
Chapter 423. Perubahan Situasi Petarung!
Pembawa acara segera muncul kembali di tengah panggung dan mengumumkan waktu istirahat telah usai. Kemudian, Lin Sichuan dan kedua rekannya kembali di ruang tunggu para petarung, mereka melihat Dewa Binatang yang sedang berbicara kepada Tsai Li-Liang dan juga Jin Shou.
"Jadi, Raja Malaikat mau mendukung asal ada perjanjian tertulis agar tidak merugikan pihaknya?" kata Excel Shimo setelah Jin Shou menjadi juru bicara Raja Malaikat untuk menyampaikan pesan.
"Ya, beliau tidak menginginkan kejadian waktu itu terulang lagi. Beliau hanya meminimalisir kerugian bagi bangsa Malaikat! " jawab Jin Shou dengan berat hati menjadi juru bicara Raja Malaikat untuk menyampaikan hasil rapat dengan para petinggi.
"Apa keinginan Raja Malaikat dan para petinggi? " tanya Excel Shimo dan tidak ada rasa kuatir tidak bisa memenuhi keinginan Raja Malaikat.
"Beliau... ! " Jin Shou ragu-ragu mengatakan keinginan Raja Malaikat, sebab dia kuatir jika Excel Shimo tersinggung.
"Katakan saja! Tidak perlu ragu!" ujar Excel Shimo, sambil melihat pembawa acara telah memulai ronde ke-delapan dan memanggil dua peserta yang akan bertarung.
"Kita bicarakan setelah aku menyelesaikan ini!" pinta Excel Shimo sambil berdiri.
Jin Shou mengangguk dan bernafas lega bisa berpikir untuk menatap bahasanya dengan benar. Baru kali ini Jin Shou berhadapan dengan orang tampak gugup; sebab Excel Shimo telah melebihi-nya dalam segala sisi dan dia sangat mengaguminya.
Kembali para penonton bersorak-sorai saat Dewa Binatang telah berdiri, sedangkan Juara ketiga telah berada di tengah panggung.
Excel Shimo yang bisa terbang maupun bergerak secara instan lebih memilih berjalan, dan sikapnya ini membuat para kaum hawa berdebar-debar, anak-anak serta bayi berebut mencium dan meminta pelukan.
.....
Di balkon Istana Cahaya.
Raja Malaikat dan beberapa petinggi melihat penampilan Dewa Binatang. Selain mereka, ternyata di antara Raja Malaikat berdiri dua pria tua, mereka adalah Yun Shang dan Xia Chung, dua pemimpin Perguruan Api Asyura.
Setelah kepergian Bunga Wangi dan Dong Jingying, Raja Malaikat mengundang pemimpin Api Asyura. Tanpa menolak undangan Raja Malaikat, dua pemimpin itu dengan cepat segera datang. Dengan kekuatan True Alfa, Yun Shang dan Xia Chung menghabiskan perjalanan waktu satu dupa.
"Junior jaman sekarang terlalu bertindak gegabah tanpa memperhitungkan lawan. Dewa Binatang hanya menggunakan fisik dan kecepatan untuk mengatasi mereka, " kata Yun Shang yang telah melihat pertandingan ketujuh dan menang dengan sekali serangan.
Memang yang dikatakan oleh Yun Shang benar, Excel Shimo hanya mengandalkan fisik dan kecepatan saat bertarung, tanpa teknik maupun energi seperti yang digunakan lawan.
Raja Malaikat yang tidak tahu kekuatan Dewa Binatang saat di padang rumput maupun si Hutan Mistik, jelas dia penasaran, bertanya:
"Saudara Shang, kultivasi berbasis apa yang digunakannya?"
"Sampai saat ini aku belum tahu sebelum melihatnya sendiri! Kedua putriku hanya mengatakan; 'Dewa Binatang menggunakan energi alam saat melawan Raja Mayat Hidup', padahal kekuatan Raja Mayat Hidup berada pada level puncak dan Dewa Binatang level 41. Selama aku hidup, belum pernah melihat maupun mendengar ada kemampuan meningkatkan kekuatan hingga naik 58 level. Kita juga selama ini menggunakan energi alam, lalu energi alam apa yang dia gunakan...! " jawab Yun Shang dengan keragu-raguan, dia berhenti sejenak untuk mengingat dengan detail sewaktu melihat Dewa Binatang di padang rumput.
Sebagai pemimpin dan juga guru di Perguruan Api Asyura, Yun Shang mengenyam banyak asam garam, berbagai teknik dan sebagainya telah dia ketahui.
