God Of Beast 1

God Of Beast 1
Chapter 34 Siapa yang menang?


__ADS_3

Chapter 34 Siapa yang menang?


Energi Qi yang berada di jarak 5 kilometer segera melesat ke arah mereka berdua. Suara gemuruh sekali lagi terdengar, dan membuat banyak penghuni Hutan Penguasa bergerak menuju medan pertempuran antara Bu Wanmei dan Raja Kera Emas.


Disaat mereka mengetahui jika ada bertempur hebat, buru-buru penghuni Hutan Penguasa segera berlarian.


Mereka mengira jika ada tanaman roh langka yang terlahir.


"Bersiap-siaplah, Bocah!" peringatan Raja Kera Emas yang sudah siap melepaskan kekuatan penuhnya.


"Aku juga sudah siap, Paman!," jawab Bu Wanmei.


"Tombak Penghancur ... " pekik Bu Wanmei yang mengarahkan senjata Tombak Semesta kepada Raja Kera Emas yang berjarak 50 meter darinya.


Tombak Semesta berubah menjadi ribuan tombak yang diselimuti api surgawi skala kecil. Ribuan tombak itu melesat kearah Raja Kera Emas.


Wushhhh


"Hantaman Dewa Kera..." demikian juga dengan Raja Kera Emas yang mengeluarkan teknik terkuatnya.


Tongkatnya berubah menjadi raksasa, yang juga diselimuti api. Tongkat raksasa itu melesat juga kearah Bu Wanmei.


Wushhhh


Boommm.... Boom... Boom


Suara ledakan energi yang berbenturan sangat memekikkan telinga, bahkan dengan jarak yang jauh, semua orang merasakan gendang telinganya seakan-akan mau pecah.


Riak-riak energi dengan cepat penyebar seperti gelombang tsunami, dan menghancurkan apapun yang di terjangnya.


Boom... Boom...


Rentetan ledakan tidak ada henti-hentinya, saat mereka berdua terus menerus mengeluarkan energi Qi mereka.


Bu Wanmei langsung mengepakkan sayapnya, dan melesat ke atas saat gelombang energi benturan akan mengenainya. Demikian juga dengan Raja Kera Emas yang melesat ke atas.


"Tuan, gunakan teleportasi dan berikan serangan fatal!" pinta Earth Core Flame kepada Bu Wanmei.


Zlappp....


Bu Wanmei menghilang dan muncul di belakang Raja Kera Emas.


"Tombak Menari ... " ucap Bu Wanmei dengan suara lirih saat menyerang Raja Kera Emas yang masih menghindari gelombang energi Qi yang dahsyat.

__ADS_1


"Sial--" umpat Raja Kera Emas yang kaget saat merasakan musuh sudah berada dibelakangnya.


Raja Kera Emas segera membalikkan tubuhnya dan melepaskan teknik Hantaman Dewa Kera sekali lagi.


Boom... Boommmm


Sekali lagi suara ledakan di langit memekikkan telinga, dan lagi-lagi riak-riak energi hebat tercipta akibat dua energi saling berbenturan.


Semua orang sudah menjauhi medan perang Bu Wanmei dan Raja Kera Emas, dengan membuat perisai diri agar tidak terkena dampak berbahaya dari benturan itu.


Di langit sudah berubah menjadi asap yang mengepul tebal, apalagi awan hitam selalu menyelimuti Hutan Penguasa bagian barat.


Semua orang sudah tidak bisa lagi berkata-kata, sebab mereka sudah ketakutan dengan kekuatan tingkat Peri Benua yang saling berbenturan.


"Kak..." Ming Li Ling terlihat sangat panik, kuatir dan cemas disaat dia tidak bisa melihat keadaan kekasihnya.


"Jangan kuatir, kita hanya bisa berharap jika kekasih kita baik-baik saja!" ucap Ming Mei yang tahu perasaan saudara sepupunya. Dia juga mengkuatirkan kondisi kekasihnya.


Raja Han, Penatua Agung, Pemimpin Akademi dan semua orang mendongakkan kepalanya, mereka juga berharap Bu Wanmei baik-baik saja. Terlihat wajah semua orang juga ikut cemas.


Wushhhh...


Boom...


Tetapi berbeda dengan para kera dari anak buah Raja Kera Emas, mereka menjadi sangat panik, dan buru-buru berlari menuju sosok yang terjatuh itu.


Sosok yang terjatuh itu adalah Raja Kera Emas, seluruh tubuhnya sudah terluka parah. Segera anak buahnya membopong tubuh Raja Kera Emas, dan menghilang di balik lebatnya asap dan pepohonan.


Semua orang tidak mengetahui siapa yang terjatuh itu. Penatua Agung melambaikan tangannya, agar asap yang mengepul itu menghilang.


Setelah asap menghilang, tampak sosok pria yang telah membuat orang cemas masih melayang di langit, dengan sorot mata tajam melihat ke arah dimana Raja Kera Emas di selamatkan anak buahnya.


