Please Love Me

Please Love Me
Bab 326


__ADS_3

Lily segera mengangkat teleponnya yang berdering, sudah tak terhitung berapa kali, Jason menelponnya, sesudah suaminya itu sampai di tempat tujuan. Mungkin 10 menit sekali, dan jika Lily tidak segera menjawab panggilannya, maka seisi rumah akan Jason hubungi hanya untuk menanyakan Lily. Tidak tahu apa yang membuat suaminya jadi begitu.


Dan begitu dijawab, Jason bilang akan mengalihkan panggilan ke video, dirinya meletakkan ponsel dengan dengan posisi kamera menghadapnya, katanya agar Lily bisa melihat wajahnya juga mengobati rasa rindu terhadapnya.


"Sampai kapan aku harus melihatmu bekerja sayang?"


"Hmm sampai aku selesai, nanti kita lanjut ngobrol lagi."


"Kamu lanjut kerja aja, biar cepat selesai nanti kalau sudah tinggal telepon lagi, aku juga masih di luar, daya ponselku juga mau habis."


Jason di seberang telepon langsung menghentikan jari-jarinya yang sedari sibuk menari diatas keyboard, menatap Lily dengan wajah cemberutnya.


"Ya sudah."


Setelah mengatakan itu layar ponsel Lily kini berubah menjadi wallpaper foto keluarga kecilnya. Lily menghela nafas, sudah tahu jika akhirnya suaminya akan kembali ngambek.


"Kenapa sayang?" Tanya Dea yang kini duduk di hadapan Lily.


Mereka sedang keluar untuk membeli sesuatu, tepatnya hadiah untuk Al yang sebentar lagi akan berulang tahun. Dan setelah menemukan sesuatu yang cocok, Lily mengajak ibunya untuk makan lebih dulu, dan Dea pun mengajak Lily ke restoran yang tidak jauh dari mall tempat mereka berbelanja. Dan disinilah Lily dia sedang duduk sehabis makan, sedangkan Dea tadi berpamitan ke toilet sesaat sebelum Jason tadi menelpon.


"Biasa bu, suami Ale," jawab Lily setelah mengirimkan pesan pada suaminya.


"Ngambek lagi?"


"Hmm, kenapa ya bu?"


"Ayo ikut ibu!" 


Dea yang baru duduk kembali bangun meraih tangan Lily dan menariknya pelan meninggalkan restoran. 


"Kita kemana bu?"


"Nanti kamu akan tahu," jawab Dea yang meminta Lily untuk segera masuk ke dalam mobil. Dia berjalan ke bagian kemudi lalu masuk ke dalamnya dan langsung melajukan mobil menuju ke sebuah tempat.


*

__ADS_1


*


Lily terus tersenyum beberapa hari ini, tepatnya setelah waktu itu Dea menariknya untuk bertemu dengan teman ibunya itu. Lily bersandar pada headboard sambil mengelus perut ratanya, dia sudah tidak sabar menunggu suaminya pulang, besok pagi.


Lily menatap pintu kamarnya yang terbuka, kedua putrinya berlari dan langsung saja naik ke atas ranjang, ikut bergabung mengelus perut ibu mereka dengan senyuman yang merekah.


"Kok kalian belum tidur?"


"Kakak sama adek mau menemani ibu menjaga adik dalam perut."


"Kakak Cinta dan kak Uli baik banget, dedek senang dengarnya."


"Benarkah ibu dedeknya senang?"


Uli mendongak menatap Lily dengan pandangan berbinar.


"Hmm tentu saja, dedeknya senang karena punya dua kakak yang sangat cantik dan baik seperti kak Cinta dan kak Uli."


Keduanya tersenyum senang, kemudian mengecupi perut ibunya lalu berceloteh panjang lebar, katanya mengajak adik mereka mengobrol agar tidak kesepian di dalam perut sendirian.


"Sini tidur," kata Lily yang kini sudah membaringkan tubuhnya, meminta kedua putrinya untuk ikut berbaring.


Keduanya langsung menurut, Cinta dan Uli berbaring di sisi kiri dan kanan Lily, sambil mengelus perut datar Lily hingga akhirnya keduanya tertidur. Lily tersenyum, mengecup kedua kening Cinta dan Aulia kemudian ikut memejamkan mata dan tak lama, wanita itu pun sudah sampai di alam mimpi.


