
Chapter 35 Sosok Misterius.
Mereka berdua menggunakan tudung kepala untuk menutupi wajah dan penampilan mereka berdua. Jubahnya berwarna hijau dan mampu berkamuflase seperti tumbuhan.
Kedua orang itu terlihat berbeda jenis, pria dan wanita. Pria itu terlihat berusia lebih dari 200 tahun, sedangkan wanita itu terlihat usianya masih antara dua puluhan lebih.
"Perkembangannya sangat pesat dia, aku kira dia akan berada tingkat Raja saat usia 15 tahun, tidak disangka baru usia 12 tahun sudah berada di tingkat Peri Benua! Luar biasa!" ujar wanita itu yang kagum melihat perkembangan Bu Wanmei.
"Putri, segera kita kembali, terlalu lama di Benua Jiang Shan akan menarik perhatian para Dewa dan Dewi dari Alam Zhong Hua!" pinta pria paruh baya itu kepada wanita yang dia panggil Putri.
Alam Zhong Hua adalah Benua yang sangat makmur, lebih makmur dari Benua Sihai dan Benua Jiu Zhou, apalagi Benua Jiang Shan yang memiliki energi Qi terendah. Setiap benua memilik energi Qi yang berbeda-beda.
Benua Jiang Shan memiliki energi Qi biasa.
Benua Jiu Zhou memiliki energi Qi Langit. Benua Sihai memiliki energi Qi Dewa. Benua Zhong Hua memiliki energi Qi Semesta.
Dan terakhir adalah Alam Shen Zhou atau tanah Dewa yang memiliki energi Qi Surgawi.
"Hamm!" wanita itu menghela nafas berat dan tetap melihat ke arah dimana kapal angkasa Raja Han telah sampai di Akademi Langit Abadi.
"Semoga kita bisa bertemu sesegera mungkin, Excel Shimo!" gumam wanita itu dengan nada sedih, dan mengangguk kan kepalanya kepada pria paruh baya itu.
"Jangan kuatir kan dia, Putri. Jika memang saatnya tiba, dia akan menemukan dirimu!" ujar pria paruh baya kepada wanita itu.
"Benar, Paman. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan kedua orang tuaku!" setelah wanita itu melihat Bu Wanmei yang di bawah di danau tempat Xiao Qiao, dia melihat Pamannya lagi.
"Aku akan menunggumu, sayang. Sampai kapanpun!" ucap wanita itu dengan telepatinya kepada Bu Wanmei, nada suaranya sangat lembut dan penuh kasih sayang.
Zlappp...
Kedua orang itu menghilang, setelah pria paruh baya itu mengeluarkan sebuah artefak yang berbentuk seperti kipas, dan melambaikan tangannya.
Kini suasana tempat pertempuran menjadi sepi, hanya terdengar desiran angin hutan dan sisa-sisa pepohonan yang masih terbakar.
__ADS_1
Selain kedua orang misterius itu, ternyata ada 4 orang yang juga bersembunyi di balik pepohonan yang jaraknya sangat jauh dari sosok 2 orang misterius itu.
Mereka berempat juga menggunakan tudung kepala yang sama dan pakaiannya juga sama.
"Kamu, kabarkan kepada Ming Lai untuk segera pergi dari Benua Jiang Shan, dan berikan ini kepadanya! Kita akan bertemu di tempat biasanya!" perintah salah satu orang itu kepada bawahannya.
"Baik, Ketua."
Zlappp...
Orang yang diperintahkan itu segera menghilang, setelah menerima token dari orang yang dia panggil sebagai Ketua.
"Ketua, apa langkah kita selanjutnya?"
"Kita tinggalkan Benua Jiang Shan ini, sudah tidak perlu lagi kita berada disini lagi!" jawab Ketua itu kepada bawahannya.
"Apa Ketua tidak berminat merekrut Bocah itu?" tanya salah satu anak buahnya yang sedikit penasaran dengan Bu Wanmei.
"Sialan orang itu, jika dia tidak ikut campur pasti kita sudah lama kembali dengan kesuksesan besar?!" umpat bawahannya yang juga kesal.
