
Chapter 22 Taruhan.
Wushhhh
Bu Wanmei buru-buru mundur beberapa langkah, dan terlihat tidak berniat meladeni permainan Xiao Qiao.
Namun, Xiao Qiao terus menyerangnya dan membuat Bu Wanmei mundur dan mundur lagi.
"Kenapa kamu mundur terus!?" tanya Xiao Qiao yang dengan kesal saat melihat Bu Wanmei yang selalu mundur.
"Tidak seru tanpa taruhan!" jawab Bu Wanmei sambil terus menghindari serangan Xiao Qiao.
Mendengar ucapan itu, Xiao Qiao menjadi cemberut dan tetap terus menyerang Bu Wanmei.
Bu Wanmei geleng-geleng kepala melihat Xiao Qiao tidak memperdulikan ucapannya.
Kecepatan Bu Wanmei sangat cepat karena memiliki unsur elemen angin, sehingga Xiao Qiao selalu tidak mampu menyentuhnya lagi.
"Bibi, percuma, kamu tidak bisa menyentuh ku!!" ejek Bu Wanmei pada Xiao Qiao.
Mendengar panggilan bibi, membuat Xiao Qiao semakin marah dan terus menyerang Bu Wanmei
"Bibi, Bibi, Pamanmu?!" umpat Xiao Qiao dan terus mengejar Bu Wanmei, ingin rasanya dia meninju mulut bocah cilik ini.
Mendengar kata taruhan, membuat para, guru, tetua dan murid-murid menjadi senang. Tanpa kedua orang ketahui, semua orang mulai mempertaruhkan poin kontribusi mereka untuk menjagokan Bu Wanmei dan Xiao Qiao.
"Ayo kita bertaruh, aku jagokan Guru Muda Qiao." ajak salah satu murid kepada rekannya.
"Haiyoo, kamu curang, aku saja yang jagokan Guru Muda Qiao, kamu jagokan pria bertopeng itu, oke"
"Enak, saja. Aku yang menantangmu, seharusnya aku yang terlebih dahulu memilih...!"
Keributan segera terjadi antara murid dan murid, demikian juga dengan para tetua dan guru.
Melihat situasi ini, Wang Kaibo berinisiatif untuk menjadi penengahnya.
"Tenang, semua tenang!! Aku saja yang jadi bandarnya, karena aku bisa menjamin point kontribusi kalian!," kata Wang Kaibo kepada semua orang yang hadir.
Semua orang kegirangan, saat pemimpin akademi mau menjadi bandar dalam taruhan ini.
__ADS_1
Buru-buru semua orang mengeluarkan sebuah kartu, kartu itu adalah bukti identitas setiap anggota akademi.
Setiap kartu memiliki warna yang berbeda-beda, hitam untuk murid luar, perunggu untuk murid dalam, perak untuk murid inti, dan emas untuk para guru dan ketua.
Kartu itu juga bisa digunakan untuk menyimpan point kontribusi, atau untuk mengirim point kontribusi ke sesama pemilik kartu identitas.
Segera semua orang mengalir energi Qi kedalam kartu dan mengatur jumlah point yang akan dipertaruhkan.
Xiao Qiao yang mendengarkan suara pemimpin akademi, menjadi menghentikan serangannya, dan ingin melihat siapa yang lebih banyak dijagokan. Tetapi sorot matanya tidak lepas dari bocah cilik itu yang sudah membuat dirinya kesal.
"Apa itu point kontribusi?" tanya Bu Wanmei yang kepada kedua kekasihnya, saat Xiao Qiao tidak lagi menyerangnya.
"Opss, maaf, aku lupa tidak memberitahukan kalian hal ini.
Point kontribusi adalah alat tukar yang digunakan di dalam akademi. Point kontribusi bisa di tukar dengan apapun sesuai kebutuhan, misalkan, pil, senjata dan sebagainya sesuai kebutuhan kita." jawab Ming Mei yang memang lupa tidak menjelaskan perihal mata uang di akademi.
"Apa point itu bisa digunakan diluar?" tanya Bu Wanmei yang memang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan di akademi.
Ming Li Ling juga ikut mendengarkan pembicaraan Bu Wanmei dan kakaknya.
"Tidak bisa. Point kontribusi hanya berlaku di Akademi Langit Abadi dan Akademi Pedang Surga."
"Banyak cara untuk mendapatkannya. Misalkan melalui misi yang bisa kita ambil di lantai 2.
Kita juga bisa menukarkan hasil kerja keras kita membuat pil, senjata, tanaman obat, tanaman roh. Selain itu kita juga bisa mendapatkan point kontribusi dari membantu para guru, tetua maupun sesama murid akademi." jawab Ming Mei dengan lugas dan jelas.
