
Chapter 211. Kota Xi'an.
Setelah mereka berdua mengobrol, Excel Shimo meminta Juan Rong untuk beristirahat dikamar lantai 3, kamar khusus penguasa Istana Peri. Melihat Juan Rong sudah memasuki kamar pribadinya, ia segera mengontrol Istana Peri.
Secara berlahan Istana Peri melayang meninggalkan tanah hingga ketinggian 3.000 meter tanpa menimbulkan goncangan. Semua orang tidak ada yang merasakan gerakan Istana Peri, sebab mereka telah kelelahan secara psikologis.
Excel Shimo menggerakkan Istana Peri menuju Ibukota Xi'an. Istana Peri juga telah mengaktifkan mode kamuflase dan ukurannya berubah menjadi kecil seukuran ibu jari.
Wushhh...
Istana Peri melesat menuju Kota Xi'an dengan sangat cepat, dengan ukuran yang sangat kecil membuat Excel Shimo tidak kuatir. "Dewa Ilusi sangat hebat mampu menciptakan artefak ini," gumam Excel Shimo yang merasa beruntung mendapatkan Istana Peri.
Istana Peri Miniatur adalah Artefak Bintang Empat yang mampu ditingkatkan menjadi Bintang Lima. Didalam Istana Peri, Excel Shimo juga menemukan Blueprint untuk meningkatkan Istana Peri menjadi Artefak Bintang Lima.
"Jika aku ada waktu, aku akan tempa ulang Istana Peri, agar mampu memuat banyak orang dan mampu menahan serangan setingkat True Alfa," ujar Excel Shimo sambil melihat kebawah.
Dibawah Excel Shimo melihat pergerakan mayat hidup menuju Ibukota Xi'an, jumlahnya sangat banyak, jika dilihat dari atas, mayat hidup itu seperti serangga yang merayap dengan sangat cepat.
Wushhh...
Excel Shimo menggerakkan Istana Peri semakin cepat dan sengaja ingin menghadang mayat hidup didepan gerbang Ibukota Xi'an. Setelah dekat dengan Ibukota Xi'an, Excel Shimo mencari lokasi yang cocok untuk mendaratkan Istana Peri.
Dengan berlahan Excel Shimo mendarat di hutan yang jarak antar gerbang sejauh 1 kilometer. Setelah mendarat Excel Shimo merubah bentuk Istana Peri seperti semula, hanya masih dalam mode kamuflase.
Excel Shimo juga merubah pakaiannya, kini pakaiannya serba hitam dan kepala tertutupi, Yaolai Sword terselip di pinggang kirinya, dengan menggetarkan tubuhnya, Excel Shimo menghilang dari lantai 3.
Teng... Teng... Teng...
__ADS_1
Lonceng marabahaya menggema di Kota Xi'an, buru-buru prajurit Kerajaan Tu bergerak dengan gagah. Perlengkapan Perang berwarna keperakan, tombak tajam menatap langit, aura membunuh keluar dari tubuh setiap prajurit, sudah dipastikan jika setiap prajurit telah mengalami hidup dan mati selama mengabdi. Gerakan mereka sangat kompak, hanya mendengar bunyi lonceng mereka sudah langsung mengerti.
Derap langkah kaki setiap prajurit menggetarkan Kota Xi'an, suara gesekan perlengkapan perang menambah aksi heroik kepahlawanan mereka.
Banyak orang yang mengungsi bersorak-sorai, sorakan mengiringi ribuan prajurit yang akan keluar melawan Ras Mayat Hidup. Tembok pertahanan Kota Xi'an sangat kuat, ketebalannya mencapai 4 meter, tinggi tembok mencapai 15 meter, dan tembok pertahanan mengelilingi Kerajaan Tu.
Di depan tembok pertahanan terpasang banyak kayu runcing sebagai penghalang, menghalangi pergerakan mayat hidup
Di atas tembok berdiri banyak prajurit memegang panah dan pedang terselip di pinggang, sorot mata mereka tajam menatap hutan dan menunggu mayat hidup yang akan berdatangan.
Prajurit infanteri keluar dari pintu gerbang utama dan membuat barisan pertahanan dibelakang blokade, blokade itu terbuat dari kayu runcing berbentuk 'X' dan didepan blokade dibuat parit sedalam 2 meter dan lebar mencapai 4 meter.
Gerrrr...
Geraman mayat hidup mulai terdengar, dan satu per satu mayat hidup jenis Luse Zong keluar dari hutan, mayat hidup ini rata-rata memiliki kekuatan setingkat Master hingga Tingkat Grand Master, walau kekuatan Luse Zong lebih rendah dari Mao Zong, jumlah mereka lebih banyak.
