Please Love Me

Please Love Me
Part 45


__ADS_3

Jason kemudian meninggalkan tempat itu, sebelum Lily dan Nyonya Mudanya menyadari keberadaannya.


"Kau dari mana saja?" Tanya Stevano yang melihat  Jason menghampirinya.


"Darimana lagi Tuan, tentu saja dari ruang makan, bukankah tadi Anda meninggalkanku disana," kata Jason kemudian duduk di samping Alno dan bersandar pada sofa, mendongakan kepalanya, memejamkan matanya dan memijit pelipisnya yang mendadak terasa pusing.


Alno memperhatikan apa yang Jason lakukan dengan tatapan polos. "Paman pusing?" Tanya anak itu.


Jason membuka mata dan menunduk  tersenyum, "Mm iya sedikit," jawab Jason.


Alno kemudian turun dari sofa kemudian berlari pergi entah kemana. Stevano dan Jason saling pandang dan mengernyitkan dahi.


Tak lama Alno datang membawa obat dan sebotol minuman yang dia minta dari pelayan.


"Ini paman, kalau Paman pusing, Paman minum obat," kata Alno menyerahkan obat dan minuman yang dibawanya tadi kepada Jason.


"Terima kasih jagoan," Jason menerima obat dan minuman itu kemudian mengangkat Alno dan mendudukan di pangkuannya.


"Pintar sekali ponakanku ini," kata Jason memuji Alno.


"Jelaslah anak siapa dulu," jawab Stevano bangga.


"Anak Papa dan Mama," jawab Alno dengan semangat.


Jason yang gemas pun mengacak rambut Alno. Alno hanya tertawa-tawa.


"Wah anak Mama senang banget kayaknya," kata Jasmine mendengar tawa putranya dan menghampiri mereka bertiga, dengan Lily mengikuti di belakangnya.


Alno minta turun, kemudian berlari ke arah Mamanya, tangan kanannya menarik Jasmine dan tangan kirinya menarik Lily.


"Ayo Mama, Bibi, sebentar lagi film kesukaan Alno, kita nonton sama-sama," ajak Alno.


"Tapi sayang, Bibi harus pergi," kata Lily menolak selembut mungkin.

__ADS_1


Mata Alno berkaca-kaca saat mendapat penolakan dari Lily. Rasanya Lily tidak tega membuatnya menangis, Lily kemudian berjongkok dan langsung memeluk Alno, tangis Alno pun akhirnya pecah.


"Cup, cup sayang, sudah ya jangan nangis, ayo kita nonton sama-sama!" Lily mencoba membujuknya.


"Masa katanya jagoan tapi begitu saja sudah menangis!" Kata Jason menyela meledek Alno.


"Tuh dengar apa yang Paman Jason, masa Jagoan menangis," ucap Lily kemudian melonggarkan pelukannya. Ditatapnya wajah imut anak itu, kemudian dihapusnya sisa-sisa air mata di pipi chubbynya.


"Sudah jangan menangis lagi, nanti tampannya hilang loh!" Kata Lily yang sukses membuat Alno cemberut.


Lily tertawa melihat wajah cemberut Alno yang tampak menggemaskan, kemudian mencium seluruh wajah bocah itu yang langsung membuatnya tertawa karena merasa geli. "Nah kalau begitu kan terlihat tampan," kata Lily.


"Ayo sekarang kita duduk, tuh film kesukaan Alno sudah tayang," kata Jasmine yang sedari tadi hanya memperhatikan Alno dan Lily.


"Iya, Alno ayo cepat duduk! Kasihan Mama dan adik-adiknya pasti capek karena berdiri terlalu lama," Stevano menginterupsi perbincangan mereka.


Alno mendongak menatap Mamanya, Maaf Mama," katanya.


Jasmine duduk di sebelah kanan Alno tepatnya di samping suaminya. Dan Lily duduk di sebelah kiri Alno di samping Jason, hingga posisi Alno ada di tengah-tengah dua pasangan itu. Beruntung sofanya memang panjang, hingga muat di duduki mereka berlima.


Sesungguhnya Lily sangat canggung dengan posisi duduknya saat ini, tapi tidak ada pilihan lain, ini demi bocah yang saat ini sangat fokus pada film kartun kesukaannya.


