
Chapter 37 Mengobati Bu Wanmei.
"Adik Chi, segera ambil obat sesuai resep yang diberikan Pemimpin!" pinta Xiao Qiao kepada Loi Annchi.
"Segera, kak."
Bhuzh...
Segera Loi Annchi berubah menjadi petir dan menghilang dari hadapan semua orang. Lalu Xiao Qiao membalikkan badannya untuk melihat murid wanita.
"Kalian semua, rahasiakan apa yang kalian dengar hari ini, demi keamanan kalian. Mengerti!" perintah Xiao Qiao kepada semua murid wanita itu.
"Kami paham, Guru Muda Qiao."
Dengan kompak semua wanita itu menjawab bersamaan. Mereka juga memahami situasi saat ini, apalagi jika pihak lain yang mendengarkan berita musnahnya Klan Ming, sudah pasti akan bersorak gembira.
Kehilangan Klan Ming juga akan melemahkan kekuatan Kerajaan Han, dan itu akan berimbas kepada semua pihak. Jika wilayah utara dan timur tahu, maka mereka akan meningkatkan serangan untuk merebut wilayah Kerajaan Han.
"Saudari ku semua, karena situasi yang tidak baik ini, maka aku meminta bantuan kalian untuk selalu waspada dan juga hati-hati dengan semua orang yang mencurigai...!," Han Xing juga ikut berbicara kepada semua wanita yang hadir, jumlahnya sekitar 26 orang.
"Jika menemui orang yang mencurigakan, segera kabari para tetua ataupun kepada tim divisi keamanan Akademi Langit Abadi." lanjut Han Xing kepada semua murid wanita itu.
Han Xing sebagai Putri pertama Raja Han juga memahami situasi saat ini, karena itu dia juga ingin ikut membantu Ayahnya dalam mengamankan wilayah Kerajaan Han dari pihak musuh.
"Mengerti, Tuan Putri."
Semua murid kembali menjawab serempak dan juga memahami maksud Han Xing.
"Tolong, ambilkan ember untuk merendam tubuh Bu Wanmei!," pinta Xiao Qiao kepada murid wanita itu.
Segera 2 murid wanita buru-buru mengambilkan ember yang terbuat dari kayu, ukurannya cukup besar untuk di masuki 4 orang.
"Sebagian jaga danau ini agar tidak di masuki murid pria, kecuali pada Ketua maupun Guru yang ingin menjenguk Bu Wanmei. Jika ada pihak orang luar ingin menemui Bu Wanmei, katakan jika Bu Wanmei masih beristirahat dan tidak bisa diganggu." titah Xiao Qiao kepada semua murid wanita.
Mereka segera bergerak setelah mengangukkan kepalanya, dan sesuai instruksi Guru Muda Qiao, mereka menjaga danau Xiao Qiao.
Xiao Qiao melihat Ming Mei dan Ming Li Ling, dimana Ming Mei masih menangis dengan memeluk tubuh Bu Wanmei. Sedangkan Ming Li Ling yang masih pingsan, dibaringkan di sebelah kekasihnya.
"Xin'er, segera alirkan energi Qi ke token penyimpan pesan itu, siapa tahu ada berita yang sangat penting untuk kalian." pinta Xiao Qiao pada muridnya Ming Mei.
"Baik, Guru..." jawab Ming Mei sambil melepaskan pelukannya pada Bu Wanmei.
__ADS_1
Lalu ia mengalirkan energi Qi untuk mendengar pesan dari keluarganya.
( "Mei'er, aku Ayahmu, Ming Kong. Klan Ming kedatangan musuh yang tidak diketahui, dia terlihat memiliki ... kepada Klan kita. Pria itu menggunakan tudung kepala ... tidak terlihat wajah dan tubuhnya. Tetapi dia sangat kuat. Saat ini ada pihak yang ... membantu kita melawan orang misterius itu. Dia juga memiliki kekuatan yang sama. Mei'er, jika Klan Ming kita hancur, balaskan dendam ... Boom..." )
Suara Patriack Ming segera keluar dari token penyimpan suara. Dari nada bicaranya, Ming Kong terdengar gemetaran dan juga ketakutan, setiap kali dia berbicara, ucapannya selalu terputus-putus. Samar-samar juga terdengar suara berisik dari pertempuran.
"Ayah ... "
Ming Mei tidak sanggup berbicara saat Ayahnya tidak lagi berbicara, saat suara ledakan hebat ikut terdengar.
Ming Mei semakin menangis sejadi-jadinya, dan Xiao Qiao segera memeluk erat tubuh muridnya.
Setelah waktu 1 dupa, Ming Mei mencoba menguatkan dirinya dan mengusap air matanya.
"Tenang, Mei'er, tenang ... Kita masih belum tahu apa yang terjadi dengan keluargamu...!"
Ming Mei menangis terisak-isak walau sudah menguatkan dirinya, ia tidak menjawab ucapan Gurunya.
Lalu Ming Mei mengalirkan energi Qi pada token perekam suara yang satunya.
( Ling'er, maafkan Ayahmu, Nak. Kejadian 11 tahun lalu, aku adalah penyebabnya. Maafkan Ayah yang telah membohongimu selama ini ... Bayi ajaib itu tidak mati, Ayah dan dia sempat bertukar pukulan waktu itu ... Tapi dia menghilang ... Sejak itu ... Kamu harus berhati-hati Ling'er ... Ini semua karena Ayah ... Menjadi Patriack Klan Ming ... Boom .... " )
Suara Ming Lai segera terdengar dari token perekam suara, suaranya juga terputus-putus.
