God Of Beast 1

God Of Beast 1
Chapter 477. Tewas Bersama! The End


__ADS_3

Chapter 477. The End.


Pertarungan antara dua peserta Konferensi Tianwu disaksikan oleh semua orang yang berada di Kota Lima Menara Bintang. Semua jantung berdebar-debar dan tidak sabar ingin tahu siapa pemenangnya, si Dewa Binatang dengan si Wei Yan dari Alam Tianwu.


Kekuatan Half Gama level 60 dan level 62, diantara mereka, semua orang menjagokan si Wei Yan yang lebih kuat dua level. Tapi sebagian orang memilih si Dewa Binatang yang memiliki Jirah Perang yang sangat kuat dan juga senjata Pedang Semesta.


Para penguasa dari berbagai galaksi tampak serakah melihat Jirah Perang Dewa Binatang dan juga Artefak Alami, sebagian penguasa juga tertarik dengan senjata Tombak Naga Langit milik Maharaja Yaksa.


Wei Yan yang ditantang oleh Excel Shimo memegang erat Tombak Naga Langit sambil mengeluarkan aura membunuh. Lalu dia memulai memutar tombaknya.


Sedangkan Excel Shimo memejamkan matanya untuk sejenak dan berbicara di dalam hatinya, "jika ini waktunya, aku sudah siap!"


Excel Shimo membuka mata, lalu menghilang dari tempatnya. Wei Yan yang tahu ikut segera ikut menghilang dan...


Dhuum...


Di langit Excel Shimo dan Wei Yan bertarung dengan sangat sengit. Suara dentuman keras ketika benturan dua senjata terkuat. Walaupun Excel Shimo kalah dua level, dia tidak tampak kewalahan melawan si Wei Yan, sebab Jirah Perangnya memberikan kekuatan ekstra.


Justru si Wei Yan yang lambat-laun mulai kewalahan melawan kelincahan si Dewa Binatang, gerakannya sulit ditebak dengan banyak teknik berpedang yang tidak diketahui oleh si Wei Yan.


Selain itu, Teknik Kultivasi milik Excel Shimo jelas berbeda dari si Wei Yan dan semua kultivator, dia menggunakan Teknik Kekuatan Jiwa yang diberi nama Kitab Kultivasi Delapan Hukum Jiwa (Cultivation Book of the Eight Soul Laws).


Excel Shimo memberikan nama delapan hukum jiwa sesuai dengan Delapan Batu Keabadian. Memiliki kultivasi berbasis jiwa sangatlah penting daripada segala teknik kultivasi berbasis di seluruh Alam Jagat Raya.


Dhuum...


Suara dentuman tidak ada henti-hentinya di langit, gelombang kejut setelah benturan energi telah meratakan ruang Alam Pertarungan. Selama petarung, si Wei Yan tidak menyadari jika ruang Alam Pertarungan telah dipenuhi oleh energi kunang-kunang, si Wei Yan mengira jika itu dampak dari benturan energi spiritual.


Boom...


Excel Shimo mundur sejauh ratusan meter setelah ledakan hebat energi dua senjata, demikian juga dengan si Wei Yan yang mundur lebih jauh dari Excel Shimo.


Lalu Excel Shimo melihat sekitarnya yang telah hancur, "jika disini, maka tujuh bagian Jirah Perang tidak akan bisa keluar dan pasti diperebutkan oleh banyak kekuatan. Ak--"


"Hebat juga kamu! Kultivasi apa yang kamu gunakan?" pujian si Wei Yan yang ingin tahu Excel Shimo menggunakan Teknik Kultivasi berbasis apa.


"Jadilah murid ku, maka aku akan mengajarkanmu!" jawab Excel Shimo.


"Bajingan!? Siapa yang mau menjadi murid mu!?" bentak si Wei Yan yang mana mungkin mau menjadi murid dari musuhnya, "keluarkan semua kemampuan dari tujuh Batu Keabadian, aku ingin tahu seberapa hebat kemampuannya!" lanjutnya dengan nada tinggi.


Excel Shimo tersenyum, lalu mengedarkan inderanya untuk mencari apakah ada jiwa-jiwa maupun kerangka di dalam ruang Alam Pertarungan. Sayangnya, tempat ini tidak ada satupun yang pernah mati, dan Excel Shimo tidak bisa memiliki pasukan kerangka.


Excel Shimo yang diam saja membuat si Wei Yan kesal dengan melesat ke arahnya. "Keluarkan semua kemampuanmu dan kali ini menjadi pertarungan terakhir kita!" ujar si Wei Yan sambil menghunuskan tombaknya.


"Jika itu mau mu!" jawab Excel Shimo sambil menunggu lawannya lebih dekat.


Segera Excel Shimo menggunakan Crown Stone yang mampu menggunakan segala elemen di seluruh alam semesta. Dari bawah Wei Yan bermunculan akar-akar pohon, api, pasir, ombak besar, magma dan diatas si Wei Yan bermunculan badai tornado api, angin, lalu ada awan petir dan masih banyak elemen yang bermunculan.

