
Chapter 115 Melepaskan Tanggung Jawab.
Dewi Angsa, Dewi Naga dan Dewi Cha yang ternyata adalah wanita kotor, hanya geleng-geleng kepala melihat Dewi Rubah Bulan dan Excel Shimo yang sudah berseteru saat pertama kali bertemu.
"Apa kalian tidak menginterogasi binatang itu?" tanya Excel Shimo dengan menunjuk ke lantai tujuh, dimana Tapir Pemakan Jiwa sedang disegel dengan empat rantai di kakinya.
Keempat wanita itu mendongak melihat Tapir Pemakan Jiwa merintih kesakitan saat berusaha lepas dari jeratan rantai. Walau suaranya tidak terdengar, mereka bisa mengetahui penderitaannya.
"Iya, aku juga akan merekamnya untuk bukti laporan kepada Dewan Keamanan Benua Kelahiran. Apa boleh aku merekamnya?" jawab Dewi Angsa dan meminta ijin kepada Excel Shimo.
"Silakan, tidak masalah, asal jangan wajah tampan ku yang direkam," jawab Excel Shimo yang ingin narsis.
"Huff, jelek. Pecah token giok perekam, jika merekam wajahmu yang tatoan," dengus Dewi Rubah Bulan yang kesal melihat sikap narsis dari bocah di hadapannya.
"Ini bukan tato, wanita berekor. Ini tanda lahir yang semakin membuat aku keren, dan semakin meningkatkan pesona ketampanan ku," sanggah Excel Shimo yang semakin narsis.
"Siapa wanita berekor... Mana, mana ekor ku, hah?!" kilahnya yang tidak mau diejek sebagai wanita berekor. Dewi Rubah Bulan makin marah kepada Excel Shimo.
Dewi Rubah Bulan juga menunjukkan pantatnya kepada Excel Shimo, dia ingin membuktikan jika dia tidak berekor.
Plakkk...
"Akhhh... Bajingannn, berani, beraninya kamu memukul pantatku?!" pekik Dewi Rubah Bulan yang tersentak saat Excel Shimo memukul pantatnya, ia segera menjauh dari Excel Shimo dengan wajah merah dan niat membunuh.
"Oh ohhh... Pernikahan yang tidak terduga sama sekali," ujar ketiga wanita serempak, yang tahu artinya tepukan di pantat rekannya.
Bagi Ras Rubah, menepuk pantat adalah suatu bukti sebagai ikatan pernikahan mempelai pria kepada isterinya, dan Excel Shimo tidak tahu ritual itu.
"Apa!! Menikahi wanita berekor ini. Tidak, tidak, bisa hancur harga diriku!" tolak Excel Shimo saat mendengar ucapan ketiga wanita itu.
"Aku akan membunuhmu...!!" pekik Dewi Rubah Bulan dan langsung menyerang orang yang telah menodainya.
Shwoshhh...
__ADS_1
Zlapp...
Disaat Dewi Rubah Bulan menyerang dengan kepalan tangan ingin memukul Excel Shimo, tiba-tiba Excel Shimo menghilang dan muncul di atas Pagoda Penjara sambil tersenyum mengejek.
"Sialan kemana dia... Bocah kamprett, jangan lari kamu?!" teriak Dewi Rubah Bulan sambil mencari keberadaan Excel Shimo.
Ketiga wanita yang lain hanya diam, sebab ini sudah urusan pribadi mereka berdua. Mereka hanya bisa geleng-geleng mengetahui apa yang akan terjadi pada Excel Shimo.
Sedangkan isteri, Ratu Han, Long Wenhua dan Raja Fung hanya melongo melihat Wali Benua mempermainkan salah satu sosok Wali lama benua ini.
"Aku lupa mengatakan pada suami kita jika ada ritual seperti itu di Ras Rubah," sesal Ratu Bao Yu saat melihat semua kejadian dari dalam cermin perlindungan.
"Hampir semua Ras Binatang juga memiliki ritual yang sama, dengan cara yang berbeda. Sayang sekali suami kita tidak mengetahui hal ini," kata Ratu Jing Jiao yang tidak menyalahkan Excel Shimo karena ketidaktahuannya.
"Mungkin, bagi suami kita, janji setia dan segel keluarga pertama adalah ritual baginya, sebab itu dia tidak suka dengan kata-kata 'akan dan semoga' saat mengucapkan janji maupun sumpah," sahut Xiao Qiao yang mengingatkan kepada semua saudarinya.
"Bocahhh, kemana kamu...!" teriak Dewi Rubah Bulan yang makin marah saat kehilangan jejak orang yang telah menepuk pantatnya, "jika kamu tidak bertanggung jawab, akan aku cabik-cabik tubuhmu, dan aku bakar tongkatmu." lanjutnya dengan memberikan ancaman kepada Excel Shimo, sambil tangannya memperagakan gerakan mencakar.
"Biarpun ada pria yang melebihi ketampanan ku, jika melihatmu seperti ini, sudah dipastikan dia akan kabur. Sayang sekali, sayang sekali, cantik-cantik menjadi perawan tua," ejek Excel Shimo sambil duduk dengan tangan kanan bertumpu pada lututnya. Matanya melihat kebawah dan sekali-kali memeriksa ketiga wanita yang lain.
"Akhhh... Bocahhhh... Mati kamuuu?!" teriakan amarah Dewi Rubah Bulan yang terus dihina oleh Excel Shimo.
Shwoshhh...
