Please Love Me

Please Love Me
Part 63


__ADS_3

Kini Lily sampai di tempatnya bekerja, Lily jadi ingin cepat mengumpulkan uang agar bisa menyewa tempat tinggal, dia benar-benar merasa tidak enak, apalagi saat dirinya ketahuan oleh Ayah Al bahwa dia tidak sedikitpun atau mungkin belum mempunyai perasaan kepada Putranya. Lily tidak mau dianggap sebagai gadis yang memanfaatkan kebaikan orang lain demi keuntungan sendiri. Dan Lily masih ingat percakapannya dengan Ayah Al, sungguh dirinya merasa sangat malu.


"Hei pagi-pagi sudah melamun saja," Mira menepuk bahu Lily, hingga hal itu sontak saja membuat Lily terkejut.


"Mira kau mengagetkan saja," kata Lily yang memegang dadanya karena rasa terkejutnya.


"Habisnya kamu dipanggil-panggil sedari tadi tidak menyahut, ya sudah aku tepuk saja bahu kamu, lihat langsung merespon kan kamu," kata Mira yang kini berjalan beriringan dengan Lily menuju tempat dimana peralatan bersih-bersih mereka berada.


"Ya jelas merespon orang kamunya ngagetin gitu, untung saja aku tidak jantungan," kesal Lily.


Bukannya merasa bersalah, Mira justru tertawa melihat wajah kesal Lily yang tampak seperti anak kecil.


Lily menatap Mira yang sedari tadi senyum-senyum sendiri.


"Kenapa kamu kesambet? Sampai senyum-senyum sendiri gitu, mana coba ponsel kamu?" Kata Lily sambil menengadahkan tangannya.


"Mau apa kamu menanyakan ponselku?" Tanya Mira waspada.


"Untuk telepon rumah sakit jiwa, ada pasiennya yang lepas satu, dan orangnya sedari tadi senyum-senyum sendiri di depanku," ketus Lily kemudian meninggalkan Mira begitu saja.


"Satu, dua, ti…" hitung Lily dalam hati.


"Lily!!" Teriak Mira kesal, karena bisa-bisanya Lily dengan santainya mengatakan secara tidak langsung bahwa dirinya gila.


Sementara Lily langsung menutup telinganya bersamaan dengan suara teriakan gadis di belakangnya.


Lily menoleh ke belakang, menatap Mira tajam "Bisa sih Ra, pagi-pagi tidak usah teriak begitu, bikin telingaku sakit saja," Lily mengusap-usap telinganya, mendengar jeritan yang melengking di ruangan itu, membuat gendang telinganya serasa mau pecah, siapa lagi jika bukan karena ulah Mira tadi.


"Lebay," setelah mengatakan itu Mira pun segera menyusul Lily.


"Kau tahu Lily, tadi aku berpapasan dengan tangan kanan pemilik perusahaan ini, dan kau tahu dilihat secara langsung dia begitu tampan, terlepas dari wajah jutek yang selalu di pasangnya," Mira dengan antusias bercerita pada Lily yang tampak tidak minat mendengarkan cerita yang Lily sebut ocehan temannya itu.

__ADS_1


"Benarkah? Terus-terus apa hubungannya denganku, lagian buat apa tampan jika berwajah jutek," kata Lily merasa tidak peduli dengan sosok yang dibicarakan teman barunya itu.


"Ssst suaranya jangan kenceng-kenceng, bagaimana nanti kalau ada yang dengar, bisa-bisa nanti kita akan dipecat," bisik Mira di telinga Lily.


"Bukan aku yang dipecat tapi kamu," balas Lily berbisik.


"Kenapa aku yang akan dipecat? Kan ka.." Teriak Mira saat mendengar bisikan Lily.


Dan semua pasang mata kini menatap mereka berdua.


"Hehe maaf," kata Lily tertawa canggung sambil menundukkan kepalanya sambil langsung membekap mulut Mira.


Dan orang-orang yang tadi menatap mereka hanya menggeleng-geleng melihat tingkah keduanya.


"Kau bilang jangan bicara keras-keras tapi kau sendiri sampai berteriak," gerutu Lily kesal untung saja dirinya tadi langsung menutup mulut Mira, bagaimana kalau tidak dan seperti yang Mira katakan ada yang dengar dan dirinya dipecat? Jangan sampai itu terjadi, bahkan membayangkannya saja Lily tidak ingin.


Sementara di tempat lain, seorang pria dengan setelan jas serba hitam, duduk di kursi kebesarannya, menatap layar di depannya sedang memantau gadisnya lewat kamera yang bisa dia lihat di ruangannya, dia bahkan senyum-senyum sendiri melihat tingkah gadisnya yang kadang memasang wajah kesal yang justru membuatnya terasa menggemaskan untuknya. Bahkan ketika gadisnya itu membekap mulut seorang gadis yang bisa ditafsirkan lebih tua dari usia gadisnya itu.


