God Of Beast 1

God Of Beast 1
Chapter 60 Pemicu Peperangan.


__ADS_3

Chapter 60 Pemicu Peperangan.


Malam berlalu dan berganti fajar. Keenam wanita kekasih Bu Wanmei akhirnya membuka mata satu per satu. Saat membuka mata, pandang mereka berenam mencari keberadaan kekasihnya, dan melihat kekasihnya sedang tertidur pulas dengan tengkurap.


Loi Annchi segera menindih punggung Bu Wanmei, dan di susul kelima wanitanya.


"Uhuk... Uhuk..." Bu Wanmei terbatuk-batuk saat dadanya terasa sesak.


"Bangun, sudah siang ini...!" bisik Loi Annchi dengan menjilat daun telinga Bu Wanmei.


"Masih ngantuk..."


Merasa jika Bu Wanmei tidak mau bangun, keenam wanita itu menganguk-kan kepala. Segera keenam wanita itu melucuti pakaian Bu Wanmei.


"Hei... Hei... Apaan ... " gerutu Bu Wanmei saat pakaiannya dilucuti oleh kekasihnya, ia segera terlentang sambil melihat wajah keenam kekasihnya yang usil.


"Wauw ... Apa itu! Gelang yang bagus!" seru Ming Li Ling saat melihat Diagram Penyerap Api yang berbentuk arloji.


Semua wanita segera melihat pergelangan tangan kanan Bu Wanmei, dari sorot mata mereka, jelas ingin memiliki benda yang melingkar dipergelangan Bu Wanmei.


Bu Wanmei hanya cemberut saat tubuhnya hanya menggunakan cel4na dal4m saja, tapi keenam kekasihnya menjadi tertarik dengan Diagram ini.


Namun, Bu Wanmei menyeringai mesum saat di otaknya muncul keinginan binatang buas.


"Kalian mau ini?" ujar Bu Wanmei sambil memamerkan Diagram Penyerap Api yang bagi mereka terlihat seperti gelang.


Keenam wanita itu menganguk-kan kepala, dan membuat Bu Wanmei tersenyum.


"Buat diriku puas dulu, nanti aku buatkan benda seperti in--"


Bukk... Aduh... Bukk... Aduh...


Segera keenam wanitanya memberikan pukulan kasih sayang, setelah puas mereka meninggalkan Bu Wanmei yang tersenyum bahagia.


"Udah puas..." kata Ming Mei sambil berlalu menuju kamar mandi.

__ADS_1


Merasa tidak dihiraukan, Bu Wanmei hanya tersenyum, dan memakai pakaian-nya. Lalu di keluar dari kamar tidur, dan duduk di meja makan. Bu Wanmei menuangkan teko air teh hangat di dalam cangkir.


"Hmm..." sambil menyesap teh hangat, Bu Wanmei membuka Mata Langitnya, dan melihat banyak orang berdatangan di Akademi Langit Abadi.


Salah satunya adalah Penatua Agung beserta Raja Han dan rombongan-nya.


"Bu Wanmei telah sadarkan diri kemarin, aku mendapatkan informasi dari Balai Penegak Hukum. Semoga anak itu mau membantu menangani jalur perbatasan, kini serangan dari kedua Kerajaan Huang dan Kerajaan Rubah Bulan semakin gencar." ujar Penatua Agung sambil berdiri di ujung kapal angkasa yang melaju dengan kecepatan tinggi.


"Semoga saja, anak itu luar biasa, usia 12 tahun sudah mencapai tingkat Saint level puncak. Aku harap kedua Putri-ku bisa dekat dengan-nya!" sahut Raja Han yang berdiri berjajar dengan Penatua Agung dan Pemimpin Akademi.


Mereka kebetulan telah selesai menyelidiki musnahnya Klan Ming, dan hanya menyisakan Patriark Klan yang saat ini masih pingsan, dan beberapa penduduk kota yang selamat dari pertempuran itu.


Tiba-tiba, dibalik pakaian Raja Han ada getaran. Buru-buru ia mengeluarkan benda yang bergetar itu.


Benda yang bergetar itu adalah token giok komunikasi.


( "Yang Mulia, Kerajaan Huang telah kehilangan 2 Putra Mahkota tadi malam. Mereka mengira jika pelakunya adalah Kerajaan Han. Raja Huang Haocun mengerahkan 100 ribu lebih prajurit Phoniex, perkiraan mereka akan tiba diperbatasan dalam waktu paling cepat 5 hari. Sekian laporan" )


"Sialan, siapa yang menculik kedua Putra Mahkota Kerajaan Huang...?!" umpat Raja Han yang marah jika Kerajaan-nya dituduh oleh pihak Kerajaan Huang.


"Sabar, Yang Mulia!," kata Penatua Agung dengan memegang pundaknya, lanjutnya...