"Sudah sewajarnya jika seorang Putri tunggal dan pewaris tahta akan di lindungi oleh bawahan Kaisar itu!" balas Ketua itu kepada bawahannya, dia berhenti berbicara untuk menarik nafas agar emosinya mampu dikendalikan.
"Hanya saja aku tidak menyangka jika yang melindunginya adalah King Gold Roc. Jika pangeran tahu, pasti bukan kita yang akan diberikan tugas penting seperti ini!" Ketua itu terlihat murung saat tugas yang diberikan Pangeran-nya telah gagal di selesaikan dengan baik.
"Sudahlah, lebih baik kita kembali dan melaporkan kepada Pangeran!" titah Ketua itu setelah menghela nafas berat.
"Ketua, bagaimana dengan kedua orang bodoh itu? Apa aku harus membunuhnya?" mereka bertiga tahu jika ada orang lain yang berada tidak jauh juga ikut melihat pertempuran Bu Wanmei dan Raja Kera Emas.
"Tidak perlu mengotori tangan kita!" jawab Ketua itu kepada bawahannya.
Segera ketua itu merobek kehampaan dan masuk bersama kedua bawahannya.
Wushhhh
__ADS_1
Ketiga orang itu seketika menghilang seperti angin, saat kehampaan kembali menutup sendiri secara alami.
Sekali lagi suasana menjadi hening.
Tidak jauh dari mereka bertiga, memang ada 2 orang yang memakai topeng putih dan topeng merah. Mereka berdua adalah anggota dari organisasi pembunuh Gagak Hitam.
Topeng putih memiliki kekuatan tingkat Kaisar, sedangkan topeng merah memiliki kekuatan tingkat Saint.
"Bos, kenapa informasinya selalu berubah-ubah, katanya bayi ajaib itu setingkat Raja, tapi nyatanya melebihi informasi itu?" tanya pria yang memakai topeng putih kepada Si topeng merah.
Si topeng merah yang ditanya menggaruk kepalanya walau kepalanya tidak gatal.
"Mana aku tahu! Biar pimpinan cabang yang bertanya kepada Ming Lai itu!" jawab Si topeng merah dengan nada kesal.
"Hah! Kita kembali saja, dan nanti kamu yang melaporkan kepada pimpinan, aku terlalu malas untuk bicara dengannya!" sambungnya dengan membalikkan badannya dan terbang ke arah wilayah utara.
"Selalu saja aku yang terkena imbasnya! Dulu ibu ku mengidamkan apa sehingga hidup ku sial seperti ini!" gerutu pria bertopeng putih terhadap nasibnya.
"Ngidam buaya buntung, mungkin!" celetuk si topeng merah saat mendengar keluhan temannya, walau dirinya sudah terbang.
"Enak saja, Nenek kamu kali yang mengidamkan buaya bunting ngangkang pamer pantatnya!" balas pria topeng putih yang tidak terima dengan ejekan si topeng merah, dia juga segera menyusulnya dengan terbang.
"Hei! Ucapan mu sangat menyakitkan?! Bapak kamu yang ngidam jeroan celana ku, sehingga lahir anak yang menyesatkan seperti dirimu!"
"Sialan kamu botak! Aku adalah Putra Tunggal dari kedua orang tuaku, saat aku lahir terjadi fenomena alam, itu menandakan jika aku unik!" balas pria bertopeng putih.
"Bukan namanya fenomena itu bodoh! Saat kamu lahir, memang cuaca sedang turun hujan lebat disertai badai. Itu tandanya jika alam semesta muak melihat kamu dilahirkan. Sayangnya, Nenek kamu terlambat memasukkan kamu lagi kedalam rahim ibumu!"
"Hei! Kutu busuk, jaga mulutmu yang busuk Dirimu lah yang tidak diinginkan oleh alam, lihat saja, kepalamu botak sejak lahir ... Mungkin ibumu mengidam bola kembar tetangganya!?"
Kedua anggota Gagak Hitam terus saling menghina sambil terbang ke arah wilayah utara. Walaupun saling menghina, mereka tidak berniat saling pukul.
Sekali lagi suasana benar-benar sepi di Hutan Penguasa bagian barat tempat pertempuran hari ini.
__ADS_1