Jason mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, memikirkan hukuman apa yang pantas diberikan pada gadis itu.


Tok


Tok


Hingga tak lama terdengar ketukan pintu, yang membuat Jason harus menunda berpikir memberikan hukuman yang pantas untuk gadis itu.


"Masuk!" Kata Jason pada si pengetuk pintu.


Tak lama seorang wanita cantik muncul dari balik pintu, membawa sesuatu di tangannya.


"Ini Tuan, berkas yang Anda minta siapkan," kata wanita itu.

__ADS_1


Jason pun menerima berkas-berkas yang Natalie berikan, "Kau boleh keluar," ucap Jason setelah itu.


"Baik Tuan saya permisi," kata Natalie dan segera berlalu, tapi kemudian langkahnya berhenti ketika bosnya itu memanggil namanya.


"Natalie!" Panggil Jason.


Dan Natalie pun tersenyum senang kemudian menoleh dengan senyum manisnya berharap pria yang berstatus sebagai bosnya itu tertarik pada dirinya.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu," ucapnya ramah, masih dengan senyum yang menghiasi bibir yang sudah dipoles dengan warna merah yang sangat mencolok itu.


"Aku lapar dan kamu panggilkan gadis cleaning service yang bernama Lily untuk membuatkanku sarapan dan menyuruhnya untuk mengantarkan ke ruanganku, dan suruh gadis bernama Mira membersihkan semua bagian yang harus mereka kerjakan berdua," kata Jason yang cukup panjang dan ini pertama kalinya bagi Natalie yang sudah bekerja cukup lama menjadi sekretarisnya.


"Bagaimana kalau saya pesankan makanan saja Tuan, saya ada rekomendasi makanan yang enak dan saya yakin Tuan akan suka, dan belum tentu gadis yang Anda suruh memasakkan makanan untuk Anda bisa memasak atau mungkin seleranya tidak sesuai dengan selera Anda" Natalie masih dengan senyumannya memberikan saran pada Jason


Bukannya menjawab Jason justru menatap sekretarisnya itu tajam, jika tidak kerjanya yang memang sangat kompeten dan cekatan, Jason pasti sudah menendangnya dari jauh-jauh hari, dirinya bukan tidak tahu jika sekretarisnya itu seperti menyukainya tapi dia memang memilih untuk pura-pura tidak tahu, karena itu sama sekali tidak penting untuknya.


Melihat tatapan tajam Jason, nyali Natalie pun langsung menciut, "Maaf Tuan apa kedua gadis itu menyinggung perasaan Anda?" Tanya Natalie penasaran.


"Lakukan tugasmu dan jangan banyak bertanya hal yang bukan urusanmu!" Kata Jason membuat Natalie langsung bungkam.


Seketika senyum manis yang Natalie berikan luntur sudah. "Baik Tuan kalau begitu saya permisi," ucapnya kemudian pamit undur diri.


Setelah keluar dia pun melakukan sesuai apa yang diperintahkan atasannya tersebut.


Lily dan Mira yang mendapat perintah itu, langsung mematung seketika, "Lily apa beliau mendengar apa yang kita bicarakan? Apa kita sudah masuk ke masa-masa penuh hukuman yang sudah menanti kita karena ucapan kita?" Tanya Mira pelan.


"Huah kenapa ini terjadi padaku yang baru dua hari ini bekerja? Mira aku tidak mungkin dipecat kan seperti apa katamu? Bagaimana jika makanan buatanku tidak sesuai dengan seleranya? Dan dia jadikan alasan itu untuk menendang keluar dari perusahaannya?" Ucap Lily menyandarkan tubuhnya di dinding dan merosot begitu saja hingga duduk di lantai.


Jason yang melihat Lily seperti itu, tertawa sendiri di ruangannya. Jason sudah sangat yakin jika Lily pasti akan bereaksi seperti itu.


"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu, kau tahu Lily aku sangat merindukanmu dan melihatmu seperti ini saja rasanya sangat senang, dan itu tidak cukup memuaskan karena aku hanya bisa menatapmu di layar ini dan aku ingin segera bertemu denganmu secara langsung," kata Jason masih menatap layar dihadapannya yang tampak jika gadisnya itu menuju dapur khusus untuk membuatkan makanan ataupun minuman untuknya. Begitu senangnya dia, hingga Jason seakan lupa jika dirinya sudah berjanji pada Jasmine Nyonya Muda sekaligus sahabat baik dari gadisnya untuk tidak mengungkap siapa dirinya sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2