
Chapter 283 Dilema, Ketakutan dan Bimbang.
Setelah An Na selesai bercerita, Zhang Rouxin dan Chu Yao juga sedih dengan kondisi Gongsun Ling yang memprihatinkan. Namun, mereka juga meyakini tindakan suaminya sudah benar. Selain sedih, mereka juga marah, marah karena akan menjadi target Istana Iblis Timur gara-gara pengkhianatan ketiga putra mahkota dan jenderal selatan.
"Jangan kuatir mereka bertiga bisa menyakiti kalian, sebab mereka kan sudah aku beri segel budak. Lebih baik sekarang kalian mengikuti-ku agar lebih aman, aku kuatir hal yang tidak terduga menimpa kalian," kata Excel Shimo setelah An Na selesai bercerita.
Chu Yao menatap suaminya dengan serius, jika dia mengikuti suaminya, bagaimana dengan keluarganya? Dengan segera Chu Yao berbicara. "Aku tidak mungkin meninggalkan keluarga, biarkan aku bersama mereka saja!"
Excel Shimo geleng-geleng kepala dan menatap Chu Yao dengan penuh cinta. "Jangan kuatir, pintu keluar mayat hidup sudah pasti telah dihancurkan oleh Gongsun Ling, dan jarak antara pintu utama juga jauh."
"Tapi, apa kamu berniat tidak menyelamatkan benua ini?" tanya Chu Yao yang kuatir.
"Aku bukan pahlawan dan Sang penyelamatan! Tapi, jika orang yang akan datang hanya berpangku tangan, aku hanya bisa menyelamatkan keluargamu saja!"
Ucapan Excel Shimo jelas membuat Chu Yao dan Zhang Rouxin geram dan kesal.
"Lalu buat apa kamu memiliki kekuatan hanya untuk melihat rakyat lemah terbunuh!" ujar Chu Yao dengan nada sedikit kesal.
"Tanyakan kepada Dewan Keamanan!" sindir Excel Shimo yang mulai terpancing emosinya, dia berdiri dan menghela nafas untuk meredam emosi, "jika kamu ingin disini, aku juga tidak akan memaksa. Aku masih banyak yang harus aku lakukan, aku juga ingin segera bertemu dengan keluargaku sendiri ... Dengan situasi seperti ini, apa aku harus meletakkan leherku pada nisan? Jelas tidak, tidak sebelum aku menemui ibu, ayah, kakek dan nenek. Sejak aku lahir, aku hidup sebatang kara!" sambungnya dengan nada ketus, sebab istrinya masih saja keras kepala dan tidak mengerti.
"Su--suami, bukan begitu maksudku, aku hanya ingin melindungi orang yang aku cintai dan membantu yang lemah!" ucap Chu Yao yang panik dan segera dia meredam emosi.
"Bagus, lakukan! Kamu memiliki kekuatan untuk menunjang cita-citamu ... Aku masih lemah dalam mental dan butuh waktu untuk tumbuh!" balas Excel Shimo dengan nada yang masih ketus lalu menghampiri An Na.
Segera ketiga istrinya sadar jika suaminya memang masih muda dan membutuhkan waktu untuk mendapatkan banyak pengalaman hidup, yang lebih menyedihkan, sejak lahir tanpa kehadiran orang tua. Chu Yao dan Zhang Rouxin segera memeluk suaminya sambil menangis.
"Maaf!"
"Kenapa harus minta maaf! Kalian memiliki hak dan aku pun tidak bisa memaksakan kehendak-ku!" kata Excel Shimo dengan membelai lembut rambut kedua istrinya.
"Seandainya kami terdesak, apakah kamu akan menolong kami?"
Excel Shimo tidak menjawab pertanyaan Zhang Rouxin, sebab dirinya sedang berpikir. "Seandainya aku memiliki dua tubuh ... Ada Gongsun Ling yang akan menjaga kalian ... Seharusnya kalian sudah mengerti ... Perjalananku tidak sebatas disini ...!" jawab Excel Shimo dengan suara kecewa dan menjauh dari kedua istrinya.
"Suami!"
Kedua istrinya hanya bisa memanggilnya dengan meneteskan air mata, walau ucapan Excel Shimo yang terpenggal, ketiga istrinya secara garis besar memahami.
"Untuk mengurangi bahaya tersembunyi, aku akan bunuh ketiga saudaramu dan Jenderal Selatan! Kalian tunggu disini!" ungkap Excel Shimo yang sudah bertekad membunuh pengkhianatan.
"Suam--!