"Apa Batu mistik dan Batu Kuno bisa ditukarkan dengan point kontribusi?" pikir Bu Wanmei dan bertanya lagi.
Jika Batu Mistik dan Batu Kuno bisa di tukar dengan point kontribusi, maka dia tidak perlu kebingungan dalam menjalani kehidupan di akademi.
"Hehehe, tentu bisa. Nilainya sangat besar. 1 Batu Mistik di hargai 2 juta point kontribusi, dan Batu Kuno di hargai 20 juta point kontribusi!," Ming Mei terkekeh saat Bu Wanmei menanyakan hal itu.
Ming Mei merasa dirinya adalah orang terkaya di Akademi Langit Abadi, karena memiliki 5 Batu Kuno. Sebenarnya Ming Mei memiliki 4 Batu Kuno, yang 1 Batu Kuno diambil dari kapal angkasanya yang tidak terlalu banyak mengkonsumsi energi Batu Kuno.
Ming Li Ling yang mendengarkan penjelasan kakaknya, juga ikut tersenyum manis dan senang, pasalnya dirinya juga memiliki Batu Kuno.
"Tapi, walau kita sudah banyak memiliki point kontribusi, kita tetap diwajibkan untuk menjalankan misi dari Balai Pekerjaan Umum. Minimal kita harus mengambil misi 2 kali dalam 1 bulan." lanjut Ming Mei berbicara kepada Bu Wanmei dan Ming Li Ling.
"Apa misinya sulit?" kali ini Ming Li Ling yang bertanya.
__ADS_1
"Tergantung, setiap murid luar, murid dalam, murid inti dan guru maupun ketua, mendapatkan misi yang sesuai dengan tingkat kekuatannya! Misi terbagi menjadi beberapa kelas, dari kelas terendah adalah kelas E, kelas D, kelas C hingga kelas SS atau misi super sulit..."
Ming Mei menjelaskan semua hal yang harus dilakukan sebagai anggota Akademi Langit Abadi kepada Bu Wanmei dan Ming Li Ling.
"Kalian bertaruh saja untuk ku, gunakan semua point kontribusi yang kamu miliki!" bisik Bu Wanmei kepada Ming Mei saat mengetahui jika taruhan semua orang telah selesai dilakukan.
"Tapi--"
"Kakak, kita kan punya Batu Kuno, jadi, jika kekasih kita kalah, kita tetap masih kaya!" bisik Ming Li Ling sebelum kakaknya ingin bertanya dan terlihat ragu.
"Hah, baiklah...!" jawab Ming Mei yang masih tidak yakin jika kekasihnya mampu mengalahkan gurunya.
Ming Mei tahu betul perbedaan kekuatan kekasihnya dengan gurunya.
Segera Ming Mei berjalan bersama Ming Li Ling, mendekati pemimpin akademi yang menjadi bandar bagi para petaruh.
Sedangkan Bu Wanmei kembali sorot matanya menatap Xiao Qiao yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
Kedua mata Xiao Qiao penuh dengan kebencian terhadap bocah nakal itu, karena dia dirinya harus menjadi bahan taruhan bagi banyak orang.
"80 persen untuk Xiao Qiao dan 20 persen untuk Bu Wanmei, setiap hasil kemenangan akan dipotong 20 persen untuk pemenangnya!" pemimpin akademi mengumumkan jumlah orang yang bertaruh untuk kedua petarung itu.
Xiao Qiao tersenyum bangga, jika dirinya menjadi favorit banyak anggota akademi.
Senyumnya juga sedikit mengejek Bu Wanmei, sedangkan Bu Wanmei hanya menyentuh ujung hidungnya.
"Bibi, apa pertaruhan kita?" tanya Bu Wanmei yang ingin bertaruh dengan Xiao Qiao, dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sesuatu dari Xiao Qiao.
"Apa yang kamu pertaruhkan?" Xiao Qiao balik bertanya pada bocah yang menjengkelkan, karena selalu memanggilnya dengan sebutan Bibi.
"Aku akan melakukan apapun untuk, Bibi. Bagaimana?"
Xiao Qiao menyeringai lebar saat bocah yang menjengkelkan itu mau melakukan apapun untuk dirinya.
"Baiklah, aku terima. Aku juga akan melakukan apapun yang kamu mau, asal kamu bisa mengalahkan ku, Hahaha!"
Xiao Qiao merasa dirinya sudah menang, dan tidak perduli dengan taruhannya. Xiao Qiao tertawa lepas dengan dada besarnya yang selalu memantul.
Bu Wanmei yang melihat itu, secara tidak sadar kepalanya mengikuti dada yang bergerak naik turun milik Xiao Qiao.
__ADS_1
Dibalik topengnya, Bu Wanmei juga menyeringai mesum, sudah banyak rencana di pikirannya, apalagi dada besarnya semakin menarik baginya.