Jantung Lily berdebar begitu cepat dengan posisi sedekat ini, dia tidak berani menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya, bukan tidak tahu jika pria itu saat ini tengah memperhatikannya, tapi Lily memilih pura-pura tidak tahu saja.


Jason terus menatap Lily tanpa berkedip, dia sepertinya harus berterima kasih pada Alno, berkat bocah itu, dia bisa sedekat ini lagi dengan gadis yang dicintainya.


Jason tahu jika sebenarnya Lily tahu jika dirinya memperhatikannya dan gadis itu memilih berpura-pura tidak tahu.


Jason tidak peduli itu, karena yang terpenting, dia bisa puas memandang wajah cantik Lily, sungguh Jason merindukannya, dan ingin sekali saat ini dia menarik Lily ke dalam pelukannya. Tapi Jason tidak akan melakukan itu, dia tidak mau Lily akan semakin menjauhinya.


Ponsel Lily bergetar, dan Jason juga merasakan itu. Lily mengambil ponselnya dan nama Kak Al tertera di layar. Hati Jason tiba-tiba memanas, sungguh pria yang bernama Al itu mengganggu kebersamaannya dengan Lily. Lily hendak menjawab panggilan itu dan dengan cepat Jason merebut ponsel itu.


"Apa yang kau lakukan?" Teriak Lily spontan hingga membuat Stevano, Jasmine dan Alno langsung menatap ke arah Lily.

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukan apa-apa, aku hanya akan mematikan ponselmu, sangat berisik, dan itu mengganggu Alno menonton," jawab Jason berkilah.


Mendengar nama Alno disebutkan, Lily langsung menoleh dan melihat ke sebelahnya, rupanya kini dia diperhatikan oleh ketiga orang lainnya.


Lily tersenyum canggung, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah maaf, maafkan Bibi ya sayang, tadi Bibi hanya kaget saja, makanya berteriak seperti itu, Alno pasti terkejut ya?" Lily bertanya sambil menunduk ke arah Alno.


Alno mengangguk, "Iya, Alno kaget Bibi," jawabnya.


"Maafkan Bibi ya," Lily memeluk Alno.


"Tidak apa Bibi, lain kali Bibi jangan berteriak seperti itu, nanti adik-adik Alno bangun," katanya polos.


"Sudah-sudah, Alno itu filmnya gak di tonton lagi? Kalau tidak, Papa akan matikan tvnya," kata Stevano mengalihkan perhatian putranya.


"Ditonton Papa," jawab Alno dan kembali fokus pada film kartun yang kini sedang ditayangkan.


Lily menatap Jason tajam, "Ini semua gara-gara kau!" Kata Lily tanpa bersuara.


Jason hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Dan kemudian membuka-buka ponsel Lily diam-diam setelah gadis itu fokus pada film kesukaan Alno, tidak ada apa-apa di dalamnya hanya beberapa chat, dia lihat pesan gadis itu dengan laki-laki bernama Al, dan tidak ada yang spesial dari pesan-pesan itu, kemudian berpindah ke galeri, tidak ada foto apa-apa disana. Jason merasa lega, dia kira akan banyak foto Lily dan pria bernama Al, ternyata sama sekali tidak ada foto apapun termasuk foto gadis itu sendiri.


Tak lama ada pesan masuk dari Al, Jason membukanya kemudian membalas pesan Al dengan mengatakan bahwa Lily sedang bersama Jasmine dan putranya. Dan Al pun mengerti dan akan menghubungi dirinya lagi.


Lily menatap pada jam di dinding ternyata sudah siang, dan Lily sudah berencana akan mencari pekerjaan, kebetulan Alno saat ini sudah tertidur, jadi bocah itu tidak akan lagi menangis ketika dirinya berpamitan akan pulang.


"Jasmine sepertinya aku harus kembali sekarang!" Pamit Lily kemudian bangun dari duduknya.


"Ya sudah hati-hati, maaf tidak bisa mengantarmu ke depan," kata Jasmine sambil menunjuk Alno yang tidur dengan kepala yang ada di pangkuannya.


"It's oke, tidak masalah, maaf mengganggu waktu kalian," kata Lily kemudian hendak beranjak dan Jason menahannya.


"Aku akan mengantarmu!" Kata Jason.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri," tolak Lily kemudian meninggalkan mereka, tapi tidak lama terlihat Lily kembali lagi.

__ADS_1


__ADS_2