Umumnya yang diketahui Yun Shang dan semua orang, peningkatan kekuatan instan bisa didapatkan dari garis darah dan pil sejenis Pil Peledak Kekuatan, dan itupun tidak sampai naik lebih dari 10 level.
Bahkan sewaktu masih ada Ras Manusia di Benua Roh, Yun Shang dan semua orang tidak pernah melihat kemampuan manusia seperti yang dimiliki oleh Excel Shimo.
"Tidak perlu dipikirkan terlalu dalam, Jin Shou berkata; 'jika Dewa Binatang tidak pelit akan pengetahuan'. Nanti, kita bisa tanyakan langsung kepada dia, siapa tahu kita banyak belajar darinya! " kata Raja Malaikat dengan bijak.
__ADS_1
Semua orang mengangguk dan penuh antusias ingin belajar dari Dewa Binatang.
"Menurutmu, apakah Dewa Binatang mau menerima kondisi kita?" tanya Yun Shang kepada Raja Malaikat.
"Aku harap, semoga saja! " jawab Raja Malaikat yang tidak pasti, ada keragu-raguan.
......
"Apa kalian sudah siap? " tanya pembawa acara sambil melihat kedua peserta hanya mengangguk, "baiklah, kalian bisa, mulai. "
Boom 💢...
Juara ketiga segera mengeluarkan seluruh kekuatannya yang berada di level 7, energinya meluap-luap hingga pakaian dan rambutnya seperti menari-nari.
Untung saja panggung terlindung Formasi sehingga para penonton tidak terganggu dengan energi yang menindas.
Kali ini Excel Shimo tidak langsung menyerang, dia sengaja memberikan kesempatan lawan bergerak dulu. Justru aksinya ini membuat lawan makin waspada, padahal dia telah mempersiapkan diri dengan serangan mendadak.
Dengan kewaspadaan tinggi, juara ketiga, berkata:
"Maju!"
"Jika aku bergerak, kamu tidak memiliki kesempatan melawan balik! Tunjukkan semua kemampuanmu!" jawab Excel Shimo yang tidak berniat meremehkan maupun sombong, dia hanya melihat seberapa tinggi pemahaman lawan dalam teknik bertarung.
Karena diberi kesempatan, juara ketiga jelas tidak menyia-yiakan, dia sebagai pengguna pedang besar langsung melepaskan serangan jarak jauh dengan menebas berkali-kali.
Ledakan energi benturan berturut-turut menggetarkan panggung. Namun serangan juara ketiga hanya ditahan satu tangan kanan oleh Excel Shimo dan tangan kirinya berada pinggang, dia hanya membuat perisai energi untuk menetralisir serangan lawan.
Juara ketiga kembali menyerang dengan mengeluarkan segala kemampuannya, dia selalu menggunakan metode lama, yaitu serangan jarak jauh, dia kuatir jika mendekati Dewa Binatang bisa berakibat fatal.
Juara ketiga tanpa henti menyerang memutari lawan, dia berniat mencari titik lawan. Sedangkan Excel Shimo sekali lagi menetralisir serangan dengan menggunakan perisai energi saja, bahkan tidak mengikuti pergerakan lawan yang memutari tubuhnya.
Melihat celah lawan yang terbuka, juara ketiga langsung menyerang dengan jarak dekat, dia menyerang leher Dewa Binatang.
Sayangnya, Excel Shimo langsung menunduk dan memutari balik tubuhnya dengan kaki kanan telah melayang...
Swosh... Bang...
Seketika pinggang juara ketiga terhantam keras hingga dia keluar dari panggung dan membuat ukiran indah di dinding tribune penonton.
Excel Shimo geleng-geleng melihat banyak kelemahan lawan, sudah memiliki fisik lemah masih menggunakan pedang besar, hingga membuat pergerakannya lambat dan menguras energi.
Seharusnya pengguna pedang besar memperkuat tulang, otot dan memperluas dantian-nya agar seimbang saat bertarung jarak dekat dan jika menyerang jarak jauh tidak menguras energi dengan cepat.
Selain itu harus didukung dengan kecepatan jika menggunakan senjata berat untuk memberikan serangan cepat, tepat dan mematikan.
Penonton bersorak-sorai, kali pertarungan lebih mendebarkan dari sebelumnya. Tidak ada lagi reaksi terkejut, sebab semua orang sudah menebak 100â„… jika Dewa Binatang mampu mengalahkan juara ketiga.
__ADS_1
Dukung Dewa Binatang di bursa perjudian makin meningkat dan sudah sebagian penonton meraih untung besar.