Tap... Bhuzhhh... Zlappp...
Dewi Rubah Bulan segera melesat dengan kepalan tangan yang penuh dengan energi kekuatan Prajurit Surgawi. Melihat itu, Excel Shimo segera menepuk Pagoda Penjara untuk masuk kedalam dunia jiwa. Setelah menyimpan Pagoda Penjara, ia menghilang sebelum kekuatan itu mengenainya.
Boommm...
"Akhhhh...!? Bocahhhh, sampai diujung dunia aku akan memburumu," teriakan amarah Dewi Rubah Bulan semakin menjadi-jadi saat pukulannya tidak mengenai sasaran.
"Justru karena kamu ingin memburuku, maka aku akan meninggalkan Benua Jiang Shan. Tetaplah kamu menjadi Wali benua ini, Sayang ku," jawab Excel Shimo dengan suara yang mengema, dia masih sempat-sempatnya mengoda Dewi Rubah Bulan, "untuk kalian bertiga, aku akan menemui kalian sebelum pergi dari Benua Jiang Shan, setelah aku menyelesaikan urusanku. Oh iya, kalian juga harus menggantikan tugas ku untuk mengunjungi ketiga Kerajaan di benua ini." lanjut Excel Shimo yang ingin melepaskan tanggung jawabnya sebagai Wali baru bagi benua ini kepada mereka.
__ADS_1
Keempat wanita itu segera terbang dan mencari keberadaan Excel Shimo. Namun, setelah mencari disetiap sudut Benua Jiang Shan dengan Mata Dewa, mereka tetap tidak menemukan jejaknya.
Setingkat Prajurit Surgawi, mereka mampu melihat Benua Jiang Shan yang kecil ini, tanpa harus susah payah dengan bergerak menyusuri setiap inci tanah di benua ini.
"Hah, kemana dia, sosok yang unik dan membuatku penasaran," desah Dewi Naga saat tidak menemukan keberadaan Excel Shimo, ia semakin tertarik dengan identitasnya.
"Aura ini!!" gumam Dewi Cha yang merasakan aura familiar saat berada di Klan Ming, "jangan-jangan ... dia orangnya...," lanjutnya yang semakin yakin sosok berjubah yang memusnahkan Klan Ming.
"Apa kamu yakin?" tanya Dewi Angsa kepada Dewi Cha, yang nama aslinya adalah Chang'e(bebas). Dewi Angsa bernama Fang Yin, Dewi Naga bernama Seng Huaran, dan Dewi Rubah Bulan bernama Da Xia(pahlawan).
"Tidak yakin, dia tidak memiliki Api Surgawi! Hanya saja, auranya terlihat sama dengan sosok itu," jawab Dewi Chang'e yang masih belum yakin saat dirinya mengingat api yang dimiliki Excel Shimo, saat membakar tubuh para pemimpin di Kota Satria.
"Lihat saja, jika dia tidak mau bertanggung jawab akan perbuatannya!! Aku pastikan dia akan menderita seumur hidupnya," ancam Da Xia yang semakin geram dengan perbuatan Excel Shimo.
"Ini juga gara-gara kamu yang selalu membencinya," bela Dewi Chang'e yang tidak ingin Excel Shimo selalu disalahkan.
"Apa!? Kamu menyukai bocah bau kencur itu...! Ckckck, tidak ku sangka seleramu penyuka daun muda," kelit Dewi Da Xia yang tidak ingin disalahkan.
"Hahmmm, sebagai Wali tidak seharusnya kamu memihak kepada Ras lain, apalagi dengan bangsamu sendiri," Dewi Chang'e menghela nafas secara kasar, dan menyentil hati rekannya.
Dewi Da Xia tidak bisa menjawab, ia tertunduk melihat tanah, ia memang telah melanggar tugasnya dari Dewan Keamanan dengan memprioritaskan Kerajaan Rubah Bulan.
"Kita sudahi perdebatan yang tidak baik ini. Ayo kita cari keberadaan bocah itu jika kalian ingin kembali ke Alam dewa dengan segera," ajak Dewi Fang Yin kepada ketiga rekannya, jelas ia tidak ingin persahabatan ini pecah hanya karena perdebatan sepele.
"Tapi kemana dia pergi? Apa dia benar-benar meninggalkan Benua Jiang Shan?" ujar Dewi Seng Huaran yang tidak bisa menemukan keberadaan Excel Shimo, walau telah mencari dengan Mata Dewa.
"Aku rasa dia memiliki artefak persembunyian yang lebih hebat dari milik kita. Perkiraan ku, dia masih berada disini," jawab Dewi Fang Yin.
"Benar, dia bilang akan menemui kita setelah urusannya beres!" sahut Dewi Seng Huaran yang ingat dengan ucapan Excel Shimo.
"Dan akhirnya kita harus menampakkan diri kepada para pimpinan, hahmmm!" terlihat jelas jika Dewi Da Xia menyesali perbuatannya yang terlalu egois.
"Lebih baik kita kembali ketempat masing-masing. Jika kita menemukan bocah itu, kita akan saling mengabari." kata Dewi Fang Yin, dan tubuhnya bergetar sejenak, lalu menghilang dari hadapan rekan-rekannya.
__ADS_1
Ketiga wanita itu juga menghilang setelah tubuh mereka bergetar. Kini tempat mereka kembali hening seperti sediakala. Sedangkan Excel Shimo, ternyata ia kembali kedalam cermin perlindungan, dan mendengarkan obrolan mereka berempat.