
Chapter 364. Labirin.
Sepuluh ribu pasukan Jenderal Timur dikerahkan untuk menangkap Dewi Shu Peijing beserta dua puluh Peri, rata-rata kekuatan terendah pada tingkat Dewa Bumi dan tertinggi pada tingkat Dewa Langit.
Sepuluh ribu pasukan menggunakan transportasi kapal angkasa yang menutupi langit, jumlah kapal angkasa mencapai lima puluh unik, angka fantastik bagi kekuatan Kekaisaran Wei. Banyaknya kapal angkasa mengundang perhatian banyak orang.
"Berbahagialah untuk sesaat ... Saat itu tiba, kalian akan merasakan buahnya!" sumpah serapah dari salah satu penduduk yang memendam rasa sakit hati karena Jenderal Timur yang baru menguasai Benua Kelahiran menaikan pajak tinggi.
Setelah perjalanan menghabiskan waktu delapan dupa, akhirnya Shu Shen telah tiba ditempat persembunyian Dewi Shu Peijing. Namun, salah satu Peri yang bertugas mengawasi segera masuk untuk melaporkan kepada Dewi Shu Peijing.
Shu Peijing dan Shu Shen adalah kerabat jauh, dan Shu Shen mengetahui tempat persembunyian karena Dewi Shu Peijing pernah memerintahkannya untuk mengantarkan segala perlengkapan yang diperlukan selama tinggal di goa.
"Pondok itu, di bawahnya ada pintu masuk menuju persembunyian mereka," kata Shu Shen kepada Perwira tinggi bintang dua yang memiliki kekuatan Dewa Langit level enam.
Segera perwira tinggi binatang dua memerintahkan prajuritnya untuk mengepung pondok persembunyian Dewi dan para Peri. Dan memerintahkan seratus prajurit untuk masuk dan menangkap targetnya.
Akan tetapi, selama menunggu dua dupa, seratus prajurit tidak keluar dari pondok, dan kembali perwira tinggi memerintahkan para prajurit menyusul rekannya. Namun, selama menunggu waktu dua dupa lagi, tidak ada tanda-tanda adanya pertarungan maupun kabar dari para prajurit.
Boom...
Dengan gelisah perwira tinggi menghancurkan pondok dengan sekali pukulan, dan terlihat lorong yang memiliki anak tangga. Lebar lorong cukup dilewati oleh tiga orang bentuknya agak menurun.
Segera perwira tinggi memerintahkan lagi seratus prajurit untuk memasuki goa dengan Shu Shen sebagai petunjuk jalannya.
"Kamu, ikut bersama mereka!" perintah perwira tinggi kepada Shu Shen.
Shu Shen jelas ketakutan, tapi dia tetap mengikuti perintah perwira tinggi dengan berat hati. "Setingkat Dewa Bumi saja tidak ada yang kembali, bagaimana dengan diriku yang hanya berada pada tingkat Raja!" batin Shu Shen yang bersungut-sungut.
Walaupun Shu Shen mengetahui tempat persembunyian, dia tidak pernah masuk ke dalamnya dan hanya mengantarkan pesanan dan meletakkan di luar goa. Shu Shen tidak tahu jika letak goa berada pada pusat Benua Kelahiran dan jaraknya sangat dalam.
Shu Shen dan para prajurit terkejut melihat dinding goa setinggi empat meter terbuat dari besi tempa, salah satu material untuk membuat persenjataan. Besi tempa digunakan untuk meningkatkan kualitas pada persenjataan jenis apapun, nilainya melebihi apa yang diterima Shu Shen dari Jenderal Timur.
Terlihat wajah Shu Shen menyesal telah memberitahukan tempat persembunyian ini, jika tahu ada harta yang melimpah jelas Shu Shen akan memonopoli tempat ini dan mengambilnya secara bertahap.
Saat jarak langkah kaki mencapai lima ratus meter, Shu Shen dan para prajurit melihat delapan lorong bercabang-cabang. Segera delapan prajurit melacak jejak rekannya pada setiap lorong, dan melihat delapan lorong itu meninggalkan jejak semua rekannya.
"Apa kamu tahu lorong yang mana menuju tempat persembunyian mereka?" tanya komandan regu kepada Shu Shen.
"Maaf, Komandan, aku hanya tahu dari luarnya saja, tapi tidak pernah masuk ke dalam!" jawab Shu Shen dengan raut wajah malu.
__ADS_1
"Bodoh, sama saja kamu memberikan informasi tidak jelas! Iya kalau benar ini adalah tempat persembunyian mereka, jika bukan dan ternyata adalah tempat Iblis sejati, bukankah kamu sama saja mengorbankan nyawa kita dengan sengaja, hah?!" bentak komandan regu kepada Shu Shen, dia sangat kesal telah menjadi umpan meriam.