__ADS_1
Cegah An Na dengan memegang erat tangan Chu Yao, agar tidak menghalangi niat baik Excel Shimo. Chu Yao hanya pasrah dan sebenarnya dia memahami. Namun, kehilangan tiga putra mahkota bukanlah perkara sepele, akan terjadi pergolakan didalam Istana kerajaan Chu.
Swosh...
Angin lembut menerpa wajah ketiga istrinya saat Excel Shimo telah menghilang dari hadapan mereka, seketika Chu Yao terduduk di tanah dengan berderai air mata. Zhang Rouxin dan An Na memeluk Chu Yao.
"Bahkan jika kamu penting, aku akan membunuh siapapun yang menghambat jalanku!" gumam Excel Shimo saat muncul di langit, tepatnya diatas Kerajaan Chu.
Excel Shimo membuka Mata Dewa dan mencari keberadaan target yang akan dia bunuh. Excel Shimo menyeringai saat melihat keempat targetnya sedang berkumpul dan berpesta didalam sebuah ruangan rahasia.
"Memang pantas dibunuh!" geram Excel Shimo melihat keempat target yang sedang berpesta dengan minuman keras dan juga beberapa wanita penghibur.
Dengan penyamaran yang masih menjadi Huang Guang, Excel Shimo menghilang dan muncul lagi di atap mansion. Mansion itu adalah tempat hiburan bagi pria, memang sepi dan hanya beberapa orang yang keluar masuk dari Mansion, karena dampak serangan mayat hidup.
Swosh...
Excel Shimo menyelinap menuju ruang bawah tanah yang sangat mewah, tampaknya sengaja dibuat khusus untuk tamu penting dan untuk pembicaraan rahasia selain untuk menghibur pria yang membutuhkan kepuasan.
"Aku tidak bisa membenci Chu Yao dan Zhang Rouxin, bahkan berniat buruk pun pasti akan kesakitan, jadi aku hanya berbicara melalui tulisan tanpa emosi!" ujar Chu Feng sambil menggoda wanita penghibur.
"Hahahaha! Bagaimana bisa kamu dipermainkan mereka?" tawa Jenderal Selatan yang prihatin kesialan ketiga putra mahkota.
Plak...
"Aow!!" pekik wanita penghibur saat kesakitan dengan tamparan di pan tatnya, lalu melirik kesal akan perlakuan kasar Chu Liang Chan.
"Tidak hanya kita, tapi Han Li juga sama," sambung Chu Liang Chan setelah menampar pan tat wanita penghibur itu.
"Apakah tidak lebih baik kalian berbicara kepada raja Chu?" tanya si Jenderal.
"Kami tidak sebodoh itu mengakui kesalahan fatal kepada ayah, sama saja bunuh diri!" jawab Chu Feng sambil terus menggoda wanita penghibur, malahan tangannya sudah menyusuri lembah surga.
"Han Li juga sama, dia hanya bisa mengeluh pada gurunya, walau gurunya setingkat Peri Langit puncak, dia tidak bisa menghapus segel sialan ini ... Aduh!!" timpal Chu Ming dan kesakitan saat mengumpat pada segel di dada kirinya.
Jenderal Selatan yang melihat Chu Ming hanya merasa iba. "Pasti pria tua memiliki kekuatan di atas Dewa Alam!" ujar jenderal Selatan dengan sedikit rasa takut, "lalu, bagaimana rencana kalian selanjutnya setelah bantuan dari Istana Iblis Timur datang?" sambungnya dengan bertanya kepada ketiga putra mahkota.
"Hahahaha! Jelas membalas dendam kepada kedua wanita itu ... Aku akan buat mereka mati karena tongkat ku, dan aku akan bergabung dengan Istana Iblis Timur setelah puas!" jawab Chu Liang Chan sambil menahan rasa sakit di dadanya.
Ngung... (Suara dengungan)
Bukk... Bukk...
__ADS_1
Seketika keempat pria itu dan semua wanita penghibur yang berada di satu ruangan terjatuh di lantai, sebab aura kuat menekan tubuh mereka. Aura itu jelas keluar dari tubuh Excel Shimo yang sudah bosan mendengar obrolan mereka, apalagi sudah membuatnya marah akan rencana buruk mereka.
"Ini karma baik kalian! Mati!" ujar Excel Shimo dengan mengeluarkan pedang energi ditangan kanannya, namun niat untuk memenggal mereka dia urungkan, sebab lebih baik mengekstrak kekuatan mereka.
Semua orang kaget dengan kemunculan orang yang tidak dikenali, karena tekanan yang sangat kuat dan terfokus pada satu ruangan, membuat mereka sampai tidak mampu berbicara, mereka hanya bisa melirik siapa orang yang datang tiba-tiba.