Biarpun penyelenggaraan perjudian yang sudah terlihat merugi masih tetap tenang dan selalu mengawasi pergerakan Dewa Binatang.
Pemimpin bursa judi selalu melirik juara kedua dan Lin Sichuan, dan sesekali tersenyum tipis, dia telah membodohi tiga orang dengan membuat kesepakatan.
Pembawa acara mengumumkan kemenangan Dewa Binatang untuk kesekian kalinya, dan memanggil peserta berikutnya.
Namun, yang keluar bukan juara kedua melainkan Lin Sichuan.
Sontak para penjudi kaget dengan perubahan mendadak dan di luar perkiraan mereka, seketika yang terlanjur menjagokan Dewa Binatang menjadi pucat dan kuatir kehilangan uangnya.
.....
Salah satu yang telah menjagokan Dewa Binatang berbicara kepada rekannya.
"Hmm! Dua kali aku kalah taruhan, itu semua hasil tabunganku. Tiga kali kalah, itu uang hasil penjualan pil. Empat kali kalah, itu gaji bulan ini. Lima kali kalah taruhan, itu hasil aku meminta gaji bulan depan. Enam kali kalah, aku bisa-bisa diusir istriku. Tujuh kali kalah, bajuku dijual istriku. Delapan kali kalah, rumahku dijual istriku, sembilan kali kalah, bisa-bisa aku dijual istriku!"
Dengan wajah memelas salah satu penonton berinisial A telah kalah taruhan, dia sudah membayangkan jika dia pulang nanti dan ketahuan istri telah kalah berjudi, pasti menjadi bubur.
"Cih! Memangnya kamu masih laku! Itu salahmu sendiri. Contohlah diriku, lihat yang aku pertaruhkan bukan uang dari dalam tapi dari luar, sehingga tidak mempengaruhi keuangan keluarga! " dengan jijik rekan B meludah dan menyindir setelahnya.
"Memangnya darimana kamu dapatkan uang, padahal kamu hanya pemburu?" tanya si A dengan rasa penasaran, sebab dia tahu si B ini tidak memiliki penghasilan tetap.
"Banyak kesempatan diluar jika kita cerdas!" jawab si B dengan tatapan sinis melihat si A yang terlalu polos tapi ambisius, "aku menjual rumah beserta isinya milik tetanggaku! "
"Persetan! Biawak coklat! Kutu busuk! " jelas si A sangat marah dan akhirnya mereka berdua berpelukan dengan erat...
.....
Lin Sichuan terbang dengan anggun menuju panggung pertarungan, pakaian seksi, sayap mengepak perlahan semakin menambah pesonanya. Tatapan tajam tanpa berkedip kepada Dewa Binatang yang selalu tersenyum melihatnya.
Semua orang terkejut melihat aura Lin Sichuan telah naik drastis dari level 10 menjadi level 18. Banyak orang telah menebak Lin Sichuan menggunakan dua metode meningkatkan kekuatannya, yaitu mengaktifkan garis darah tahap atas dan Pil Peledak Kekuatan.
Lin Sichuan dan juara kedua menyetujui permintaan pemimpin bursa judi; di mana pemimpin meminta Lin Sichuan untuk segera mengakhiri pertarungan setelah peserta ke-delapan kalah, dengan perubahan komposisi petarung, para penjudi tidak akan bisa menebak dan terlanjur menjagokan Dewa Binatang.
Selain diuntungkan hasil perjudian, pemimpin bursa judi juga mendapatkan Artefak Binatang milik juara kedua. Walaupun pemimpin bursa judi tidak memiliki tubuh Lin Sichuan, dia masih bisa mendapatkannya suatu saat nanti.
Kini yang menjadi pertanyaan banyak orang; siapa lawan ke-sepuluh Dewa Binatang jika Lin Sichuan berhasil mengalahkannya?
Lin Sichuan telah mendarat di panggung dan mengeluarkan senjata pedang sepanjang 90 cm berwarna keperakan, lalu dia berkata:
"Kerahkan semua kekuatanmu, karena aku tidak segan-segan melukaimu bahkan tanpa sengaja membunuhmu! "
Bukannya menjawab sesuai perkataan Lin Sichuan, Excel Shimo malah berkata:
"Ingat taruhan kita! Jika kamu kalah, jadilah kekasihku dan sebaliknya! "
__ADS_1
Perkataan Excel Shimo jelas didengar oleh semua orang dan membuat suasana semakin ramai dengan sorak-sorai....