
"Hmm disana pasti ada Liora, kedatanganku pasti akan membuatnya terluka, jadi kamu datang sendiri ya, selesaikan semuanya pada Liora, tentang keputusanmu dan tentang perasaanmu."
"Tapi sayang…"
"Aku percaya padamu," kata Lily menggenggam tangan Jason meyakinkannya.
"Baiklah," pasrah Jason.
*
*
"Paman!" Alno berlari ketika melihat Jason.
"Hai jagoan sudah rapi?" Tanya Jason mengangkat tubuh Alno.
"Papa mana?" Tanya Jason yang belum melihat keberadaan Stevano.
"Kamu baru datang?" Tanya William yang yang sudah rapi.
"Iya Tuan."
"Vano masih di kamarnya," kata William yang mengerti jika Jason datang untuk menjemput Stevano putranya.
"Iya Tuan."
"Alno ajak Paman Jason duduk!" Kata William kepada cucunya.
"Iya Opa, Ayo Paman kita duduk!"
Jason kemudian duduk di seberang William.
"Kamu sendiri? Istrimu tidak ikut?" Tanya William yang hanya melihat Jason.
"Iya Tuan, Lily tidak ikut, dia sedang menemani kakaknya."
William manggut-manggut mengerti.
"Ayo berangkat," Suara Tiffa mengalihkan pandangan mereka semua.
"Jason, loh kok sendiri, Lily kemana?" Kini giliran Tiffa yang bertanya.
"Lily tidak ikut Nyonya," jawab Jason.
"Ayo kita berangkat sekarang!" Ajak William pada istrinya, membuat Tiffa tidak jadi bertanya.
"Oh iya Ayo, Alno mau berangkat sama Oma?" Jawab Tiffa kemudian arah pandangnya tertuju kepada Alno yang sedang memainkan ponsel Jason.
Pandangan Alno yang tadi terarah pada layar ponsel, kini mengangkat wajahnya menatap Tiffa.
"Tidak Oma, Alno mau sama mama dan papa, sama paman Jason juga."
"Huft selalu begitu," gerutu Tiffa tapi tidak ditanggapi oleh cucunya yang sedang fokus pada game.
"Jason kita berangkat dulu," kata Tiffa dan William kemudian mereka melangkah pergi.
Tak lama setelah kepergian William dan istrinya, kini terlihat Stevano menuruni anak tangga membantu Jasmine yang kesusahan turun karena perut besarnya.
__ADS_1
"Sudah lama? Kenapa tidak mengirim pesan jika sudah datang?" Tanya Stevano yang sudah sampai di bawah.
"Baru datang Tuan," jawab Jason yang langsung berdiri menyambut Stevano yang baru saja datang.
"Kita berangkat sekarang saja! Papi dan Ibu sudah berangkat?"
"Tuan dan Nyonya besar sudah berangkat."
"Coba saja kalau Lily ikut pasti seru, sudah lama juga aku tidak melihatnya, kapan-kapan kamu ajak Lily kemari, bilang kalau aku kangen," ucap Jasmine.
"Alno juga kangen sama Bily," Alno ikut menyahuti ucapan Mamanya.
"Tuh dengar Alno juga kangen sama Lily, iya kan sayang?"
Alno mengangguk antusias.
"Ya sudah ayo berangkat!" Stevano kemudian menggandeng tangan istrinya.
Sementara Alno kembali digendong oleh Jason.
*
*
Jasmine yang baru datang langsung bergabung dengan Bunga dan Liora yang tampak asyik mengobrol.
"Kak Olive, sini Kak duduk!" Liora bangun dan menarik kursi untuk Kakak Iparnya mempersilahkannya duduk.
"Seru banget, ngobrolin apa nih?" Tanya Jasmine pada kedua Iparnya.
"Ini Liora dia katanya bertemu dengan orang yang nyebelin," jawab Bunga.
"Apa yang kalian bicarakan? Kelihatannya sangat seru," tanya Max yang baru saja datang.
"Kau ini Kak, kepo sekali," kata Liora menjawab pertanyaan Kakaknya.
"Aku tidak bertanya denganmu, aku bertanya pada istriku," ucap Max menatap tajam adiknya.
"Kak apakah kau ini sudah pikun? Jelas-jelas tadi kau mengatakan kalian, itu artinya pertanyaan itu juga bisa aku yang jawab.
"Kau…" Max menunjuk Liora.
"Sudah akh aku mau ke toilet dulu," Liora langsung kabur melihat Max yang sudah kesal.
Di toilet langkah Liora terhenti begitu melihat pria yang sudah berhasil memporak porandakan hatinya dalam waktu sekejap.
Jason mendekat, "Selamat malam Nona," sapa Jason memberi hormat pada Liora.
Liora diam, dadanya terasa sesak.
"Jangan Liora, jangan menangis saat ini, jangan terlihat rapuh di depannya," Liora terus merapalkan kalimat itu.
"Malam," jawab Liora memaksakan senyumnya.
Jason membalas senyuman Liora. "Apa kabar?"
"Jika aku bilang tidak baik, apa yang akan kamu lakukan," ucap Liora yang tidak bisa menahan apa yang ada di dalam hatinya.
__ADS_1
Kini Jason yang terdiam, "Maaf," hanya satu kata itu yang bisa Jason ucapkan.
