
Hari-hari yang dinantikan akhirnya tiba, keluarga William kini sudah tampak bersiap-siap sejak tadi pagi, bahkan kini kediaman William sudah disulap dengan dekorasi mewah sesuai keinginan Liora.
Seorang gadis kini sedang dibantu penata rias untuk bersiap karena sebentar lagi acara akan dimulai.
"Sudah Nona, Anda sangat cantik," puji wanita yang merias Liora.
Liora hanya tersenyum menanggapi, tidak bisa berkata apa-apa.
Liora menoleh saat melihat pintu kamarnya terbuka.
"Kak Olive, Kak Flo," ucap Liora begitu melihat kakak iparnya masuk.
Kedua orang yang membantu Liora kini keluar begitu Jasmine dan Bunga masuk.
Jasmine menarik kursi dan duduk di sebelah Liora, menggenggam tangan adik iparnya yang begitu dingin.
"Kak, aku gugup sekali," beritahu Liora apa yang dirasakannya saat ini.
"Ya, terlihat jelas, kamu coba tarik nafas pelan-pelan, keluarkan perlahan," titah Jasmine yang dituruti oleh Liora.
"Sebentar lagi kamu turun," ucap Bunga memberitahu.
Liora menarik nafas panjang dan menggenggam tangan kedua kakak iparnya.
"Sudah siap?" Tanya Jasmine.
Dan setelah menghembuskan nafas, Liora pun mengangguk.
Jasmine dan Bunga bangun dan membantu Liora turun.
Semua mata kini tertuju pada ketiga wanita yang kini berjalan menuruni tangga. Ketiga wanita itu terlihat begitu cantik.
Liora semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Jasmine dan Bunga, apalagi saat dia menyadari, jika dirinya kini menjadi pusat perhatian.
Bahkan Ronald sedari tadi menatap Liora tanpa berkedip, dia sudah sangat merindukan kekasihnya itu, apalagi saat rencana mereka akan ketemuan beberapa hari yang lalu terpaksa batal karena waktu itu Ronald di tarik paksa Mike untuk menemani ayahnya itu yang tengah dilanda dilema.
"Ehem!" Max berdehem membuat perhatian Ronald yang sedari tadi menatap Liora teralihkan bergantian menatap pria yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.
Saat Ronald sedang menatap Max, tak sadar kini Liora sudah duduk tepat di sebelah Ronald, dan ijab pun segera dimulai.
Setelah mendengar kata sah, air mata Liora tiba-tiba menetes begitu saja, dirinya benar-benar tidak menyangka jika saat ini sudah menikah.
Tiffa, Dea juga William juga melakukan hal yang sama, air mata mereka ikut berjatuhan melihat momen itu. Tidak menyangka jika mereka harus melepas Liora secepat itu.
Liora kini mencium punggung tangan Ronald, Ronald menghapus air mata Liora lalu mencium kening gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya.
*
__ADS_1
*
Acara pun berlanjut sampai malam hari, tampak di pelaminan Liora tengah tersenyum menatap pria di sampingnya yang sedang mengobrol dengan tamu yang datang memberi mereka selamat. Dirinya benar-benar tidak menyangka bahwa sekarang dia sudah menjadi seorang istri dari Ronald Alfian Orlando.
"Selamat Kak," ucapan seorang wanita membuat lamunan gadis itu buyar.
"Lily!" Ucapnya kemudian memeluk wanita yang kini sudah seperti adik sekaligus sahabat.
"Makasih ya sudah datang, bagaimana nih kabar keponakan aku?" Tanya Liora mengelus perut Lily yang masih rata.
"Baik, semoga cepat menyusul ya," ucap Lily tersenyum.
Liora juga hanya tersenyum menanggapi ucapan Lily. Lily kini bergantian menjabat tangan Ronald, sementara kini Jason sedang berbicara dengan Liora.