Ledakan hebat juga terdengar, dan suara Ming Lai tidak terdengar lagi.
Xiao Qiao menghela nafas, walau suara Ming Lai tidak begitu jelas, ia tahu sebagai besar ucapan Ming Lai.
Ming Mei menahan amarah dan rasa sakit, karena semua ini akibat perbuatan Pamannya, sekaligus Ayah dari Ming Li Ling. Lalu Ming Mei melihat wajah tampan Bu Wanmei yang terlihat mengerutkan keningnya.
Bisa diketahui jika Bu Wanmei menahan rasa sakitnya walau sedang tidak sadarkan diri. Ming Mei mengusap wajah kekasihnya dan mencium pipinya.
"Hanya kamu satu-satunya yang aku miliki sekarang...!" ujar Ming Mei sembari memeluk tubuh Bu Wanmei.
"Hmm...!"
Disisi Bu Wanmei, Ming Li Ling telah sadarkan diri, ia membuka matanya secara berlahan, dan melihat disampingnya. Ming Li Ling melihat kakaknya yang menangis sembari memeluk Bu Wanmei.
"Ayah ... Hikss ... "
Ming Li Ling memanggil Ayahnya Ming Lai, dan menangis setelah mengingat berita buruk yang menimpa Klan Ming.
__ADS_1
Ming Mei buru-buru memegang tangan adiknya, agar adiknya menjadi tenang.
Di dalam kamar Xiao Qiao hanya ada suara tangis kedua wanita itu, dirinya yang ikut merasakan perasaan kedua muridnya juga ikut meneteskan air mata.
"Dunia kultivator sangat kejam, yang lemah akan di tindas. Perebutan kekuasaan antar saudara selalu saja terjadi...!" batin Xiao Qiao yang tahu kerasnya hidup di Benua Jiangshan.
Lalu Xiao Qiao bangkit dan keluar dari rumah kayu miliknya. Dia berjalan menuju jembatan kayu, dan duduk bersila. Xiao Qiao memejamkan matanya dan berkultivasi dengan tujuan menenangkan pikiran dan hatinya.
Loi Annchi yang baru datang dan melihat Xiao Qiao, dia tidak menganggunya. Loi Annchi segera masuk di kamar Xiao Qiao.
Loi Annchi sudah melihat ember besar yang berisi air. Dengan resep ditangannya, dia mengikuti instruksi yang di tulis Pemimpin Akademi.
Satu per satu obat yang dia dapatkan dari Balai Alchemist, dia tuangkan kedalam ember.
Mengetahui kehadiran Loi Annchi, Ming Li Ling dan Ming Mei segera bangun dan tahu apa yang harus mereka lakukan.
Segera seluruh pakaian Bu Wanmei ditanggalkan, dan mereka terkejut saat melihat darah segar keluar dari pori-porinya setelah pakaiannya terlepas.
"Cepat angkat dia dan masukan kedalam ember ini...!" perintah Loi Annchi yang juga terkejut melihat darah segar keluar dari tubuh Bu Wanmei.
Kini tubuh Bu Wanmei tidak memakai pakaian, dan hanya menyisakan pakaian dalam yang menutupi tongkat Naga saktinya. Dengan hati-hati, Ming Mei dan Ming Li Ling mengangkat Bu Wanmei dan memasukannya kedalam ember.
Dengan cekatan, Loi Annchi menyiram air yang telah bercampur dengan ramuan obat herbal, ramuan itu mampu menyembuhkan kerusakan organ dalam Bu Wanmei, termasuk jaringan vena dan meridian-nya yang rusak.
Walau ramuan itu sangat mahal dan langka, Pemimpin Akademi tidak segan-segan mengeluarkan ijin demi kesembuhan Bu Wanmei.
Pemimpin Akademi punya alasan sendiri, dia menginginkan Bu Wanmei berhutang budi pada Akademi Langit Abadi, sehingga mau menjadi Penatua Nominal.
Sebagai Penatua Nominal, Bu Wanmei bertugas melindungi Akademi Langit Abadi, sekaligus mengawal sesuatu yang penting.
Menjadi Penatua Nominal, memiliki keistimewaan, yaitu, bebas keluar masuk di akademi tanpa perlu meminta ijin.
Selain itu, Bu Wanmei juga akan mendapatkan sumberdaya yang sama seperti Pemimpin Akademi dapatkan.
Masih banyak keuntungan menjadi Penatua Nominal, sebab itu, Han Heng menginginkan dirinya menjadi Penatua Nominal.
Ketiga wanita itu membasuh tubuh kekar Bu Wanmei, dengan air yang telah bercampur ramuan obat.
Secara berlahan, khasiat ramuan itu terserap oleh tubuh Bu Wanmei melalui pori-porinya. Sontak ketiga wanita itu terkejut melihat ramuan obat seperti di minum oleh tubuh Bu Wanmei.
Darah segar yang mengalir dari pori-porinya, segera berhenti saat khasiat ramuan memasuki tubuh Bu Wanmei.
__ADS_1
Loi Annchi segera memeriksa kondisi Bu Wanmei, dan memejamkan matanya. Dia terkejut saat melihat jaringan vena dan meridian-nya berangsur-angsur pulih dengan cepat.