
"Hahaha, Anda lucu sekali Tuan Ronald sampai berbicara seperti itu."
"Baiklah kita buktikan siapa yang menang, Anda atau saya?" Kata Liora sambil menunjuk ke arah Ronald kemudian dirinya.
"Silahkan saja!" Ronald mempersilahkan Liora untuk memanggil pengawal yang dimaksud gadis itu.
"Tapi, sebenarnya tidak perlu juga memanggil pengawal sih, karena sepertinya Tuan Rumah sendiri yang akan mengusirmu," kata Liora menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Ada apa El, kenapa ribut-ribut seperti ini?" Tanya William yang datang menghampiri Liora bersama sang istri.
Awalnya William ingin ke ruang makan bersama Tiffa, tapi saat menuju kesana, dirinya justru mendengar suara putrinya.
"Ini Pi, aku hanya meminta Ronald untuk kembali ke apartemennya," jawab Liora mendekat ke arah Tiffa dan menggamit tangan maminya.
"Loh memangnya kenapa sayang?"
"Mi, tidak baik jika seorang pria menginap di rumah seorang gadis, apa kata orang-orang nanti, banyak pasang telinga yang bisa saja menyebarkan berita-berita palsu yang mungkin saja bisa merusak reputasi keluarga kita, makanya aku menyuruh Ronald untuk kembali saja," kata Liora menatap papi dan maminya bergantian.
William terdiam, "Benar juga apa yang El katakan, hmm Nak Ronald maaf, seperti apa yang El katakan, bukan maksud Paman lebih mementingkan reputasi, tapi lebih kepada martabat putri Paman, Paman tidak ingin hal ini menjadi pembicaraan umum, jadi Nak Ronald terpaksa Paman tarik ucapan Paman, hmm alangkah baiknya jika Nak Ronald kembali saja, dan Paman akan menyuruh pengawal untuk mengantarkan Nak Ronald kembali. Sekali lagi maafkan Paman," ucap William merasa bersalah, dirinya yang mengajak Ronald untuk tinggal tapi dirinya pula yang meminta pria itu untuk kembali ke rumahnya.
Ronald tersenyum, "Iya Paman, saya mengerti, Paman tidak perlu khawatir, setelah ini saya akan segera pergi setelah berbicara sebentar dengan El," ucapnya.
"Baiklah kalau begitu Paman dan Bibi tinggal dulu!" Tiffa segera menarik tangan suaminya setelah lepas dari tangan putrinya.
"Mami dan Papi disini saja, untuk menghindari gosip, apalagi ini sudah lewat tengah malam bukan, sekaligus kalian bisa menjadi saksi jika tidak ada yang terjadi diantara kami," ucap Liora membuat papi dan maminya mengurungkan niat mereka untuk meninggalkan tempat.
Liora tersenyum mengejek melihat Ronald, "Lihatlah! aku yang menang," ucapnya kemudian.
__ADS_1
Ronald menatap Liora ikut tersenyum, dan Liora bukan tidak menyadari tatapan Ronald padanya yang tidak tahu apa artinya, tapi dirinya sengaja pura-pura tidak tahu.
"Baiklah, tidak apa-apa, Paman dan Bibi bisa tetap disini," kata Ronald menyetujui apa yang Liora inginkan.
Ronald kemudian mendekat ke arah Liora, hingga spontan Liora memundurkan langkahnya, merapikan rambut Liora yang berantakan, "Benar apa yang kamu katakan baby, maaf aku tidak berpikir sejauh itu, aku tadi hanya merindukanmu saja, makanya aku kemari, niatku tadi hanya melihatmu dari jauh, tapi tidak menyangka aku bertemu dengan papimu, dan aku hanya bersikap sopan santun saja memenuhi ajakan Paman, ya sudah kalau begitu, kau pulang dulu," ucap Ronald yang kemudian mencium kening Liora sebelum akhirnya dirinya pergi meninggalkan gadis itu.
"Kau!" Kata Liora mengepalkan tangannya mendapat perlakuan seenaknya dari pria buaya itu.
Ronald menjulurkan lidahnya pada Liora saat sudah melangkah menjauh, dan Liora hanya memandangi pria itu dengan perasaan kesal.
William dan Tiffa saling pandang, keduanya sama-sama mengedikkan bahu, kemudian memilih meninggalkan putrinya.