Excel Shimo segera menyegel kekuatan mereka berempat dan memasukkan kedalam Pagoda Penjara berkumpul dengan murid-murid Istana Iblis Timur. Kemudian, Excel Shimo menghapus ingatan enam wanita penghibur, dan meninggalkan beberapa ribu keping Emas sebagai kompensasi mereka dan untuk bertahan hidup.
"Kalian hiduplah dengan baik dan carilah pasangan yang baik pula!" pesan Excel Shimo kepada keenam wanita yang sudah pingsan.
Swosh...
Excel Shimo menghilang dari ruang rahasia dan muncul kembali dekat dengan istrinya, sengaja dia tidak langsung muncul dihadapan mereka, sebab ingin tahu apa yang dibicarakan mereka bertiga.
"Apa kalian akan mengikuti suami kita atau tetap disini bersama keluarga kalian?" tanya An Na kepada Zhang Rouxin dan Chu Yao.
Kedua wanita itu tidak segera menjawab, sebab sedang memikirkan apa yang harus mereka pilih, keluarga atau suaminya. Setelah terdiam sejenak, Zhang Rouxin yang menjawab terlebih dahulu.
"Aku akan selalu berada disamping kakak Ling, karena hanya dia keluargaku satu-satunya yang aku punya!" keputusan Zhang Rouxin tidak mengejutkan Excel Shimo dan An Na.
Zhang Rouxin sampai detik ini selalu berhutang budi dengan mantan gurunya yang telah menolongnya 20 tahun lalu, jelas dia lebih memilih bersama Gongsun Ling, apalagi Zhang Rouxin sudah tidak memiliki keluarga.
"Jika aku juga tiba-tiba menghilang, maka akan muncul berbagai fitnahan setelah empat orang penting dibunuh suami kita! Jadi, aku juga akan tetap di Kerajaan Chu. Jika situasi mereda dan hilangnya mayat hidup, baru aku akan mengikuti suami kita,"
Demikian juga dengan Chu Yao, setelah berpikir jernih dia memutuskan untuk tidak mengikuti suaminya sampai keadaan tenang seperti sedia kala. Chu Yao juga bukan orang bodoh, dia selalu menimbang apapun situasi yang sedang dia alami.
"Semoga saja kita bisa segera berkumpul lagi seperti semula!" harap An Na yang meneteskan air mata kesedihan jika kebersamaan mereka sangat singkat.
Excel Shimo yang tidak jauh dari mereka hanya menatap langit berbintang, secara tidak sadar air mata mengalir. Dadanya sakit seperti tertusuk jarum, saat mendengar perkataan ketiga istrinya.
"Apakah ini adil! Aku juga merindukan kedua orang tuaku, kakek, nenek ...!" gumam Excel Shimo yang baru kedua kalinya menangis.
Excel Shimo menangis saat masa kecilnya yang telah kehilangan orang tua angkat dan ketiga orang yang dia sayangi walaupun pertemuan mereka hanya sesaat.
Lotus Bao dan Xi Hei juga ikut sedih melihat tuannya yang sedang dilema, antara menjadi penyelamatan atau bersembunyi dari banyak kekuatan yang sedang menargetkan dirinya.
"Tuan, tidak ada salahnya mengikuti keinginan Alam Semesta agar Tuan menjadi penyelamatan. Kehendak Alam Semesta tidak ada yang bisa diprediksi. Tapi satu hal yang pasti, semuanya pasti baik dan bermanfaat untuk masa depan. Memang awalnya bisa buruk, tapi pada akhirnya semua demi kebaikan. Adakalanya sakit harus diterima, agar kita belajar untuk tidak merasakan rasa sakit lagi!" tutur Lotus Bao agar tuannya meneguhkan hati dan tidak bimbang.
"Ini juga kesempatan Tuan untuk menempa diri dengan kesulitan! Di masa depan, Tuan akan lebih dewasa dalam menghadapi masalah yang lebih pelik dan Tuan tidak akan lagi kebingungan maupun bimbang!" sambung Xi Hei yang hidupnya lebih lama dari Lotus Bao.
"Setiap perang berbeda, namun setiap pertempuran adalah sama. Musuh hanyalah pengalih perhatian. Hal yang kita lawan, selalu, adalah diri kita sendiri. Jadi, buang ketakutan, kegelisahan dan tentang masa depan. Persiapan diri untuk saat ini, hasil saat ini untuk pembelajaran hari esok!" timpal Lotus Bao yang sengaja membakar semangat Excel Shimo.
__ADS_1