"Selamat Kak Ronald, jaga Kak Liora baik-baik, jika sampai kamu menyakitinya, kamu akan berhadapan dengan suamiku," ucap Lily menepuk bahu suaminya.
Jason hanya menggelengkan kepala mendengar itu. Kemudian dia yang sudah selesai berbicara dengan Liora kini bergantian ke arah Ronald.
Setelah mengucapkan selamat pada keduanya, Jason mengajak sang istri untuk turun dan bergabung dengan Jasmine dan Stevano yang sedang mengobrol dengan rekan bisnisnya yang kemudian terlihat berpamitan.
"Lily, Cinta mana gak diajak?" Tanya Jasmine yang tidak melihat keberadaan Cinta putri kecil Jason dan Lily.
"Dia sudah tidur, mungkin kelelahan seharian main, ya sudah jadi tidak diajak, kami titipkan pada Kak Al."
"Kak Al pulang? Lalu kenapa dia tidak datang kemari?"
"Kak Al datang kok kemari, tadi pagi bersama ibu dan ayah. Memangnya kamu tidak melihatnya?"
"Oh Kak Al juga cuma sebentar, setelah itu dia pergi, katanya ada urusan penting."
Jasmine pun hanya manggut-manggut mendengar penjelasan sahabatnya itu.
"Sayang, aku tinggal dulu ya, ayo Jas!" Pamit Stevano pada istrinya dan mengajak Jason menghampiri kenalan mereka.
"Oh ya bagaimana? Sudah tidak sering badmood lagi kan?"
"Hmm iya, kasihan juga suamiku jika aku terus seperti itu. Oh ya Mine tidak menyangka ya, jika kita akan hamil bersama seperti ini, kalau anak kita sepasang, bagaimana kalau kita jodohkan saja, sepertinya seru."
"Hmm kalau aku terserah anak-anak kita saja nanti, tapi kalau nanti anak-anak kita memang saling cinta ya tentu saja, kita harus jadi besan."
"Ya semoga saja anak-anak kita memang berjodoh biar kita jadi besan."
Jasmine mengangguk setuju. Mereka kemudian mengobrol seputar kehamilan mereka saat ini.
*
*
__ADS_1
Kini Liora sedang duduk di tepi ranjangnya, setelah acara selesai satu jam yang lalu, Liora dan Ronald diminta orang tua mereka untuk istirahat lebih dulu, mereka tahu jika Ronald dan Liora pasti lelah menjalani serangkaian acara seharian ini.
Pandangan Liora tertuju pada pintu kamarnya yang terbuka. Ronald masuk dan kembali menutup pintu dan menguncinya, begitu berbalik dia tersenyum melihat sang istri yang terus menatapnya.
Istri? Ronald masih belum begitu percaya jika kini dia sudah menikah. Dia pikir, dia tidak akan menikah karena tidak bisa menemukan gadis yang benar-benar mengisi hatinya, dia pikir semua gadis sama saja seperti wanita yang sudah meninggalkannya sejak kecil. Tapi saat pertama kali bertemu dengan Liora, Ronald merasakan perasaan aneh, gadis yang selalu kesal jika bertemu dengannya, tapi justru membuatnya ingin mendekatinya. Dan berawal dari Liora yang memperkenalkan dirinya pada keluarganya, membuat Ronald semakin mengenalnya dan ingin menjalin hubungan yang serius dengan Liora, sampai Ronald memutuskan untuk berubah, meninggalkan kebiasaan buruknya, demi bisa mendapatkan Liora dan persetujuan keluarga gadis itu. Dan Ronald bahagia, karena usahanya tidak sia-sia, kini dia telah menjadi suami Liora, menikahi gadis yang begitu dicintainya.
"Kenapa masih duduk dengan mengenakan gaun pengantin? Atau kamu sengaja ingin aku yang membukakan gaunmu itu baby?" Goda Ronald berjalan mendekat dan menunduk di hadapan Liora, menatap wajah gadis itu yang kini bersemu merah.