__ADS_1


Suara gemuruh yang mengagetkan dan membuat si Wei Yan yang baru tahu kehebatan Batu Keabadian bergidik ngeri, dirinya telah dikepung oleh semua elemen yang mematikan.


Boom boom boom...


Rentetan ledakan ketika si Wei Yan menghancurkan segala elemen dengan Tombak Naga Langit. Sedangkan Excel Shimo terus-menerus mengayunkan pedangnya untuk membentuk elemen dan menyerang targetnya.


Excel Shimo sebenarnya ingin menggunakan kemampuan Sacral Stone yang mampu menciptakan Ilusi, tapi kekuatan Batu Keabadian masih sebesar dua persen tidak akan berpengaruh terhadap kekuatan Half Gama. Demikian juga dengan Throat Stone yang mampu memanipulasi pikiran dan alam bawah sadar, juga tidak berguna jika lawan lebih kuat darinya.


Jadi, hanya Solar Plexus Stone, Power Root Stone dan Heart Stone yang bisa digunakan untuk melawan si Wei Yan. Sayangnya, si Wei Yan memiliki tubuh bawaan dimensi, dan kini Excel Shimo hanya bergantung pada kemampuan dirinya sendiri.


"Apakah hanya segini saja!" ejek si Wei Yan kepada Excel Shimo sambil menghancurkan semua elemen yang menyerangnya.


"Baiklah, baiklah, aku akan mendekati mu!" jawab Excel Shimo, lalu dia terbang sangat cepat sambil berkata, "TEBASAN PEMECAH OMBAK!"


Si Wei Yan yang disibukkan dengan banyak menghancurkan elemen jelas syok merasakan serangan kuat kearahnya, dia langsung menggunakan teleportasi dan menghilang, lalu muncul lagi di depannya Excel Shimo.


"ARMOR BREAK!" teriakkan si Wei Yan yang menghunuskan tombaknya dengan mengeluarkan kemampuan Tombak Naga Langit yang mampu memblokir segala kemampuan Batu Keabadian.


Seketika gerakan Excel Shimo melambat seakan-akan dirinya terkena skill Penghentian Waktu, lalu dia melihat senyuman kemenangan si Wei Yan, dan...


Jleb...


Mata Tombok Naga Langit menusuk ulu hati Excel Shimo hingga menembus Jirah Perangnya, bahkan mata tombak itu sampai menembus punggungnya.


Excel Shimo mengatupkan rahangnya untuk menahan rasa sakitnya sambil tangan kiri memegang tangan kanan di Wei Yan, dia ingin menggunakan skill Penghentian Waktu tapi tidak bisa, ingin berteleportasi juga tidak mampu, ingin berubah menjadi angin dan wujud apapun tapi semuanya tidak berguna.


Sling...


Si Wei Yan yang masih tersenyum seketika syok saat merasakan lehernya perih, dan melihat tubuhnya sendiri, dia baru sadar jika Dewa Binatang masih sempat memenggal lehernya, walaupun sudah terkena kemampuan Tombak Naga Langit.


Tahu akan mati, tubuh Wei Yan tiba-tiba membengkak dengan cepat, dia akan meledakkan dirinya untuk membunuh Excel Shimo dan semua orang.


Excel Shimo muntah darah dengan tubuh yang tidak bisa digerakkan saat tertusuk Tombok Naga Langit, lalu melihat tubuh musuhnya yang membengkak, dia menutup mata dan berbicara kepada Wei Yan.


"Senang berkenalan denganmu, kamu begitu hebat membuat banyak misteri. Semoga kita bertemu lagi di kehidupan mendatang!"


"Bodoh! Hahaha!" jawab Wei Yan untuk terakhir kali sebelum kepalanya terjatuh di tanah, suara tawa kemenangan menggema di seluruh ruang Alam Pertarungan.


Boom...


Ledakan maha dahsyat saat kekuatan tingkat Half Gama meledakkan dirinya. Tubuh Excel Shimo juga hancur berkeping-keping terkena ledakan energi spiritual kekuatan Half Gama. Dampak ledakan itu menciptakan gelombang kejut yang mengerikan hingga dengan cepat bergerak ke seluruh ruang Alam Pertarungan.


"Istriku!" ucapan terakhir Excel Shimo yang merindukan semua istrinya, lalu tubuhnya berubah menjadi Kunang-kunang dan menyebar lalu menghilang.


Senyuman terakhir Dewa Binatang membuat para wanita yang melihat ikut menangis, termasuk salah satu wanita di dalam Menara Angin, Yusan juga meneteskan air matanya.


"Semoga kamu segera bereinkarnasi sesegera mungkin, cintaku!" harap Yusan dan bisa bertemu lagi dengan Excel Shimo.

__ADS_1


...****************...


