
Jason mengurai pelukannya, "Sudah jangan menangis lagi, aku tidak tahu sudah berapa kali kamu menangis karena aku, dan aku mohon mulai sekarang jangan lagi menangis, aku tidak sanggup melihatnya," Jason menghapus sisa-sisa air mata di pipi gadis itu.
"Tapi sebelum kamu benar-benar bersamanya, bisakah kamu memberiku waktu satu hari saja, untuk mengganti rasa sakitmu dengan hari itu, aku akan berusaha membahagiakanmu di hari itu. Aku ingin menciptakan kenangan manis walau hanya satu hari saja bersamamu, setelah itu aku akan menjauh darimu, aku akan beri kamu kesempatan untuk membuka hatimu pada pria itu, tapi jika kamu tidak bisa, berbaliklah, dan mendekat, karena aku akan menunggumu di tempat yang sama, aku akan menunggu sampai kamu benar-benar datang, tak peduli seberapa lama aku harus menghabiskan waktu hanya untuk menunggumu. Bisakah kamu memberikanku satu hari itu? Aku akan membuat hari itu hari yang berharga untukmu, hingga kamu tidak akan pernah melupakannya," katanya sambil menepuk-nepuk puncak kepala Lily seperti anak kucing.
Mendapat perlakuan itu dari Jason, kini Lily jadi mengingat mouse, Lily mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Jason, tapi dia tidak menemukan keberadaan mouse.
"Mouse dimana?" tanya Lily menatap Jason.
"Mouse?" Jason mengernyitkan dahi bingung.
"Kucing yang tadi bersamaku," kata Lily yang melihat kebingungan di wajah Jason.
Jason mendengus kesal, di saat dirinya sedang membahas hal serius, Lily justru seketika menghancurkan moodnya dengan membahas seekor kucing yang tadi dibawanya.
"Jason!" Lily mengguncang tubuh Jason, menyadarkan pria itu dari lamunannya.
"Entahlah aku tidak tahu," kata Jason cuek. Dia kemudian bangun dan berjalan menuju ranjangnya, kemudian merebahkan diri diatas ranjang itu.
Lily kemudian ikut bangun dan berdiri dan mencari kucing itu ke seluruh sudut kamar Jason.
"Mouse! Mouse!" Lily terus saja memanggil-manggil kucing itu. Tapi nihil, di seluruh ruangan kamar Jason tidak ada.
"Jason apa kau sungguh-sungguh tidak melihatnya?" Tanya Lily dengan sedikit kesal karena pria itu kini justru sedang asyiknya bermain ponsel sambil berbaring di atas ranjangnya dan sejujurnya juga Lily meragukan perkataan Jason yang bilang tidak tahu, karena bagaimana tidak tahu jika dia yang terakhir melihatnya karena Lily tertidur.
Yang ditanya kini hanya diam saja tanpa menjawab dan masih fokus pada ponsel di tangannya. Membuat Lily mendekat dan naik ke atas ranjang di sisi yang kosong dan mencoba merebut ponsel Jason, tapi Jason justru menjauhkannya.
Saat akan merebut lagi, Lily justru terjatuh di atas tubuh Jason. Lily memiringkan wajahnya agar tidak bertatapan dengan Jason karena jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja.
"Kenapa kau masih diam saja? Ayo bangun! Kau tahu tidak jika tubuhmu berat," kata Jason, sebenarnya bukan karena berat badan Lily, tapi karena hal lain, Jason tidak ingin melewati batasannya.
"Maaf," kata Lily langsung berdiri. Lily kemudian berbalik badan saat merasa wajahnya memanas, Lily yakin jika saat ini wajahnya sudah memerah.
Jason bangun dan tersenyum, sepertinya menggoda Lily dan membuatnya merona menjadi kesenangannya sendiri.
"Ayo!" Jason mengajak Lily dan menggandeng tangannya membawa Lily keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Lily hanya mengikuti langkah tegap Jason. Sambil sesekali pria itu, yang terlihat wajahnya dari samping, "Aku senang karena aku bisa selalu membuatmu tersenyum," batin Lily berkata yang melihat sudut bibir Jason tertarik ke atas.
"Itu!" Jason menunjuk kucing yang saat ini sedang tidur di kursi ruang tamu.
"Ah mouse! Kau membuatku khawatir, ku kira kamu hilang dan aku tidak bisa bertemu denganmu lagi," kata Lily menghela nafas lega, dan mendekat ke arah mouse.
Saat Lily akan menyentuh mouse, Jason menghentikannya, "Nanti kucing itu akan bangun," kata Jason pada Lily.
Lily akhirnya mengurungkan niatnya, dan dia kemudian memilih duduk di kursi lain.