Shu Shen kepalanya menunduk dengan tubuh gemetaran, dia sangat takut dibunuh ditempat ini sebelum menikmati pemberian Jenderal Timur, dia hanya bisa diam dan memaki-maki Excel Shimo di dalam hatinya.
Mau tak mau komandan regu membagi timnya menjadi delapan, dan dia bersama Shu Shen. Komandan regu juga meninggalkan tanda disetiap lorong bagi rekannya nanti, sebab dia merasakan firasat buruk tidak bisa keluar dari tempat ini.
Di dalam tempat persembunyian, Dewi Shu Peijing dan para Peri melihat kedatangan mereka melalui delapan cermin pengawas, dan tersenyum tipis saat tahu nasib mereka akan sama seperti prajurit sebelum, mati di dalam Formasi Ilusi, Formasi Pembunuh dan Formasi Pengumpul Energi, semua Formasi itu dibuat oleh Excel Shimo secara pribadi,
"Ibu mertua memang luar biasa telah membuat tempat persembunyian bagi putranya!" gumam Dewi Shu Peijing yang kagum dengan ibu mertua Excel Shimo, dia terus memantau situasi di dalam lorong.
Segera kedelapan kelompok masuk dan berjalan dengan hati-hati, semakin dalam lorong semakin gelap dan tampak seperti labirin. Tanpa mereka sadari telah masuk kedalam Formasi Ilusi, dimana mereka tiba-tiba masuk ke dalam hutan belantara.
Hutan ini tampak seperti hutan di dalam Altar Sembilan Surga dan juga terbagi menjadi sembilan tingkat. Sang komandan pun menjadi waspada dengan mengeluarkan senjatanya, demikian juga dengan Shu Shen yang mengeluarkan senjata.
Saat baru berjalan beberapa meter, mereka melihat rekannya yang lebih dahulu masuk sedang dimakan oleh binatang monster. Spontan komandan regu dan timnya menyerang binatang monster air, sedangkan Shu Shen tidak mampu menyerang saat kedua kakinya terlilit lidah binatang monster penghuni tanah.
Boom...
Shu Shen segera menyerang binatang monster secara naluri dan ledakan segera terdengar. Binatang monster yang dia lawan adalah jenis cacing kekacauan, dimana memiliki mulut lebar dan memiliki banyak gigi kecil yang tajam.
Komandan regu juga mengalami hal yang sama, disaat berhasil membunuh binatang monster air, dia di serang cacing kekacauan, ledakan energi terdengar dimana-mana.
Keadaan semakin kacau manakala melihat anak buahnya mati satu per satu, dan sebagian kabur tanpa arah yang jelas, komandan regu melihat Shu Shen yang sedang dilahap cacing kekacauan.
"Sial, sial! Aku sudah menduga jika ini adalah tempat Iblis sejati!?" teriakan kemarahan komandan regu dan berusaha menyelamatkan anak buahnya.
Di luar goa, perwira tinggi mulai gelisah saat regu ketiga tidak ada kabar berita maupun suara pertempuran, sudah tiga ratus prajurit tidak ada yang kembali. Sekali lagi perwira tinggi memerintahkan dua ratus prajurit untuk menyusul rekannya, dan segera memberikan kabar jika ada halangan apapun.
Setelah dua ratus prajurit masuk, satu dupa berlalu salah satu prajurit keluar dan memberikan laporan jika ada delapan lorong di dalam goa. Dan setiap lorong telah meninggalkan tanda dari prajurit sebelumnya.
Segera perwira tinggi memerintahkan delapan ratus prajurit untuk masuk, dan sekali lagi dengan perintah yang sama, jika ada hambatan segera melapor. Setelah delapan ratus prajurit masuk, mereka tidak ada satupun yang melaporkan diri, total sudah seribu tiga ratus prajurit tidak ada yang kembali.
Akhirnya perwira tinggi turun tangan sendiri, dia masuk ke dalam goa dengan membawa lima ribu prajurit dan mereka berjalan lurus seperti semut. Tersisa tiga ribu tujuh ratus prajurit untuk berjaga-jaga di luar dan juga memberikan laporan kepada jenderal Timur jika perwira tinggi tidak bisa keluar juga.
Dewi Shu Peijing yang mengetahui segera keluar dari pintu yang lain, tepatnya pintu keluar itu menuju tempat lain yang agak jauh dari tempat pondok. Dewi Shu Peijing berniat mengambil seluruh kapal angkasa musuhnya, dia bersama sepuluh Peri akan melancarkan serangan mendadak.
Dengan kekuatannya yang berada pada tingkat Prajurit Surgawi level lima, setingkat Dewa seperti semut baginya, cukup mengeluarkan aura kekuatannya mampu menundukkan musuhnya dan para Peri akan membunuhnya.