"Ini mungkin siasat mereka untuk mendapatkan dukungan dari Akademi Pedang Surga. Mereka tahu jika wilayah kita kehilangan dukungan. Aku akan coba berkomunikasi dengan Penatua Agung Pedang Surga!" ujar Penatua Agung yang tampak tidak panik seperti Raja Han, dia segera mengeluarkan token giok komunikasi.


Demikian juga dengan Raja Han, ia segera membalas laporan dari mata - matanya.


"Salam, Saudara-ku. Aku Long Wenhua. Maafkan aku yang menganggu kedamaianmu. Ini terkait hilangnya Putra Mahkota Kerajaan Huang. Apa benar kedua Putra Mahkota Raja Huang Haocun telah diculik oleh seseorang?" ucap Penatua Agung kepada Penatua Agung Pedang Surga melalui token giok komunikasi.


Pemimpin akademi terlihat merenung dengan kejadian ini. Wang Kaibo merasa semua hal terkait dengan 1 orang, tapi dia masih ragu-ragu untuk menuangkan pemikiran-nya.


Tidak berselang lama, token giok komunikasi milik Penatua Agung bergetar. Dan terdengar suara balasan dari Penatua Agung Pedang Surga.


( "Benar. Dan aku mengijinkan Raja Huang untuk melakukan tindakan yang menurutnya benar!" )


Jawaban Penatua Agung yang tampak di ramah dengan Penatua Agung, nada suaranya terdengar sangat tidak senang. Ketiga pimpinan itu juga kesal dengan jawaban Penatua Agung Pedang Surga.

__ADS_1


"Kenapa kalian tidak menyelidiki dulu perihal menghilangnya Putra Mahkota, dan bertindak seakan-akan Kerajaan Han adalah pelakunya. Bahkan mereka mengerahkan prajurit menuju wilayah barat?" tanya Long Wenhua yang tidak puas dengan balasan dari Penatua Agung Pedang Surga.


Kali ini Penatua Agung Pedang Surga tidak segera membalas, dan membuat ketiga pimpinan itu gelisah.


"Bisa saja hilangnya Pangeran Kerajaan Huang terkait dengan organisasi Gagak Hitam! Dan kita tahu siapa pendiri organisasi Gagak Hitam ... Perkiraan-ku Sekte Tangan Dewa dalang dibalik penculikan kedua Putra Mahkota!" kata Pemimpin Akademi yang mengutarakan isi pikirannya.


Raja Han dan Long Wenhua berpikir. Raja Han memegang dagu, dan Long Wenhua memijat glabela-nya(tengah antara kedua alis).


"Apa motif mereka dengan menculik kedua Putra Mahkota?" gumam Raja Han.


"Menebar jala ditengah kekacauan nelayan!" sahut Pemimpin Akademi.


Menebar jala ditengah kekacauan nelayan adalah idiom, yang artinya mengadu domba diantara mereka untuk mencari keuntungan pribadi.


Tidak hanya ikan yang terperangkap, tapi nelayan juga terperangkap.


"Huff... Jika Sekte Tangan Dewa tidak didukung oleh tiga kekuatan di Benua Jiangshan, sudah sejak dulu aku bubarkan!" dengus Penatua Agung yang terlihat geram akan keserakahan mereka.


( "Tidak perlu penyelidikan, jejak spiritual kedua Putra Mahkota mengarah ke arah barat. Kami yakin kalian lah pelakunya!" )


Tiba-tiba suara balasan dari Penatua Agung terdengar. Jawaban itu membuat ketiga pemimpin terkejut, mereka saling bertukar pandangan.


"Sialan ... " umpat Bu Wanmei yang mendengarkan obrolan mereka, meski jaraknya cukup jauh.


Segera Bu Wanmei masuk kedalam cincin dimensi, saat dia sedang sendirian. Disaat masuk kedalam cincin dimensi, ia melihat Putra Mahkota menyeringai lebar melihat Bu Wanmei.


"Mati ... " tanpa banyak bicara, Bu Wanmei melambaikan tangan kanannya.


Crazhhh... Crazhhh


Byurrrr... Byurrrr


Segera kepala kedua Putra Mahkota dipenggal oleh Bu Wanmei, kepala mereka terjatuh di kolam 7 warna. Darah Putra Mahkota mengalir deras dan bercampur dengan air tujuh warna.


"Tuan, maafkan aku yang ceroboh. Aku tidak menduga jika mereka juga menyimpan jejak spritual di bola kristal!" ujar Lotus Bao yang merasa bersalah, karena dirinya melupakan hal yang penting.

__ADS_1


"Tidak masalah Bao'er, ini juga ketidakpahaman-ku! Ya, karena aku juga kurang berpengalaman ... !" jawab Bu Wanmei yang juga merasa dirinya telah memicu peperangan ini.


__ADS_2