"Segera bakar parit!!"
Suara nyaring seorang Jenderal Besar memberikan perintah.
Segera puluhan prajurit melemparkan obor ke dalam parit, ternyata didalam parit telah diisi dengan banyak tanaman Nipah (Nypa fruticans wurmb) merupakan sumber daya genetik tanaman potensial penghasil nira sebagai bahan baku bioetanol dan minyak wangi, jenis tanaman ini sangat populer dikalangan Benua Jiu Zhao.
Segera parit itu terbakar dengan cepat dan sangat panas, api menjalar disepanjang parit. Merasakan panas mayat hidup segera berhenti dan mulai menjauhi parit.
Jenderal Besar dan seluruh prajurit yang mengetahui tidak merasa gembira, sebab di medan perang apapun situasinya bisa berubah dalam sekejap.
Namun, tidak berselang lama mayat hidup bergerak dengan terpaksa, seperti ada yang mengendalikan tubuhnya, mayat hidup segera berlari lagi tanpa takut dengan api.
__ADS_1
"Seperti mayat hidup benar-benar ada yang mengendalikannya sesuai informasi dari putraku," ujar seorang pria tua yang berdiri bersama Jenderal Besar.
Pria tua itu adalah Raja Tu Li Yuwen, dari Ras Kelinci dengan marga Tu, ayah dari Tu Gui, usianya hampir 2.000 tahun, kekuatannya berada pada Tingkat Peri Langit level 7.
"Benar, Yang Mulia. Siapa yang mengendalikan mereka?" tanya Jenderal Besar dengan dingin, sebab ia fokus dengan serangan mayat hidup yang sudah memasuki parit.
"Ayah, aku juga ingin bertarung melawan mahkluk jelek itu," sela seorang gadis muda yang berdiri disamping Raja Tu, ia tampak bersemangat dengan membawa pedang ganda di punggungnya.
"Jangan, Mei'er ... mereka ganas dan bertarung tanpa emosi, jika kamu di gigit atau terkena cakar beracun mereka, kamu bisa menjadi bagian dari mayat hidup," tolak Raja Tu yang tidak ingin putri kesayangannya menjadi bagian Ras Mayat Hidup.
Gadis muda itu adalah Tu Yueyin Mei, adik bungsu dari Tu Gui, usianya baru 15 tahun, rambut panjang berwarna hitam, tinggi badan 170 cm, lincah dan kerasa kepala. Walau tergolong masih muda, tubuh Tu Yueyin Mei seperti usia 20 tahun, tubuh berisi dan dada cukup besar, kekuatannya berada pada Tingkat Raja level 1.
"Humph, aku sudah menggunakan armor yang menutupi seluruh tubuhku, lihat ayah, lihatlah aku, yang hanya terlihat matanya saja dan tidak bisa mereka mencakar dan mengigit-ku," jawabnya dengan gigih ingin bertarung, Raja Tu memang melihat Tu Yueyin Mei hanya terlihat matanya saja, matanya berkedip-kedip dan menyihir.
Raja Tu yang di sihir hanya bisa menghela nafas panjang dan melepaskan secara kasar, ia melihat kebelakang dan menganggukkan kepala, tapi tidak ada siapapun dibelakangnya.
Tiba-tiba muncul dua orang berjubah dan jelas tujuan mereka ingin melindungi putri Raja Tu. "Lindungi putriku!" perintah Raja Tu kepada dua orang tersebut.
"Laksanakan, Yang Mulia."
Kembali kedua orang itu menghilang setelah mendapatkan perintah. Tu Yueyin Mei tersenyum, ia tidak perduli dengan sifatnya ayahnya yang protektif kepada setiap anggota keluarga kerajaan.
"jangan terlalu jauh dari prajurit, tetap dibelakang para perwira," titah Raja Tu kepada putrinya yang suka ceroboh dan lepas kendali.
"Siap, Boss. Jenderal, akan selalu mematuhi perintah pimpinan," jawab Tu Yueyin Mei yang sangat senang dan ucapannya membuat Jenderal Besar tersenyum dan geleng-geleng.
Wushhh...
__ADS_1
Segera Tu Yueyin Mei terbang dan diikuti dia penjaga yang ternyata sembunyi dibalik bayang-bayang, Raja Tu sudah kewalahan menghadapi putri bungsunya ini, dan hanya bisa menuruti kemauannya.