"Horeeee..."


"Hebat..."


Sontak semua orang yang melihat Bu Wanmei, bersorak-sorai gembira dengan bertepuk tangan.


Ming Li Ling dan Ming Mei saling berpelukan saat melihat kekasihnya baik-baik saja. Demikian juga dengan Loi Annchi berpelukan dengan Xiao Qiao seperti gadis kecil, Han Xing dan Han Chun juga saling berpelukan.


Wajah Bu Wanmei terlihat tersenyum manis. Tetapi wajahnya sangat pucat, terlihat Bu Wanmei telah banyak mengeluarkan energi Qi.


Tubuhnya memang tidak terluka setelah benturan energi Qi dengan jarak yang sangat dekat, itu berkat War Clock miliknya yang selalu melindungi.

__ADS_1


Wushhhh...


Tiba-tiba Bu Wanmei terjatuh seperti batu yang di lempar ke bawah, setelah sayap menghilang dan tubuhnya kembali seperti semula.


Wushhhh...


Buru-buru Penatua Agung melesat menuju ke arah Bu Wanmei yang pingsan, dan segera menangkapnya sebelum menghantam tanah.


Jelas semua orang kaget, terutama para wanita yang cantik yang tadinya sudah gembira, mereka berteriak histeris saat melihat Bu Wanmei yang pingsan.


Penatua Agung segera memeriksa kondisi Bu Wanmei. Setelah memastikan kondisi Bu Wanmei, ia merasa lega dengan menghela nafasnya.


Keenam wanita itu buru-buru mendekati Penatua Agung yang sedang membopong tubuh Bu Wanmei. Semua orang juga segera menyusul dan mengerumuni Penatua Agung.


"Penatua Agung, bagaimana kondisinya?" tanya Xiao Qiao yang terlihat cemas.


"Dia baik-baik saja. Ia hanya kelelahan setelah bertarung dengan hebat! Setelah beberapa hari istirahat, kondisinya akan kembali seperti semula." Penatua Agung tersenyum dan menjawab kekuatiran semua orang.


"Syukurlah."


"Sudah wajar dia kelelahan setelah bertempur selama 4 waktu dupa lebih." ujar Pemimpin Akademi yang terlihat lega.


"Ayo, kita bawa ke Akademi, agar dia beristirahat dengan baik." ajak Penatua Agung dengan berdiri.


Segera para tetua mengambil ahli Bu Wanmei yang masih pingsan, dan mengganti membopong tubuh Bu Wanmei. Mereka segera membawa Bu Wanmei naik kepala angkasa milik Raja Han yang ukurannya lebih besar, dan mampu menampung 500 jiwa.


"Siapa yang menang pertempuran ini?"


Dalam perjalanan menuju Akademi Langit Abadi, beberapa murid akademi saling berbicara, mereka masih belum jelas siapa yang menjadi pemenangnya.


"Jelas Bu Wanmei itu! Tadi sebelum asap menghilang kita mendengar suara benturan, pasti yang terjatuh itu si Raja Kera Emas."


Di dalam kapal angkasa, Bu Wanmei di baringkan di dalam kamar tidur yang berada kapal angkasa. Setelah dua tetua akademi membaringkan tubuh Bu Wanmei, mereka keluar, dan meninggalkan keenam wanita untuk merawat Bu Wanmei.


Di ruang pertemuan di kapal angkasa, terlihat Raja Han, Penatua Agung, Pemimpin Akademi, Ketua Xiao, Han Heng dan beberapa Ketua akademi dan pimpinan dari setiap daerah di wilayah Kerajaan Han.


Mereka membahas bagaimana caranya untuk mengikat Bu Wanmei agar tidak berpihak kepada wilayah lain atau Akademi Pedang Surga.


Mereka juga membahas masalah kejadian 11 tahun yang lalu. Para pimpinan juga tidak ingin Klan Ming dimusnahkan oleh Bu Wanmei.


"Raja Han, saranku, lebih baik perintahkan segera untuk menangani kejadian 11 tahun yang lalu. Ju Hua adalah murid akademi, sekaligus bibi dari Bu Wanmei! Jika memang Ming Lai terlibat dalam kejadian itu, maka segera lakukan penanganan yang tepat!" pinta Penatua Agung yang ingin Raja Han menangani kasus kejadian 11 tahun lalu.


"Aku mengerti, Penatua Agung! Hanya saja yang membuat ku tidak mengerti, kenapa Ming Lai sampai tega membunuh penduduk di Desa Bunga!," jawab Raja Han yang masih berpikiran positif akan tindakan Ming Lai.

__ADS_1


Yang semua orang tidak tahu, setelah kapal angkasa Raja Han dan semua orang pergi dari medan perang, terlihat dua orang yang sedari tadi selalu mengamati pertempuran Bu Wanmei dan Raja Kera Emas.


__ADS_2