Please Love Me

Please Love Me
Part 114


__ADS_3

"Sayang!" 


"Hmm," Jason hanya bergumam merespon istrinya.


Jason dan Lily rasanya baru saja tidur setelah pergulatan panas mereka, tapi kini Lily sudah mengganggu tidur Jason, memencet hidung mancung suaminya yang tepat ada di depan wajahnya.


"Kenapa? Mau lagi?" Tanya Jason dengan suara parau.


"Siapa juga yang mau lagi, aku hanya ingin membahas sesuatu denganmu," kata Lily yang masih berbaring menghadap suaminya.


"Sayang mau bicara apa?" Jason kini sudah membuka matanya, menatap dalam istrinya.


"Aku...mmm..aku, tapi kamu jangan marah dulu ya," kata Lily mewanti-wanti di awal, takut jika nanti suaminya marah.


"Tergantung," kata Jason yang kini tidur dengan posisi telentang.


"Kok gitu sih, ya sudah tidak jadi, daripada nanti kamunya marah," jawab Lily dirinya berbalik badan tidur memunggungi suaminya. 


Jason kemudian menghadap punggung istrinya, dan memeluknya dari belakang, tubuh mereka yang tanpa penghalang kini bersentuhan. 


"Jangan ngambek dong sayang, aku hanya bercanda, kamu tadi mau ngomong apa?" Jason terus mengecup puncak kepala istrinya.


"Kamu tidak akan marah?" 


"Tidak akan,"


Lily kembali membalik badannya hingga mereka saling berhadapan.


"Hmm oh ya, bagaimana kalau rencana kita untuk honeymoon di undur?" Ucap Lily hati-hati takut suaminya marah.


"Kenapa? Jika alasannya meyakinkan aku akan menuruti keinginanmu," Jason menyelipkan rambut Lily ke belakang telinganya.


"Aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan Ibu, tadi aku sudah ceritakan sama kamu, kalau akhirnya kita berbaikan, jadi aku ingin menggunakan waktu ini agar bisa lebih dekat dengan Ibu," dengan penuh kesungguhan Lily mengatakan keinginannya.


Jason tersenyum, "Baiklah, tapi untuk mengganti hal itu, sekarang kita bisa melakukannya lagi.


Tanpa menunggu persetujuan Lily, dalam gerak cepat Jason langsung mendekat wajahnya dan membiarkan bibir keduanya bersatu, Lily memejamkan mata, bahkan kedua tangannya sudah melingkar di leher Jason. Keduanya kini kembali terhanyut dalam penyatuan cinta mereka untuk kesekian kalinya malam ini.


***

__ADS_1


"Kak Al tidak pulang? Ini sudah larut, lebih baik Kak Al pulang saja," untuk yang kesembilan kalinya Dahlia menyuruh pria yang sedari tadi menemaninya di rumah sakit untuk pulang.


"Kamu tidak bosan terus mengusirku, lagian terserah aku mau pulang atau tidak, kamu tidak berhak menyuruhku pulang," kata Al cuek.


"Tentu saja aku berhak, aku pasien disini dan aku terganggu dengan keberadaan Kak Al, itu sudah cukup kan buat alasan agar Kak Al pergi dari sini, dan jika Kak Al masih keras kepala, aku akan meminta petugas keamanan untuk membawa Kak Al, bukan cuma keluar dari ruangan ini, tapi juga dari rumah sakit ini!" Ketus Dahlia, entah kenapa sejak tadi dirinya sangat kesal dan terganggu dengan keberadaan Al di sampingnya. Mungkin Dahlia masih marah karena kejadian tadi, Dahlia benar-benar tidak tahu isi pemikiran pria itu, kadang peduli dan khawatir, tapi juga kadang cuek dan menyebalkan.


"Coba saja sana!" Ucapnya tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Tuhkan menyebalkan baru saja dikatain," kata Dahlia dalam hati menatap Al, rasanya ingin membuangnya ke kandang macan.


"Baik, aku akan panggil petugas keamanan sekarang," Dahlia kemudian menyibak selimut dan hendak bangun. Tapi Al segera menahan tangannya.


"Bahkan petugas keamanan tidak ada hak buat ngusir aku dari sini," katanya angkuh.