"Kamu lapar?" Tanya Jason yang melihat Lily menatap ke sekeliling ruangan.
"Hmm apa ada camilan?" Tanya Lily ragu.
Jason menggeleng, "Tidak ada apapun disini, karena aku hanya sesekali saja pulang ke rumah ini, aku lebih banyak tinggal di kediaman Tuan Muda kalau tidak ya di kediaman Tuan Besar," jawab Jason jujur.
"Ooo," jawab Lily hanya ber oh ria.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Jason.
"Mmm maksud aku, apa kamu tidak..ah sudah lupakan! Oh ya apa kamu mau kita keluar untuk mencari makanan?" Jason tidak jadi melanjutkan perkataannya, dia kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Apa jauh tempatnya?"
"Tidak, hanya sekitar 10 menit waktu untuk perjalanan," jawab Jason.
"Hmmm baiklah, ayo!" Kata Lily kemudian bangun dari duduknya, Lily menuju ke mouse dan berkata pada kucing putih itu, "Mouse disini dulu, aku akan pergi beli makanan."
Jason menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Lily yang berbicara dengan seekor kucing. "Benar-benar gadis aneh, entah apa yang membuatku bisa mencintainya," ucap Jason dalam hati.
"Aku ambil kunci mobil dulu," pamit Jason dan kembali berlalu dengan menaiki tangga menuju kamarnya.
Lily mengangguk dan kembali sibuk berbicara dengan kucing yang sedang tidur.
Tak lama Jason pun keluar dengan memakai kaos hitam dan celana panjang hitam, sambil melempar-lemparkan kunci mobilnya ke atas kemudian menangkapnya, dan melempar lagi lalu menangkap lagi, begitu sampai dia kini berada di anak tangga paling bawah.
__ADS_1
"Hitam lagi," gumam Lily yang tidak bisa didengar oleh Jason saat melihat Jason yang lebih sering memakai pakaian berwarna hitam. Orang yang tidak tahu pasti menyangka jika Jason tidak pernah mengganti pakaiannya.
"Ayo!" Ajaknya lalu keluar lebih dulu menuju ke mobilnya yang diparkirkan di halaman rumahnya yang tidak begitu luas, tapi cukup asri, dan Lily menyukai rumah yang seperti ini, karena walaupun tidak terlalu besar tapi terlihat nyaman.
Jason membuka kaca mobilnya menyuruh Lily untuk masuk, dan setelah Lily masuk Jason kemudian melajukan mobilnya menuju ke minimarket di dekat rumahnya.
Seperti yang tadi Jason katakan, kini mereka sampai dalam waktu 10 menit, Lily segera turun saat mobil berhenti tanpa menunggu Jason.
"Hei tunggu!" Teriak Jason dan tidak digubris sama sekali oleh Lily.
Jason kemudian segera menyusul Lily masuk ke dalam, dan melihat kini dia sudah membawa keranjang berisi banyak camilan.
Setelah Lily melihat Jason, gadis itu kini menghampiri Jason, "Kamu yang akan membayar ini semua kan?" Bisik Lily di telinga Jason.
"Kata siapa? Dan kapan aku mengatakan jika aku yang akan membayar semuanya?" Jason berucap dengan serius.
Lily kemudian berjalan ke arah rak dimana tadi dia mengambil beberapa camilan itu, Lily akan mengambil hanya satu atau dua camilan saja, Lily sadar jika dirinya tidak punya banyak uang.
"Apa yang kau lakukan?" Kata Jason menghentikan tangan Lily yang sibuk mengembalikan camilan yang tadi diambilnya ke tempat semula.
"Aku tidak punya banyak uang, makanya aku kembalikan dan ambil beberapa saja," kata Lily pelan takut didengar orang lain.
Satu hal lagi yang Jason tahu dari Lily bahwa dia orang yang blak-blakan dan berkata apa adanya, tanpa malu mengatakan dirinya yang tidak punya uang.
Dan niat awal Jason hanya menggoda Lily, kini dia menjadi merasa bersalah. "Maaf aku tidak bermaksud untuk….
"Tidak apa-apa aku tahu, aku yang seharusnya minta maaf," Lily dengan cepat memotong ucapan Jason.
"Ambillah!" Kata Jason pada akhirnya.
"Maksudnya" Lily menoleh ke arah Jason.
"Ambillah apapun yang kau suka dan aku yang akan membayarnya," jawab Jason saat tahu tidak mengerti maksud perkataannya.
"Benarkah?" Tanya Lily memastikan dan Jason hanya mengangguk.
__ADS_1
Tak ingin menyia-nyiakan hal itu, Lily mengambil banyak cemilan dan minuman apapun yang dia ingin coba.