"Semudah itu?" Liora memberanikan diri menatap tepat ke dalam mata pria yang begitu dia cintai.
"Maaf," lagi-lagi kata itu yang bisa Jason ucapkan.
"Kenapa hanya kata maaf yang bisa kamu ucapkan Kak? Kenapa?" Liora memukul-mukul dada Jason, melampiaskan apa yang dirasakannya. Dan Jason hanya bisa menerima.
"Kau tahu Jason, aku yang selama ini menunggumu, aku yang lebih dulu bertemu dan mencintai kamu, lalu kenapa dia yang kamu pilih? Kenapa tidak aku? Dia baru datang dalam hidupmu, tapi begitu mudah dia mendapatkanmu?" Teriak Liora dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.
Jason menangkap tangan Liora yang tidak berhenti memukulnya .
"Karena cinta bukan diukur oleh seberapa lama kita saling mengenal Liora, kamu sudah dewasa, seharusnya kamu tahu hal itu," Jason mencoba menahan emosinya.
Jason merasa marah saat bilang, Lily istrinya begitu mudah mendapatkan dirinya, bahkan Liora tidak tahu apa saja yang terjadi pada Lily, Liora tidak tahu apa saja yang sudah dilalui oleh Lily.
"Apa istimewanya dia? Dilihat dari mana pun aku lebih darinya, tapi kenapa kamu bisa jatuh cinta padanya?" Liora kembali berteriak, dia masih tidak terima jika Jason lebih memilih Lily daripada dirinya.
"Karena dia berbeda, aku mencintai dia tanpa alasan apapun, dan asal kau tahu, dia begitu istimewa di mataku, dan ingat Liora jangan nilai buku dari sampulnya. Aku benar-benar tidak menyangka jika kau gadis yang suka menilai orang dari tampilannya, bahkan kau gadis yang sombong, menunjukkan kelebihanmu dan suka merendahkan orang lain," ucap Jason kemudian meninggalkan Liora.
Jason bersyukur dalam hati, untung saja istrinya tidak ikut, jika Lily ikut, Jason takut Lily akan merasa sakit hati dengan perkataan Liora.
Tubuh Liora merosot ke lantai, begitu Jason pergi. "Sakit, kenapa rasanya sakit sekali, kau jahat Jason, kau jahat!" Liora memukul-mukul dadanya berharap rasa sesak yang dirasakannya bisa berkurang.
Setelah cukup tenang, Liora menghapus air matanya, bangun dan masuk ke toilet membasuh wajahnya, Liora tidak mau jika semua orang tahu dirinya habis menangis.
.
.
"Sayang, kamu dari mana saja?" Tanya Tiffa begitu melihat putrinya berjalan mendekat.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Tiffa yang menyadari jika anaknya sepertinya sedang tidak baik-baik saja apalagi dilihat matanya yang sembab.
"Tidak apa-apa Mi, ah aku tadi hanya dari toilet, belum dimulai acaranya? Ayo Kak Bunga cepat dimulai acaranya! Maaf ya ini pasti karena aku," Liora meminta maaf merasa tidak enak karena acaranya harus ditunda karena dirinya.
"Ah iya sebaiknya aku mulai saja," kata Bunga untuk mengakhiri perminta maafan adik iparnya.
"Ini Tuan pesanan Anda!" Kata Jason memberikan kantong plastik berwarna putih kepada Stevano.
Bunga menyenggol tubuh suaminya, Max yang tahu maksud istrinya begitu melihat arah pandangnya pun mengerti.
"Ayo honey, tiup lilinnya sekarang!" Kata Max membuyarkan semua orang yang kini saling melempar pandang ke arah Liora.
Mendengar suara Max kini anggota keluarga kembali fokus ke arah Bunga. Tiffa dan William hanya menatap sendu putri mereka.
"Honey aku menyusul Liora dulu ya," pamit Max pada istrinya dan Bunga pun mengangguk. "Ya cepat kejar Liora, aku takut dia kenapa-napa," perintah Bunga pada suaminya.
Max pun langsung mengejar adiknya. Max menahan tangan Liora agar tidak pergi dulu. "Tunggu disini dulu!" Perintah Max.
"Tidak bisa Kak, aku harus pergi sekarang!" Kata Liora yang kini kembali meneteskan air matanya.
"Tunggu disini! Atau kakak akan menyuruhmu kembali masuk ke dalam," kata Max tegas.
Hingga mau tidak mau, Liora pun menuruti permintaan Kakak keduanya itu. Kemudian Max menelpon Jack dan menyuruh Jack untuk datang dan mengantar adiknya itu, karena tidak mungkin jika dirinya meminta Jason yang mengantar adiknya. Apalagi membiarkan adiknya pergi sendiri dengan keadaannya yang sekarang tidak baik-baik saja.
Tak lama Jack pun datang dan berlari ke arah Max. "Maaf Tuan apakah saya terlambat?" Tanya Jack yang baru saja datang.
__ADS_1
"Kamu antarkan Liora pulang, jaga dia baik-baik, dan jangan sampai lecet sedikitpun!" Perintah Max yang langsung cepat di anggulki oleh Jack.
"Ayo Nona!" Kata Jack mempersilahkan Liora untuk berjalan lebih dulu. Dan dirinya pamit kepada Max.