Please Love Me

Please Love Me
Part 100


__ADS_3

"Kenapa? Apa kamu meragukan ucapanku atau kamu tidak percaya padaku?" Tanya Jason memandangi sang istri yang sedari tadi terus melihat ke arahnya. 


"Aku tahu pasti di dalam hati, kamu pasti tidak percaya pada ucapanku kan?" Tanya Jason mendekat.


Lily diam tampak berfikir, "Kok kamu tahu aku memang berpikir seperti itu?" 


"Hmm ya seperti yang tadi aku bilang, jika aku bisa membaca pikiranmu,"


Lily diam, sambil berpikir benarkah yang dikatakan suaminya, tapi Lily menggelengkan kepalanya merasa hal itu tidak mungkin terjadi di dunia ini, mm mungkin ada tapi pasti sangat jarang, yang ada itu hanya di film luar tentang Vampire dan serigala, Si Vampire lah yang bisa membaca pikiran orang, tapi tetap saja tidak bisa membaca pikiran si wanita yang menjadi lawan mainnya.


"Ayo, jika menunggumu selesai melamun, pasti kita tidak akan jadi ke rumah sakit," Jason mengambil kunci mobil dan dompetnya kemudian berlalu lebih dulu setelah membuyarkan lamunan sang istri.


Lily yang mendengar itu langsung bergegas dan menyusul Suaminya, tidak ingin terlambat lagi.


"Sayang tunggu!" Lily segera berlari mengimbangi langkah kaki Suaminya yang semakin menjauh.


****


"Apa yang kubilang, semua wanita itu sama saja, kebanyakan mereka hanya mau mendekatiku hanya karena keluargaku saja," racau seorang pria yang meneguk minuman yang membuatnya kini mabuk dan meracau tidak jelas.


"Aku serius dengan wanita? Tidak akan, mereka hanya pantas aku permainkan," Ronald kembali menuang minuman ke dalam gelasnya.


Jika para wanita mendengar apa yang Ronald katakan saat ini, pasti Ronald akan mendapat lemparan sandal dari manusia yang bernama wanita.


"Aku benci kalian semua!" Ronald hanya dengan sekali teguk menghabiskan minuman yang tadi dituangnya.


Ronald baru saja melihat dan mendengar jika wanita yang terakhir kali berkencan dengannya, begitu ngotot ingin dikenalkan dengan keluarga besarnya, nyatanya wanita itu tadi dilihatnya keluar dari kamar hotel bersama dengan pria lain, bahkan wanita menggandeng mesra pria itu, berjalan bersama menuju ke restoran yang ada di hotel tersebut.

__ADS_1


Saat itu Ronald baru keluar dari sebuah kamar hotel, ya setelah dia mendapatkan kepuasan dari salah satu wanitanya, dan saat Ronald baru saja keluar, dia melihat sosok wanita yang belakangan ini sering menemaninya keluar dari kamar di sebelahnya, Ronald berusaha untuk menyembunyikan wajahnya agar wanita itu tidak mengenalinya. Dia memalingkan muka saat wanita itu menengok ke arahnya. Dan Ronald begitu lega saat wanita itu kini tengah fokus pada ponselnya.  Saat ini Ronald terasa seperti seorang suami yang takut tertangkap basah oleh istrinya.


Ronald mengambil ponsel yang ada di saku celananya, berpura-pura memainkannya dengan posisi tubuh yang membelakangi wanita itu serta bersandar pada pintu kamar agar tidak membuat wanita itu curiga.


Hingga samar-samar, Ronald mendengar pintu terbuka, Ronald mengintip kamar sebelahnya itu, seorang lelaki keluar dengan rambutnya yang masih basah, dengan pakaian yang cukup santai.


Dan bisa Ronald lihat dengan jelas, wanita yang biasa dipanggilnya Grace kini menggamit lengan pria itu dengan mesra.


"Maaf membuatmu menunggu lama, tadi orang penting dan aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja," 


Itulah suara pria yang Ronald dengar. Dan Ronald seakan tidak percaya mendengar kalimat yang berikutnya yang keluar dari mulut sang wanita.


"Tidak apa-apa sayang, aku mengerti, aku tahu kamu pasti sangat sibuk, setelah kamu meninggalkan kantor kemarin hanya untuk menghabiskan waktu seharian denganku," wanita itu berkata manja, dan itu membuat Ronald begitu jijik mendengarnya. 


"Dan bagaimana menurutmu  sayang, apa kamu puas dengan pelayananku?" Tanya pria itu sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ayo sekarang kita makan dulu, akan aku beritahu tentang perkembanganku dalam mendekati pria kaya itu."