Dewi Shu Peijing dan sepuluh Peri menggunakan Butterfly Gold Robe, mereka keluar dari goa dengan Dewi Shu Peijing memimpin. Segera Dewi Shu Peijing menekan sisa prajurit yang berada di luar dengan aura kekuatannya yang terfokus hanya untuk musuhnya, dan para Peri membantai mereka tanpa belas kasihan.
__ADS_1
**
Satu hari berlalu, dan di Istana Dewa Binatang, tampak wajah jenderal Timur tidak sedap dipandang, dia sedang memegang siput penghantar suara untuk berkomunikasi dengan perwira tinggi. Namun, setelah berkali-kali mengirimkan suaranya, perwira tinggi tidak membalas satupun pesannya.
Libu Wang Kaibo tampak gelisah juga dengan berjalan mondar-mandir, dan melihat kearah jenderal Timur yang juga gelisah. "Yang Mulia, apakah tidak lebih baik kita atau saya yang menyusul perwira tinggi, saya kuatir perwira tinggi masuk dalam kelicikan Shu Peijing!" saran Libu Wang Kaibo dan tetap menjelekkan Dewi Shu Peijing.
Jenderal Timur memikirkan saran Libu Wang Kaibo dan tetap tidak mengijinkannya untuk meninggalkan dirinya. Jenderal Timur memerintahkan dua puluh lima ribu prajurit untuk menyusul tim sebelumnya, dengan di pimpin oleh pangkat yang sama, perwira tinggi binatang satu.
Satu hari lagi terlewat dan tepatnya enam hari berlalu Jenderal Timur menguasai Benua Jiang Shan. Jenderal Timur mendapatkan berita jika tidak ada jejak dari sepuluh ribu pasukan, hanya ada jejak dari Shu Shen yang mati karena ketakutan.
"Cari dimana keberadaan sepuluh ribu prajurit dan juga semua wanita sialan itu!!" perintah Jenderal Timur dengan menahan amarahnya, dia segera membuka Mata Dewa untuk memastikan jika Shu Shen memang mati karena ketakutan.
Jenderal Timur melihat jika Shu Shen tidak mati karena terbunuh, sebab tidak ada tanda-tanda terluka, hanya saja mata melotot dengan senjata pedang digenggam erat-erat hingga telapak tangannya mengeluarkan darah, dan darahnya telah mengering.
"Apa yang telah terjadi!" gumam jenderal Timur yang sedang memikirkan apa penyebab kematian Shu Shen, "Jangan-jangan karena masuk ke dalam Formasi Ilusi!" lanjutnya dengan menebak-nebak, hanya Formasi Ilusi yang mampu membuat seseorang yang memiliki mental lemah mati ketakutan.
"Libu Wang Kaibo, panggil alih Formasi terbaik untuk membantu para prajurit dan kawal dengan seratus prajurit!" perintah Jenderal Timur.
"Segera, Yang Mulia."
Libu Wang Kaibo segera keluar dan saat berada di luar istana, dia tersenyum tipis. Setelah mengikuti perintah Jenderal Timur, Libu Wang Kaibo kembali dengan membawa dua wanita cantik untuk menenangkan hati Jenderal Timur.
Raut wajah Jenderal Timur yang mulai dari kemarin tidak sedap dipandang seketika ceria melihat dua wanita cantik. Ya, kedua wanita cantik itu dari rumah bordil, dan mereka berdua adalah pilihan yang terbaik.
"Mereka akan melayani Yang Mulia. Yang Mulia, alangkah baiknya menikmati hidup sebaik mungkin, dan serahkan semua pada bawahan Anda," kata Libu Wang Kaibo.
Jenderal Timur tertawa bahagia dan segera bangkit dari singgasana milik Kaisar Shimo, dia berjalan menghampiri kedua wanita nakal itu dan langsung mengajak mereka ke dalam kamar pribadi milik Kaisar Shimo.
"Nikmat selagi bisa!" batin Libu Wang Kaibo dengan senyuman, senyumannya seakan-akan senang melihat Jenderal Timur bisa menikmati hidup.
Di dalam benak Libu Wang Kaibo, dia mendengar suara.
"Lumpuhkan semua prajurit dengan racun pelumpuh tulang."
"Dengan senang hati, Kaisar!" jawab Libu Wang Kaibo dengan raut wajah semakin senang, dia segera mengikuti perintah suara tersebut tanpa penolakan.
Libu Wang Kaibo memerintahkan bawahannya untuk membawa banyak minuman keras yang terbaik, dan telah bercampur dengan racun pelumpuh tulang. Bawahan Libu Wang Kaibo memberikan kepada semua prajurit yang berjumlah sembilan ratus ribu lebih.
Dan hari ini semua prajurit berpesta dengan minuman keras dan dengan sajian daging, serta banyak wanita muda yang berasal dari rumah bordil yang menghibur mereka.
__ADS_1