*


*


Lily kini tampak sibuk di dapur, tadi pagi, suaminya menelpon dan sudah ada di bandara. Lily akan membuat makanan kesukaan suaminya yang sudah dipesan sebelum menutup telepon.


"Ibu!"


Cinta yang masih mengenakan seragam sehabis pulang sekolah langsung berlari menghampiri ibunya. Disusul Al yang berjalan di belakang Cinta, membuka kulkas lalu mengambil minuman dan langsung meneguknya. Semenjak tahu adiknya hamil, Al, Alan atau Dea yang mengajukan diri untuk menjemput Cinta, mereka akan bergantian siapa yang sekiranya tidak sibuk. Dengan alasan tidak ingin Lily nanti kelelahan.


"Kak Cinta ganti baju dulu ya, bisa kan sayang, sendiri."

__ADS_1


"Bisa bu."


"Ayo paman!"


Al pun mengangguk, dia mengusap perut Lily sebentar lalu melanjutkan langkah untuk menemani keponakannya itu untuk berganti pakaian.


Lily kini sudah selesai memasak, dan kebetulan ayah dan ibunya juga sudah pulang, bersama dengan putri keduanya Aulia, mereka baru pulang dari ulang tahun cucu teman Dea.


"Cinta sudah pulang?" 


"Sudah yah di atas, lagi ganti baju ditemani kak Al."


Alan mengangguk menarik kursi kemudian duduk di samping Dea yang sudah lebih dulu duduk.


"Jam berapa Jason akan tiba?"


"Hmm kira-kira sekitar setengah jam lagi yah pesawatnya mendarat, katanya nanti akan mengabari lagi."


"Siapa yang akan menjemput?" Tanya Alan, barangkali Stevano sudah menyuruh orang untuk menjemputnya.


"Jason bilang jika dia akan taxi yah."


Alan lagi-lagi mengangguk, dia kemudian menerima piring yang diberikan istrinya dan mulai makan masakan Lily. Lily memang sudah masak banyak selain untuk suami juga untuk seluruh keluarganya, kebetulan Bi Nia juga sedang ijin pulang ke kampungnya. Sementara makanan untuk Jason, Lily sudah memisahkannya khusus, dia juga akan makan bersama suaminya nanti, membiarkan ayah dan ibunya untuk makan terlebih dahulu.


Kini sudah hampir satu jam Lily menunggu suaminya, tapi Jason sama sekali tidak memberinya kabar. Berulang kali Lily terus mengecek ponselnya, kosong hanya ada beberapa chat dari Jasmine. Harusnya Jason sudah tiba di rumah, tapi entah kenapa suami Lily itu belum juga sampai, membuat rasa khawatir menyergap wanita itu. Apalagi saat dia hendak kembali menelpon suaminya lagi, tapi tetap saja, Jason tidak kunjung menjawabnya, satu kali, dua kali, dan panggilan ketiganya akhirnya panggilan darinya dijawab.


Alan dan Dea ikut menatap Lily, menangkap kekhawatiran pada raut wajah putri mereka. Terlebih Lily tampak gelisah saat menelpon yang mereka yakin jika itu suaminya.


"Halo sayang."


Mendengar itu keduanya merasa lega, tapi entah kemana rasa lega mereka saat melihat putri mereka yang diam mematung.


Lily memang hanya terdiam sambil mendengar apa yang seseorang bicarakan di seberang telepon, karena tubuh Lily tiba-tiba menegang, bahkan air mata mendadak lolos begitu saja dari pelupuk mata, kakinya terasa lemas, bahkan ponsel yang digenggamannya terlepas begitu saja,  tubuh Lily hampir saja limbung Al tidak segera menangkapnya.


Alan langsung bangun dari duduknya. Dengan sigap dia mengambil ponsel Lily yang terjatuh, lalu segera menempelkan di telinganya. 

__ADS_1


Alan berbicara sambil terus melihat putrinya yang kini menangis tersedu-sedu di pelukan Al. Dea juga ikut berdiri, dia segera merangkul kedua cucunya dan segera membawanya pergi dari sana, merasa jika situasinya sedang tidak baik-baik saja, apalagi melihat raut wajah suaminya yang kini berbicara entah dengan siapa, karena yang jelas itu bukan Jason.


__ADS_2