
"Oh ya, aku tahu sekarang, baiklah, kamu tidak perlu memijatku," kata Jason yang kini mengerti maksud istrinya.
"Nah begitu dong, makasih sayang," Lily kemudian mencium pipi suaminya.
"Ayo sekarang kita tidur ini sudah malam," kata Lily membaringkan tubuhnya.
"Kata siapa kita mau langsung tidur?" Kata Jason berbisik di telinga istrinya.
"Kataku tadi, masa kamu lupa sih sayang," Lily berbalik badan hingga kini posisinya menghadap ke arah Jason.
"Tapi aku tidak mau tidur sekarang bagaimana?"
"Memangnya kamu mau apa kalau tidak tidur sekarang, aku tidak mau ya kalau kamu ketika di rumah masih saja bekerja, jika seperti itu lebih baik kamu tidur di luar," ucap Lily yang tiba-tiba saja kesal.
"Kok kamu jadi kesal sih sayang, aku hanya mau menuruti keinginanmu saja."
"Keinginanku? Memangnya apa yang aku inginkan?" Tanya Lily bingung, sepertinya dirinya lupa pada apa yang terjadi dan apa yang tadi dikatakannya.
"Itu loh sayang, masa kamu lupa? Padahal kamu tadi kan yang menginginkannya."
"Memangnya aku menginginkan apa-apa, aku benar-benar tidak ingat, ya sudah kamu katakan saja, barangkali setelah kamu mengatakan, aku jadi ingat lagi."
Jason yang tidak sabar, segera mendekatkan wajahnya ke wajah Lily, mendaratkan bibirnya di bibir wanita yang dicintainya itu.
"Aku mau menengok anak kita," ucap Jason yang kemudian melepas kaos yang dikenakannya dan melemparnya asal.
*
*
Sedari tadi Ronald tampak mondar-mandir di seberang jalan, menatap ke depan dimana disana terdapat gerbang tinggi sebuah rumah mewah nan megah.
Waktu hampir menunjukkan tengah malam, tapi pria itu masih berada di tempatnya, tidak beranjak sedikitpun meninggalkan kediaman yang di pantaunya sejak 3 jam yang lalu. Apalagi saat melihat jika rumah yang sejak tadi dilihatnya dengan keadaan hampir semua lampu menyala, yang Ronald yakini jika wanita yang bersamanya seharian ini tidak berada di kediamannya.
"Kemana kamu sebenarnya?" Gumam Ronald yang entah kenapa merasa cemas kepada gadis yang belum lama ditemuinya.
Tiba-tiba sebuah mobil yang melewatinya, berhenti tepat di depannya.
"Loh Nak Ronald?" William turun dan mendekat menghampiri pria yang dia tahu kekasih putrinya.
"Selamat malam Paman," sapa Ronald sedikit menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa malam-malam disini? Oh habis mengantar El ya?" Tanya William menatap pria itu.
"Mmm itu…"
"El itu bagaimana sih, masa membiarkan kekasihnya berdiri disini," gumam William yang mengira jika hal itu hasil perbuatan putrinya.
"Ya sudah, ayo Nak masuk, lebih baik menginap saja, lagian kau pasti lelah seharian ini, nanti biar pelayan membereskan kamar tamu untukmu," ajak William.
"Tidak perlu Paman, ini saya juga sudah mau pulang," kata Ronald menolak ajakan itu.
"Sudahlah Ayo masuk ke mobil Paman, biar pengawal yang akan membawa mobilmu masuk," kata William yang langsung menarik tangan Ronald bahkan sebelum pria itu menyetujuinya.
Ronald pun akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti William masuk ke dalam mobil pria itu.
"Jalan Pak!" Perintah William begitu dirinya dan Ronald sudah masuk, hingga mobil pun melaju menuju ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter lagi.
"Nanti bawa mobil milik Nak Ronald kemari!" William menatap sang supir, memberinya perintah.
"Baik Tuan," ucap sang supir hingga tak lama mobil pun kini sudah berada di pelataran kediaman Tuannya itu.