"Asal kamu tahu, aku adalah penerus pemilik rumah sakit ini," tambahnya dengan masih dengan gayanya yang teramat sombong.


Dahlia hanya membelalakan matanya tak percaya dengan ucapan Al, Dahlia menatap Al mencari kebohongan di matanya, tapi nihil, Dahlia tidak menemukan kebohongan apapun dari sorot matanya.


"Ya sudah terserah," Dahlia kemudian membaringkan tubuhnya membelakangi Al.


"Dasar tidak jelas," Al mendengus kesal, kemudian melangkah menuju sofa dan kini dirinya berbaring di sana sambil memainkan ponselnya.


Sesaat kemudian ruangan itu hanya dibalut dengan keheningan, Al dan Dahlia sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing.


***


"Biar aku bantu," Jason berdiri di samping istrinya membantu membilas.


"Kenapa sepertinya ada yang kamu pikirkan sayang, apa tentang yang kita bicarakan semalam, kan kita sudah sepakat untuk mengundurnya, jadi kamu tidak perlu terlalu memikirkan hal itu," Jason menggenggam tangan Lily yang masih memegang spons yang berbusa.


"Iya aku tahu, tapi.. hmm aku bingung harus bagaimana mengatakannya pada Kak Al, kita sama-sama tahu, jika itu semua hadiah pemberian Kak Al, aku cuma takut Kak Al kecewa."


Jason tersenyum dan kini menuntun Lily agar menghadap ke arahnya dan menatapnya.


"Kak Al pasti akan mengerti, jadi kamu tidak perlu takut, kalau kamu takut Kal Al kecewa karena kamu yang mengatakan  jadi biar nanti saja aku yang mengatakan, jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir.


"Tapi.."


"Sstt!" Jason menempelkan jari telunjuk di bibir istrinya, dan Lily pun langsung terdiam.

__ADS_1


"Sekarang lebih baik kita lanjutkan pekerjaan ini oke."


"Hmm baiklah," Lily kini tersenyum pada suaminya kemudian melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.


Tak


Tak


Terdengar suara langkah yang mendekat ke arah pasangan suami istri itu.


"Masih pagi kali!" Kata seseorang yang baru datang kemudian langsung menarik kursi untuk dirinya duduk.


Lily dan Jason menoleh bersamaan. Sebenarnya tanpa menoleh mereka tahu siapa orang itu.


Lily yang sudah selesai mengelap tangannya kemudian menghampiri Al, menarik kursi yang ada di depan Al, kemudian duduk di sana. Tak lama Jason pun menyusul istrinya dan duduk di samping Lily bersama dengan Kakak Iparnya.


"Ayah mana?" Tanya Al mengedarkan pandangannya.


"Tuh Ayah!" Kata Lily menunjuk Alan yang baru keluar dari kamarnya dengan dagu.


"Kamu baru pulang Al? Tanya Alan yang kini sudah duduk di samping Al.


"Iya Yah," jawab Al yang  kini menerima piring berisi makanan yang diambilkan adiknya.


"Bagaimana keadaannya, sudah lebih baik kan?" 


"Iya kata dokter Irwan, besok sore juga sudah diperbolehkan pulang, tapi mungkin masih menggunakan tongkat."


"Syukurlah!" Kata Alan, Jason dan Lily hampir bersamaan.


"Al ada yang ingin aku sampaikan, sebelumnya aku dan istriku ingin meminta maaf," Jason menatap Al dengan tenang.


Al yang mendengar perminta maafan Jason langsung mengurungkan niatnya yang tinggal memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Minta maaf?"


Al dan Alan saling tatap merasa heran kenapa Jason tiba-tiba meminta maaf, sementara Lily hanya diam dengan kepala menunduk.


"Kami minta maaf soal hadiah pernikahan yang kamu berikan tempo hari."

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" Tanya Al menaikkan  sebelah alisnya.


"Kami belum bisa pergi Kak untuk saat ini, dan kami merasa tidak enak pada Kakak yang sudah mempersiapkan semua, sekali lagi kami minta maaf," kini Lily memberanikan diri  menjawab pertanyaan dari Kakaknya.


__ADS_2