Ronald masih diam saja, karena dia tidak tahu siapa pria kaya yang dimaksud wanita itu. Tapi karena rasa penasarannya, Ronald pun mengikuti kemana wanita itu pergi.


Wanita itu kini duduk di samping pria di dalam sebuah restoran, Ronald pun duduk tepat di belakang tempat mereka, sehingga dapat dipastikan jika mereka berdua, tidak tepatnya wanita itu tidak melihatnya.


Dan setelah menunggu beberapa waktu, kini Ronald mendengar dengan jelas, jika wanita itu berkata pada sang pria jika kali ini usahanya untuk mendekati Ronald Alvian Orlando yang masih merupakan keponakan dari Davian Orlando Gomes akan berhasil, setelah sebelumnya dirinya gagal mendekati seorang bernama Maxime Anderson.


Ronald mengepalkan tangannya saat namanya disebut, tunggu! Ronald seperti mendengar nama pria lain yang disebut wanita itu, dia seperti pernah mendengar nama Maxime Anderson, ya dia mengingatnya sekarang, Maxime  Anderson adalah pria yang yang berstatus sebagai suami Sepupunya.


Jadi dia pernah berusaha mengganggu rumah tangga sepupunya itu, dan mendengar hal itu Ronald tidak akan tinggal diam, dia akan membuat wanita itu menyesal karena berurusan dengan keluarganya.

__ADS_1


"Gracia! Aku akan menghancurkanmu," setelah mengatakan itu dalam hatinya, Ronald pun mengambil beberapa lembar uang berwarna merah meletakkannya di atas meja kemudian segera meninggalkan tempat setelah mendengar semua hal yang hanya bisa membuatnya marah.


Dan kini Ronald menggenggam erat gelas yang dipegangnya dan jika lebih lama Ronald melakukan itu, bisa dipastikan gelas itu akan retak dan hancur di tangan Ronald, dan untungnya Ronald tidak melakukan itu. Dia justru kembali menenggak minumannya sampai beberapa botol kosong kini berjajar rapi  memenuhi meja tempat Ronald berada.


Karena banyaknya Ronald minum hingga tak lama Ronald pun mulai tidak sadarkan diri, dia tidak mengingat apa yang telah terjadi selanjutnya.


.


.


Kilauan cahaya jingga menerobos masuk jendela sebuah kamar yang sudah dibuka tirainya.


Seorang laki-laki menggeliat, dia bangun dengan memegang kepalanya yang terasa pusing, dia mengingat-ingat apa yang terjadi, yang dia ingat terakhir dirinya sedang minum di sebuah club malam, dan dirinya menghabiskan beberapa botol minuman, dan setelah itu dia tidak bisa mengingat-ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.


"Sudah bangun? Minum sup itu selagi masih hangat untuk menghilangkan pengar. Apa begitu kelakuanmu di luar rumah? Ayah benar-benar kecewa padamu Ronald! Mulai sekarang kamu harus mempersiapkan diri, kamu akan ikut dengan Pamanmu, untuk bekerja di perusahaan barunya!"


Mike kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Putranya yang masih mengurut kening.


"Katanya kamu seseorang yang sudah ahlinya mempermainkan wanita, tapi lihatlah, justru sekarang dirimulah yang dipermainkan oleh mereka," Mike tersenyum mengejek sebelum benar-benar pergi dari kamar Putranya.


"Hah ternyata aku di rumah," gumam Ronald setelah mengedarkan pandangannya.


Ronald kemudian memandang ke arah meja, dimana memang ada semangkuk sup, yang terlihat  baru dibuat, terlihat dari asap yang mengepul di atasnya seperti yang tadi Ayahnya katakan.


Ronald kemudian mencoba bangun dan menuju ke kamar mandi, di dalam kamar mandi, Ronald menatap wajahnya yang tampak kusut di depan cermin yang berada tepat di atas wastafel, dia mengingat apa yang tadi Ayahnya katakan.


"Benar apa yang Ayah katakan, kenapa aku sampai mabuk hanya karena mendengar dan melihat sendiri apa yang dikatakan wanita itu, bukankah aku dari awal sudah tahu, jika wanita itu mendekatiku pasti karena ada sesuatu dibaliknya," Ronald kemudian tertawa dengan suara menggelegar saat mengingat keb*d*hannya itu.

__ADS_1


"Wanita Sia*lan!" Teriak Ronald hingga sepersekian detik tidak terasa hingga tiba-tiba darah segar menetes di atas lantai kamar mandinya.


__ADS_2