"Ayo Nak Ronald!" Ajak William kepada Ronald untuk ikut turun dan masuk, baru kali ini Ronald terlihat patuh, bahkan pada ayahnya sendiri, biasanya Ronald tidak sepatuh itu. Entah karena Ronald tidak enak menolak atau memang Ronald sudah menjadi anak yang penurut.
"Nyonya tadi ada di ruang keluarga Tuan, sedari tadi, Nyonya menunggu Anda," ucap pelayan melapor kepada Tuannya.
"Baiklah terima kasih Bi, oh ya Bi, tolong persiapkan kamar tamu untuk Nak Ronald dan antarkan ke sana!" Perintah William kepada sang pelayan.
"Nak Ronald kau ikut sama Bibi, Paman tinggal tidak apa-apa?" Tambah William yang kini menatap Ronald yang sedari tadi hanya diam saja.
"Iya Paman tidak apa-apa, Paman temui saja Bibi, Bibi pasti sudah terlalu lama menunggu Paman," ucap Ronald.
"Baiklah Paman tinggal kalau begitu," William menepuk bahu Ronald pelan dan segera berlalu menemui Tiffa yang pasti sudah lama menunggunya.
"Ayo Tuan silahkan ikuti saya," ucap sang pelayan membuyarkan perhatian Ronald yang masih menuju ke arah dimana William kini sudah menghilang.
"Ah iya Bi," Ronald pun akhirnya mengikuti wanita paruh itu yang kini menunjukkan jalan ke kamarnya, lebih tepatnya ke kamar yang akan di tempatinya malam ini.
"Ini kamar Anda Tuan," ucap pelayan itu menunjuk sebuah kamar tamu di depannya.
"Baiklah Bi terima kasih," ucap Ronald yang terus memandang ke arah lantai atas.
"Maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan yang melihat tingkah Ronald.
__ADS_1
"Tidak ada Bi, sekali terima kasih."
Pelayan itu mengangguk, "Kalau begitu saya permisi dulu Tuan," pamitnya dan berjalan melangkah meninggalkan Ronald.
"Tunggu Bi!" Ucap Ronald yang langsung menghentikan langkah pelayan.
Pelayan berbalik dan menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Ronald, "Iya Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Hmm Bi, apa El sudah ada di rumah?" Tanya Ronald ragu-ragu.
"Nona Eliora sudah ada di rumah Tuan," jawab pelayan itu.
Mendengar itu, Ronald merasa lega.
"Apa Liora pulang sendiri tadi?" Tanya Ronald lagi yang memang merasa penasaran.
"Tidak Tuan, Nona pulang bersama Jack."
"Jack? Siapa dia?" Ronald menatap pelayan yang mengantarnya, menunggu mendapat jawaban darinya, siapa yang bernama Jack itu.
"Jack adalah asisten dari Kakak kedua Nona, Tuan," jawab pelayan itu.
"Kakak kedua?"
"Iya Tuan, Nona memiliki dua Kakak laki-laki."
"Sebenarnya yang tinggal disini? Apa mereka orang tua kandung Nona kalian?" Tanya Ronald yang memang masih penasaran siapa orang tua Liora sebenarnya.
"Apa Tuan Ronald begitu penasaran dengan kehidupan saya? Bahkan sampai mencari informasi dari seorang pelayan yang bekerja di rumah orang tua saya," ucap Liora yang baru saja turun dari tangga.
"Nona maafkan saya, saya tidak bermaksud..."
"Bibi kembali saja ke kamar, ini sudah malam," potong Liora cepat.
"Terima kasih Nona, kalau begitu saya pamit undur diri."
Liora mengangguk kemudian melangkah mendekat sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Untuk apa Anda kemari Tuan? Apa Anda tidak punya tempat tinggal harus menginap di rumah orang tua saya? Lebih baik Anda pergi dari sini, sebelum aku memanggil pengawal untuk menyeret Anda."
"Silahkan jika Nona mau memanggil pengawal untuk mengusir saya, saya adalah tamu disini, seharusnya Anda tahu bagaimana cara melayani tamu, dan ingat Nona, orang tua Anda tahunya aku adalah kekasih Anda, sekarang coba Anda pikirkan mana ada orang yang mengusir kekasihnya sendiri yang datang berkunjung?" Bisik Ronald di telinga Liora.
__ADS_1