Para penguasa dari berbagai belahan Alam Jagat Raya jelas tahu si Wei Yan akan meledakkan diri sendiri, segera mereka beraksi dengan keluar dari menara, mereka segera memblokir ruang Alam Pertarungan agar dampak ledakan tidak menghancurkan Alam Tianwu. Celestial Yunyou juga turun tangan memblokir ruang Alam Pertarungan.


Salah satu para penguasa itu ada sosok wanita cantik yang tidak lain adalah Yuna Aurora, Ratu Yuna penguasa Alam Semesta Aurora, ada juga ayahnya yang bernama Hernandez Celosia penguasa Alam Semesta Celosia. Ibunda Yuna Aurora juga hadir untuk membantu memblokir ruang Alam Pertarungan, dia adalah Ratu Azalea Aurora.


Selain mereka bertiga, ada Kaisar Agung penguasaan Galaksi Nebula yang bernama Kun Lai atau dikenal dengan panggilan Kaisar Kun. Kaisar Kun adalah ayah dari Pangeran Kun Shen yang mencintai Ratu Diao Chin.


Ada juga penguasa Galaksi Arcadia, Galaksi Triangulum, Galaksi Caldwell, Galaksi Kecebong (Tad Pole), Galaksi Mata Hitam, Galaksi Beruang Besar dan masih banyak para penguasa yang melindungi ruang Alam Pertarungan.


Boom...


Ledakan hebat terdengar lagi dan menggetarkan Alam Tianwu. Semua orang yang memiliki kekuatan lemah sangat ketakutan. Beruntung para penguasa melindungi Balai Kultivator hingga tidak berdampak buruk bagi Alam Tianwu.


"Gila mereka berdua!" ujar penguasa Galaksi Arcadia yang bernafas lega berhasil memblokir dampak ledakan diri si Wei Yan.


"Sayang sekali, dua jenius mati!" sahut penguasa Galaksi Nebula.


Semua orang mengangguk, lalu terdengar suara ******* kecewa banyak orang telah kehilangan dua peserta paling berbakat selama Konferensi Tianwu diadakan.


"Kita ubah aturan untuk mengetahui potensi bakat peserta. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi, sangat disayangkan jika peserta berbakat tewas dengan sia-sia!" saran penguasa Galaksi Andromeda yang seseorang wanita dewasa yang kecantikannya tidak kalah dengan Ratu Yuna Aurora.


Semua penguasa menyetujui usulan penguasa Galaksi Andromeda. Segera semua penguasa merubah aturan atas persetujuan dari Kitab Suci.


"Rencana ku Dewa Binatang akan aku jodohkan dengan mu, sayangnya ... " kata Ratu Azalea Aurora kepada putrinya, saat mereka sedang melihat para penguasa sedang berdiskusi tentang perubahan aturan.


"Apaan sih, Bu!" sahut Yuna Aurora dengan raut wajah cemberut, tapi dia menghela nafas panjang ketika melihat Dewa Binatang meninggal di usia muda.


"Ibu tahu kamu menyukai dia saat baru pertama kali tiba disini!" goda Ratu Azalea Aurora kepada putrinya dengan berbisik.


Yuna Aurora tidak menjawab, dia menatap peti masuk menuju ruang Alam Pertarungan.


"Entah kenapa aku jatuh hati saat pertama kali melihatmu! Tapi, kenapa pertemuan ini begitu singkat disaat aku menemukan tambatan hati!" batin Yuna Aurora yang menyesal tidak menemui Excel Shimo sewaktu di Menara Angin, dia menahan air mata.


Ratu Azalea Aurora tersenyum melihat Yuna Aurora dengan membelai rambutnya, lalu dia berkomunikasi dengan telepati, "jika kamu mencintainya, bangkitkan dia ... Nanti Ibu akan mengajarkan mu caranya."


Seketika Yuna Aurora tersenyum tipis dan mengangguk, lalu dia memeluk ibunya. Ratu Azalea Aurora berbicara lagi kepada putri.


"Dengan ketampanannya dan bakat, aku yakin kamu harus bersaing dengan banyak wanita cantik!"


"Humph! Aku akan hancur mereka jika merebutnya!" dengus Ratu Yuna Aurora yang tidak mau bersaing dengan wanita lain.


Ratu Azalea Aurora tertawa pelan melihat putrinya yang posesif, padahal si Dewa Binatang sudah tewas dan belum dibangkitkan. Namun, di dalam hati Ratu Azalea Aurora, dia merasa bersalah ketika mengingat tentang masa kecil putrinya, sebab itu dia ingin memberikan Teknik Kebangkitan kepada putrinya untuk menebus kesalahannya.


Akhirnya diskusi telah selesai untuk merubah aturan, mereka tidak ingin seorang jenius mati hanya untuk mengetahui potensi bakatnya


"Baiklah kita periksa Alam Pertarungan," ajak Kaisar Kun kepada semua orang, dia ingin mendapatkan harta milik Dewa Binatang dan Tombak Naga Langit, termasuk semua penguasa yang juga menginginkan Jirah Perang Dewa Binatang dan Pedang Semesta.

__ADS_1


GOD OF BEAST 1 - THE END.


__ADS_2