 'bukan kekuatan puncak! Bagaimana kuatnya jika berada di puncaknya?' batin Excel Shimo yang tidak tahu harus berkata apa dengan orang sekaliber Qin Bo.
Namun, bagian tengah perkataan Qin Bo, membuat Excel Shimo kegirangan.
"Demi melawan mahluk itu, saya mau menerima syarat, asal tidak melebihi kemampuan saya, Paman Bo." jawab Excel Shimo dengan nada tegas dan siap melawan segala kejahatan. Sikap agresi.
"Jadilah kamu muridku, sebab sewaktu hidup aku tidak pernah memiliki murid pribadi. Dengan menjadi muridku, kamu bisa memiliki semua pengetahuan dan kekuatan yang aku miliki. Dengan begitu, aku menjadi lega. Maukah kamu menjadi muridku?" katanya pada Excel Shimo, dan berharap Excel Shimo mau menjadi murid satu-satunya.
__ADS_1
Excel Shimo terdiam mendengar keinginan orang itu. Sejujurnya Excel Shimo tidak ingin menerima Guru, sebab dia memiliki apapun yang dia butuhkan untuk mencapai puncak.
"Tuan, apa yang dia katakan benar. Selama hidupnya, dia tidak memiliki murid," celetuk Xi He.
"Terima saja, Tuan. Lagian dia sudah tidak ada lagi. Tidak ada salahnya mengabulkan keinginan terakhir dia," Lotus Bao juga ikut berbicara, "memiliki kekuatan dengan cepat adalah keinginan semua kultivator manapun" lanjutnya yang berharap Excel Shimo menerima menjadi murid.
"Baik Paman Bo, saya bersedia menjadi murid." jawab Excel Shimo setelah diyakinkan oleh Xi He dan Lotus Bao.
"Guru, terimalah penghormatan murid ini."
Segera Excel Shimo melakukan ritual sebagai murid baru, dengan bersujud tiga kali. Ritual itu dilakukan, sebab seorang Guru adalah orang tua kedua setelah orang tua kandung.
"Hahaha, akhirnya aku memiliki murid. Murid dari keturunan yang hebat," Qin Bo tertawa bahagia, suara tawanya menggema didalam goa, "bangkit." perintahnya setelah menerima penghormatan murid barunya.
"Terima kasih, Guru." jawab Excel Shimo dengan bangkit dan duduk kembali.
"Aku ingin tahu bakatmu dalam seni lukis, buatlah semenarik mungkin, dan buat aku tertawa. Dulu setiap orang yang ingin menjadi jadi muridku selalu gagal membuat aku tertawa," pintanya kepada Excel Shimo dengan memberikan kuas kesayangannya sebagai media, "lukis di lembaran ini." lanjutnya dengan menunjukkan lembaran kulit binatang rusa berwarna putih, setelah Excel Shimo menerima kuasnya.
Tiba-tiba terbesit sebuah bayangan di pikirannya, dan tersenyum cabul setelahnya. Tanpa pikir panjang, Excel Shimo segera mencelupkan kuasnya pada tinta yang telah tersedia.
"Guru, jangan tersinggung dengan lukisan yang saya buat, ini hanya keluar dari imajinasi saja," ucap Excel Shimo kepada Gurunya.
"Justru seorang ahli seni harus memiliki imajinasi yang luas tanpa batas, demikian juga seni tulis, dia harus pandai dalam berkreasi. Lukislah, seni apapun pasti memiliki artinya masing-masing," jawab Qin Bo dengan bijak, dia senang dengan muridnya yang sudah mengerti dasar dalam hal seni.
Segera Excel Shimo melukis sesuai apa yang dia imajinasikan, dengan sapuan kuas kekanan dan kekiri, gerakannya memang sedikit kasar, tapi semuanya saling terhubung. Walau kedua mata Qin Bo terlihat kosong, ia juga memperhatikan apa yang akan dilukis oleh muridnya.