"Ti...tidak, bu...bukan begitu," jawab Liora gugup.
Ronald tersenyum, menggoda istrinya itu ternyata menyenangkan juga.
"Lalu?"
"Hmmm, ini… aku...hanya mau minta tolong karena memang susah," jawab Liora memalingkan wajahnya dari wajah Ronald yang semakin mendekat.
"Sama saja, intinya kamu memang ingin aku yang membukakan pakaianmu."
Liora memberanikan diri menatap Ronald, "Kamu tidak mau ya sudah," dia kemudian bangun dan hendak berjalan keluar tapi Ronald dengan cepat menarik tangan Liora, hingga jatuh di pelukan Ronald.
"Begitu saja ngambek," kata Ronald yang kini menurunkan resleting gaun yang dikenakan Liora.
Liora tersentak kaget saat merasakan sentuhan tangan Ronald di punggungnya, rasanya tubuhnya seperti disengat listrik.
"Sudah, aku bisa sendiri," Liora berbalik sambil memegang gaun di bagian da*danya.
"Tidak sekalian kita mandi bersama baby?"
Liora melotot mendengar apa yang baru saja suaminya katakan.
"Tidak," jawab Liora berbalik pergi dengan mengangkat gaunnya tinggi-tinggi. Dia tidak mau Ronald melihat wajahnya yang sudah bisa dipastikan seperti kepiting rebus.
Ronald tergelak melihat ekspresi lucu istrinya itu, begitu melihat pintu kamar mandi benar-benar tertutup Ronald kini berjalan ke arah ranjang sambil melepas jas yang melekat di tubuhnya setengah hari ini. Pria itu kemudian membaringkan tubuhnya di sana.
Sementara itu, di dalam kamar mandi Liora terus saja berjalan mondar-mandir, dia bingung harus keluar atau tidak. Dirinya yang tadi terburu-buru sampai lupa membawa pakaian ganti. Tapi dia harus mengambil sesuatu, Liora sangat membutuhkannya saat ini.
"Kenapa harus keluar hari ini sih? Kenapa tidak kemarin-kemarin saja? Pantas saja sedari tadi perutku merasa tidak enak," Gumam Liora.
Gadis itu kemudian membuka sedikit pintu dan menyembulkan kepalanya. Dia bernafas lega saat melihat Ronald yang sepertinya tertidur. Liora kemudian keluar dan berjalan mengendap-ngendap menuju ke walk in closet miliknya, begitu sampai, Liora dengan segera menutup pintu dan menguncinya.
Setelah selesai Liora berjalan ke arah ranjang, dirinya duduk di tepi ranjang kosong, menepuk-nepuk pelan pipi suaminya. Sebenarnya tidak tega, tapi suaminya pasti merasa tidak nyaman tidur dengan penampilan seperti itu.
"Mmm, kamu sudah selesai?"
"Iya, kamu mandi dulu sana, aku sudah siapkan air hangat, dan ini pakaianmu," ucap Liora memberikan satu stel piyama milik pria itu, yang memang sudah dipindahkan beberapa hari yang lalu.
"Terima kasih," kata Ronald, lalu pria itu segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
__ADS_1
Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Liora membaringkan tubuhnya yang terasa pegal. Hingga rasa lelah membuat matanya memejam begitu cepat.
Ronald yang baru selesai mandi, kini keluar dengan wajah yang segar, pria itu melangkah dan tersenyum melihat istrinya yang kini sudah tertidur. Ronald menyelimuti istrinya, lalu dirinya berjalan memutari ranjang, kemudian ikut merebahkan diri di samping Liora, di tatapnya wajah damai sang istri dan perlahan wajah Ronald mendekat, di kecup lama kening Liora, lalu Ronald pun melingkarkan tangannya di perut sang istri, ikut memejamkan mata.