*
*
*
Saat ini Lily bersama suaminya berada di bandara untuk mengantarkan kepergian kakaknya.
Dahlia pun tersenyum dan mengangguk, "Jaga dirimu dan keponakan Kakak baik-baik," pesan Dahlia.
"Kakak!" Lily langsung memeluk erat kakaknya, kemudian berganti memeluk ibunya yang berdiri di samping mereka.
"Ibu, Ibu jaga kesehatan ya, jangan sakit lagi, Lily sangat menyayangi Ibu," kata Lily yang kemudian memeluk ibunya.
Dahlia mendongak, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya dan sebentar lagi akan jatuh. Dirinya melihat ke sekeliling tapi tidak juga menemukan keberadaan Al. Dahlia pun hanya bisa menghela nafasnya. Ucapan yang Al katakan tempo hari, yang bilang akan membuat kenangan indah sebelum dirinya pergi nyatanya tidak pernah pria itu lakukan, dan itu membuat Dahlia rasanya benar-benar kecewa. Dan air mata yang sedari tadi hendak jatuh, akhirnya tidak bisa di tahannya lagi.
__ADS_1
"Ayo Bu!" Kata Dahlia mengajak ibunya yang terpaksa Lily harus melepaskan pelukan wanita yang membesarkannya itu.
Lily menangis kepergian kakak dan ibunya, Jason yang melihat itu langsung membawa sang istri ke dalam pelukannya.
"Sayang, Ibu sama Kak Lia sudah pergi," ucapnya terisak dan Jason hanya bisa menenangkan sang istri dengan memeluknya semakin erat.
"Selamat tinggal Kak Al, selamat tinggal Lily, maafkan Kakak, Kakak sungguh minta maaf," Dahlia menghapus air matanya yang terus mengalir. Tidak ingin menoleh kepada sang adik yang mengantarkan kepergiannya, karena jika menoleh, Dahlia takut dirinya akan enggan untuk pergi.
Vega menatap putrinya dengan tatapan sendu, sekaligus merasa bersalah.
"Ayo kita pulang!" Ajak Jason tapi rasanya sang istri masih saja enggan.
"Sebentar lagi ya, aku mohon sebentar lagi," kata Lily dan Jason hanya menghela nafasnya, karena sebentar lagi yang istrinya maksud bukan sebentar lagi yang benar-benar sebentar karena dari 2 jam yang lalu istrinya selalu mengatakan itu.
"Baiklah aku beri waktu 10 menit lagi, dan setelah itu kamu harus menepati janjimu untuk pulang, kamu tidak bisa seperti ini terus sayang, karena jika kamu sedih, anak kita juga akan ikut sedih, kamu tidak mau kan jika anak kita sedih?"
Lily menatap suaminya dan menggeleng, "Iya aku janji setelah 10 menit kita akan pulang," jawab Lily dan Jason kembali mendekapnya.
"Kamu tahu sayang, inilah yang aku khawatirkan, semakin kita dewasa, kita punya kehidupan sendiri, satu persatu orang-orang yang dulu bersama akan meninggalkan kita, entah itu teman maupun saudara, semua punya kehidupan sendiri yang harus mereka jalani, berpisah, kemudian hanya bisa berkomunikasi lewat telepon, karena kesibukan masing-masing semakin jarang komunikasi, dan lama-lama sudah tidak bisa saling menghubungi satu sama lain dan hanya bisa saling merindukan," ucap Lily dengan pandangan menerawang jauh.
"Sayang setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan dan itulah yang terjadi dan terus berulang dan tidak bisa dicegah tapi, setidaknya kita punya kenang-kenangan waktu bersama, kenangan yang sudah tertanam di dalam hati kita."
"Tapi aku takut, entah kenapa perasaanku tidak enak, aku…"
"Ssst!" Jason melonggarkan pelukan dan menatap sang istri.
"Jangan berpikir buruk, kita cukup berdoa agar semua baik-baik saja oke?" Potong Jason cepat.
__ADS_1
Lily membalas tatapan suaminya dan mengangguk, "Iya kamu benar, sebaiknya kita berdoa agar Ibu dan Kak Lia baik-baik saja," ucapnya kemudian.
"Ayo kita pulang sekarang!" Lily berdiri dan menarik tangan suaminya mengajaknya untuk ikut beranjak.