Setelah menunggu waktu dua dupa, Excel Shimo menyelesaikan apa yang dia lukis, sebelum menyerahkan kuas, Excel Shimo sedikit memberikan catatan pada lukisannya, dan mengembalikan kuas itu pada Gurunya.
__ADS_1
"Guru, hanya ini yang saat ini keluar dari imajinasi ku...." kata Excel Shimo dengan memutar lembaran itu agar bisa dinilai oleh Gurunya.
"Wahahahaha...."
Qin Bo tertawa terbahak-bahak saat melihat lukisan muridnya. Excel Shimo jelas kebingungan, sebab dia tidak melukis hal yang lucu.
"Whahahaha...."
Tawa Qin Bo menggetarkan dinding goa dan membuat dinding menjadi retak. Setelah puas tertawa, Qin Bo tersenyum sambil mengamati sekali lagi lukisan itu.
"Murid gila... Hahaha," komentar Qin Bo yang sekali lagi tertawa, "benar-benar imajinasi diluar perkiraan ku, tidak ku sangka masih kecil otakmu cabul." lanjutnya yang menilai hasil lukisan muridnya.
"Benar, dia cabul," celetuk Xi He dan Lotus Bao bersamaan, dan menyetujui penilaian Qin Bo.
Apa yang Excel Shimo lukis adalah adegan hot dirinya dengan Ratu Han, dia melukis adegan bergaya Ratu Han nungging, dan Excel Shimo dibelakangnya dengan menjambak rambut Ratu Han yang sedang menikmati.
Apalagi tulisan yang dia sematkan bertulis 'ingin mengulangi lagi, berharap dengan isteri pria lain. Kisah yang indah walau sedikit mendebarkan'. Sebab itu, Qin Bo tertawa terbahak-bahak, apalagi lukisan itu bisa bergerak maju mundur seperti orang yang sedang menunggang kuda dengan ganas.
"Hebat, hebat, lukisan ini setingkat Saint. Kamu memang sangat berbakat, Muridku." puji Qin Bo sambil membelai lukisan muridnya yang unik dan eksentrik, "dalam seni, lukisan seperti ini membutuhkan imajinasi kuat, mendalam dan menghayati saat melukis. Tanpa hal itu dan mengalami sendiri, setiap lukisan tidak akan bisa hidup. Tidak hanya seni lukis, yang namanya seni membutuhkan penghayatan dan penjiwaan saat mengabadikan nya. Kamu lulus dan berhasil buatku tertawa seperti ini." lanjutnya dengan mengomentari hasil seni lukis muridnya.
"Terima kasih atas pujiannya, Guru." jawab Excel Shimo dengan menangkupkan kedua tangannya.
"Banyak orang melukis tetapi selalu monoton dan kurang dalam penghayatan. Mereka hanya bisa meniru dan tidak pandai berimajinasi. Setiap mata yang melihat, menginginkan sesuatu yang baru dan menarik, bukan hanya itu - itu saja. Awalnya mereka senang, tapi segera mereka melupakan apa yang di lihat barusan," Qin Bo sedikit memberikan pengetahuan di bidang seni, saat berbicara, ia tampak merindukan dirinya melukis lagi.
"Gur--"
"Waktuku tidak banyak. Didalam adalah petiku, dan sengaja aku disini untuk menunggu seseorang yang berhasil melewati ujianku di luar. Muridku, kumpulan ke-enam fragmen peta berikutnya dan jangan sampai jatuh pada pihak lain. Segala kebutuhanmu ada didalam peti itu, hanya itu yang bisa Guru berikan," potong Qin Bo sebelum Excel Shimo berbicara.
__ADS_1
"Terima kasih, Guru. Murid akan mengingat pesan Anda,"
"Bersiaplah, aku akan berikan sisa kekuatan ku. Walau tidak banyak peningkatan, aku harap kamu bisa mengabulkan keinginan terakhir Gurumu ini," pinta Qin Bo yang berharap muridnya membalas dendam pada mahkluk itu.